13 Pembunuh

13 Pembunuh
Dendam dua panglima.


__ADS_3

Meskipun malam sebentar lagi akan turun hujan lebat, namun tidak menghalangi dua sosok tubuh berjubah kuning keemasan itu untuk terus berdiri di depan sebuah makam yang mungkin belum sebulan ada di sana. sebuah batu nisan hitam dengan tulisan huruf- huruf berwarna emas yang berbunyi 'Makam Panglima Istana Kanan' tertancap di salah satu sisi makam.


''Kita sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kurasa para orang tua itu terlalu banyak perhitungan. kalau begini terus pembalasan dendam kematian saudara kita 'Panglima Istana Kanan' tidak akan pernah terwujud.!'' geram si jubah kuning yang bertubuh tinggi agak kurus dan sedikit pucat. pada kedua pergelangan tangan orang ini melingkar belasan gelang emas bergerigi tajam.


''Aku juga berpikir demikian, sungguh diriku tidak mengerti kenapa mereka tidak mau segera mengadakan pembalasan atas kematian saudara kita.?'' desis orang berjubah kuning yang bertubuh agak kecil langsing dan bercadar kuning. dari perawakan dan suara sert aroma harum lembut dari tubuhnya menandakan kalau dia seorang wanita muda.


''Apakah perlu kita tanyakan sekali lagi pada 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' tentang tuntutan kita untuk segera dapat mengadakan pembalasan atas kematian Panglima Istana Kanan dan seluruh saudara yang tewas dalam peristiwa pertempuran besar di Wonokerto. setidaknya., kita bisa mendapatkan kepastian sebelum bertindak.?''


''Untuk apalagi bertanya pada orang- orang itu. kita bertiga sudah saling mengenal dan mengasihi sejak masih bocah. kehilangannya membuat diriku gila dan ingin secepatnya menghabisi seluruh anggota 13 Pembunuh juga para bajingan di rimba persilatan..'' orang yang bukan lain adalah 'Panglima Istana Kiri' itu menggeram marah.


''Baiklah., kita tiga bersaudara sudah sehidup semati. malam ini juga kita berangkat keluar untuk mengadakan pembalasan. tapi apakah kau sudah yakin dengan berita itu, karena rumah besar Ki Ageng Bronto sudah berubah menjadi puing- puing hangus terbakar. jadi., untuk apa anggota mereka kembali lagi ke sana.?'' tanya wanita yang memang 'Panglima Istana Kiri' itu agak ragu.


''Kalau soal itu terus terang saja diriku juga tidak yakin betul, tapi hanya inilah petunjuk yang bisa kita dapatkan dari laporan beberapa orang anak buah yang diam- diam kita perintahkan mengamati daerah kadipaten Wonokerto sesudah kejadian besar itu. sampai saat ini dua diantaranya masih berada di sana untuk mengawasi keadaan..'' terang Panglima Istana Kiri.


Bersama dengan Panglima Istana Tengah, dia berlutut di depan makam saudaranya. kedua orang ini memanjatkan doa untuk ketenangan arwah mendiang saudara angkat mereka dan berjanji menuntut untuk balas. setelah meraup segenggam tanah makam dan menyimpannya di kantung jubahnya, kedua Panglima Istana Angsa Emas yang juga sepasang kekasih inipun berkelebat lenyap di kegelapan.


Baru saja belasan tombak mereka melesat pergi, dari arah berlawanan mendadak muncul sekelebat bayangan manusia berbaju hitam yang langsung berdiri menghadang jalan kedua orang panglima Istana Angsa Emas itu. sebagai orang yang berwatak agak tinggi hati, Panglima Istana Kiri menjadi naik pitam. tanpa perduli sedang berhadapan dengan siapa, dia hantamkan dua buah gelang emas berdurinya.


Gelang berbentuk cakra itupun melesat cepat berputaran menerabas kegelapan. orang berbaju hitam yang menghadang di depan keluarkan suara mendengus. kaki kirinya menjejak tanah lebih dalam sementara kaki kanannya berputar menendang. selarik sinar merah redup memotong sambaran dua gelang emas lawan.

__ADS_1


'Wheeerr., wheeess.!'


'Whuuuut., whuuut., traaang.!'


'Craaaang., plaaaang.!'


''Hanya inikah ilmu kepandaian yang di miliki seorang panglima istana Angsa Emas., hanya serupa mainan anak kecil saja.!'' orang berbaju hitam itu kembali lakukan tendangan memutar kaki kanan yang diakhiri dua buah pukulan tangan kosong yang membawa angin keras. dua gelang emas sempat terpental sebelum balik masuk ke pergelangan tangan tuannya.


Panglima Istana Kiri terkesiap melihat tingkat kehebatan ilmu tendangan lawan. sebelum dia kembali melabrak, rekannya sudah keburu maju dengan lepaskan dua buah pukulan telapak yang memancarkan cahaya kuning tajam. wanita itu memakai sejenis sarung tangan pelindung kulit yang dia gunakan juga sebagai senjata.


''Kau ini pastilah si Panglima Istana Tengah, ingin kulihat sehebat apa kemampuanmu.!'' tidak cuma bicara, lelaki tua berbaju hitam itu juga tidak berdiam diri. tubuhnya mencelat ke atas untuk menghindari sambaran serangan lawan. dari atas dia buat gerakan setengah jungkir balik lalu meluruk dengan tendangan kaki kanan yang menghunjam deras laksana geledek.


Whuuuk., whuuuut.!'


'Slaaasss., blaaaamm.!'


Dua kekuatan sakti bertemu di udara. tubuh kecil ramping Panglima Istana Tengah terpental ke belakang, tanah yang tadi menjadi tempatnya berpijak terlihat rengkah berlubang besar di hatam kaki tombak lawan. sambaran jurus telapaknya turut musnah di tengah jalan.


Rupanya orang tua berbaju hitam yang bukan lain adalah Ki Sambi Puntung atau 'Pendekar Kaki Buntung' ini sengaja tidak memberikan kesempatan lawannya untuk balas menyerang, bahkan kali ini dia langsung lancarkan selusin tendangan kaki tombaknya secara berantai ke arah dua panglima istana Angsa Emas itu. tentu saja mereka berdua tidak mau kalah, terjadilah pertarungan sengit dua lawan satu.

__ADS_1


Panglima Istana Kiri membentak keras seraya kibaskan kedua tangannya ke depan, dua belas gelang emas bergerigi tajam melesat cepat hingga menimbulkan bunyi berdesing nyaring dan cahaya kuning emas. di tengah jalan gelang- gelang terbang itu bergerak terpencar untuk kemudian mengurung Ki Sambi Puntung dari dua belas arah yang berbeda.


Tanpa perduli sedang berhadapan dengan siapa, lelaki tinggi pucat bermuka dingin itu telah menggunakan ilmu 'Dua belas Gelang Kematian' yang menjadi salah satu jurus terhebat yang dia miliki. jangankan tubuh manusia, bongkahan batu karang besar juga bakalan hancur lebur di labrak gelang- gelang saktinya.


Pasangannya si Panglima Istana Tengah juga tidak mau ketinggalan, biarpun curiga dengan jati diri lawan tapi dia sudah keburu di bakar amarah akibat nyaris terjungkal hanya dalam beberapa gebrakan. kedua tangannya yang berselubung sarung tangan kulit seakan memancarkan asap dan sinar kekuningan. Saat kedua telapak tangannya menghantam seiring lompatan tubuhnya, dua larikan sinar kuning setajam mata golok turut menyambar, ilmu 'Telapak Bulan Sabit Emas' berkelebat memburu korban. tidak berhenti di situ saja masih dalam keadaan berkelebat maju, wanita ini sudah siapkan jurus 'Delapan Tapak Dewi Menebar Bisa.!'


Ki Sambi Puntung terperanjat juga. ''Sialan., rupanya ilmu kedua bocah ini hebat juga. tapi meskipun begitu jangan harap kalian berdua bisa mengalahkan aku..'' umpat orang tua yang punya julukan Pendekar Kaki Buntung itu. selagi dia berpikir dua belas gelang lawannya sudah tinggal satu tombak saja dari tubuhnya.


Hebatnya orang ini tidak menjadi panik, kaki kiri menancap sejengkal ke dalam tanah. kaki kanannya yang buntung tersambung tombak besi menendang secara berputar seperti gasing. kaki tombaknya memerah bagaikan batang besi di bakar api.


Terdengar suara ledakan keras berulang kali saat cahaya merah dari kaki tombak Ki Sambi Puntung bentrok dengan dua belas gelang terbang Panglima Istana Kiri. delapan gelang mampu di buat terpental tiga di hantam berhasil di hindari, sedang satu lagi masih sempat merobek paha kirinya cukup dalam hingga tumpuan tubuhnya jadi sedikit goyah.


Saat itulah serangan dari Panglima Istana Tengah sudah datang mengancam. Ki Sambi Puntung meraung murka dan penasaran kerena terdesak sampai terluka kaki kirinya. bersamaan dengan itu dari satu arah datang suatu ilmu pukulan berhawa sedingin es yang menghadang jurus kesaktian Panglima Istana Tengah. satu suara mendamprat marah turut terdengar ''Cepat hentikan semuanya., apa kalian sudah gila hingga saling baku hantam dengan sesama kawan sendiri.!''


''Ilmu pukulan sakti 'Telapak Salju Gunung Agung.!'' seru Panglima Istana Kiri kaget saat melihat ribuan titik- titik embun yang di sertai gelombang cahaya putih sedingin es melabrak di antara jurus pukulan sakti yang saling beradu kekuatan.


''Paman I Gede Kalacandra., apa maksud ucapanmu barusan. kenapa juga menyerang kami.?'' teriak kedua panglima itu hampir bersamaan. terpaksa mereka berjumpalitan mundur akibat terhempas tenaga hawa dingin dari ilmu kedigjayaan si 'Dewa Serba Putih' yang mampu membuat sekujur tubuh mereka terasa membeku.


Sesosok lelaki tua berjubah dan berikat kepala putih sudah berdiri menghadang diantara dua pihak yang bertaraung. dikedua telapak tangan orang bernama I Gede Kalacandra ini masih di selimuti butiran embun sedingin es dan sinar putih redup. ''Kau tidak usah ikut campur I Gede Kalacandra, kedua anak muda ini sudah berencana untuk bertindak semaunya sendiri. karenanya mereka mesti mendapatkan hukuman dariku.!'' geram Ki Sambi Puntung.

__ADS_1


''Bersabarlah sobatku Ki Sambi Puntung,. mereka berdua tidak akan lolos dari hukuman sesuai dengan aturan Istana Angsa Emas.!'' potong I Gede Kalacandra. baik Panglima Istana Kiri dan Tengah sampai terkesiap mendengarnya. selain itu disebutnya nama Ki Sambi Puntung juga mengingatkan mereka pada seseorang.


__ADS_2