13 Pembunuh

13 Pembunuh
Warung makan., Nagih Roso.


__ADS_3

Dua orang lelaki berpakaian hitam terlihat memasuki sebuah rumah makan besar yang terletak di dekat jalan utama menuju gapura istana kadipaten Wonokerto. biasanya semenjak pagi hari begini, rumah makan yang terkenal enak rasa masakannya itu sudah ramai pengunjungnya. bahkan tidak jarang mereka mengantri di luar karena tidak kebagian tempat duduk. konon leluhur pemilik rumah makan 'Nagih Roso' itu dulunya adalah seorang juru masak istana.


Namun sekarang jumlah pengunjungnya jauh menurun. dari dua belas meja makan dengan dua buah bangku kayu yang untuk empat orang di setiap mejanya itu, sekarang baru terisi enam orang saja. jika di tambahkan dua orang lelaki yang baru datang jumlahnya baru delapan orang.


Meskipun peristiwa ledakan besar di rumah juragan kuda kaya yang bernama Ki Ageng Bronto itu telah lewat dua bulan berlalu, tapi sampai sekarang masih menjadi pergunjingan semua orang. golongan pedagang dan kaum pengembara yang biasa singgah di Wonokerto lebih memilih jalan memutar karena khawatir dengan ketatnya pemeriksaan para prajurit di setiap pintu masuk kadipaten.


Setelah memesan makanan untuk sarapan pagi dan sekedar minuman penghangat tubuh, kedua orang edarkan pandangannya sekejap ke sekeliling tempat. dengan memilih tempat duduk agak di pojokan, mereka bisa melihat keadaan sampai jauh keluar warung itu.


Setelah meminum sedikit wedang kopi gula aren dan menyalakan sebatang rokok kulit jagung, orang yang umurnya empat puluh tahunan dan membekal sebatang golok besar di pinggangnya itu mulai bicara setengah berbisik pada pemuda delapan belas tahunan yang duduk di depannya.


''Bukannya mudah bagi kita untuk bisa masuk ke Wonokerto dengan penjagaan yang begitu ketat. untung saja Nyi Dewi memiliki banyak kenalan kaum pejabat kadipaten, hingga kita dapat menyusup tanpa pemeriksaan. sekarang katakan di mana tepatnya kau bertemu dengan orang- orang dari Istana Angsa Emas saat itu.?''


Pemuda gagah berbaju hitam lengan pendek itu lebih dulu terbatuk dan kibaskan tangannya untuk menggebut asap rokok yang terhembus dari bibir rekannya. ''Sejak kapan kakang Jurata merokok begini, kayak orang tua saja. fuuhh., bau asapnya memuakkan..'' gerutu si pemuda kesal. orang di depannya cuma terkekeh, setelah beberapa kali sedotan, rokok dari lintingan kulit buah jagung itupun habis.


''Pada waktu itu, sesuai dengan perintah putri Satriyana dan ketua Nyi 'Dewi Malam Beracun' aku segera pergi ke Wonokerto. selain untuk membantumu membuat segala persiapan juga mencari anggota Istana Angsa Emas. saat aku lapar diriku masuk ke warung makan ini. waktu hendak berlalu, tanpa sengaja diriku melihat beberapa orang berseragam kuning hitam dan membekal pedang di punggungnya masuk ke dalam dari warung makan ini..''

__ADS_1


''Anehnya., baru beberapa kejapan mata saja tiga orang itu masuk warung, tubuh mereka sudah lenyap entah ke mana. dari sini jelas ada yang tidak beres dengan tempat ini. selain pasti ada ruangan rahasia di warung ini, bisa jadi si pemilik warung juga anggota dari Istana Angsa Emas..'' gumam pemuda itu sambil meminum wedang kopinya dari gelas batok kelapa.


''Hhem., serelah beberapa waktu bergaul dengan 'Dewi Malam Beracun', otakmu menjadi semakin encer saja Birunaka..'' puji rekannya. bersamaan itu pesanan makanan sudah datang, berupa dua pincuk nasi pecel dengan lauk ikan lele goreng. kedua lelaki yang memang Jurata dan Birunaka itu melirik jemari dan tangan si pelayan. meskipun berusaha menutupinya dengan baju berlengan panjang, tapi tetap tidak dapat menipu pandangan mata kedua orang ini.


''Di lihat sepintas dari wajahnya yang agak tua mungkin dia sudah berumur lebih dari lima puluh tahun dan terlihat lemah. tapi jari dan pergelangan tangannya yang kekar tidak dapat dia sembunyikan. pelayan itu mungkin masih muda dan sedang menyamar..'' bisik Jurata sambil mulai makan. Birunaka mengangguk, matanya melirik dua orang pengunjung yang berbicara pelan dengan pelayan itu.


Karena jarak meja yang agak jauh, keduanya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. ''Sialan uangku terjatuh di lantai..'' gerutu Jurata sambil berjongkok mencari- cari beberapa keping uang peraknya yang jatuh menggelinding ke segala arah. Birunaka hanya tertawa meneruskan makannya sambil tetap mengamati si pelayan dan kedua orang pengunjung itu.


Setelah berkeliaran mencari keping uangnya yang berjatuhan dikolong- kolong meja makan, orang itupun kembali. ''Apa kau sudah berhasil mendapatkannya.?'' Jurata cuma menganguk. ''Meskipun tidak banyak yang sempat aku dengar, tapi lumayan menarik juga..''


Hampir bersamaan kedua pengunjung itupun berlalu keluar warung. setelah sepeminum teh kemudian Birunaka memanggil pelayan itu. saat si pelayan tiba mendadak Birunakan membalik gelas batok bekas kopinya di atas meja lantas memutarnya dengan gerakan tertentu. di akhir gerakan dia menambahkan tiga kepingan uang emas diatas gelas itu. rupanya dia sudah sejak awal mengamati semua gerak- gerik kedua pengunjung itu, termasuk gerakan aneh membalik gelas batok, memutarnya, juga meletakkan tiga kepingan uang emas di atas gelas. mungkin itu adalah semacam tanda rahasia untuk dapat saling berhubungan sesama anggota mereka.


Kalau Jurata masih bisa menahan rasa heran, maka tidak demikian dengan si pelayan. dia terlihat cukup terperanjat. dengan pandangan curiga orang ini mundur selangkah. ''Siapa kalian berdua ini, kenapa aku tidak pernah melihat kalian muncul di sini.?'' geramnya waspada.


Birunaka sekejap melirik rekannya. orang ini punya banyak pengalaman, sehingga langsung tanggap. ''Siapapun adanya kami tidaklah penting. lagipula apa kau pikir orang Istana Angsa Emas hanya segelintir saja. kami datang dari jauh karena ingin menyampaikan sebuah berita besar untuk pimpinan kita.!''

__ADS_1


''Berita besar., berita apa yang kau maksudkan itu.?'' tanya si pelayan sambil memberi isyarat pada seseorang. dalam sekejap saja tiga orang sudah muncul di sana. dua langasung menutup pintu dan jendela warung, satu lagi lelaki berusia empat puluhan yang mungkin adalah si pemilik warung makan, berkelebat cepat mendatangi meja mereka.


Baik Jurata maupun Birunaka sama terkesiap. dalam hatinya mereka memuji ilmu peringan tubuh lelaki itu yang terlihat cukup tinggi. tapi kedua orang anak buah Roro Wulandari itu mana mau kalah gertakan. dengan lebih dulu menggebrak mejanya mereka berdiri seraya membentak. ''Kami datang dari perbatasan Jawa barat dengan bertaruh nyawa menyusup ke Wonokerto untuk memberi kabar berita yang sangat penting. tapi kalian malah berbuat seperti ini pada orang sendiri. jika saja para pimpinan kita tahu., kami tidak bisa menjamin keselamatan nyawamu karena perbuatan bodoh kalian ini.!''


''Maafkan sikap kami yang kurang berkenan sobat, tapi sejak peristiwa besar itu, kami mesti waspada kepada semua orang yang berkunjung ke warung makan ini..'' ujar si pemilik warung sambil menjura hormat. ''Karenanya harap katakan dengan jelas siapa kalian berdua dan berita apa yang hendak kau sampaikan.!''


Birunaka dan Jurata sesaat saling pandang. ''Hhem., sikapmu lebih baik dari bawahanmu pertanda wawasanmu lebih luas dan berjiwa pemimpin. bagus sekali., nanti akan kami laporkan kepada para atasan. dengarkan., waktu kami tidak banyak karena mesti kembali ke tempat tugas..''


''Harap kau laporkan pada pihak atasan kalau kami sudah mendapatkan kabar keberadaan para bekas anggota 13 Pembunuh dan juga tuan putri Satriyana.!'' ucap Jurata dengan raut muka tegang. tanpa perduli dengan semua orang yang terperanjat kaget, Birunaka sudah mengeluarkan selembar kain putih yang dia bentangkan di atas meja makan.


''Ini adalah peta rahasia jalan dan tempat persembunyian mereka yang berada ditengah hutan belantara. kami berdua sudah cukup mengamatinya sejak lama hingga akhirnya setelah yakin dengan semuanya kami baru berani datang melapor kemari..''


Ketiga orang pelayan serta pemilik warung itu saling pandang. meskipun berita ini sangat luar biasa penting, namun mereka tidak boleh gegabah. setalah sekejap saling lirik, empat orang itupun langsung lancarkan serangan. dua orang menghantam Birunaka dengan pukulan dan tendangan yang bertenaga dalam cukup kuat. sisanya melabrak Jurata dari belakang punggungnya.


*****

__ADS_1


Asalamualaikum., Mohon maaf🙏 karena authornya bilang sedang agak sakit, mungkin akan terlambat up date beberapa hari ke depan., Terima kasih, Wasalamualaikum.


__ADS_2