13 Pembunuh

13 Pembunuh
Jiwa golok Jurata.


__ADS_3

Jurata memungut kembali goloknya yang sempat terpental akibat pukulan 'Sukma Tertawa' saat dia dan Birunaka mencoba menghalangi lelaki gemuk anggota baru kelompok 13 Pembunuh itu bersama 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' bermaksud menghabisi 'Dewi Malam Beracun' yang tergeletak pingsan kehabisan tenaga akibat bertarung sengit dengan Naga Urat Hijau.


Golok besar yang bentuknya agak melengkung itu meskipun bukan sebilah senjata pusaka, tapi dibuat dari campuran besi baja pilihan hingga tidak saja sangat kuat tapi juga tajam. tapi sekarang golok itu terlihat gempil, retak- retak dan hampir patah setelah dihantam ilmu kesaktian lawannya. semua itu cukup membuat Jurata tertegun kaget.


Orang ini baru tesadar saat mendengar jeritan tertahan yang diikuti tumbangnya tubuh tiga orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang berniat hendak membunuhnya secara senyap. untungnya Dewi Malam Beracun yang sudah sadar bergerak cepat. hanya sekali kibasan tangannya, tiga buah paku hitam beracun melesat dari balik lengan bajunya dan tepat menembus dada para penyerang Jurata.


''Mungkin senjata itu sudah menemanimu sejak lama, jadi wajar jika ada ikatan batin diantara kalian. tapi ingatlah., senjata hanyalah benda mati. selama jiwa petarung seorang pendekar masih berada dihatimu, benda apapun termasuk dirimu sendiri bisa menjadi senjata pembunuh yang mematikan.!''


''Lagi pula kakang Jurata., sebilah pisau, golok atau pedang yang patah, dia tetaplah sebuah senjata. selama dia masih memiliki gagang untuk dipegang dan mata untuk membacok, biarpun buntung golok tetaplah sebilah golok..'' ucap Roro seraya bangkit berdiri seraya melemparkan sebutir obat peningkat tenaga dalam pada rekannya. Jurata terkesiap, dia seakan baru saja mendapat wejangan tentang senjata dari seorang ahli.


Tanpa sadar dia melihat Sabarewang yang masih bertarung sengit melawan si Bajul Buntung. meskipun dengan sebilah pedang patah dia mampu mendesak orang terakhir dari 'Tiga Siluman Buaya Kali Getih' itu hingga beberapa kali terluka oleh sabetan pedang buntungnya. hingga sampai akhirnya kedua orang itupun sama terpental dengan beberapa luka sabetan senjata ditubuh masing- masing.

__ADS_1


Semenjak dipatahkan oleh 'Gada Rahwana' saat pertama kali kusir kuda itu bertemu Respati dan Roro, lengan kanan Sabarewang sudah tidak dapat bergerak secara leluasa. sekarang sedikit diatas sikunya sudah bertambah luka bacokan berbentuk mata gergaji. dengan menotok uratnya, darah yang mengalir deras seketika berhenti.


Lelaki tinggi kekar dan agak brewokan itu mesti menahan kesakitan, sebab dia tahu lawannya juga mengalami luka yang mungkin lebih parah darinya. ''Kurasa kita mesti tentukan kalah menang dalam jurus terakhir..'' ujar Sabarewang dingin sambil angkat pedang buntungnya ke atas kepala.


''Ugh., Aarkh bangsat. kaulah yang jadi tumbal nalam ini.!'' Bajul Buntung balas membentak kalap dan menggerung menahan rasa sakit. tanpa perduli lagi dengan belasan sayatan luka ditubuhnya orang inipun berkelebat kirimkan lima buah bacokan golok sekaligus yang menebar bayangan lima kepala buaya buas dan bau busuk sangat menyengat. inilah jurus 'Lima Buaya Bangkai.!''


''Berkoarlah sesukamu selagi dapat, karena sebentar lagi kau hanya bisa meratap didalam neraka.!'' geram Sabarewang sambil kokohkan kedua kakinya depan belakang, dia memutar pedangnya lalu menikam ke muka. dua cahaya bintang merah berkobaran api yang disertai suara letusan keras menyambar dahsyat.


Lima bayangan kepala buaya siluman berhawa busuk saling labrak dengan dua larik cahaya merah berbentuk bintang berapi. kelima buaya hitam siluman itu sama pentangkan mulut rahangnya seakan berebutan untuk menelan lenyap dua cahaya bintang itu. tapi yang terjadi adalah sebaliknya begitu sinar bintang kembar berapi tertelan, terjadi ledakan keras yang membakar musnah lima buaya siluman itu.


''Jahanaaammm., ini tidak mungkin.!'' teriak Bajul Buntung parau. tubuh orang ini terpental hingga tiga tombak jauhnya, karena jurus Bintang Api Kembar bukan saja membakar musnah ilmu Lima Buaya Bangkai miliknya, tapi terus melibas cepat dadanya hingga berlubang hangus di kanan kiri dengan luka membentuk bintang segi empat.

__ADS_1


Diwaktu ujung kematiannya Bajul Buntung masih sanggup merapal mantra. golok gergaji di tangannya bergetar membentuk bayangan gelap buaya siluman. kejap berikutnya golok buaya siluman itu dia lemparkan ke depan. seiring itu nyawa Bajul Buntung juga terlepas dari raganya.


Sabarewang jatuh terduduk lemas dengan muka sepucat mayat. hampir seluruh tenaganya terkuras habis. golok gergaji gigi buaya melesat secepat sambaran halilintar. bekas anggota pengawalan barang 'Garuda Merah' ini tidak mampu untuk menghindar.


Saat sejengkal lagi golok siluman buaya itu bakal menembus leher Sabarewang. sekelebat cahaya tajam keperakan yang melengkung menghadang golok gergaji. kedua tangan yang Jurata gemetaran menahan gagang goloknya akibat benturan senjata. meski dia mampu menghadang serangan terakhir Bajul Buntung, tapi senjata di tangannya juga turut patah.


Sabarewang menggerung keras. lehernya selamat dari terjangan golok gergaji buaya terbang tapi bahunya terbacok. setelah berhasil mencabut golok yang tertancap, orang tinggi besar inipun terkapar pingsan saking tidak mampu menahan rasa sakit dan kehabisan tenaga.


Jurata membentak garang. mata goloknya yang buntung tinggal dua jengkal dibabatkan seiring tubuhnya yang menerjang maju. dengan jurus 'Bacokan Golok Penindas Jiwa' orang ini dengan buasnya membantai empat anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang ingin mencoba mengambil kesempatan untuk membunuh Sabarewang.


''Golokku boleh patah, tapi selama jiwaku masih berada didalam ragaku, jangan harap siapapun menyakiti kawanku.!'' setelah menelan sebutir obat peningkat tenaga dalam pemberian Dewi Malam Beracun, Jurata meraung bengis seolah kesetanan.

__ADS_1


''Nyi Dewi., harap kau rawat Sabarewang, sekarang biar aku yang menghabisi mereka semuanya. dasar kaum keparat, majulah kalian semuanya.!'' tanpa perduli apapun pesilat dari tanah Pasundan itu sudah menerjang maju ketengah kalangan pertempuran. hanya dalam empat jurus saja enam orang sudah menjadi korban keganasan goloknya.


__ADS_2