13 Pembunuh

13 Pembunuh
Rahasia ilmu terlarang (bag akhir)


__ADS_3

Segala peristiwa yang terjadi secara beruntun ini seolah terasa lambat jika diceritakan, padahal sesungguhnya semua kejadian itu berlangsung dalam waktu yang sangat cepat dan hanya beberapa kejapan mata saja. angin malam yang berhembus dingin menerbangkan dedaunan. bau anyir darah dari mayat- mayat membuat suasana semakin mencekam.


I Gede Kalacandra atau Dewa Serba Putih yang terkapar diatas tanah berusaha menolehkan kepalanya. meskipun malam cukup gelap tapi dia masih mampu melihat siapa orang yang telah mengangkat nyawanya dari lubang maut. ''Hee., he., tidak kusangka kau mau keluar dari sarangmu untuk menyelamatkan aku, sobat lamaku 'Malaikat Copet.!''


Hanya beberapa langkah dari tempat si Dewa Serba Putih' terkapar, berdiri agak terbungkuk seorang lelaki tua tujuh puluh tahunan, berbaju hitam dari kain mahal. rambutnya yang putih ditutupi sebuah blangkon yang juga hitam. kesepuluh jemari orang ini memakai perhiasan cincin emas berlian yang jelas sangat mahal harganya. sebuah pipa cangklong besi hitam yang menebar aroma kemenyan terselip di bibir peot lelaki tua ini.


Jika dilihat sepintas orang ini lagaknya seperti tuan tanah atau juragan kaya. tapi bagi orang persilatan, kakek tua berkulit hitam bermata tajam dengan ciri- ciri seperti itu sudah dapat menjelaskan siapa adanya manusia ini. dialah si 'Malaikat Copet'. ketua perkumpulan 'Maling Kilat' sekaligus dedengkot kaum pencoleng yang sangat terkenal di delapan penjuru angin.


''Huhm., sebenarnya aku tidak ingin terlibat masalah perselisihan kalian, orang- orang dari 'Istana Angsa Emas'. tapi diriku juga bukan manusia yang lupa budi. bertahun silam kau pernah menolongku dari kematian disaat kita berdua masih muda. sekarang kita sudah impas dan tidak saling berhutang apapun.!'' dengus Malaikat Copet menghembuskan asap pipa cangklongnya.


''Ketua kelompok 13 Pembunuh atau siapapun kau adanya. anggap saja diriku tidak pernah hadir disini. dulu orang ini pernah menolong jiwaku, ini cuma masalah balas budi sekali saja. jadi sekarang., silahkan kalian lanjutkan lagi urusan bunuh- membunuh ini. aku akan menontonnya dari kejauhan. Haa., ha.!''


''Copet tua keparat., apa kau pikir setelah kau mendadak muncul dan melibatkan dirimu dalam masalah, kau masih berani bermimpi untuk bisa pergi dari sini dengan selamat. tinggalkan dulu nyawa anjingmu.!'' bentak ketua kelompok 13 Pembunuh itu gusar, meski dalam hatinya dia cukup terkejut dengan kemunculan orang tua berblangkon hitam ini yang diluar perhitungannya.

__ADS_1


Dalam keputusannya untuk ikut turun tangan langsung memburu 'Darah Keabadian' malam ini bersama seluruh anak buahnya, ketua 13 Pembunuh alias 'Tuan Sesepuh Istana Utara' telah menghitung segala kemungkinan yang akan terjadi, baik siapa saja calon lawan mereka, tingkat kesaktiannya juga pesilat lain yang mungkin akan muncul karena tertarik dengan Darah Keabadian dan harta pusaka Istana Angsa Emas.


Sungguh dia tidak mengira kalau seorang ketua dari sebuah perkumpulan silat para pencuri yang selama ini tidak pernah ikut campur masalah perebutan kekuasan di dunia persilatan, malah berani keluar sarang rahasianya dengan alasan membalas hutang nyawa, lantas kabur begitu saja. ini jelas suatu penghinaan besar bagi sang ketua.!


Mulut membentak bengis, kedua tangannya bersamaan menghantam lawan. tangan kanan menyerang dengan ilmu 'Patukan Angsa Emas Iblis' sedangkan tangan kirinya mengibas lontarkan pukulan sakti 'Selaksa Bulu Angsa Menyebar Prahara' yang dulunya cuma dimiliki 'Tuan Sesepuh Istana Selatan'.


Dihantam oleh dua ilmu kesaktian tingkat tinggi seperti itu tidak membuat orang tua berjuluk 'Malaikat Copet' itu gentar apalagi ketakutan. gilanya dia malah tertawa bergelak tanpa berbuat apapun. maka tidak dapat dihindari lagi tubuh manusia ini seketika hancur musnah tersapu dua ilmu pukulan sakti ketua 13 Pembunuh. tanah tempat orang tua berblangkon hitam itu berdiri sampai berlubang sangat besar dan terbakar mirip kawah gunung berapi.


''Ketua 13 Pembunuh., jangan dipikir hanya kau saja yang memiliki ilmu 'Mecah Rogo Mecah Sukmo'. meskipun yang aku kuasai hanyalah kulitnya, tapi jauh lebih berguna dari punyamu. aku tidak mampu menyusupkan rohku untuk mengambil alih ilmu orang lain sepertimu, juga tidak dapat menyatukan tubuh yang terpotong. diriku cuma bisa memecah bayanganku didua tempat yang berbeda. tapi., bayangan roh yang kuhasilkan setingkat lebih nyata darimu..''


''Saat kau menyerang wujudku., sebenarnya roh dan raga asliku sudah berada ditempat lain. kau tahu., kaum pencoleng selalu harus bergerak jauh lebih cepat dari orang lain. karena bagi kami., bisa kabur dengan selamat dengan membawa hasil adalah kepandaian yang sejati. tidak perduli jika dianggap sebagai pengecut yang cuma bisa lari. karena kami., tidak pernah tertarik untuk menyandang gelar ksatria yang pemberani. Chuih., persetan.!''


''Aah., hampir saja aku terlupa kalau ada dua hal penting yang mesti kusampaikan padamu. mungkin sebentar lagi akan ada dua orang yang datang menemuimu. yang seorang masih sangat muda. satunya lagi adalah kenalanmu yang sudah lama menghilang..'' terdengar ucapan Malaikat Copet dari kejauhan.

__ADS_1


''Satu masalah lagi adalah., dengan tanpa seijinmu aku meminjam tubuh si 'Laba- Laba Kuning'. harap maklumlah., ilmu Mecah Rogo miliknya cukup menarik juga. sekarang kau boleh merasa kesal dan mencaci maki diriku. Haa., ha.!'' gema suara itu masih terdengar, saat Ketua 13 Pembunuh terlambat menyadari semuanya. ''Jahanam Malaikat Copet., aku bersumpah akan mencabik- cabik tubuhmu. Bangsat anjing., Setan alas.!'' umpatnya meraung gusar.


Tidak terlalu jauh dari lembah sunyi tempat terjadinya pertarungan besar- besaran antara pihak Istana Angsa Emas dan kelompok 13 Pembunuh, terdapat satu bukit yang berhutan lebat. dari balik pepohonan besar terlihat sebuah nyala api unggun yang dikelilingi bebatuan sebagai pembatas.


Bau harum dan sedap dari daging dua ekor kelinci panggang yang dibumbui berbagai macam rempah itu sangat menggugah selera makan orang tua yang duduk diatas batu dekat perapian hingga beberapa kali dia mesti mengusap air liur yang menetes dari sela bibir yang sudah peot.


Dalam hatinya orang tua yang berambut putih panjang menjela bahu dan diikat seperti ekor kuda itu memuji kemampuan memasak pemuda yang berada di depannya. beberapa kali dia hendak mengambil kelinci bakar itu, tapi dengan isyarat tangan pemuda pendiam berpakaian gelap itu menahannya.


Jika wajah orang tua itu terlihat sangat umum hingga sulit dijelaskan dengan ciri tertentu kecuali ada dua jemari tangan kanannya yang buntung, lain halnya dengan si pemuda. raut mukanya meskipun cukup tampan tapi terlihat rada pucat dengan sorot mata dingin. seakan., tanpa perasaan.


*****


Asalamualaikum, salam sehat sejahtera selalu🙏. Silahkan tulis komentar🗣🖌, kritik saran📝, like👍, vote juga favorit👌 jika anda suka. kalau berkenan, tolong share juga novel ini ke teman" anda👏. Terima kasih. Wasalamualaikum🙏.

__ADS_1


__ADS_2