
Di dalam kereta kuda Roro Wulandari menceritakan semua kejadian yang dia alami kepada ketiga rekannya. Satriyana yang paling merasa khawatir dengan keselamatan tabib Rumilah dan Anggana. juga semua penghuni pondok pengobatan Mata Hati. Sabarewang meskipun cemas tapi masih bisa menahan diri. sementara Respati malah cuma diam tanpa bicara apapun. baginya Roro sendirilah yang lebih tahu apa yang harus dilakukan.
''Kita teruskan saja perjalanan ini.!'' putus wanita cantik itu setelah berpikir keras sambil sambil membuka kedua matanya yang terpejam.
Karuan saja Satriyana dan Sabarewang sangat kaget. bahkan Respati juga merasa keputusan Roro agak diluar dugaan.
''Ta., tapi kak Dewi, bagaimana dengan kakak tabib Rumilah, juga Anggana dan semua penghuni pondok pengobatan., bisa jadi mereka sedang terancam bahaya..'' keluh Satriyana cemas. ''Benar Nyi Dewi, kurasa kita kembali saja ke Jepara untuk menolong mereka.!'' timpal Sabarewang.
''Apakah kau ingin aku saja yang kesana., sementara kalian bertiga bisa terus melanjutkan perjalanan?'' usul Respati pula.
Dewi Malam Beracun kibas rambut hitamnya yang lebat dan harum, senyuman sombong tapi manis yang menjadi ciri khas Roro tersungging di bibir merahnya yang indah.
''Kita memulai semua ini berempat., jadi saat akan mengakhiri semua petualangan ini di Wonokerto kita harus tetap bersama. soal kakakku Rumilah, Anggana dan semua orang di sana tidak perlu kalian cemaskan. aku punya cara untuk menyelesaikannya..''
''Sebenarnya aku tidak mau menggunakan ini, tapi karena keadaan yang mendesak, terpaksa kugunakan mereka sekarang.!'' gumam Roro sambil melirik Respati yang tertegun mendengarnya. ''Jadi., sekarang kau hendak memberi perintah kepada anggota perkumpulan rahasiamu.?''
Jika Satriyana dan Sabarewang hanya bisa saling pandang tidak mengerti, lain pula dengan Respati. pemuda ini sudah hampir setahun belakangan mengetahui kalau diam- diam Roro telah berhasil membentuk sebuah perkumpulan rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. termasuk para anggota dan ketua dari kelompok 13 Pembunuh.!
Meskipun tahu kalau sebenarnya sepupu jauhnya itu adalah seorang ketua sebuah perkumpulan rahasia, tapi Respati juga belum jelas betul perkumpulan seperti apa yang di bentuk oleh Roro Wulandari. berapa banyak anggotanya, bergerak dalam urusan apa dan seberapa kuat perkumpulan itu.
__ADS_1
''Kakak Dewi, kakang Respati., sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan, ayoh cepat beritahukan pada kami berdua..'' desak Satriyana setengah merengek. Sabarewang jadi ikut penasaran juga dan minta jawaban Respati. tapi pemuda itu cuma angkat bahu sambil menunjuk Roro Wulandari.
''Kalian nanti akan tahu sendiri., tapi ingat apapun yang kelak kalian lihat dan dengar, anggap saja tidak pernah melihatnya. kalian paham.?'' tegas Roro memberi peringatan dengan raut wajah kereng. kalau sang Dewi Malam Beracun sudah bicara seperti itu, tidak seorangpun yang berani membantah perkataannya.
''Sekarang habiskan saja makanan kalian, setelah itu arahkan kereta ke tempat yang agak tersembunyi. tunggu sampai malam tiba, dan kalian akan temukan jawabannya.!'' sambung Roro seakan sengaja berteka- teki.
Saat itu sudah tiba senja hari, hanya tinggal beberapa saat lagi matahari akan terbenam. Sabarewang menempatkan kereta kudanya di tempatkan sepi dan terlindung, tapi tidak terlalu jauh dari keramaian. seperti yang diminta Roro Wulandari. meskipun dia tidak mengerti alasannya tapi kusir kuda itu tidak berani bertanya.
Satriyana mondar- mandir di samping kereta kuda dengan gelisah bercampur penasaran. beberapa kali dia melihat ke arah langit seakan mengharap malam segera tiba. Respati dan Roro tersenyum geli melihat kelakuan tuan putri istana Angsa Emas itu yang tingkah polahnya kadang masih agak kekanakan. Sabarewang juga penasaran, tapi masih bisa menahan dirinya.
''Kakak Dewi., lihat matahari sudah terbenam, ayoh cepat tunjukkan padaku apa yang menjadi rahasiamu itu.!'' seru Satriyana penuh semangat sambil menunjuk ke langit yang mulai gelap.
Roro tertawa melihatnya. ''Tunggu sebentar lagi sampai langit benar- benar gelap., dan ingat apapun yang nanti kalian lihat, jangan pernah mengatakannya pada siapapun. lebih baik lagi kalau kalian lupakan semuanya..'' sahut wanita cantik yang suka memakai gaun jubah hitam itu sambil masuk ke dalam kereta kuda dan menutup pintunya.
''Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Nyi Dewi Malam Beracun di dalam sana.?'' tanya Sabarewang tanpa bisa menahan lagi rasa penasaran dihatinya. tapi dia cuma bisa mendengus kesal melihat Respati hanya nyengir. saat hendak berlalu Sabarewang sempat mencium bau aneh yang agak tajam. seperti aroma belerang tapi juga seperti bau hangus terbakar.
Sementara itu di dalam Kereta Kuda Maut, Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun terlihat memasukkan beberapa sendok bubuk berwarna hitam, kelabu dan merah serta beberapa butiran kecil warna kuning keemasan ke dalam sebuah tabung bambu yang ukurannya sedikit lebih besar dari jempol kaki orang dewasa dan panjangnya tidak sampai satu setengah jengkal itu.
Wanita itu terlihat sangat berhati- hati dan penuh perhitungan saat menakar dan memasukkan semua bahan bubukan ke dalam tabung bambu itu. terakhir dia menutup tabung bambu itu dengan sehelai kain panjang seperti sebuah sumbu.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Roro menyimpan kembali semua bahan dan bubuk aneh yang berbau tajam itu kedalam kantong kulit besar. kalau diamati kantong kulit itulah yang di dapat Roro dari Lembah Seruni tempo hari.
Dengan menyeka peluh di jidatnya yang putih, Roro tersenyum puas. dia tahu kalau keahlian yang dia punyai ini bernilai sangat tinggi. bahkan ketua 13 Pembunuh pasti mau membayar dengan harga berapapun untuk bisa mendapatkannya. tapi Roro tetap memilih untuk merahasiakannya sebagai senjata andalan apabila dia terancam.
Dulu untuk bisa mempelajari ilmu meracik bahan rahasia ini, Roro sampai harus pergi jauh ke tanah seberang untuk bertemu dengan para ahli senjata dari negeri tiongkok, bangsa arab juga orang kulit putih. dia bahkan hampir kehilangan nyawanya saat pertama kali meracik serbuk rahasia itu. kalau teringat masa lalu Roro Wulandari sampai bergidik ngeri sendiri.!
''Orang- orang asing dari negeri seberang yang sangat jauh itu sungguh hebat hingga bisa membuat barang menakutkan seperti ini. beruntung aku bisa menguasainya, meskipun harus membayar dengan harga yang sangat mahal..'' batin Roro bangga.
Sejurus kemudian wajahnya berubah kelam membesi, saat teringat ada salah satu orang asing yang hanya mau bubuk hitam miliknya dibayar dengan tubuhnya. beruntung Roro sangat cerdik. dengan terlebih dulu meloloh orang asing berkulit putih dan berambut pirang itu dengan arak dan menggantikan dirinya dengan seorang wanita penghibur yang dia sewa, akhirnya Roro berhasil lolos juga dari dekapan pria asing mesum itu.
''Kalau saja aku tidak butuh rahasia bubuk ini, dia pasti sudah kuhabisi sejak awal. tapi., dia masih sempat juga melihat tubuhku setengah bugil. hhm., dasar orang asing berambut pirang sialan.!'' gumamnya geram.
Pintu kereta kuda terbuka. tanpa perduli pandangan mata semua rekannya yang lelah menunggu, Roro langsung bergegas melangkah ke tengah pelataran yang agak jauh dari kereta kudanya. tabung bambu berisi bubuk aneh buatannya di tancapkan ke dalam tanah.
''Kalian mundur semua, paling bagus lebih sepuluh langkah dari sini.!'' seru Dewi Malam Beracun. dari kantong jubahnya dia keluarkan batu api berwarna hitam. dua sampai tiga kali batu hitam itu diadunya hingga timbul percikan api yang membakar kain sumbu di atas tabung bambu.
Beberapa saat kemudian terdengar ledakan yang cukup keras yang di sertai melesatnya bunga api sampai jauh ke atas udara. di atas langit gelap terlihat pijaran api terang yang berwarna kuning kemerahan lalu semburat menghilang.!
Satriyana terpukau sambil berseru kagum, Sabarewang melongo tak kalah takjubnya. sedang Respati cuma tersenyum tipis, agaknya ini bukan yang pertama kali bagi si pemuda melihat Roro membuat benda ajaib seperti itu.
__ADS_1
Sepeminum teh kemudian., di saat belum hilang rasa kagum bercampur keheranan di hati kedua rekannya, dari tiga penjuru arah mendadak berkelebat muncul tiga bayangan hitam menuju tempat mereka berada. Satriyana dan Sabarewang seketika waspada dan cabut senjatanya. Dewi Malam Beracun cuma tersenyum sambil kibaskan tangannya memberi isyarat agar mereka tetap tenang.
Dalam waktu singkat tiga pendatang berbaju hitam itupun sudah sampai di depan Roro dan langsung menjura hormat seraya berkata ''Kami datang menghadap Ketua Dewi Malam Beracun sesuai perintah yang di sampaikan melalui tanda isyarat 'Cahaya Api Langit.!''