
Malam sudah mendekati pertengahan saat sebuah kereta kuda hitam terlihat bergerak perlahan memasuki gapura barat kadipaten Wonokerto, yang menjadi kusirnya adalah seorang pemuda gagah berbaju putih dengan sebuah ikat kepala dari kulit ular hitam yang melilit kening dan rambutnya yang hitam gondrong. meskipun terlihat tenang tapi sorot mata tajam yang terpancar darinya menandakan dia punya bekal ilmu silat dan kesaktian yang sangat tinggi.
Kereta kuda yang di beri nama 'Kereta Kuda Maut' itu sempat seharian berhenti di hutan kecil sebelah barat Wonokerto sebelum bergerak masuk ke dalam gerbang barat kadipaten itu.
Bersamaan dengan masuknya kereta kuda, terlihat sepasukan prajurit penjaga gapura perbatasan Wonokerto yang bertugas di sana cepat menghentikan kereta itu. si kusir kuda yang memang Respati itu menurut, kereta itupun menepi dan berhenti.
''Dari mana datangnya kereta kuda ini, dan hendak menuju ke mana.?'' bertanya seorang prajurit jaga yang membekal tombak.
''Kereta ini berasal dari daerah Pungingan dan hendak mengantarkan barang pesanan untuk Ki Ageng Bronto..'' jawab Respati santai tanpa berusaha untuk menutupi. para prajurit jaga yang sebagian sedang berdiri dengan menahan rasa kantuk seketika saling pandang dan curiga.
Kepala prajurit jaga yang terlihat paling tua umurnya segera maju di kawal dua orang bawahannya. dari berita yang di dapatnya, semenjak pagi hingga siang tadi jauh di luar gapura timur telah terjadi pertempuran besar di antara para tokoh persilatan baik dari golongan hitam maupun putih.
Bahkan pasukan kesultanan Demak yang di bantu prajurit kadipaten Wonokerto sampai ikut terlibat. karenanya dia dan anak buahnya di perintahkan untuk menjaga gerbang barat agar tidak di susupi orang luar yang berniat membuat kekacauan.
Pasukan penjaga gapura perbatasan kadipaten Wonokerto itu berjumlah sepuluh orang. selain membekal senjata tombak dan pedang, mereka juga membawa panah dan beberapa obor sebagai penerangan.
Dua buah obor dibawa oleh prajurit jaga yang datang bersama pimpinannya. sedangkan sisanya masih menancap di tiang pondok kayu tempat beristirahat para prajurit yang terbuat dari belahan papan pohon jati. sebuah kentongan besar juga tergantung di depan pondok kayu itu.
__ADS_1
''Barang kawalan macam apa hingga mesti diantarkan malam- malam begini, cepat buka pintu kereta kudamu karena kami harus memeriksa isinya..!'' perintah kepala prajurit jaga itu sambil memberi isyarat kepada bawahannya untuk masuk ke dalam kereta kuda.
''Maaf tuan prajurit., tapi yang ada di dalam kereta adalah barang pesanan yang sangat berharga, jadi jangan sembarangan masuk..''
''Kurang ajar., berani benar kau mengahalangi pekerjaan kami para prajurit Wonokerto., kalian jangan perdulikan kusir kuda itu, cepat geledah kereta ini.!'' seru si kepala prajurit kepada para bawahannya.
Dua orang prajurit bergegas hendak masuk, sementara delapan orang lainnya bergerak mengepung dan mencegat kereta kuda itu. Respati cukup kagum melihat gerakan para prajurit jaga yang cepat dan serempak, tanda mereka sudah sangat terlatih. tapi baru saja keduanya hendak masuk, pintu di belakang kereta kuda hitam itu sudah di buka orang dari dalam.
Sesosok tubuh wanita tinggi langsing dengan wajah secantik bidadari kahyangan perlahan muncul dari dalam kereta kuda itu. bau harum semerbak mengiringi langkah kakinya yang gemulai. sebuah jubah gaun hitam tipis yang longgar menutupi lekuk tubuhnya yang indah. rambutnya yang hitam lebat sepinggul sebagian tergelung di hiasi tusuk kundai emas berbentuk bulan sabit.
Kedua orang prajurit jaga itu terpukau. obor di tangan mereka hampir terjatuh. mata keduanya menatap tidak berkedip dengan mulut ternganga. mungkin seumur hidupnya mereka belum pernah melihat perempuan secantik ini. prajurit kepala yang melihat kelakuan anak buahnya menjadi geram dan penasaran. tapi saat menatap wanita itu dia justru lebih terpukau daripada anak buahnya.
Konon kabarnya turun temurun keluarga dari nenek tua ini memang dikenal sebagai ahli pengobatan dan racun di dunia persilatan. dikarenakan mempelajari ilmu sihir yang berasal dari aliran luar keluarga, dia sempat berselisih paham dengan saudaranya sendiri yang berjuluk 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'.
Selain ilmu silat dan kesaktian Roro juga di bekali dasar ilmu sihir oleh gurunya. yang dia pilih adalah ilmu sihir dan susuk pemikat jiwa bagi lawan jenis. pada dasarnya Roro memang sudah sangat cantik jelita, namun saat dia menggunakan ilmu sihirnya, aura kecantikan daya pikat dirinya akan menjadi berlipat ganda.
Roro memang punya sifat binal, licik dan penggoda. semua itu sebenarnya bukanlah sifat aslinya, melainkan akibat dari kejadian pahit yang pernah dia alami pada masa lalu. lebih setahun tersekap dan dinista oleh kaum lelaki kejam di dalam rumah juragan emas membuatnya memendam dendam kesumat pada lawan jenisnya.
__ADS_1
Akibat terlalu sering di paksa menelan obat penggugur janin bukan saja membuatnya tidak mampu lagi memiliki keturunan, tapi juga mengakibatkan ada kerusakan pada sebagian otak dan jiwanya. pendek kata wanita cantik ini juga pernah mengalami gangguan jiwa atau gila.!
Setahun lamanya sang guru yang di bantu Rumilah saudara seperguruannya merawat Roro, meskipun dapat disembuhkan tapi sifatnya berubah sedikit binal dan pengoda. namun Roro bukanlah golongan perempuan cabul rendahan., melainkan wanita pemikat yang berkelas tinggi.
Kini dia cuma berjarak dua langkah saja dari depan kepala prajurit jaga itu. wajah yang secantik bidadari dari kahyangan, alis hitam, bulu mata yang panjang lentik serta sinar mata bulat sayu sebening embun pagi, bau harum segar yang memikat disertai senyuman manis di bibir merah merekah membuat kaum lelaki berhati sekeras batu sekalipun akan lumer meleleh.
''Mohon maafmu tuan- tuan prajurit yang gagah perkasa., hamba inilah yang di maksudkan sebagai pesanan dari Ki Ageng Bronto. saya harap tuan perwira tidak mempersulit kami. tolong ijinkan kami untuk memasuki perbatasan Wonokerto ini..'' tutur Roro Wulandari dengan suara merdu yang memikat hati. tanpa sadar para prajurit itu bergetar dan cuma bisa mengangguk seperti sekawanan manusia bodoh.
Roro masih sempat kedipkan sebelah matanya yang bening memikat sukma pada para prajurit yang masih berdiri tertegun, sebelum kembali masuk ke dalam kereta. sekali menyentakan tali kekangnya kereta kuda hitam itu kembali bergerak memasuki kadipaten Wonokerto.
Sepasukan prajurit jaga itu masih berdiri dengan tatapan mata kosong meskipun kereta kuda yang ditumpangi Roro Wulandari sudah lenyap di tikungan jalan. barulah saat datang sepasukan prajurit yang hendak menggantikan giliran jaga menegur, mereka baru tersadar.
Anehnya para prajurit penjaga perbatasan barat kadipaten Wonokerto itu tidak dapat mengingat semua peristiwa yang terjadi sebelumnya, mereka hanya merasa telah bertemu dengan seorang wanita secantik bidadari. tentu saja para prajurit pengganti itu tidak ada yang mau percaya, bahkan menertawakan tingkah mereka.
''Kau benar- benar wanita menakutkan yang penuh rahasia 'Dewi Malam Beracun..'' desis si 'Laba- Laba Kuning' atau 'Putri Penjerat'. orang yang di depannya hanya sunggingkan senyuman tipis. matanya terpejam dengan tarikan nafas yang teratur. meskipun tadi cuma permainan ilmu sihir pemikat, tapi juga tetap membutuhkan sedikit tenaga kesaktian untuk dapat menggunakannya.
''Aku hanya tidak suka mengeluarkan banyak tenaga untuk bertarung melawan prajurit rendahan, cuma buang- buang waktu saja..'' cibir Roro sinis.
__ADS_1
''Asal kau tahu saja., dengan ilmu 'Pelet Pengasihan Pemikat Jiwa' ini dulu aku pernah dengan sengaja merusak rumah tangga menantu lelaki dari seorang juragan tanah yang suka berselingkuh dan menipu istrinya yang setia sekeluarga. pertama aku sengaja datang menggodanya, lantas saat dia sudah tidak sadar dan terpikat, aku ganti diriku dengan wanita dari tempat pelacuran yang kusewa. setelah itu kuhubungi istri dan keluarganya. seterusnya kau bisa bayangkan sendiri saat mereka memergoki pria itu sedang bergelut bugil dengan wanita dari tempat pelacuran itu. hik., hi., hi..''
''Eeh Respati., jarak empat puluh tombak di depan ada sebuah tikungan jalan ke arah utara, berhentilah di depan sebuah rumah besar berpagar dinding tinggi yang ada di ujung jalan. Ki Ageng Bronto alias si nomor sembilan berada di dalam rumah besar itu.!''