13 Pembunuh

13 Pembunuh
Kisah Birunaka.


__ADS_3

Sekilas Satriyana sempat mengedarkan pandangannya. di jalanan kampung itu selain dua pihak yang tengah berhadapan, cuma ada dia dan seorang pengemis tua yang duduk diatas sehelai tikar pandan yang sudah usang dan robek- robek disebelah kiri gapura pintu masuk desa Randung . pengemis ini sedang sibuk menghitung uang yang ada di dalam batok kelapa hasilnya mengemis tanpa perduli dengan apa yang bakalan terjadi.


Meskipun cuma melihat sepintas saja tapi Satriyana yang punya daya ingatan dan mata tajam dapat mengira kalau Pengemis tua bercaping anyaman daun pandan itu kemungkinan bukanlah orang sembarangan. tapi dia tidak perduli karena lebih tertarik melihat keramaian yang akan terjadi di depannya.


''Ki Kebo Dungkul., pemuda ini benar- benar kurang ajar, kami berdua sudah mengatakan kalau dia harus membayar uang keamanan jika berdagang di desa ini., tapi bedebah itu bukan saja menolak tapi juga membuat kami terluka seperti ini..''


''Habisi saja pemuda keparat itu Ki., sekalian membalas perlakuannya pada kami berdua, karena dia juga berani menantang dan memperolok dirimu Ki..!''


Dua orang anak buah Ki Kebo Dungkul yang tadinya kabur ketakutan setelah dihajar pentungan si pemuda bernama Birunaka langsung timbul kembali keberaniannya saat bertemu pimpinannya. mereka mengompori hati si pemimpin dengan harapan orang gemuk kekar dan brewok gimbal bernama Ki Kebo Dungkul ini dapat menghabisi pemuda itu.


''Hak., ha., pemuda sialan bernama Birunaka, sekarang jangan harap kau bisa lolos dari tangan maut kami..!''


''Jadi sebaiknya kau cepat berlutut dan merangkak minta ampun kepada Ki Kebo Dungkul pimpinan kami yang tidak ada tandingannya ini.'' ancam kedua anak buah Ki Kebo Dungkul dengan masih menahan rasa kesakitan akibat di gampar pentungan.


''Huh., dua orang pengecut yang tadi kabur sambil merangkak, tiba- tiba berlagak menjadi seekor serigala buas., rupanya gebukan pentunganku belum cukup membuat kalian kapok.!''


''Keparat., kematian sudah di depan mata tapi masih saja berlaku sombong. tunggu apa lagi Ki., cepat kita habisi saja pemuda sialan ini..!'' teriak salah satu anak buah Ki Kebo Dungkul yang tinggi kurus dan bengkak berdarah mukanya terkena pentung. tapi sialnya orang ini malah kena gampar pipinya hingga jatuh tersungjur.


''Diam goblok.! dasar anak buah tidak berguna. yang jadi pimpinan disini adalah aku., tapi sedari tadi malah kalian berdua yang banyak mulut..!'' geram Ki Kebo Dungkul kesal. sambil sebelah tangan tetap berkacak pinggang orang ini menunjuk pemuda di depannya. ''Birunaka., sudah hampir tiga tahun lamanya kau pergi dari kampung ini, kupikir kau tidak bakal kembali lagi kemari..!''

__ADS_1


''Desa Randung ini adalah kampung halamanku, bagaimana mungkin aku tidak kembali kemari, lagi pula aku punya perhitungan yang harus di selesaikan..!'' jawab Birunaka sambil melangkah maju. raut muka pemuda ini memancarkan hawa amarah yang tertahan. sepasang matanya tidak berkesip memandang tajam Ki Kebo Dungkul. orang ini agak terkesiap juga. selintas pikiran muncul di kepalanya.


''Hek., he., aku tidak tahu perhitungan apa yang kau bicarakan, tapi aku punya tawaran yang menarik. melihat kau mempecundangi dua orang anak buahku menandakan dirimu punya kemampuan yang lumayan., bagaimana kalau kau ikut saja bergabung dengan kelompokku, kita bisa hidup senang bersama..!''


Birunaka mencorong tajam matanya lalu tergelak keras., ''Haa., ha., kurasa itu tawaran yang sangat menarik Ki Kebo Dungkul, tapi aku punya sedikit persyaratan yang harus kau penuhi..!''


''Katakan saja Birunaka., soal harta atau wanita cantik.?'' tanya Ki Kebo Dungkul menyeringai. dia tidak mengira kalau begitu gampangnya Birunaka langsung tertarik dengan penawarannya karena sebenarnya dia tahu kalau pemuda ini berniat balas dendam kepadanya.


Awalnya tiga tahun silam Ki Kebo Dungkul dan anak buahnya datang ke desa ini karena diundang oleh Ki Panjiwo kepala desa Randung untuk membantu menjaga keamanan desa yang terancam gerombolan perampok yang sering kali datang mengacau di daerah itu.


Pada masa itu Majapahit baru saja mengalami kehancuran. pemberontakan, perebutan kekuasaan dan kekacauan muncul di mana- mana. sehingga bila ada suatu daerah yang butuh bantuan keamanan mereka terpaksa harus berusaha sendiri.


Memang sejak kedatangan Ki Kebo Dungkul desa Randung menjadi aman. hanya sekali saja gerombolan rampok itu berani datang tapi dengan mudah diusir oleh Ki Kebo Dungkul dan anak buahnya.


Sebulan kemudian kepala desa Randung mendadak meninggal tanpa sebab yang jelas, beberapa hari berikutnya istri dan kedua anaknya juga menyusul mati. tersiar kabar kalau mereka terkena wabah penyakit menular. sampai akhirnya dari belasan orang anggota keluarga Ki Panjiwo hanya tersisa tiga orang saja yang masih hidup. itupun karena mereka tidak tinggal serumah dengan keluarga Ki Panjiwo.


Ketiga orang ini adalah Birunaka dan kedua orang tuanya. Ibu dari si pemuda itu adalah adik bungsu Ki Panjiwo dari tiga bersaudara. keluarga Birunaka tinggal di tepi jalan masuk desa Randung sambil membuka warung makan kecil tapi tiap hari hampir selalu ramai pengunjungnya.


Kematian mendadak keluarga kedua kakak iparnya membuat ayah Birunaka yang bernama Ki Barda merasa curiga, apalagi yang menjadi penggantinya adalah Ki Mangun Gondo, orang kaya raya di desa Randung namun pelit dan lintah darat licik. dialah yang telah mengusulkan agar menyewa Ki Kebo Dungkul untuk mengawal keamanan desa.

__ADS_1


Saat berusaha menyelidik dia dikepung oleh beberapa orang berkedok hitam, meskipun punya bekal ilmu silat tapi tetap tidak berdaya menghadapi keroyokan orang- orang berkedok hitam itu sampai akhirnya Ki Barda tewas bersimbah darah.


Mendengar kabar kematian suaminya Ibu dari Birunaka yang waktu itu sedang berduka dengan kematian keluarga kakaknya semakin bertambah sedih. meskipun begitu nalarnya masih dapat berpikir jernih.


''Ini pasti ada hubungannya dengan Ki Kebo Dungkul dan Ki Mangun Gondo. mereka berdualah jahanam biang keladi dari semua malapetaka yang menimpa keluargaku..!''


''Aku boleh saja mati, tapi anakku Birunaka harus selamat agar dapat membalaskan kematian keluarga kami., tapi bukti belum kudapat, mereka pasti akan menyangkal dan malah menuduh kami memfitnah.!'' batin Ibu Birunaka. perempuan itu berpikir keras, tiba- tiba saja dia ingat seseorang. dengan cepat dia menyuruh Birunaka yang pada waktu itu masih lima belas tahunan untuk pergi malam itu juga. sebagai bekal ditulisnya sebuah surat dan selembar kain kuning bersulaman seekor angsa emas.!


''Tidak Ibu., kenapa aku harus pergi dari desa ini, bagaimana denganmu juga masalah kematian ayah, aku harus mencari para pembunuh ayahku.!'' teriak Birunaka. sebagai pemuda berdarah panas dia tidak mau menuruti perintah Ibunya begitu saja. karena baginya ini soal nyawa dan harga diri. tetapi dengan kelembutan sang Ibu mampu meluluhkan hati anaknya.


''Ilmu silatmu sangat cetek, sementara musuhmu banyak juga berilmu tinggi., selama kau masih bernyawa soal menuntut keadilan pasti dapat terlaksana, asalkan kau sudah punya bekal ilmu luar dan dalam..''


''Ingatlah anakku., jika kelak kau ingin menghukum mereka, dasarnya adalah rasa keadilan, bukan sekedar balas dendam nafsu amarah., sekarang pergilah.!'' pesan Ibunya. meskipun belum sepenuhnya paham tapi Birunaka menurut. setelah bersujud di kaki sang Ibu, dengan berat hati pemuda tanggung itu segera pergi meninggalkan desa Randung.


Itu cerita tiga tahun silam., kini Birunaka kembali lagi ke desa kelahirannya. dia baru datang dua minggu yang lalu. saat itulah Birunaka tahu kalau sang Ibu juga telah tiada hanya sehari setelah kepergiannya karena sakit. ada yang bilang dia tertular wabah penyakit turunan yang menyerang keluarga Ki Panjiwo.


''Dengar Ki Kebo Dungkul keparat., aku mau bergabung dengan kelompokmu asalkan akulah yang menjadi ketuanya dan kau jadi budakku., bagaimana Hah.,?'' seru Birunaka sembari putar- putar pentungnya hingga keluarkan suara menggaung dan angin keras.


Merah padam wajah Ki Kebo Dungkul. dengan meraung dia perintahkan belasan anak buahnya untuk ikut menyerbu. dia sendiri menyusul sambil cabut dua senjata tanduk kerbau besinya. dengan gaya menyeruduk macam kerbau gila mengamuk orang ini langsung mendahului menerjang. dia putuskan untuk menghabisi Birunaka secepat mungkin.!

__ADS_1


__ADS_2