13 Pembunuh

13 Pembunuh
Sisi gelap yang jahat


__ADS_3

Orang tinggi besar cuma diam mematung, golok besar yang masih tergenggam ditangannya malah kembali disarungkan. raut wajah orang ini seakan menampilkan perasaan sedih dan dendam yang meluap, tapi entah kenapa dia tidak membantu rekannya yang terkapar berkelojotan meregang nyawa, padahal jarak antara dia dan tubuh Sabarewang yang kini terluka lengan bahu kanannya hanya terpaut dua tiga langkah saja jauhnya.


Sekalipun disana juga ada Respati tapi pemuda itu berdiri terlalu jauh, jadi untuk menghabisi Sabarewang dalam sekali tebas juga tidak sulit. apakah orang ini sebenarnya hanya seorang pengecut yang cuma ingin cari selamat sendiri atau bagaimana,?


Akhirnya orang itu bergerak melangkah, Respati berkelebat cepat menghadang didepan tubuh Sabarewang, ternyata orang ini malah menuju tubuh kawannya yang di lehernya masih tertancap pedang buntung.


Dengan tangan kanan pedang buntung itu dicabutnya, bukan sekedar mencabut tetapi juga sekaligus memotong leher orangnya.!


Kepala itu menggelinding, darah merah membasahi tanah, si tinggi besar jatuh terduduk, dari mulutnya terdengar suara tawa yang lebih mirip tangisan, apakah orang ini mendadak sudah menjadi gila,? batin Respati sambil menotok urat lengan Sabarewang untuk menghentikan aliran darah yang mengucur.


''Hampir tiga tahun lamanya aku memburu manusia laknat ini, aku sampai terpaksa harus bergabung dengan orang- orang dari golongan hitam hanya untuk mencari kabar tentang dia., sungguh tidak kusangka jahanam itu selama ini berada dekat sekali denganku.!'' geram orang tinggi besar itu sambil menahan amarahnya. dia lalu berdiri sambil menenteng kepala bekas rekannya.


''Namaku jurata., benar katamu orang ini memang murid murtad perguruan Lutung Ciremai., dia melarikan diri saat hendak dihukum mati, setelah memperkosa dan membunuh saudari seperguruannya yang bukan lain adalah adikku sendiri.!''


Sabarewang dan Respati saling pandang sesaat, meski terkejut tapi mereka tidak mengucapkan apapun. ''Aku baru mengenalnya seminggu yang lalu disebuah tempat wanita penghibur., karena tidak punya petunjuk apapun aku memilih ikut bersamanya. kebetulan ada orang yang mau memakai tenaga kami untuk menyelidiki jejak Ular Sakti Berpedang Iblis.!''


''Aku ikut bersimpati pada nasib saudarimu., tapi ada urusan apa orang itu menyuruh kalian mencariku, siapa dia, dan sekarang berada dimana.?''

__ADS_1


''Satu hal lagi kenapa kau sampai tidak mengenali orang itu, matamu yang buta atau kau memang manusia totol.?'' tambah Sabarewang menyindir. ''Dia pandai sekali menyamar, aku juga belum pernah melihatnya karena diriku bukanlah murid perguruan Lutung Ciremai. dia pernah keceplosan ngomong waktu mabuk kalau dia pernah belajar sedikit ilmu menyamar dari 'Si Celeng Muka Seribu.!' gembong perampok yang sekaligus penjahat ahli menyamar.!'' jawab Jurata menerangkan.


''Sejujurnya aku tidak tahu persis kenapa mereka itu mencarimu, tapi sepertinya ada sesuatu yang mereka inginkan darimu.!''


''Kau bilang mereka.,? 'Jadi ada lebih dari satu orang. sekarang katakan siapa mereka itu.!'' Jurata menarik nafas sebentar baru menjawab ''Aku tidak tahu siapa mereka, karena hanya orang ini yang berhubungan langsung dengan mereka berempat. aku cukup kerjakan perintah dan terima upah.!'' tutur Jurata sambil memandangi kepala pembunuh adiknya yang tergantung ditangan kanannya.


''Tapi., aku sekilas sempat melihat kalau ada empat orang tinggi kurus berjubah hijau, dan bermuka pucat berbicara dengannya.!''


''Kira- kira kau mengenali keempat orang itu.,?'' tanya Sabarewang sambil melirik Respati. pemuda ini usap dagunya yang mulai agak kasar ditumbuhi bulu. ''Mereka orang segolongan denganku, pembunuh bayaran tapi juga penculik dan perampok.! biasanya mereka berempat malang melintang didaerah selatan jawa tengah, tapi pernah juga muncul di barat dan pesisir utara., Empat Mayat Hijau, pasti mereka.!''


''Aku juga pernah mendengar nama mereka, meskipun kuyakin Empat Mayat Hijau bukan tandinganmu, tapi kau harus tetap hati- hati..'' saran Jurata tulus. ''Kau belum katakan mereka ada dimana sekarang ini.?'' tanya Sabarewang. ''Untuk apa kau tanyakan itu, buang- buang waktu saja.!'' potong Respati. ''Untuk apa katamu,? Tentu saja agar kita bisa mendahului melabrak mereka.!'' jawab Sabarewang, dia heran melihat Respati yang cuma menguap tidak perduli.


''Itu sudah tidak perlu., sekarang Jurata., kau kembali temui Empat Mayat Hijau, katakan Ular Sakti Berpedang Iblis kemungkinan hendak menuju Wonokerto untuk bergabung dengan seluruh anggota Kelompok 13 Pembunuh.!' Ingat., bilang kemungkinan hendak menuju Wonokerto.,!'' kata Respati dengan penuh tekanan. ''Dan satu hal lagi, setelah kau selesai menemui mereka, diam- diam kau sebarkan berita kalau Empat Mayat Hijau, berhasil mendapat surat wasiat dari Istana Keramat dan menuju Wonokerto.!''


Respati masih membisikkan beberapa pesan kepada Jurata. Sabarewang mendengus seakan tidak senang.


''Cuma itu saja.,? 'Kau melepaskan aku begitu saja dan tidak menahanku karena telah ikut melukai temanmu.?'' tanya Jurata bingung.

__ADS_1


''Dengar Jurata., kalau kau terus bertanya seperti ini, bisa jadi akan kubuat kau tidak dapat bertanya apapun untuk selamanya..'' ''Jadi kau lakukan saja yang dia minta.!'' ancam Sabarewang bengis. Respati sampai terhenyak, ''Kalau sedang marah, kusir kuda ini menyeramkan juga..'' batin si pemuda.


Jurata tersenyum pahit, batok kepala pembunuh adiknya dibuang jauh ke dalam hutan begitu saja, setelah menjura hormat orang inipun pergi.


''Sekarang jelaskan padaku kenapa lakukan semua ini.!'' tanya Sabarewang setengah membentak, ''Lakukan apa maksudmu.?'' sambil tersenyum licik Respati balik bertanya. ''Tentu saja jelaskan, kenapa kau malah beritahukan tujuan kita ke Wonokerto, memangnya kau sengaja mempertaruhkan nyawa kita.?''


Respati terkekeh sambil tepuk bahu rekannya. ''Kau terlalu banyak pikiran, rawat saja lukamu, aku sengaja memancing mereka ke Wonokerto agar tidak perlu susah payah mencarinya.! 'Soal surat wasiat itu kurasa sekarang ini memang sudah tidak dapat kita tutupi lagi.!''


Tiba- tiba wajah pemuda itu menyiratkan hawa gelap yang dingin ''Kalau memang mau bikin geger, marilah sekalian kita buat kegemparan yang besar di dunia persilatan, Hak ha ha.,!''


Sabarewang terdiam, entah kenapa dia menjadi takut melihat Respati, dalam hatinya dia merasakan kalau pemuda dihadapannya ini mempunyai sisi lain yang gelap, jahat sekaligus kejam, Respati menguap lebar. ''Kau jangan terlalu khawatir, aku punya perhitungan sendiri. 'Lagi pula kita punya Kereta Kuda Maut.! kereta yang katamu mampu melibas apapun yang menghalangi jalannya.!''


'Jika kau hidup sendirian, maka kau harus bisa mengandalkan dan percaya pada kemampuanmu sendiri untuk bertahan hidup., tapi kalau kau hidup dalam satu kelompok, selain harus mengandalkan dirimu sendiri kau juga harus percaya pada kemampuan orang dalam kelompokmu.!'


Itu adalah petuah yang Sabarewang dapat dari mendiang Ki Wikalpa, meskipun dia bukan orang bersih dan mau mengawal apapun, termasuk barang curian dan perempuan culikan, tapi ketua kelompok Garuda Merah itu memang seorang pimpinan kelompok yang bisa diandalkan.


Dan Sabarewangpun percaya pada kemampuan rekannya, Respati Si Ular Sakti Berpedang Iblis.!

__ADS_1


__ADS_2