
Topeng kedua sudah terlepas dari wajah sang tuan putri Istana Angsa Emas. gadis cantik bernama Satriyana itu membungkuk. dengan tangan kanannya dia mematahkan gumpalan tanah liat yang dicampur dengan bubuk kayu dan cairan tertentu yang sengaja dibentuk seperti ujung jari kaki. dengan sambungan jari kaki palsu itu membuat jari tengah di kaki kanannya menjadi sedikit lebih panjang dari jari manis sebagaimana umumnya orang lain.
Setelah patah ujungnya sekarang ciri itu sudah terlihat jelas. jari manis dan tengah pada kaki kanan Satriyana menjadi sama panjang seperti asalnya. melihat semua itu orang tua berjubah kuning yang disebut sebagai 'Tuan Sesepuh Pelindung Istana' dan semua bawahannya serentak menjura penuh rasa hormat.
''Salam hormat untuk tuan putri Satriyana, sang pewaris tunggal Istana Angsa Emas. pemilik sejati Darah Keabadian., mohon maaf dan ampunan jika abdimu yang tua ini sampai tidak mampu mengenali tuan putri. untuk itu saya bersedia menerima hukuman.!'' ucap orang tua itu lebih rendah membungkuk hingga dia setengah berlutut di atas tanah.
Gerakan dan ucapan yang hampir sama seketika juga terlontar dari mulut para bawahan Tuan Sesepuh Pelindung Istana atau yang dulunya digelari sebagai 'Tuan Sesepuh Istana Barat' itu, termasuk juga Kyai Jabar Seto dan semua rekan seangkatannya juga kedua panglima istana tengah dan kiri.
Wajah lelaki muda bergelar 'Panglima Istana Kiri' tanpa sadar semakin memucat penuh rasa malu saat teringat dia dan mendiang rekannya si 'Panglima Istana Kanan' yang tanpa sengaja sempat melihat tubuh putri junjungannya sedang telanjang mandi di dalam sungai. rekan wanitanya si 'Panglima Istana Tengah' merasa keheranan melihatnya.
Satriyana yang sudah terpengaruh sifat Roro menyeringai licik, dia seakan tahu apa yang ada dikepala lelaki muda itu. gadis inipun berniat menggodanya, ''Aah., bukankah kau ini adalah salah seorang dari dua lelaki yang pernah melihatku mandi di sungai waktu itu, Eehm., bagaimana menurutmu bentuk tubuh tuan putrimu ini., menarik tidak.?'' sindirnya tertawa centil.
Karuan saja semua orang menjadi kaget dan bingung. serentak mereka menatap Panglima Istana Kiri yang tidak tahu mesti menjawab apa. orang ini hanya bisa menunduk malu dan meminta ampunan sambil membentur- benturkan kepalanya ke tanah. apalagi saat melihat mata Panglima Istana Tengah yang melotot kesal padanya membuat dia semakin tidak berkutik.
''Hik., hi., hi., Sepertinya dia ingin menjawab kalau bentuk tubuh putri Satriyana sangatlah menggiurkan, tapi tidak berani mengatakannya karena takut pada kekasihnya si 'Panglima Istana Tengah..'' ujar Roro Wulandari tertawa ikut memanasi. 'Dewi Malam Beracun' yang licik ini memang tidak bakal mau melepaskan setiap kesempatan untuk mengoda orang lain.
Melihat keadaan Panglima Istana Kiri yang kebingungan, takut dan serba salah membuat Satriyana merasa tidak tega. ''Aah., sudahlah aku hanya bercanda denganmu. kalau terus begini nanti kekasihmu bisa ngamuk padaku..'' kata Satriyana seraya kibaskan sebelah tangannya.
''Kalian semuanya bisa berdiri. terus terang saja aku tidak suka dengan penghormatan seperti ini. tuan- tuan semua adalah pilar utama dari Istana Angsa Emas. aku cuma orang baru yang tidak tahu apapun mengenai tempat itu. selanjutnya aku mohon bimbingan dari kalian semuanya.!'' setelah berkata gadis ini langsung ganti menjura hormat pada para bawahannya. meski sempat tertegun karena tidak menyangka junjungan mereka bakal sudi menghormat balik pada para bawahannya, tapi dalam hati semuanya juga merasa kagum dengan kerendahan hati Satriyana.
''Sekarang kita semuanya telah berkumpul. kurasa kedua belah pihak sudah dapat bicara soal menghadapi ancaman dari 13 Pembunuh atas dasar saling mempercayai. tapi menurut pendapatku., kita mesti mencari tempat yang lebih baik terlebih dulu..''
__ADS_1
''Tuan putri Satriyana., hamba rasa kita bisa berunding dengan pihak Dewi Malam Beracun di tempat kita, sekalian juga kami perkenalkan semua anggota Istana Angsa Emas dan segala sesuatu juga aturan mengenainya..'' sela I Gede Kalacandra. ''Benar apa yang dikatakan Dewa Serba Putih, bagaimanapun juga ini bukan tempat yang aman untuk kita semua..'' Kyai Jabar Seto turut bicara.
Semua orang dari pihak Istana Angsa Emas sama berpikir, meskipun saat ini jalan untuk bersekutu sudah terbuka lebar tapi sekeliling tempat sudah terkepung orang- orang Dewi Malam Beracun. jika pembicaraan ini gagal mereka mungkin masih bisa lolos, tapi para anggota 'Pasukan Pedang Angsa Emas' yang ilmunya tidak setinggi mereka bisa menjadi sasaran empuk panah berapi lawan.
Rupanya Dewi Malam Beracun cukup maklum kekhawatiran pihak lawan, ''Kalian tidak perlu merasa sangsi. tuan putri Satriyana sudah berada di tengah kita. soal anak buahku yang mengepung tempat ini mereka hanya menjaga keamanan kita dari peyusupan pihak luar. asap beracun yang terkandung dalam panah apiku juga tidak mematikan. hanya saja sedikit., melemahkan tenaga. sebentar lagi mereka juga bakal kembali pulih..''
Tuan Sesepuh Pelindung Istana dan yang lain sama melirik ke belakang. memang terlihat anak buah mereka yang tadinya tergolek lemas sudah kembali tegak berdiri. ''Wanita ini memang salah satu ahli racun dan tipu siasat yang terhebat di dunia persilatan saat ini..''
''Kalau cuma dilihat dari awalnya bubuk asap beracun dari panah berapinya sangatlah ganas sampai hampir separuh angota kita terkapar lemas, kejang- kejang seakan hendak sekarat hingga membuat kami sangat panik dan tidak sempat berpikir jernih. saat itulah kami tanpa sadar sudah masuk ke dalam perangkapnya. tetapi rupanya itu cuma gertakannya saja., dia benar- benar licik.!'' batin orang tua itu juga semua bawahannya.
Meskipun merasa geram sekaligus kagum dengan tipuan lawan tapi diluarnya mereka berbicara lain. ''Haa., ha., kami hanya ingin berjaga- jaga saja. baiklah jika demikian., mari kita semuanya berangkat menuju tempat kami. tapi harap dimaklumi jika nanti ada beberapa tempat disana yang tidak dapat dimasuki oleh kalian sebagai orang luar..''
''Eehm begitukah., kurasa itu tidak masalah. lagi pula setiap orang, keluarga ataupun suatu perkumpulan pasti mempunyai rahasianya sendiri. sejujurnya kami hanya ingin menolong Satriyana saja. bagaimanapun juga sebagai kakaknya diriku juga tidak mau dia terus mengelandang dalam rimba persilatan dan terancam jiwanya hanya karena adanya 'Darah Keabadian' yang mengalir di dalam tubuhnya.!''
''Persekutuan Bulan Perak.?'' Kyai Jabar Seto dan yang lainnya terkejut juga mendengar nama perkumpulan kaum pencuri yang gemar mengambil harta si kaya kikir dan para pejabat tamak untuk diberikan pada kaum miskin itu disebutkan. mereka lebih tidak menyangka lagi kalau ternyata Dewi Malam Beracun yang menjadi pimpinannya.
Anehnya Roro Wulandari hanya tersenyum mengejek, ''Kakang Bronto., meskipun diriku punya banyak anak buah, tapi mengumpulkan mereka hanya dalam waktu sehari tidaklah gampang. biarkan kubuka sebuah rahasia untuk kalian. percayakah kau., kalau untuk mengepung dan mengawasi lembah seluas ini diriku cukup mengerahkan tidak lebih dari sepuluh orang saja.?''
Semua orang seketika tertegun. dari raut wajahnya jelas mereka tidak percaya. malah ada yang menganggap ucapan Roro terlampau sombong. perempuan cantik itu tertawa sinis menunjuk Respati ''Hei ular., kudengar dimasa lalu kau pernah hadir dalam pertemuan besar kaum pendekar di gunung Semeru. bahkan sempat membuat geger dengan memenggal kepala lawanmu..''
Untuk kedua kalinya semua orang terentak. dalam hati mereka juga pernah mendengar tentang kegemparan yang terjadi di markas perguruan 'Naga Biru' di gunung Semeru yang pada waktu itu masih termasuk sepuluh perguruan silat terkuat dari aliran putih. tapi sayangnya akibat suatu kesalahan kini nama besar perguruan silat itu sudah runtuh.
__ADS_1
''Kejadian itu sudah lewat bertahun yang lalu. lantas apa hubungannya dengan Persekutuan Bulan Perakmu.?'' tanya Respati bingung. ''Hik., hi., kau pasti belum lupa kalau saat itu ada suara banyak orang yang bernada menghujat perguruan Naga Biru. padahal sebenarnya itu bersumber dari suara satu orang saja..''
''Aah., aku mengerti. anak buahmu memiliki ilmu memecah suara yang sama dengan orang itu. lalu dari mana kau mendapatkan ilmu kepandaian langka yang bernama 'Membagi Gelombang Nada Memecah Suara' ini.?'' tanya Respati merasa penasaran juga.
''Diriku punya banyak kenalan. suatu ketika ada seorang lelaki yang mengaku bernama Ki Suro Dares mencariku. tanpa basa- basi dia mengatakan kalau sedang memerlukan tiga buah anak kunci yang sanggup digunakan untuk membuka pintu ruang tahanan bawah tanah di kota raja. dia ingin membebaskan seorang rekannya yang tertangkap dan hendak dihukum mati. dia juga sanggup membayarku sangat mahal..''
''Aku bilang kalau diriku tidak mau ikut campur urusan para begundal rampok yang membuat susah orang banyak. sudah selayaknya kalau mereka mati dalam penjara. tapi Suro Dares bilang kalau rekannya ini adalah seorang pejabat jujur dan baik yang di fitnah hendak memberontak. saat kutanya apa bukti serta jaminannya, dia memgeluarkan sebuah pipa cangklong besi hitam yang memancarkan bau asap candu dan kemenyan..''
''Orang ini juga bilang, guruku si 'Nenek Tabib Selaksa Racun' kenal baik dengan pemilik pipa cangklong besi itu. seketika itu juga aku teringat pada dua orang dedengkot kaum pencoleng. salah satunya adalah gurumu si 'Maling Nyawa' seorang lagi adalah kawannya yang dijuluki sebagai 'Malaikat Copet' sang ketua besar petkumpulan 'Maling Kilat.!'' tutur Roro Wulandari sambil goyangkan kipasnya.
''Aku tidak tahu hubungan baik seperti apa yang terjadi antara guruku dan ketua Maling Kilat itu. tapi akupun menyanggupi untuk membuat kunci rahasia pesanan Ki Suro Dares dengan syarat dia mesti ajarkan ilmu langka 'Membagi Gelombang Nada Memecah Suara' kepadaku. setelah berpikir lama orang itupun menyanggupinya..''
''Jadi., cukup sepuluh orang kusebar. delapan memegang alat pelontar panah berapi, dua lainnya berpindah tempat untuk mengacaukan kedudukan dengan menggunakan ilmu pemecah suara itu, sekaligus memantau keadaan di luar lembah. Hhem., malam semakin larut. ceritaku sampai disini saja. tuan- tuan dari Istana Angsa Emas., saatnya kalian memimpin jalan..'' kata Dewi Malam Beracun tersenyum.
Sekali dia bersuit nyaring dari delapan penjuru anak buahnya menyahuti. untuk kesekian kalinya orang Istana Angsa Emas merasa terkecoh. mereka sungguh tidak mengerti apakah mesti memaki tipuan licik wanita cantik itu ataukah mengumpat kebodohan mereka sendiri.
Sementara itu dalam hatinya Respati berpikir tentang si pincang. entah kenapa dia merasa bakal bertemu lagi dengan orang ini. dia ingat betul saat berjumpa pertama kali dengannya diatas sebuah panggung besar di gunung Semeru keduanya sempat bentrok. ilmu mereka bisa di bilang seimbang. tetapi sekarang., jika keduanya bertemu lagi Respati tidak yakin hasilnya masih tetap sama.
****
Asalamualaikum.,
__ADS_1
Kami author novel 13 Pembunuh dan Pendekar Tanpa Kawan mengucapkan., Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk para reader pembaca dan author penulis di Novel Toon. Minal Aidin Wal Faidzin., Mohon Maaf Lahir dan Batin.🙏.. Wasalamualaikum.