
Ruangan serupa penjara itu selain agak gelap juga terasa pengap. saat itu terdengar suara erangan lirih tapi jelas bukan berasal dari bibir gadis yang berdiri menunduk lemas dengan tubuh terikat rantai, di sebuah tiang batu dan sedang di sedot darahnya dari pipa kaca yang tertancap pada kedua urat nadi di tangan kanan kirinya.
Di salah satu sudut ruangan itu rupanya juga terdapat satu lagi pesakitan. bedanya dia adalah seorang pemuda. pada awalnya pakaian yang dikenakan orang ini berwarna putih tetapi kini sudah penuh dengan kotoran bercampur darah yang keluar dari hampir sekujur tubuhnya dan robek- robek.
Kalau si gadis berdiri terikat di tiang batu, maka si pemuda kedua kaki dan tangannya terentang terikat rantai di dinding ruang penjara. dari keadaannya jelas pemuda itu sudah mengalami siksaan yang sangat kejam. dia tidak ingat entah sudah berapa puluh atau mungkin ratusan kali tubuhnya menerima pukulan dari penyiksanya.
Bahkan beberapa bagian tubuhnya melepuh koyak disundut besi panas. jika orang lain mungkin sudah sejak lama mati saking tidak sanggup menerima siksaan seperti itu, tapi karena selain daya tahan tubuh pemuda itu sangat hebat, dia juga harus terus bertahan demi nyawa gadis yang sedang disedot keluar darahnya.
Kira- kira setengah bulan yang lalu mereka berdua bersama dengan beberapa sahabat karibnya pernah terlibat dalam sebuah pertempuran besar- besaran antara pihak 'Istana Angsa Emas' dan kelompok '13 Pembunuh' di suatu lembah terpencil yang jarang diketahui orang.
Di saat mereka dan orang- orang dari istana Angsa Emas hampir mencapai kemenangan, diluar dugaan pimpinan dari 13 Pembunuh mampu membalikkan keadaan dengan menggunakan sejenis ilmu hitam yang sanggup membangkitkan sekaligus mengendalikan ratusan mayat- mayat hidup.
Saking terdesaknya oleh serbuan pasukan mayat hidup itu membuat mereka sesaat terlupa pada gadis bernama Satriyana itu yang menjadi incaran utama dari ketua 13 Pembunuh. saat mereka tersadar segalanya sudah terlambat. gadis pemilik 'Darah Keabadian' itu telah terjatuh ke tangan lawan.
Dalam suasana berkabut pekat mata tajam pemuda bernama Respati yang saat itu paling dekat tempatnya dengan Satriyana masih sempat melihat gadis itu ditotok oleh seseorang. sayangnya dia tidak sempat untuk mencegah. meskipun tidak bisa mengenali siapa lawannya dia tetap nekat mengejar karena Respati tahu arah tujuan lawannya pastilah pulau 'Seribu Bisa.!'
Lebih dari dua hari dia mengejar tanpa henti. puluhan orang anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang berani menghadangnya dibantai tanpa ampun. kepanikan membuat pemuda ini tidak perduli kelelahan tubuh dan hilang akal sehat hingga tidak sadar telah terpancing perangkap lawannya.
__ADS_1
Saat tenaga sudah banyak terkuras serta pikiran terpecah, dua anggota dari kelompok 13 Pembunuh yang berjuluk 'Sukma Tertawa' dan 'Iblis Tangan Biru' datang menyergap dibantu puluhan anak buahnya. disaat lain mungkin pemuda bergelar si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' itu bakal mampu menahan keroyokan lawan tapi sekarang dia hanya sanggup membunuh tujuh anggota lawan sebelum dibuat roboh oleh pukulan sakti kedua lawannya. beruntung dia tidak sampai tewas ditempat.
Saat tersadar dirinya sudah berada di dalam suatu ruangan pengap dan gelap. rasa sakit akibat luka luar dalam di tubuhnya tidak lagi dia perdulikan saat matanya melihat gadis bernama Satriyana yang ingin dia selamatkan justru sudah terikat rantai dengan sepasang pipa kecil penyedot darah tertanam di kedua urat nadi tangannya.
Tanpa perduli apapun Respati bergegas bangkit dan menghambur ke depan hendak menolong gadis itu, tapi dua belenggu rantai besi yang mengikat kedua tangan kakinya di dinding goa menahan gerakannya. sepintas rantai itu memancarkan cahaya hitam redup pertanda bukan belenggu sembarangan.
Beberapa kali dia mencoba kerahkan tenaga kesaktian untuk mematahkan rantai itu. tapi bukan saja dia gagal malah seakan tidak ada sedikitpun tenaga dalamnya yang tersisa di tubuhnya. rupanya lawan telah menotok beberapa jalan darahnya hingga tenaga kesaktiannya tidak dapat digunakan.
Bahkan murid si 'Maling Nyawa' itu juga menduga kalau orang 13 Pembunuh telah mencekokinya sejenis racun pelemas tenaga. Respati merutuk dalam hati. perasaan tidak berdaya untuk menolong seorang gadis yang sedang tersiksa didepan matanya sungguh membuat pemuda itu seolah menjadi seorang pecundang tolol yang tidak berguna.
Wajah orang tinggi besar itu tidak terlihat karena tertutup sebuah topeng tengkorak yang terbuat dari bahan perak. tanpa perduli dengan dirinya, manusia angker yang bukan lain adalah sang ketua dari kelompok 13 Pembunuh itu berjalan perlahan menghampiri Satriyana.
Dengan setengah membungkuk ujung jari telunjuknya mencelup kedalam kuali perak yang sudah setengah penuh berisi cairan Darah Keabadian yang dihisap melalui pipa kaca dari tubuh gadis itu. dengan lidahnya dia menjilat jari basah merah darah itu. ''Hhem., memang Darah Keabadian yang murni..'' gumamnya menyeringai seram.
''Kukira sudah cukup untuk saat ini. biarkan gadis ini beristirahat. berikan ramuan obat penguat tubuh dan penambah darah agar dia kembali pulih seperti semula. perintahkan beberapa anak buah untuk memasukkan tetesan darah ajaib ini kedalam guci- guci kecil. panggil 'Nyi Balung Geni' dan 'Momok Jelaga Hitam' untuk mengawasi pekerjaan itu.!'' ucap sang ketua memberi perintah pada orang tua buntung bermuka bengis yang berdiri dibelakangnya.
''Segera kukerjakan perintahmu. tapi apa yang akan kita perbuat dengan botol- botol guci kecil yang berisi Darah Keabadian itu.?'' tanya si tua buntung berjuluk si 'Lengan Tunggal Pengejar Roh' ini. ''Huhm., apakah kau bisa bayangkan jika benda berisi darah ajaib ini muncul didunia luar, tentunya banyak pesilat yang tertarik untuk mendapatkannya meski harus membayar dengan sangat mahal. kita bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.!''
__ADS_1
''Aah., aku paham rencana gilamu itu ketua. bukankah kau ingin menjadikan gadis pewaris Istana Angsa Emas ini seumpama sapi perahan yang hanya bisa menghasilkan susu bagi pemiliknya. meskipun ini cukup keji tapi keuntungannya memang luar biasa bagi kita..'' desis si tua buntung rada terkesiap.
''Itu baru permulaan saja. karena dalam Darah Keabadian yang akan kita jual di luaran sudah aku campuri dengan bubuk daun ganja yang membuat orang ketagihan. saat itulah biarpun orang persilatan yang punya ilmu tinggi asalkan telah meminumnya, tidak ada jalan lain kecuali tunduk padaku, jika ingin mendapatkan darah ajaib itu..''
''Dengan demikian pada akhirnya tanpa harus bersusah payah seluruh rimba persilatan akan terjatuh ke dalam genggaman tanganku, ketua 13 Pembunuh. Haa., ha.!'' gelak tawa berat dan seram seakan berasal dari dunia lain terdengar mengguncang ruang penjara.
''Kau pengkhianat nomor tiga belas., si Ular Sakti Berpedang Iblis. hukuman matimu akan kutunda sedikit lebih lama agar dirimu dapat mengalami betapa nikmatnya siksaan yang akan kau dapatkan. selama dirimu dapat bertahan hidup selama itu pula gadis manis di depanmu ini juga akan kubiarkan hidup..''
''Tetapi sebaliknya jika kau mampus lebih cepat, akan kukuras Darah Keabadian dari tubuh gadis anak Kunta Angsana itu sampai kering. berikutnya seluruh kawanmu terutama gurumu dan perempuan jal*ng nomor dua belas itu bakal mengalami nasib yang sangat mengenaskan.!'' sambil mendengus ketua 13 Pembunuh balikkan tubuhnya lalu keluar dari ruangan diikuti si tua buntung yang sempat melirik tajam kedua muda- mudi itu.
Ancaman ketua 13 Pembunuh dengan suara bengis itu masih terngiang di telinga Respati meskipun telah lewat lebih seminggu yang lalu. sejak saat pertama kali itu terhitung sudah dua kali mereka mengambil kuali perak yang berisi Darah Keabadian milik Satriyana.
Selama itu pula Respati mesti kuat menahan segala siksaan yang menderanya. karena jika dia sampai menyerah atau tewas dalam ruang penjara ini, Respati khawatir ketua 13 Pembunuh akan melaksanakan ancamannya menguras habis darah ditubuh gadis itu sampai mati mengering.!
*****
Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih 🙏.
__ADS_1