
Respati memacu kereta kudanya menembusi jalanan yang membelah hutan itu, sepasang matanya yang sangat tajam dan terlatih membuatnya tidak kesulitan menentukan arah jalan, meskipun hanya diterangi cahaya lentera yang tergantung di ujung kanan atas kereta kuda.
Dia tidak tahu mereka akan menemui siapa, Dewi Malam Beracun hanya memintanya untuk secepatnya sampai ke daerah Kadipaten Jepara. apakah disana ada seorang tabib hebat kenalan Roro,? entahlah, maklum saja wanita ini punya banyak kenalan dari berbagai golongan dimana- mana. yang jelas saat ini Sabarewang sangat membutuhkan pengobatan. kalau sampai terlambat bisa- bisa nyawanya terancam, belum lagi Satriyana yang tubuhnya masih sangat lemah, meskipun tidak sampai mengancam jiwanya tapi gadis remaja ini juga harus mendapatkan pengobatan dan perawatan.
Kereta kuda ini baru keluar dari jalanan di hutan itu saat tengah malam telah lewat, kini mereka sudah melalui jalanan yang lebih lebar, meskipun sangat sedikit tapi di kejauhan nampak beberapa cahaya pelita dari rumah penduduk, karena tengah malam jalanan itu sangat sepi dan rada seram, entah kenapa Respati merasa sedikit tegang, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang buruk sedang mengintai mereka. sementara didalam kereta kuda Satriyana yang telah terbangun ikut merasa khawatir dengan keselamatan Sabarewang. tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun, kecuali berharap agar orang ini cepat mendapatkan pertolongan.
''Apakah luka kakang Sabarewang bisa disembuhkan, sebenarnya racun apa yang telah menyerang tubuhnya.?'' tanya Satriyana cemas, tubuh lelaki tinggi kekar yang terbaring pingsan ini terasa panas, anehnya dia justru seperti orang yang sedang menggigil karena kedinginan. ''Kalau kita bisa sampai ketempat tujuan tepat waktu, aku yakin racun Kelabang Kuning yang kini menyerangnya bisa dipunahkan.!''
''Sebenarnya siapa orang yang hendak kita temui itu, apakah dia seorang tabib sakti.?'' desak Satriyana penasaran. Roro tertawa kecil, ''Meskipun bukan seorang tabib sakti, tapi aku berani menjamin kemampuannya bisa diandalkan.! 'Asal kau tahu, beberapa kali para tabib di istana pernah meminta bantuannya apabila sedang kesulitan mengobati penyakit orang keraton, tentunya dengan bayaran yang tinggi.!''
''Kakak Dewi., bisakah kau beritahu aku siapa tabib hebat itu., jangan membuatku penasaran.! 'Atau., jangan- jangan dia salah satu kekasih kakak yah.,?'' goda Satriyana terkikik. Roro kontan mendelik, tapi akhirnya dia ikut tertawa juga. ''Ngawur., memang sih banyak kenalanku kaum pria yang menjadi pengagumku, bahkan ada beberapa yang terang- terangan bilang ingin menjadi kekasihku, tapi aku hanya suka berteman.!'' ujarnya bangga, si cantik ini memang punya rasa percaya diri yang tinggi. bahkan kadang agak berlebihan.
__ADS_1
''Orang yang kumaksudkan bukan seorang pria, dia perempuan sepertiku, tepatnya kakak seperguruanku.!'' jawab Roro.
''Aku juga sudah tahu kalau kau punya saudara seguru, tapi tidak kusangka kalau dia seorang tabib..'' seru Respati memotong. baru saja dia bicara mendadak dari arah berlawanan muncul segerombolan penunggang kuda. mereka berhenti hanya sepuluh tombak dari kereta kuda Respati. pemuda ini seketika hentikan laju kudanya.
''Didepan ada beberapa penunggang kuda sedang mencegat kita, jumlahnya cuma enam orang.,!'' ucap Respati yang duduk di bangku kusir. ''Kau tanya siapa mereka, dan ada perlu apa. kurasa tidak masalah kalau mereka cuma ingin beberapa keping uang. Tapi jika berani bertingkah keterlaluan., kita terjang, hajar dan habisi saja semuanya.!'' ujar Dewi Malam Beracun. sesaat lamanya tidak ada jawaban, Roro dan Satriyanapun meresa heran.
''Hei ada apa denganmu, kenapa kau diam saja.?' gerutu Roro sambil membuka jendela kecil di depan kereta. dilihatnya Respati sudah turun dari kereta kudanya, kini dia berhadapan dengan beberapa orang laki- laki bersenjata tajam, jarak yang cuma lima- enam tombak bisa membuatnya mampu melihat dengan jelas.
Roro seketika terdiam, wajahnya menyiratkan perasaan tegang, sedih, bercampur gembira. tapi sekejab kemudian berubah menjadi air muka kebencian penuh dendam kesumat dan penderitaan yang teramat dalam. ''Akhirnya., akhirnya mereka muncul juga, bertahun- tahun aku mengejar mereka, tapi tidak pernah berhasil kutemui. sepertinya malam ini semua hutang darah akan terbalaskan.!'' geramnya menahan kemarahan.
Belum sempat gadis ini menjawab Roro Wulandari sudah berkelebat keluar kereta dan bergabung dengan Respati.
__ADS_1
Karena pensaran Satriyana beringsut ke depan jendela kereta, meskipun hari sangat gelap tapi dengan bantuan beberapa cahaya obor yang dibawa para penghadang dia dapat melihat Respati dan Roro yang berdiri disana sedang berhadapan dengan para penghadang yang membekal senjata tajam.
Meskipun kurang begitu jelas tapi gadis muda itu juga bisa melihat kalau enam orang penghadang itu terdiri dari seorang nenek tua dan seorang pria setengah umur, dan empat orang dewasa, dua orang diantaranya memiliki semacam rajah gambar seekor burung yang sedang menggenggam sesuatu di bagian lengannya.
Respati melirik Dewi Malam Beracun yang berdiri disampingnya, wajah perempuan yang hampir selalu tersenyum santai itu terlihat menahan ledakan kemarahan, matanya tak berkesip memandang dua orang yang berdiri paling kiri, seorang tinggi besar bermuka bengis, dan berambut pendek, dia menggenggam sebatang tombak bermata keemasan. satu lagi bertubuh gemuk tambun muka lebar dan membekal golok bergerigi tajam. lengan kedua orang ini sama dirajah seekor burung jalak yang sedang mencengkeram sepotong tulang.
Meskipun sudah bertahun- tahun lamanya tidak bertemu, tapi Roro dan Respati ingat betul tampang kedua orang pimpinan begal Jalak Gandos yang telah menghancurkan desanya, juga kehidupannya. karena mereka memang Jalak Gandos dan Gempal Codet adanya.! kedua orang ini terlihat heran sejaligus bergidik dengan tatapan mata Roro yang penuh rasa kebencian, dalam hati mereka juga merasa pernah melihat perempuan cantik ini sebelumnya.
Respati menatap empat orang penghadang lainnya, seorang setengah tua bermuka kehitaman dan berbibir sumbing. berbaju kuning serta menggenggam pedang yang juga bergerigi. dibelakang orang tua ini ada dua orang yang masih muda dan juga berbaju kuning, mungkin mereka pengikut atau murid orang setengah tua itu. Respati tidak mengenal ketiganya.
Berdiri agak terpisah seorang nenek enam puluh tahunan berjubah kelabu dan berhidung pesek. sebatang tongkat kayu besi tergenggam di tangan kanannya yang kurus dan keriput, banyak bekas goresan senjata tajam pada batang tongkat itu. meskipun baru pertama kali ini berjumpa tapi Ular Sakti Berpedang Iblis bisa mengira siapa adanya nenek tua ini. dia bukan lain adalah Nyi Welut Klawu alias Si Belut Kelabu seorang perempuan gembong perampok tunggal yang selalu bekerja sendirian.
__ADS_1
Anehnya sekarang tiba- tiba saja dia muncul bersama Jalak Gandos dan Gempal Codet yang juga begal rampok, apakah tiga orang lainnya juga punya pekerjaan yang sama.?
Tengah malam di jalanan ini bakal terjadi lagi pertumpahan darah,!