
Pemuda berjubah putih itu mendengus gusar. kedua matanya memandangi Pranacitra seolah dia ingin menelannya. jelas sekali terlihat kalau hatinya merasa sangat kesal karena selama ini dialah yang selalu menipu, mengatur atau bahkan menindas orang lain dengan segala kekuasaan yang dia miliki sebagai majikan dari 'Kota Hantu Pagi'.
Tapi sekarang, bisa- bisanya dia tertipu oleh si pincang. sungguh tuan muda pemalas ini tidak menyangka kalau pesilat sekelas si 'Gelandangan Hantu' atau 'Pendekar Tanpa Kawan' sudi memainkan sandiwara tipu muslihat dengan cara yang sebenarnya sangat sederhana dan umum. tapi justru karena itulah dia tidak dapat menduganya.
Saking marahnya orang ini sampai tidak tahu mesti berbuat apa, hingga akhirnya dia cuma dapat menindih kemarahan dalam hatinya. ''Huhm., setelah semuanya selesai, aku akan buat perhitungan denganmu.!'' gertaknya sembari mendengus. sementara orang yang diancam cuma angkat bahunya tanpa perduli.
''Buat apa dirimu membuang waktu dengan mengumbar amarah padaku. lagi pula., sekarang semuanya sudah terjadi. kurasa lebih baik kau katakan saja langsung pada ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' tentang siapa adanya dirimu, juga maksud kedatanganmu di pulau 'Seribu Bisa' ini.!'' tukas Pranacitra yang enggan berdebat.
Sang ketua dari Kelompok 13 Pembunuh itu menggeram penuh kegusaran. sikap kedua pemuda di hadapannya yang saling bicara sendiri ini seolah sengaja meremehkannya. meskipun demikian dalam hatinya dia juga meras penasaran siapa pemuda tampan berjubah putih yang sepertinya sudah saling kenal dengan si pincang.
''Kurang ajar., dari mana munculnya bangsat bedebah satu ini. tetapi siapapun dia, jelas bukanlah pemuda yang berilmu rendah. malahan dari bentrokan tenaga kesaktian barusan, dapat kupastikan kalau kekuatannya sangat di luar dugaan..'' batin orang tinggi besar bertopeng tengkorak itu sembari mengira- ngira siapa pendatang muda yang turut menjadi lawannya itu.
Di saat dia masih berusaha menduga siapa lawan, justru si pemuda melangkah maju. gerakan kakinya sangat santai namun mantap hingga sekejap saja orangnya sudah berada hanya lima langkah dari hadapannya. melihat hal itu si 'Setan Arak' dan beberapa orang tokoh silat golongan hitam yang menjadi sekutu dari 13 Pembunuh cepat berkelebat menghadang untuk melindungi pimpinannya.
__ADS_1
Tanpa ada rasa takut pemuda ini tersenyum dan menjura hormat di depan manusia jahat berjubah kuning itu dan para anak buahnya. ''Selamat bertemu wahai ketua Kelompok 13 Pembunuh. sayang sekali keadaan saat ini kurang sesuai untuk berkunjung. namun aku sedang diburu waktu jadi tidak sempat membawakan suguhan oleh- oleh untuk tuan rumah..'' sapanya seolah seorang tamu yang sedang mengunjungi sanak saudaranya.
''Huhm., benar- benar pemuda keparat yang tidak tahu diri hingga berani lancang didepan yang mulia ketua 13 Pembunuh. cepat kau katakan siapa dirimu sebenarnya sebelum aku cabut nyawa anjingmu.!'' gertak salah satu pesilat golongan hitam bertubuh agak tinggi dan muka tirus yang bukan lain adalah Ki Ageng Bangkal Sungsang. di sampingnya turut pula kedua rekannya, Ki Kala Mayit dan Ki Maung Gembong.
Di luar dugaan sang tuan muda pemalas itu langsung menghardik. ''Bangsat tua bangka., selain aku tidak ada urusan denganmu, kau juga tidak layak bertanya jawab denganku. karena ketidak sopananmu yang berani menyela pembicaraanku dengan ketua 13 Pembunuh, sekarang juga kukirim nyawamu ke neraka sekaligus sebagai peringatan buat yang lainnya.!" ucapannya baru saja selesai tapi tangan kirinya sudah bergerak mengibas dan mencengkeram.!
Tidak terdengar suara sambaran angin keras dan tajam. namun tahu- tahu sebuah cahaya perak menyilaukan mata seolah mentari pagi yang berbentuk telapak tangan sudah berada di depan leher Ki Ageng Bangkal Sungsang. hanya ada suara 'Krekk., krakk., kraass.' yang amat keras. sebelum semuanya sadar dengan apa yang terjadi, tubuh Ki Ageng Bangkal Sungsang telah terkapar roboh.
Hampir semua orang keluarkan seruan ngeri melihat keadaan mayat tokoh silat tua itu. meskipun kepalanya telah terpisah dari tubuhnya tapi tidak ada setitikpun darah yang tersembur. bagian leher dan batok kepala itu hancur remuk menjadi gumpalan daging kering yang berwarna keperakan. asap sangat panas berbau menyengat terlihat mengepul dari sana.
"Sialan., ini sangat gila. kenapa tuan muda pemalas dari wilayah terlarang 'Kota Hantu Pagi' sampai keluar sarangnya.?" seru yang lainnya. "Aa., apa katamu., dii., dia sang tuan muda majikan Kota Hantu Pagi yang terkenal misterius itu.?" ucap Ki Maung Gembong bergidik. "Edan., jangan bercanda., untuk apa orang itu datang ke pulau Seribu Bisa ini.!" bantah Ki Kala Mayit. biarpun begitu orang ini juga sudah dijalari ketakutan.
"Aah., jangan- jangan dia juga mengincar 'Darah Keabadian' dan harta pusaka 'Istana Angsa Emas.!" timpal para tokoh silat yang lainnya. seketika suasana menjadi geger dengan kemunculan tuan muda pemalas, sang majikan dari Kota Hantu Pagi yang selama ini hanya pernah mereka dengar namanya saja.
__ADS_1
Bagi orang persilatan nama tuan muda pemalas dari Kota Hantu Pagi ibarat sebuah rahasia karena selama ini dia hampir tidak pernah muncul ke dunia luar. walaupun banyak yang mengatakan kalau ilmu silat dan kesaktiannya sangat tinggi karena mampu memimpin puluhan bahkan ratusan pesilat hebat tapi nyaris tidak ada yang pernah bertemu apalagi melihatnya turun tangan secara langsung.
Dalam hati Ki Kala Mayit maupun Ki Maung Gembong sama di liputi keseraman. biarpun merasakan dendam amarah akibat kematian kawannya namun saat melihat bagaimana cara Ki Ageng Balang Sungsang tewas, mereka hanya dapat membuang jauh- jauh keinginan untuk menuntut balas. sebab keduanya tahu betul tingkat kedigdayaan rekan mereka cukup tinggi, tapi dia masih dapat terbunuh hanya dengan satu serangan saja.
Sementara orang yang membuat kegegeran justru masih tenang- tenang saja seolah semua yang barusan dia lakukan hanyalah sebuah permainan biasa. "Ouh., aku sungguh tidak menyangka, biarpun sangat jarang keluar dari tempatku tapi rupanya., diriku ini terkenal juga yah., Haa., ha.!" ujar si pemalas seakan tercengang lantas tertawa bergelak.
Begitu tawanya sirap, si pemalas sudah kembali bicara. suaranya meski terdengar santai tapi anehnya penuh tekanan. "Kurasa cukup basa- basinya. ketua 13 Pembunuh., aku ingin bertanya langsung padamu. sempat kudengar beberapa tahun silam kau pernah mendapatkan sebuah kepingan batu aneh berwarna kehitaman yang bundar disatu sisi dan tidak beraturan pada tepi lainnya. ada juga guratan dan tulisan di atasnya.."
"Terus terang saja, kedatanganku ke pulaumu ini di karenakan ingin mendapatkan kepingan batu aneh itu. diriku tahu soal perdagangan. jadi sebutkan saja nilainya, selama harga imbal baliknya masih wajar aku akan segera membayarnya. setelah semuanya selesai aku juga akan segera pergi dan tidak mau turut campur masalah perseteruanmu dengan orang Istana Angsa Emas.." kata si pemalas.
Jika orang lain yang mendengar merasakan kebingungan dan curiga karena tidak tahu- menahu dengan benda yang dimaksudkan oleh pemuda itu, maka lain halnya dengan ketua 13 Pembunuh. kalau saja tidak ada orang yang menyebutnya, mungkin dia juga sudah lupa jika memiliki kepingan batu aneh yang diminta oleh pemuda di depannya.
Namun orang ini tetap merasa heran. "Dari mana bocah sialan ini tahu tentang batu hitam aneh itu. sebenarnya apa kegunaannya hingga dia sampai mau keluar dari sarang untuk memintanya sendiri dariku. padahal selain bentuknya aneh dan punya lapisan tenaga gaib yang tipis, benda itu tidak ada kemampuan apapun. tapi kurasa bagus juga., keadaan ini bisa aku manfaatkan.." gumam sang ketua menyeringai licik di balik topeng tengkoraknya.
__ADS_1
...............................
Silahkan tuliskan komentar Anda yah😊, Maturnuwun.🙏