13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia Istana Angsa Emas. (bag1)


__ADS_3

Pintu ruang penjara itu sudah kembali ditutup dan terkunci dari luar. kepala seorang pemuda yang tubuh dan tangannya terikat rantai di dinding penjara batu itu perlahan terangkat. sepasang mata yang awalnya redup tanpa cahaya kehidupan mendadak menyorot tajam penuh hawa dendam. kalau turut maunya saat ini juga dia ingin putuskan belenggu rantai pengikat tubuhnya lantas kabur.


Tapi dia tidak bisa melakukannya. gadis yang bernama Satriyana si pewaris Istana Angsa Emas mesti dia bawa serta keluar dari tempat ini. Respati merasa kekuatannya belum cukup untuk bisa menyelamatkan mereka berdua. dia mesti bersabar dan menahan diri. ''Saa., Satri., yana. aa., apakah kau., masih sang., gup ber., taa., tahan.?'' dengan terputus Respati bertanya.


Sosok gadis yang berdiri terikat rantai di tiang batu itu hanya bisa melirik dan mengangguk pelan. ''Aa., aku yakin kaa., kakak Roro pas., ti aa., akan datang meno., long kii., kita..'' jawab Satriyana lirih. meskipun nampak lemah tapi ada keyakinan yang sangat kuat terpancar dari dalam diri gadis itu.


Respati menyeringai pahit. jika di bandingkan dengan siapapun dia jauh lebih memahami sifat sepupunya. ''Kaa., kau benar. kakak angkatmu itu., tee., ten., tentu sedang ber., siap untuk menyerbu kem., mari..'' sementara dalam hati Respati justru berpikir rencana apa yang bakal dibuat Roro. dia tahu wanita licik ini tidak akan mau bertindak jika tidak yakin menang. karenanya pemuda itu mesti dapat memperkirakan apa yang akan dilakukannya.


''Kaa., kang Respati., jika kita tidak maa., mam., pu keluar dari., tee., tem., pat ini., mau., maukah kau., kau tee., terus mene., mani diri., ku.?'' Respati tertegun saat Satriyana tiba- tiba mengatakan sesuatu yang diluar dugaan. ucapan yang keluar dari bibir gadis itu terasa begitu murni tanpa ada suatu paksaan.


Tanpa sadar mata Respati mengamati tubuh gadis itu. dia seakan baru paham kalau gadis itu sudah tumbuh semakin dewasa. dibalik tingkah gayanya yang mirip kaum lelaki, meski sekarang terlihat pucat dan kurus juga berkulit sedikit gelap, tapi harus diakui Satriyana sudah menjelma menjadi wanita yang sangat menarik hati. bahkan jika dibandingkan Roro., sekarang dia punya daya tarik tersendiri.


Teringat saat pertama kali mereka berdua bertemu, gadis itu bukan saja sangat kurus, kotor tidak terurus dan bau badan. namun sekarang segalanya sudah berubah. dia adalah tuan putri Istana Angsa Emas. sang pemilik 'Darah Keabadian' yang cantik dan diburu banyak pihak.


''Kau jangan bicara yang macam- macam. kita berdua pasti selamat. seandainyapun tidak., aku juga tidak akan pernah meninggalkan dirimu sampai kapanpun..'' tegas Respati berusaha meyakinkan. raut wajah pucat Satriyana sedikit berubah memerah. dalam hatinya timbul perasaan tenang dan yakin.


 

__ADS_1


Empat orang itu masih berada didalam gubuk. peti kayu cendana hitam berisi pedang pendek yang bentuknya lebih mirip sebilah pisau keemasan juga sudah tersimpan didalamnya. meskipun udara pagi menjelang siang itu masih terasa dingin tapi Roro seperti enggan memakai kembali jubah gaun hitamnya. dia merasa lebih nyaman dengan pakaian terbuka seperti itu.


Puji Seruni sahabatnya menjadi geli dan risih sendiri melihat kelakuan 'Dewi Malam Beracun' yang dianggapnya aneh dan rada tidak tahu malu. ''Si brengsek ini sengaja mau pamer tubuh atau bagaimana sih, apa dia tidak malu dengan keadaan dirinya. Iih., dasar aneh..'' umpatnya dalam hati melirik jijik bulu- bulu hitam yang tersembul dibalik lipatan ketiak Roro.


Belum sempat si 'Dewi Seruni Putih' dari Lembah Seruni itu bicara, dari luar gubuk terdengar suitan. Roro bangkit dari tempatnya duduk. kotak kayu cendana hitam cepat dia simpan dibalik celah rahasia di belakang dinding gubuk. ''Sepertinya orang Istana Angsa Emas sudah sampai kemari. tapi aku ragu., mereka akan menurut begitu saja dengan rencana yang sudah kususun..''


''Hhem., kurasa itu tidak jadi masalah. walau bagaimanapun mereka juga punya harga diri sebagai suatu perkumpulan bernama besar..'' gumamnya tersenyum sinis. saat itu seorang perempuan berpakaian dan bercadar hitam sudah membuka pintu gubuk dan menjura hormat ''Lapor ketua., ada beberapa orang yang mengaku dari Istana Angsa Emas datang kemari. ada tiga orang yang menjadi pimpinannya..'' ucap perempuan itu sambil sebutkan ciri- ciri mereka bertiga.


Roro Wulandari sekilas tersenyum licik. dia hanya memberi isyarat goyangan tangan. ''Suruh mereka langsung masuk. ambilkan dua buah kursi lagi untuk tamu. lalu kau bisa kembali berjaga diluar.!'' bawahannya cepat menyahuti, sekejap kemudian dari luar gubuk terdengar langkah kaki belasan orang.


''Kalian semua tetap berjaga diluar saja, biar kami bertiga yang masuk ke dalam sana.!'' satu suara berat berkumandang disusul masuknya dua orang lelaki dan seorang perempuan muda ke dalam gubuk. mereka agak terkejut melihat kehadiran tiga orang lain bersama Dewi Malam Beracun.


''Jadi maaf jika penyambutannya kurang baik. disini tempatnya terbatas kursi juga hanya ada enam buah. satu jelas untukku sebagai pimpinan. tiga dipakai oleh ketua perguruan silat 'Lutung Ciremai' dan sahabat baikku Nyi Puji Seruni. dua lainnya untuk Ki Sabda Langitan dan Panglima Istana Tengah..''


''Hik., Hi., jadi terpaksa kau berdiri saja di pojokan dekat pintu gubuk..'' ujar Roro terkikik sambil permainkan rambut hitamnya yang panjang dan lebat sepinggul. ''Kurang ajar., sejak awal aku tahu dirimu bukanlah wanita baik- baik. terbukti kau memang berniat untuk mengerjaiku.!'' umpat Panglima Istana Kiri gusar.


''Hei pucat sialan., aku juga tahu kalau kau tidak suka denganku, tapi dirimu juga mesti sadar kalau aku juga lebih benci dengan sikap angkuhmu yang menyebalkan. kalau kau tidak terima penyambutanku sekarang juga silahkan pergi dari gubuk ini.!'' Roro balik mendamprat. seketika suasana menjadi tegang.

__ADS_1


Roro menyeringai sinis melihat dua belas gelang emas bergerigi dipergelangan tangan lelaki berjubah kuning itu bergetaran keras hingga keluarkan suara gemerincing siap melabrak. Puji Seruni meraba gagang sepasang pedang emasnya sementara Ki Tirtayasa dan Nyi Kunarsih meski masih tetap duduk tenang namun jemari mereka sudah diselimuti lapisan cahaya putih redup.


Diancam lawan seperti itu malah membuat Roro duduk santai. kedua kakinya diangkat bersilang keatas meja. ''Jika kau ingin menyerangku silahkan saja. tapi jangan harap kalian mendapatkan peti kayu cendana hitam asli yang berisi kunci pembuka pintu gudang harta Istana Angsa Emas.!'' gertak Dewi Malam Beracun hingga membuat para tamunya terperanjat.


Ki Sabda Langitan yang menjadi pimpinan dari rombongan ini memberi isyarat agar Panglima Istana Kiri mau menahan diri. sementara dalam hatinya dia tidak pernah menyangka kalau dalam gubuk itu juga turut hadir 'Raja dan Ratu Lutung Sakti' dan 'Dewi Seruni Putih'. bagaimanapun juga mereka enggan jika harus bentrok dengan sesama pesilat aliran putih.


''Harap maafmu Dewi Malam Beracun. kau mesti maklum dengan sifat keras Panglima Istana Kiri yang sudah banyak kehilangan orang- orang yang selama ini sangat dekat dengan dirinya. jadi kuharap., kaupun juga sedikit menahan diri agar kita dapat mulai berbicara..'' Ki Sabda Langitan terdengar penuh wibawa dan ketegasan.


Roro mengangguk setuju. sambil turunkan kedua kakinya dari atas meja dia persilahkan para tamunya untuk duduk. dengan satu isyarat suitan seorang anak buahnya kembali masuk membawa sebuah kursi kayu lagi. ''Hei lelaki pucat jubah kuning., sekarang kau juga bisa duduk seperti yang lain..'' ucap Roro terkikik.


''Huhm., wanita sialan. kau terbukti berniat mempermainkan diriku.!'' dengus Panglima Istana Kiri. ''Kalau memang benar, lantas kau mau apa. sejak awal kalian memang sudah menyembunyikan sesuatu yang sudah seharusnya dijelaskan pada kami. tapi kalian., selalu menghindari pertanyaan ini.!''


Seolah tidak mau memberikan kesempatan pihak lawan untuk membuka mulut, Roro terus saja bicara penuh tekanan. ''Kalian orang- orang Istana Angsa Emas selama ini menginginkan Satriyana dengan alasan dialah pewaris Istana Angsa Emas dan junjungan kalian. tapi selanjutnya aku menyadari ada sesuatu masalah mendasar yang selama ini seperti sengaja dilupakan..''


''Apa maksud ucapanmu Dewi Malam Beracun.?'' potong Panglima Istana Tengah yang sejak tadi diam. ''Hik., hi., maksudku adalah kenapa sejak awal kalian tidak pernah mau mengatakan di mana sebenarnya letak dari Istana Angsa Emas. jika menurut cerita Istana itu telah hancur musnah, lantas kenapa masih tetap kalian inginkan seolah tempat itu masih berwujud nyata. ataukah., kalian semuanya hanya ingin memperalat kami untuk tujuan tertentu.!'' gertak Roro kereng sambil gebrak meja kayunya.


*****

__ADS_1


Silahkan tulis komentar Anda 🙏. Terima kasih.


__ADS_2