
Saat si gempal berpipi codet tiba, disana sudah ada enam orang kawannya yang terkapar binasa ditangan senjata para penyerbunya, beberapa orang lagi terluka cukup parah, sekali lihat dia dapat menduga kalau para penyerangnya bukan lain adalah para pemuda dari desa Pendamaran yang beberapa hari lalu mereka jarah.
Kemarahannya seketika meluap saat dia melihat seorang lagi anggotanya tewas ditebas pedang salah satu penyerbunya yang sepintas mempunyai ilmu silat lebih tinggi dibandingkan pemuda lainnya. dengan mencabut goloknya si pipi codet berkelebat menyerang orang yang bukan lain Wirasaba.
'Traang., trang.!'
Wirasaba tersentak saat pedang yang hendak membabat tubuh salah satu perampok tertahan, bahkan nyaris saja golok lawan memutus tangannya andai dia tidak cepat menghindar.!
'Kurang ajar., rupanya kalian sudah bosan hidup, sampai sengaja datang kemari.,!' maki si pipi codet geram. 'Kakang Gempal Codet., kita kirim saja mereka ke akhirat sekarang juga,!' kata salah satu kawan si pipi codet.
Wirasaba cepat membaca keadaan, 'Sebagian dari mereka sudah kembali kemari, sepertinya yang lainnya masih sibuk memadamkan api. kami harus cepat bertindak, tapi kawan- kawan belum berhasil menemukan para gadis yang diculik.'
'Keparat., sebentar lagi mati masih banyak pikiran, Ayoh habisi mereka.!' seru si gempal codet. bersama belasan kawannya mereka mengeroyok Wirasaba dan empat kawannya. pertarungan yang tidak seimbangpun terjadi, meski kalah jumlah tapi para pemuda desa Pendamaran itu bukan gentong kosong, ilmu silat mereka lumayan juga.
Sebenarnya saat desa mereka diserbu gerombolan begal Jalak Gandos, sebagian pemuda desa ini termasuk Wirasaba dan Respati sedang berada diluar desa untuk berlatih silat disebuah padepokan yang baru dibuka empat bulan lalu, kebetulan pendiri padepokan silat ini adalah paman sekaligus guru dari Wirasaba sendiri. para pemuda desa itu berlatih secara bergiliran, karena mereka juga harus tetap bekerja membantu keluarganya.
Ditengah perjalanan pulang dari padepokan, mereka berpapasan dengan warga desa Pendamaran yang sedang berlarian, rupanya mereka hendak melaporkan kejadian perampokan di desanya kepada Wirasaba. Akhirnya sebagian pergi mencari bantuan prajurit kerajaan, sedang sisanya berusaha mengejar gerombolan rampok Jalak Gandos. tapi karena harus mencari kuda tunggangan terlebih dahulu membuat mereka agak terlambat mengejar.
Wirasaba langsung berhadapan dengan orang yang bernama Gempal Codet. meskipun tubuhnya gemuk dan besar tapi gerakannya cukup mantap. ilmu goloknya juga ganas dan bertenaga, sementara Wirasaba yang bersenjatakan pedang baja putih mampu mengimbanginya dengan kelincahan tubuh dan kecepatan ilmu pedangnya, jurus demi jurus mengalir dengan cepat, kedua orang inipun terlibat dalam sebuah pertarungan yang cukup seru.
__ADS_1
'Aaahk.,!' terdengar jeritan menyayat dari salah satu pemuda desa Pendamaran, meskipun sudah mampu menghabisi nyawa dua orang perampok, tapi dia juga tidak mampu menghindari bacokan golok lawan yang membelah punggungnya. sementara Wirasaba kehilangan seorang kawannya, sebaliknya pihak gerombolan rampok itu justru semakin bertambah dengan kembalinya anggota lain dari memadamkan kebakaran yang dibuat Respati. hal ini membuat mereka semakin kewalahan dan terdesak hebat.!
'Haa., ha., sebentar lagi kalian semua bakalan binasa di tempat ini,!' ejek Gempal Codet, golok ditangannya kembali mengancam, kini dia semakin percaya diri dalam menghadapi lawannya, dalam sekejab mata dia lancarkan tiga bacokan dan dua tusukan golok sekaligus untuk menghabisi nyawa Wirasaba.!'
'Matilah kau.!'
'Traang., traang., tang.!'
Meskipun tersentak kaget tapi wakil kepala keamanan desa Pendamaran itu tidak menjadi gugup, pedangnya berputar rapat bagaikan perisai menangkis serangan golok lawannya lalu mencelat mundur beberapa tindak. meski lengan kirinya tetap saja tergores golok, tapi nyawanya masih dapat diselamatkan. Wirasaba menggeram marah, pedang baja putihnya yang tipis dan lentur digerakkan sedikit melambat, titik- titik air bagai gerimis tiba- tiba muncul menyelimuti sekitar tempatnya berdiri.
Saat pedangnya menyerang, titik- titik air panas yang disertai cahaya berkilauan itupun ikut menyambar, inilah jurus pedang terhebat andalan Wirasaba yang dinamai jurus 'Cahaya Pedang Embun Pagi,!'
Sebenarnya jurus ini baru sebulan diwarisi dari gurunya juga belum sempurna betul dipelajari. tapi hasilnya cukup luar biasa, Gempal Codet meraung kesakitan saat titik-titik air yang menghunjam bagai ratusan jarum tajam dan panas menerpa kulitnya. terpaksa dia melompat menjauh, saat dilihat beberapa bagian kulit tubuhnya berlubang- lubang kecil dan mengeluarkan darah, rasanya sangat panas dan perih seakan tersiram air mendidih.
Rasa perih dan panas akibat serangan jurus ini membuat Gempal Codet kelabakan menghadapi serangan pedang Wirasaba yang datang belakangan, orang ini cuma mampu bacokkan goloknya secara ngawur beberapa kali, sampai akhirnya ujung pedang lawan membabat dada kanannya, orang ini pasti mati terpenggal pedang Wirasaba jika saja tidak ada yang menghalangi.
'Whuuut., Beet.,!'
'Traaang.!'
__ADS_1
Wirasaba tergetar hebat tangannya, pedang baja putihnya hampir terlepas, belum sadar apa yang terjadi, dia harus buru- buru mencelat mundur saat ada sambaran mata tombak mengancam kepala, leher dan dadanya. meskipun selamat tapi angin serangan tombak yang tajam menderu tetap membuat bajunya robek besar, kulit dadanya tergores, darahpun turut merembes.!
Wirasaba melirik pedangnya, bagian ujung pedang terlihat gempil akibat benturan senjata tadi, ini membuktikan tenaga dalam orang yang menghadang pedangnya punya tenaga dalam tinggi, bahkan mungkin diatasnya, sekali lagi terdengar jeritan parau, saat menoleh entah sejak kapan dari lima orang kini tinggal dia bersama seorang kawannya yang berbaju hitam saja yang masih hidup. tiga lainnya satu persatu mati ditangan para anggota Jalak Gandos. kini mereka berdua sudah terkepung.!
'Cuma dengan delapan orang tapi kalian berani menyatroni sarang kami, benar- benar perbuatan dungu dan gila. 'Tapi., aku sedikit kagum dengan kenekatan kalian karena mampu membunuh belasan anak buahku,!' tegur seseorang kepada Wirasaba.
'Yang pasti kedua orang ini masih belum cukup sebagai gantinya.,!'
Belum dia sempat menjawab, orang yang membekal tombak panjang berwarna keemasan itu sudah melemparkan dua sosok tubuh kedepan wakil jogoboyo desa Pendamaran itu, bukan lemparan biasa tapi juga disertai tenaga dalam tinggi, membuat orang yang hendak menerima harus pula memiliki kekuatan tenaga yang hebat.
'Whuuuk., Bruuuk.,!'
'Prawijo., Dirga Rawit.,!' jerit Wirasaba dan kawannya menyebut nama kedua sosok tubuh yang sudah menjadi mayat itu, mereka terpukul saat menyaksikan kedua orang yang terlempar di depan mata mereka tidak lain adalah kawan mereka sendiri.
'Manusia iblis., Jahanan busuk.,! 'Aku akan mengadu jiwa denganmu.,!' gembor pemuda berbaju hitam bernama Lembu Suta itu sambil menerjang kemuka. pedang di tangannya langsung membuat tiga tusukan sekaligus. meskipun ilmu silatnya dibawah Wirasaba, tapi dalam keadaan kalap serangan pemuda ini cukup berbahaya.!
'Lembu Suta., Jangan.,!' teriak Wirasaba. pedang menusuk, tombak menikam., hanya sekali saja terdengar benturan senjata, berikutnya cuma ada suara jeritan tertahan disertai terlemparnya sosok tubuh Lembu Suta dengan perut jebol, usus terburai dan darah berhamburan.!
Dengan menahan kemurkaan yang teramat dalam, Wirasaba menatap orang yang ada di hadapnnya, sesosok tinggi besar bermuka angker dan berambut pendek, ditangan kanannya tergenggam sebatang tombak bersinar kekuningan, pertanda bukan senjata sembarangan, mata tombak terlihat masih berlepotan darah segar, meskipun belum pernah bertemu tapi dia yakin kalau orang inilah yang berjuluk Jalak Gandos, sang pemimpin begal rampok yang terkenal buas.!
__ADS_1
Tapi yang membuatnya cemas adalah di sebelah kiri orang ini terkulai lemas Respati, tubuh pemuda itu terlihat memar dan penuh luka berdarah, dua orang anggota begal terlihat menginjak tubuhnya yang terbujur diatas tanah, meskipun masih bernafas, tapi lukanya sangat parah. Wirasaba mengeluh, dadanya yang tergores terasa panas dan membengkak kehitaman, baru dia menyadari tombak lawan mengandung racun.!
'Keparat Sial.,! 'Apa yang harus kulakukan., bala bantuan dari prajurit kerajaan agaknya juga tidak bakalan datang, sementara tinggal aku sendirian, sepertinya hidupku juga berakhir disini,' batin Wirasaba, meskipun demikian pemuda ini tidak merasa gentar, bahkan dalam hati dia bertekad untuk membunuh sebanyak mungkin gerombolan perampok Jalak Gandos yang telah menghancurkan desanya.