13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dendam buta Nyi Sira (bag2)


__ADS_3

Serangan mendadak dan terkesan penuh hawa dendam kesumat yang di lakukan Nyi Sira si 'Mambang Wanita Buta' ini bukan saja mengejutkan Sabarewang, tapi juga hampir semua orang yang terlibat pertarungan sengit di dalam hutan itu.


Sekali tubuhnya berkelebat sambil mencabut pedang dari dalam tongkat merahnya, nenek buta itu sudah lepaskan empat kali sabetan dan tikaman pedang yang menimbulkan kilatan cahaya tajam menyilaukan pandangan. jarak antara Nyi Sira dan Sabarewang yang masih terpaut sepuluh tombak seakan dapat di lewati hanya dalam dua kejapan mata saja.


'Whuuuut., whuuut., sheeet.!'


'Traaaaang., traang., plaang.!'


''Awas Sabarewang., cepat kau menyingkir.!" seru Roro Wulandari penuh rasa khawatir. dari hawa tajam yang membelah udara dapat dia rasakan kalau jurus pedang Nyi Sira sangatlah berbahaya. dia tidak yakin rekannya itu dapat selamat dari serangan lawan.


Tidak perduli masih menghadapi para anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis, Ki Maruta serta Ki Lembu Singkil yang berusaha bangkit lalu nekat menyerang kembali meskipun keduanya terluka dalam, 'Dewi Malam Beracun' langsung hamburkan pisau dan paku beracun terbang ke arah Nyi Sira. tapi semuanya dapat di buat rontok mental hanya dalam sekali tebasan pedangnya.!


Segulung cahaya hitam hitam pekat berbentuk ular kobra raksasa meluruk deras di tengah jalur serangan pedang Nyi Sira. nenek bermata buta itu mendengus gusar. dengan setengah membalik tubuh di udara dia kembali babatkan pedangnya tiga kali hendak memotong putus sinar hitam dari ilmu 'Roh Kobra Kegelapan' yang di lepaskan Respati.


Sementara pedangnya memotong, sarung pedang yang berupa sebatang tongkat merah di tangan kiri lancarkan dua buah totokan maut ke tubuh Sabarewang yang nyawanya baru saja terlepas dari ancaman pedang Nyi Sira. hebatnya semua gerakan itu dia lakukan dengan tetap meluncur deras di udara tanpa perlu menghentikan tubuhnya.


Mau tidak mau Roro Wulandari dan Respati harus mengakui kehebatan tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh nenek tua itu. meskipun mereka berdua tidak akan kesulitan untuk melakukan hal yang sama, tapi tetap saja tidak semua pesilat yang berilmu tinggi sekalipun dapat berbuat seperti itu.


'Whuuuts., bheeets.!'

__ADS_1


'Traaaang., slaaaash., blaaash.!'


Benturan senjata pusaka dan ilmu kesaktian terjadi. bayangan sinar kobra hitam masih berusaha menggulung cahaya pedang Nyi Sira yang tajam menyilaukan, sebelum akhirnya keduanya tersapu lenyap meninggalkan dahan pepohonan yang patah terpotong dan ribuan dedaunan rontok berguguran tertiup angin.


Nyi Sira mengumpat sumpah serapah, muka pucatnya yang bengis penuh keriput seketika memerah, melihat tenaga sabetan pedangnya amblas tergulung cahaya kobra hitam. biarpun demikian tongkat merah pembungkus pedang tetap bergerak menotok. cahaya merah darah terpancar dari ujung tongkatnya.


Whuuut., whuuut.!'


'Traaang., traang., chraaang.!'


''Serahkan saja nyawamu dan pedang buntung itu padaku sekarang juga.!'' bentak Nyi Sira alias Mambang Wanita Buta kalap hingga membuat Sabarewang terdesak hebat dan kebingungan dengan semua kejadian itu.


Respati yang kembali menggunakan ilmu pukulan 'Kobra Kuning Penjebol Karang' dan jurus pedang 'Sembilan Patukan Kobra Mabuk' untuk menghabisi nyawa Ki Maruta alias Pendekar Belibis Putih tertegun melihat dua buah cahaya sakti kemerahan yang persis sama muncul dari tongkat dan pedang buntung yang saling hantam adu kekuatan.


Akibat terdesak, marah dan bingung membuat perhatian Sabarewang terpecah. sebuah totokan tongkat mampu menembus perisai pedang yang dia namai 'Lading Buntung' itu. tanpa dapat di tahan lagi sebuah lubang sebesar jempol kaki orang dewasa muncul di pundak kanan hingga tembus ke bahu.


Sabarewang terjungkal mental hingga lima tombak jauhnya. darah pekat yang tersembur terlihat kehitaman seakan hangus. bekas anggota pengawalan barang Garuda Merah itu kertakkan giginya agar tidak menjerit. tapi rasa sakit yang teramat pedih tetap membuatnya berteriak tertahan menahan kesakitan.


Respati membentak garang, terlukanya Sabarewang membuatnya naik pitam. pedang Iblis Hitam di tangannya bergerak menikam dan membabat tubub Nyi Sira. gebrakan pemuda ini seperti ratusan ular kobra ganas yang sedang mengamuk. berpuluh- puluh bayangan ular kobra hitam di sertai asap pekat berbau sebusuk bangkai berkelebatan hendak menelan habis tubuh nenek buta itu.

__ADS_1


Biarpun kedua matanya tidak mampu lagi melihat tapi indera penciuman, pendengaran dan perasa si Mambang Wanita Buta itu berkali lipat lebih tajam dari manusia lainnya hingga bisa merasakan ancaman maut yang mengincarnya dari delapan penjuru.


''Jahanam., kau pasti si pengkhianat yang di sebut sebagai Ular Sakti Berpedang Iblis. tapi jangan pernah berpikir dapat mengalahkan aku.!'' teriak Nyi Sira bengis. pedang dan sarungnya di babatkan berulang kali hingga membentuk perisai pedang perak dan merah darah. sesaat lamanya kedua jago pedang tua muda itu saling bacok dan tikam.


Entah sudah berapa puluh kali senjata pusaka mereka beradu kesaktian. semak belukar dan rumput liar tersapu rata. beberapa pohon tumbang terbabat hawa kesaktian yang keluar dari kedua pedang itu. beberapa orang anggota Pasukan Tombak Gergaji Iblis yang terlambat menjauh seketika terpotong tubuhnya jadi beberapa bagian.


Ki Lembu Singkil si Raja Celurit Emas yang sedang terdesak oleh Dewi Malam Beracun menjadi jeri melihat semuanya. kawannya Ki Maruta sudah menemui ajal di tangan Respati. dia sendiri sudah terluka parah, sementara anak buahnya yang tinggal segelintir sebentar lagi bakal terbantai habis oleh Ki Ageng Bronto dan kelompoknya.


Sungguh dia menyesal mau ikut bergabung dalam kelompok 13 Pembunuh menggantikan beberapa anggotanya yang tewas dalam ledakan di Wonokerto. tapi penyesalan selalu datang terakhir kali. maka saat jurus Cakar Tengkorak Darah kembali membabat, dia hanya bisa berusaha menangkisnya dengan tiga bacokan celurit emasnya. sebelum akhirnya tokoh silat dari pulau Madura itu tewas dengan perut terkoyak gosong.!


''Sialan., ternyata ilmu pedang tua bangka buta ini memang luar biasa..'' rutuk Respati sambil kembali lancarkan jurus 'Sembilan Patukan Kobra Mabuk' yang di lambari dengan ajian Roh Kobra Kegelapan. pemuda ini merasa penasaran karena sudah lebih dari tiga puluh jurus terlewati namun serangan pedangnya belum juga mampu menembus perisai pedang dan tongkat sakti lawan.


Saking sengitnya pertarungan itu yang terlihat hanya gulungan sinar dan bayangan hitam putih, perak dan merah darah. saat pertarungan pedang itu hendak menuju akhir, terjadi perubahan yang di luar dugaan.


''Nyi Sira, sang Mambang Wanita Buta., bukankah kau menginginkan pedang buntung yang ada padaku ini., ayoh rebutlah dari tanganku jika dirimu memang mampu.!'' satu suara berat terdengar membentak garang menggelegar bagai guntur karena di barengi tenaga dalam tinggi.


Seketika pertarungan terhenti. Nyi Sira dan Respati menoleh hampir bersamaan ke satu arah. disana terlihat Sabarewang berdiri angker dengan pandangan mata berapi- api. di tangan kirinya tergenggam sebatang pedang buntung bersinar merah darah dan berkobaran bara api. hawa kematian terpancar dari diri orang tinggi kekar itu.


Respati terkesiap saat merasakan adanya peningkatan tenaga sakti dalam diri kawannya. tidak jauh di belakang Sabarewang terlihat Satriyana yang duduk bersandar bahu Roro Wulandari. tangan kiri gadis itu terdapat bekas luka sayatan.

__ADS_1


''Aah., jangan- jangan Sabarewang telah meminum 'Darah Keabadian' milik Satriyana, hingga tenaga dalamnya meningkat berkali lipat dan pulih lukanya.!'' batin Respati tegang. sementara Nyi Sira juga nampak beringas merasakan hawa pedang buntung yang dia incar sejak lama.


__ADS_2