
Deburan ombak laut selatan di pulau Jawa bagian tengah yang menggulung seakan tidak pernah surut menghempas pantai dan tebing batu karang yang berada di sana. sesekali tinggi gelombang laut lepas yang datang dari tengah samudra dan hendak menyapu tepian dapat mencapai lebih dari dua tombak tingginya.
Semenjak lewat tengah hari tadi cuaca disana sudah terlihat suram hingga kegelapan turun lebih cepat dari yang seharusnya. gelombang lautan setinggi bukit dan gemuruh suara badai angin yang menderu serta raungan guntur di atas langit berawan hitam, seakan membawa pertanda buruk dan datangnya kematian bagi umat manusia.
Saat cuaca semakin gelap dan hujan badai mulai turun menyapu jagad, dari arah utara berkelabat muncul tiga sosok bayangan yang bergerak cepat menuju sisi pantai sebelah barat yang terdapat banyak tonjolan batu karang. dalam waktu lima tarikan nafas saja tubuh mereka telah lenyap di antara celah batu karang.
Tidak seberapa lama kemudian dari tengah lautan menyeruak sebuah perahu kecil yang meluncur cepat memecah gulungan ombak dan hujan badai. hanya dalam waktu singkat perahu itupun sudah sampai di pantai yang berdekatan dengan tonjolan batu karang. di dalam perahu itu terdapat dua orang lelaki. satu segera turun dan berkelebat lenyap di celah bebatuan pantai seorang lagi tetap berjaga dalam perahu yang sepertinya sengaja dia tempatkan terlindung diantara tonjolan bebatuan.
Orang yang bergerak ke celah bebatuan itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan bagus. terbukti dia dapat berkelebatan diantara bebatuan licin dan tajam dalam terpaan hujan lebat begitu rupa. ternyata ada sebuah goa batu di depan sana. tanpa banyak kata orang yang sepintas masih cukup muda ini masuk ke dalam goa.
Ruangan goa itu tidaklah luas dan lorongnya cukup pendek. tiga orang lelaki setengah tua yang berada disana cepat bangkit berdiri. cahaya dari api unggun yang baru di buat dapat menerangi raut wajah ketiga orang itu. mereka bukan lain adalah Ki Kala Mayit, Ki Maung Gembong dan Ki Ageng Bangkal Sungsang.
''Harap maaf dari kalian tiga orang tua sakti karena mungkin telah menunggu lama. saya yang rendah bernama Warak Dumpa. salah satu dari empat anggota utama gerombolan bajak laut 'Ombak Hantu' pimpinan 'Nyi Danyang Segara.!" ucap lelaki yang baru datang itu sambil sedikit membungkuk hormat.
"Sesuai dengan perintah dan kesepakatan yang telah dibuat, kami akan sediakan dua kapal besar untuk mengangkut para pesilat yang ingin menuju ke pulau 'Seribu Bisa'. sebaliknya Ki Kala Mayit berkewajiban untuk membuka tabir gaib yang menutupi pulau itu dengan mantra yang telah kau kuasai..''
''Masalah pembagian keuntungan pimpinan kami menginginkan separuh dari 'Darah Keabadian' berikut rahasia harta pusaka 'Istana Angsa Emas'. selanjutnya Ki Maung Gembong dan Ki Ageng Bangkal Sungsang yang mengaturnya. kami hanya mau terima hasil bersih saja. bagaimana menurut kalian bertiga.?''
__ADS_1
Sekilas sempat terlihat kilatan mata seram penuh hawa membunuh yang terpancar di pandangan ketiga tokoh silat tua ini. namun semuanya tersapu lenyap oleh gelak tawa dan senyuman lebar dari mulut mereka. ''Haa., ha., asalkan pimpinanmu Nyi Danyang Segara dapat memenuhi permintaan kami, masalah pembagian hasil bisa kita sepakati demikian..'' jawab Ki Ageng Bangkal Sungsang.
''Kapan kedua kapal layar besar itu akan datang kemari. ingatlah., kita juga butuh beberapa persiapan dan menebar undangan pada para tokoh silat yang ingin turut menyeberang ke pulau itu..'' sela Ki Maung Gembong. ''Turut perhitungan paling lama dalam tiga hari ke depan kapal- kapal besar itu akan dikirim kemari lengkap dengan pengemudi dan buruh kapalnya..'' jawab Warak Dumpa cepat.
''Sebelum kau kembali ke tempatmu lebih dulu aku ingin bertanya, apakah kalian bajak laut Ombak Hantu juga pernah mendengar atau melihat adanya gerakan orang persilatan utamanya dari pihak Istana Angsa Emas di lautan sana.?'' selidik Ki Kala Mayit.
Warak Dumpa berpikir sesaat sebelum akhirnya menjawab. ''Mata- mata kami yang menyamar jadi nelayan di perairan selat Sunda ada yang melaporkan kalau dia pernah melihat kapal berbendera seekor angsa emas sedang berlayar. kemungkinan persembunyian rahasia mereka terletak di salah satu pulau yang berada di sana..''
''Bagus., dengan demikian semuanya sudah tidak ada masalah lagi. sekarang kau boleh kembali pada kelompokmu. sampaikan salam kami kepada Nyi Danyang Segara..'' sahut Ki Kala Mayit. orang bernama Warak Dumpa itu menjura hormat sebelum berkelebat pergi. wajah ketiga orang tua itu seketika berubah mengkelam.
''Kurang ajar., perempuan tua kepala bajak laut keparat itu hendak mengakali kita. apakah mereka pikir kita bertiga adalah manusia tolol yang mudah diperalat. selain meminta separuh dari Darah Keabadian dan rahasia harta karun Istana Angsa Emas, dia juga cuma ingin terima hasil bersih tanpa perlu susah payah bekerja. benar- benar bedebah.!'' maki Ki Maung Gembong.
Meskipun dalam hati merasa gusar namun mereka hanya dapat mencaci- maki. ketiga orang tua ini masih hendak mengumbar amarahnya saat mereka mendengar ada suara banyak langkah kaki manusia datang mendekat. seketika mereka bertiga menjadi waspada karena dari cara melangkah yang halus dan cepat para pendatang ini punya tingkat ilmu silat yang sangat tinggi.
Tidak perlu menunggu lama bagi ketiga kakek tua ini, karena dari balik bebatuan karang sudah muncul empat orang. tiga diantaranya yang bertubuh sangat kurus sama memakai jubah merah dengan muka putih pucat. ''Tiga Setan Merah Bermuka Pucat.!'' desis Ki Ageng Bangkal Sungsang tegang.
''Pendekar Alis Kelabu.!'' Ki Maung Gembong berseru saat melihat seorang pemuda dua puluh tahunan berjubah putih dengan rambut hitam namun memiliki sepasang alis mata putih keabu- abuan. dalam rimba persilatan pemuda berwajah tampan ini termasuk dalam jajaran sepuluh pendekar pendatang baru terkuat. ''Jika tidak salah dengar, pemuda ini berada di urutan ke enam. mau apa dia dan ketiga bedebah bermuka pucat itu datang kemari.?'' batin Ki Maung Gembong dan Ki Ageng Bangkal Sungsang saling lirik.
__ADS_1
''Kalian tidak perlu curiga. kami sengaja datang hanya ingin turut serta menuju pulau Seribu Bisa. tentu saja persyaratan kalian yang telah tersebar di luaran sana juga kami penuhi..'' ujar salah satu dari Tiga Setan Merah Bermuka Pucat yang berdiri paling kiri sambil lemparkan benda bulat berwarna putih berkilauan yang segera di sambut tangan Ki Kala Mayit. orang tua ini sedikit berubah raut mukanya saat merasakan ada hawa panas dan kilatan cahaya mirip petir terpancar dari dalam benda bulat yang berada di telapak tangannya itu.
''Membawa harta benda berharga sebagai syarat sangatlah merepotkan bagi kami. batu putih yang kami berikan padamu adalah pusaka 'Watu Petir' yang dapat memberikan tambahan tenaga sakti pada pemiliknya. benda itu sangat bagus bagi orang yang punya dasar tenaga dalam beraliran panas..'' sambung orang yang berada di tengah.
Ki Kala Mayit menimang sebentar lantas mengangguk sebagai isyarat untuk setuju pada kedua rekannya. ''Baiklah., imbalan dari kalian bertiga kami terima. ingatlah saja, seperempat dari jumlah apapun barang yang kalian dapatkan di pulau Seribu Bisa harus diserahkan pada kami bertiga..'' ucap Ki Maung Gembong.
''Pemuda hebat yang berjuluk Pendekar Alis Kelabu, apa yang kau bawa sebagai mahar perjalanan menuju pulau Seribu Bisa.?'' tanya Ki Ageng Bangkal Sungsang pada pemuda jubah putih yang berdiri agak terpisah. meski hujan turun cukup deras namun semua orang yang ada disana seolah tidak merasakannya.
''Aku hanya memiliki harta benda dan uang yang cukup banyak. dua kantung berisi seratus keping uang emas dan perhiasan mewah kuserahkan pada kalian sebagai ganti syaratnya..'' sambil bicara pemuda itu melemparkan dua buah kantung kulit yang disambut oleh Ki Maung Gembong.
Orang tua ini tidak dapat sembunyikan senyuman liciknya saat mengetahui isi dari kedua kantung kulit yang penuh dengan uang emas dan perhiasan mewah berharga sangat mahal. ''Hhem., setoran darimu kami terima. sekarang kalian berempat bisa pergi dari tempat kami ini lebih dulu karena mungkin ada banyak orang yang juga ingin pergi ke pulau Seribu Bisa..''
''Dua atau tiga hari lagi kapal pengangkut yang akan mengantarkan kita ke pulau itu pasti datang kemari..'' sambung Ki Ageng Bangkal Sungsang. keempat orang itupun hanya mengangguk lalu berkelebat lenyap. tiga orang tua itu sama saling pandang dan tertawa licik.
Tidak berapa lama kemudian dari balik kegelapan muncul lagi beberapa orang dan kelompok lagi yang bermaksud sama seperti empat orang itu. dengan menemui Ki Kala Mayit dan kedua rekannya lebih dulu mereka juga memberikan imbalan berupa harta pusaka sebagai pembayaran.
Rupanya tiga orang ini memang bermaksud untuk memancing para tokoh persilatan agar ikut serta ke pulau Seribu Bisa dengan iming- iming Darah Keabadian dan harta pusaka Istana Angsa Emas, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya menunggu mereka di sana.!
__ADS_1
*****
Mohon untuk menuliskan komentar Anda. Trims. 🙏😊