13 Pembunuh

13 Pembunuh
Belenggu jiwa.


__ADS_3

Hari sudah beranjak agak siang, Respati masih duduk bersandar pada sebatang pohon dengan membelakangi sungai. tangannya memegang sebatang pisau kecil dan patung kayu berbentuk seorang wanita cantik yang sedang telanjang. meskipun hanya sebuah patung kayu tapi benda itu seperti punya hawa gaib sehingga terkesan hidup.


Pemuda bekas pembunuh nomor tiga belas di kelompok 13 Pembunuh, yang dalam dunia persilatan di juluki sebagai si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' itu paham kalau tubuh wanita yang di terukir di kayu itu adalah bentuk tubuh dan wajah dari Roro Wulandari sang 'Dewi Malam Beracun'. meskipun sangat membenci Kamajaya tapi Respati juga mengakui akan kehebatan seni ukir lelaki bajingan itu.


Sudah lebih sepenanak nasi waktu berlalu, tapi wanita yang terukir tubuhnya di patung kayu itu masih berendam di dalam sungai. biarpun suara isak tangisnya sudah mereda, tapi Respati tahu luka di dalam hati sepupunya itu mungkin tidak akan pernah bisa hilang.


Tanpa sadar dia menoleh ke belakang. di sana terlihat punggung putih seorang wanita yang sebagian tertutupi rambut hitam lebat panjang sepinggul. jika di amati lebih jauh terlihat kedua bahunya yang mulus sedikit terguncang beberapa kali. Respati hanya bisa diam menunggu karena dia juga tidak tahu harus bagaimana menghibur Roro.


Bukan soal mudah bagi seorang wanita cantik yang pernah dua kali mengalami penodaan. dari yang Respati ketahui dulu Kamajaya telah berhasil membujuk Roro untuk masuk menjadi anggota 13 Pembunuh. sejak dia berhasil mempelajari kitab pusaka 'Kobra Iblis, Respati berusaha mencari keberadaan Roro Wulandari tapi tidak pernah dia temukan jejaknya.


Sesuai dengan permintaan si 'Maling Nyawa' akhirnya Respati masuk menjadi anggota kelompok 13 Pembunuh. karena sang ketua selalu membatasi pertemuan dan menjaga kerahasiaan para anggotanya, baru dua bulan setelahnya Respati tahu kalau sepupu jauhnya itu juga berada dalam kelompok pembunuh bayaran yang sama.


Saat itu Ular Sakti Berpedang Iblis sebagai pembunuh nomor tiga belas diperintahkan ketuanya untuk membantu pembunuh nomor dua belas yang bertugas untuk menghabisi seorang ketua perguruan silat ternama yang punya kekerabatan dekat dengan kesultanan Demak. dia hanya pernah mendengar kalau si nomor dua belas itu adalah seorang wanita cantik yang banyak akal dan di kenal dengan sebutan Dewi Malam Beracun.


Tanpa banyak tanya diapun berangkat ke tempat pertemuan yang telah diatur ketuanya. saat tengah malam tiba, diatas atap perguruan silat itulah mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah lebih dari lima tahun lamanya berpisah. mereka berdiri berseberangan di ujung kiri kanan wuwungan genting perguruan yang tinggi itu.

__ADS_1


Respati masih ingat betul pertemuan itu. jubah gaun hitam yang melambai tertiup angin, kipas perak di tangan, rambut hitam lebat sepanjang pinggul berhias tusuk konde bulan sabit emas dan wajah secantik bidadari kahyangan itu terlihat begitu memukau tertimpa cahaya bulan purnama.


Sepasang mata bening dan indah yang terus menatapnya itu mulai basah berlinang. bibir merah bergetar seperti ingin mengucapkan seribu kata rindu. demikian pula Respati juga merasakan hal yang sama. tapi dari mulut kedua orang ini hanya keluar helaan nafas berat. ''Ja., jadi kau inikah si pembunuh nomor tiga belas. Ular Sakti Berpedang Iblis.?''


''Yah., pertemuan yang mengejutkan sekali bukan, pem., pembunuh nomor dua belas. sang Dewi Malam Beracun.?'' Respati balik bertanya. sesaat keduanya merasa canggung.


''Baik., mari kita lakukan secepatnya..'' gumam Roro waktu itu. ''Kita kerjakan sesuai rencana dan perintah atasan..'' balas Respati dingin. hanya itu kata yang terucap di antara mereka. meskipun ada kerinduan yang terpendam, tapi sekarang ini mereka berdua adalah para pembunuh bayaran. tugas mesti lebih dulu di selesaikan secepat mungkin.


Dua bayangan hitam putih menyusup masuk ke dalam. gerakan mereka sangat ringan dan cepat. selanjutnya hanya terdengar jeritan tertahan berseling beradunya senjata. saat para murid perguruan silat itu terjaga dan menyadari akan kematian gurunya, kedua pembunuh itupun sudah lenyap dari sana.


Di suatu tepian hutan mereka berhenti. entah siapa yang lebih dulu menghentikan larinya. Roro Wulandari membalik dan tanpa bicara langsung memeluk Respati. isak tangisnya seakan mampu meruntuhkan hati lelaki paling kejam sekalipun. dari penuturan Roro dia baru mengetahui kalau dia sudah terjebak oleh orang yang bernama Kamajaya. salah satu pentolan dari 13 Pembunuh yang berjuluk 'Pendekar Romantis Pencabut Nyawa.!'


Saat itu Roro Wulandari baru setengah tahun masuk menjadi anggota 13 Pembunuh. tapi sekarang Roro sudah mulai dapat mengurangi pengaruh dari ajian pengikat jiwa Kamajaya. dengan petunjuk kakak segurunya Rumilah, dia berusaha membuat obat penawar secara diam- diam sambil menunggu saat untuk membalas dendam.


Sebenarnya Respati sempat berniat untuk membunuh Kamajaya lalu mereka berdua kabur secepat mungkin dari kelompok 13 Pembunuh, tapi ada beberapa alasan yang membuat dia mengurungkannya. pertama dia mendapat tugas dari si Maling Nyawa untuk menghancurkan kelompok 13 Pembunuh dari dalam dan mencari tahu tentang sebuah tempat yang bernama 'Istana Angsa Emas'.

__ADS_1


Kedua Roro belum siap betul untuk lepas dari ilmu pengikat Kamajaya dan bersikeras mencari cara untuk menuntut balas. selain itu mereka berdua sadar ilmu pisau terbang pria bejat ini sangat menakutkan. Respati mesti mencari tahu lebih dahulu kelemahannya.


Perlu setahun lamanya bagi Respati untuk bisa memahami ilmu Pisau Kelembutan milik Kamajaya. meskipun demikian dia juga belum merasa yakin dapat mengalahkan salah satu dedengkot 13 Pembunuh itu. maklum saja selama ini pisau Kamajaya tidak pernah meleset dari sasarannya. bahkan konon dulu si pembunuh nomor enam 'Gada Rahwana' yang punya ilmu kebal juga pernah di tembus oleh pisau lelaki itu di karenakan membantah perintah ketuanya untuk tidak membunuh orang yang bukan sasarannya.


Baru sekarang ini semuanya bisa kesampaian. lelaki bejat itu sudah menjadi seonggok mayat yang terus membusuk. sesosok tubuh wanita cantik berjubah gaun hitam sudah berdiri di sampingnya. meskipun kedua matanya masih memerah bekas tangisan, tapi senyumannya yang manis, genit, sombong dan juga licik itu sudah kembali menghiasi bibir merahnya.


''Kalau sudah melihatmu kembali seperti ini lagi, aku jadi bingung apakah harus bersyukur ataukah mengeluh..'' batin pemuda itu sambil memberikan boneka kayu dan pisau kecil di tangannya pada wanita yang bukan lain Roro Wulandari itu.


''Chuih., apa bagusnya boneka kayu wanita telanjang seperti ini Respati, seleramu benar- benar kekanakan. dari pada kau memelototi boneka kayu wanita yang sedang telanjang, bukankah lebih baik melihat yang aslinya..'' ucap Roro menggoda sambil membuka jubah hitamnya sebelah atas hingga terlihat buah dadanya yang putih dan hanya tertutupi selembar kutang hitam. melihat itu si pemuda langsung menyumpah serapah lalu melesat kabur meninggalkan Roro yang tertawa geli.


Pisau dan boneka kayu itu sudah teremas hancur. jiwa Dewi Malam Beracun terasa terbebas dari beban berat yang sekian lama membelenggunya. ''Hei., Ular Sakti Berpedang Iblis, kau sungguh tidak mau melihat tubuhku. nanti bakal menyesal lho. Hik., hi.!'' gelak Roro Wulandari berkelebat lenyap menyusul Respati.


Sesampainya di tempat asal, Roro Wulandari melihat Satriyana dan 'Putri Penjerat' alias si 'Laba- Laba Kuning' sudah tersadar. keduanya menghambur memeluk Dewi Malam Beracun yang turut terharu. mungkin hati kaum wanita memang lebih perasa. tidak ada tanya jawab diantara mereka. asalkan melihat rekannya kembali selamat itu sudah cukup bagi mereka.


Setelah menghabiskan sayur daging yang mulai dingin, kelompok yang terdiri dari lima lelaki dan tiga orang perempuan itupun melanjutkan perjalanannya. entah apalagi yang akan mereka perbuat dan menghadang di depan sana.

__ADS_1


*****


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera.🙏 silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍vote atau favorit👌jika anda suka. Terima Kasih pada para reader pembaca yang sudah bantu share novel 13 PBH ini dan PTK. Wasalamualaikum.


__ADS_2