
Malam itu penuh dengan bintang di langit. biarpun rembulan cuma separuh bundar tapi tidak dapat mengurangi keindahan malam itu. sayangnya empat orang yang sedang duduk mengitari perapian sambil membakar ubi dan jagung itu tidak berselera menikmati suasana malam. lagi pula siapa yang tidak merasa jengkel kalau diintai puluhan orang saat sedang makan malam.
Diantara keempat orang ini Sabarewanglah yang paling berangasan dan cepat naik darah. turut maunya saat ini juga dia bakal melabrak semua orang yang bersembunyi mengepung mereka berempat. tapi melihat Roro Wulandari sang Dewi Malam Beracun dan Respati si Ular Sakti Berpedang Iblis masih bersikap tenang, terpaksa dia cuma bisa menahan diri saja.
Satriyana mengeluh, dia teringat pusaka busur panah Srikandi yang jadi senjatanya tertinggal di dalam kereta kuda. kalau terjadi pertarungan, dia akan menjadi satu- satunya orang yang bertangan kosong.
Saat hendak bangkit untuk mpengambilnya, Roro Wulandari sudah keburu mencegah. ''Kau jangan bergerak dulu. anggap saja tidak melihat apapun., tetap bersikap tenang. sementara kau pakai dulu pisau ini..'' bisik Roro sambil berikan sebilah pisau yang biasa mereka gunakan untuk memotong daging dan sayuran.
''Kalau nanti benar terjadi pertarungan, kau secepatnya masuk ke dalam kereta kuda. kendalikan semua tuas penggerak senjata rahasia dan perangkap maut yang ada di sana. kecuali dua buah tuas yang aku ikat dengan rantai besi.!''
''Dua tuas yang terikat rantai itu seingatku berada di bawah lantai kereta, memangnya kenapa dengan kedua tuas penggerak itu.?'' tanya Satriyana heran.
''Karena kedua tuas itu berhubungan dengan semua rencanaku di Wonokerto, kalau kedua tuas rahasia itu sampai berubah atau lepas pengikatnya, kita semua pasti mampus tidak berbentuk.!''
Jawaban Roro bukan saja membuat ngeri hati si gadis, Sabarewang dan Respati juga turut bergidik. mereka tahu betul benda apa yang ada di bawah sana.
''Kira- kira mereka berasal dari kelompok mana Nyi Dewi.?'' tanya Sabarewang sambil menggenggam erat gagang pedangnya. dari sikapnya orang ini seperti sudah siap labrak kapan saja.
''Kalau dilihat sepintas mereka bukan dari satu kelompok yang sama, meskipun ada yang berpasangan dua sampai lima orang tapi ada juga yang menyebar sendiri..''
''Meskipun belum jelas tapi bisa kurasakan, ada dua atau tiga orang yang punya ilmu lumayan tinggi. gerakan juga tarikan nafas mereka hampir tidak terasa..!'' desis Roro, matanya yang indah dan tajam melirik Respati yang sedari tadi diam sambil membalik jagung bakarnya.
Biarpun seperti tidak perduli, tapi Roro tahu betul sikap si pemuda yang dingin dan tenang ini justru menjadi puncak tertinggi dari kewaspadaan seorang pendekar. dan ini terbukti Respatilah yang pertama kali sadar akan kehadiran lawannya.
__ADS_1
''Mereka mulai bergerak., tetap tenang dan lakukan seperti yang sudah kita atur..'' ujar si pemuda sambil memakan jagung bakarnya. ''Bertarung butuh tenaga., maka kita perlu mengisi perut juga..'' Sabarewang dan Roro akhirnya turut makan juga, terlebih Satriyana. acara makan malam yang singkat itu diakhiri minum sekendi wedang jahe gula aren.
Bersamaan enam orang berjalan mendekati tempat mereka duduk. dari langkahnya yang kasar dan sok gagah dapat dilihat kalau ilmu mereka tidak begitu tinggi. Sabarewang berdiri seraya mendengus, ''Biar mereka yang menjadi bagianku.!''
Enam orang bertubuh kekar ini sepertinya satu kelompok karena muncul bersamaan dari arah yang sama. satu diantaranya yang bertubuh paling kecil justru berjalan paling depan, mungkin dialah pimpinannya. ''Hak., ha., ha., ada acara makan bersama kenapa tidak mengundang kami.?''
''Tahukah kalian kalau sudah melakukan dua buah kesalahan besar.?'' gertak Sabarewang kereng. ''Yang pertama kalian datang tanpa diundang hingga makan malam kami jadi terganggu. kesalahan kedua kalian berenam datang pada waktu dan tempat yang salah.!''
''Kurang ajar., sombong amat orang brewok ini. pentang bacot seenaknya saja.!''
''Apa dia belum sadar sedang berhadapan dengan kita dari 'Gerombolan Begal Kapak Jabrik.!''
Sabarewang tercengang mendengar ucapan orang- orang yang mengaku dari gerombolan begal Kapak Jabrik itu. baru dia sadari kalau rambut keenam orang itu kaku dan tegak lurus keatas alias jabrik. ''Hek., he., sekarang aku sudah sadar sedang berhadapan dengan kawanan manusia tolol yang suka mencari masalah. katakan saja apa mau kalian.!''
''Dengar brewok keparat., nama panggilanku Jabrik Rawit sekaligus pimpinan gerombolan begal Kapak Jabrik. aku mau bertanya, apa benar kalian inilah yang hendak menuju ke Wonokerto dengan membawa sebuah kotak kayu cendana hitam.?''
''Kalau benar demikian kalian tidak perlu lagi susah payah kesana. serahkan saja barang itu pada kami, kujamin semuannya pasti beres dan kalianpun bisa kembali pulang dengan selamat.!''
''Dua kesalahan rupanya masih belum cukup buat kalian, sekarang malah berani bertanya yang tidak jelas. kalian para bajingan benar- benar membuat diriku muak..''
''Dengar jabrik tolol., disini tidak ada kotak hitam, putih, merah ataupun biru. yang ada cuma pedang buntungku yang sudah tidak sabar ingin mencincang kalian semua.!'' bentak Sabarewang sambil mencabut pedang buntungnya yang dia dapat dari Respati. selapis cahaya kemerahan terlihat menyelimuti mata pedang itu.
Begitu ucapannya berakhir, kusir kereta kuda ini langsung mengebrak keenam orang gerombolan begal Kapak Jabrik dengan gunakan jurus 'Lima Sambaran Petir Maut.' pedangnya menyambar secepat kilat hingga berubah menjadi lima buah tusukan mata pedang.!
__ADS_1
'Whuut., Wheet., Craaash.!'
'Aaaaakh., Aakh., Keparat.!'
Suara jerit kesakitan bercampur makian seketika memecah suasana malam. dua orang terkapar roboh dengan leher nyaris putus dan dada tertikam tembus. satu lagi masih sempat menghindar sambil bacokkan kapaknya. sayang dia masih kalah cepat, biarpun sanggup menangkis pedang yang menikam leher, tapi pergelangan tangannya yang memegang kapak terbabat putus. tubuh orang ini terjungkal pingsan saat dua buah tendangan keras menghajar perutnya.!
Tiga orang sisanya termasuk si pemimpin menjadi jeri. dalam sekali serang lawan mampu merobohkan tiga orang kawannya. tapi rasa ketakutan itu makin membayangi, karena serangan pedang buntung lawan tidak berhenti memburu.
Ilmu silat yang tidak begitu tinggi ditambah dengan rasa ngeri di hati membuat ketiga orang ini tidak sanggup lagi bertahan. saat kilatan cahaya merah dari pedang buntung kembali menyambar terdengar suara bentrokan senjata yang di susul tumbangnya seorang lagi anggota Kapak Jabrik. kali ini perutnya robek besar dengan isi perut menghitam.!'
Amukan jurus pedang buntung Sabarewang sungguh mengejutkan. orang ini seakan berubah menjadi manusia yang tidak kenal belas kasihan. tidak perduli kedua orang lawannya sudah berniat kabur dan minta ampun, tapi tetap saja dihabisinya.
Si pemimpin dan kawannya yamg tersisa hanya sempat lepaskan empat kali bacokkan kapak sebelum akhirnya mereka tewas dengan dada tertembus pedang buntung si kusir brewok.
Terdengar seruan geger dan ngeri dari balik kegelapan. meskipun gerombolan 'Begal Kapak Jabrik' hanyalah pesilat rendahan. tapi membantai enam anggotanya dalam waktu singkat juga bukannya gampang. Sabarewang berdiri sambil silangkan pedang buntung di tangan kirinya yang berselimut cahaya redup kemerahan. matanya tajam menyapu sekeliling tempat. seakan ingin mengatakan ''Siapa lagi yang ingin mampus, silahkan maju kemari.!''
Malam makin meninggi, bau anyir darah yang tertumpah juga mulai tercium. sepertinya aroma darah akan bertambah semakin pekat seiring dengan munculnya dua orang setengah tua berjubah hitam dan putih yang di tangannya membekal sebatang tongkat besi bekepala ular.
Satriyana sudah menyusup masuk kedalam kereta kuda maut memanfaatkan saat perhatian orang yang terpecah oleh pertarungan. Roro dan Respati memberi isyarat Sabarewang untuk mundur. kusir kereta kuda itu menurut.
''Ular berbisa memang harus dihadapi dengan ular beracun lainnya., aku percaya ular sepertimu tetap jauh di atas mereka berdua..'' bisik Dewi Malam Beracun dengan pandangan mesra tapi penuh keyakinan.
Pemuda itu cuma menyeringai. dengan menarik nafas dalam dia berdiri lalu mulai melangkah. caranya berjalan sangat berlainan dengan orang lain, sedikit berkelok dan melayang mirip ular merayap, tapi hebatnya dalam waktu sekejab dia sudah tiba menghadang didepan lawannya.
__ADS_1
''Langkah Melayang Ular Mabuk.!'' seru kedua orang berjubah hitam putih itu mengenali ilmu langkah yang digunakan Respati. kini mereka berdua sadar sedang berhadapan dengan siapa.