13 Pembunuh

13 Pembunuh
Pertarungan Roro. (bag1)


__ADS_3

Ki Maung Gembong tidak dapat melihat jelas siapa wanita yang datang menyerangnya ini, karena dia mesti buru- buru mengadu ilmu kesaktian. lima larik cahaya merah berbentuk cakar dari jurus serangan lawan yang terasa sangat panas juga tajam merobek udara sungguh membuatnya ngeri. tanpa sadar dia sampai berteriak antara gusar dan takut.


Dua ilmu pukulan sakti bertemu di udara. ledakan kekuatan yang terjadi bukan saja mampu menyapu tanah dan batuan karang di sekitarnya tapi juga turut membuat mayat- mayat yang ada di sana sampai tercabik dan hancur. beberapa potongan daging dan darah yang mulai dingin menggumpal, berikut seisi tidak tubuh dari mayat- mayat itu bertebaran ke segala arah hingga membuat orang lain merasa mual.


'Whuuuss., sraaatt., sraaath.!'


'Whuuuss., blaaaam., blaaaar.!'


''Aaahk., setan alas. sia., siapa kau perempuan keparat.?'' jerit Ki Maung Gembong tertahan. tubuhnya sempat terpental berjumpalitan mundur beberapa langkah. beberapa bagian pakaiannya robek tercabik tembus menyayat kulit hingga mengucurkan darah. rasanya bukan saja sangat perih dan gatal tapi juga panas terbakar. orang tua ini sadar telah keracunan.


Namun teriakan Ki Maung Gembong bukan saja tidak mendapatkan sambutan malah sebagai gantinya dia justru diancam dengan tiga cabikan cakar berapi lawan yang disusul dengan dua buah tendangan melingkar. jurus serangan berantai seganas ini hanya bisa dilakukan oleh pesilat berkepandaian sangat tinggi.


Hebatnya disela- sela jurus serangannya yang begitu keji, wanita yang bukan lain si 'Dewi Malam Beracun' itu masih sempat lepaskan puluhan paku, jarum dan pisau beracun yang menyasar beberapa orang kawan Ki Maung Gembong. semua senjata rahasia Roro ini sudah dilambari dengan kesaktian dari ajian 'Cakar Tengkorak Darah' sehingga berubah merah membara pertanda kekuatan daya bunuhnya meningkat tajam.


Terdengar teriakan bercampur makian kotor dari mulut beberapa orang yang menjadi sasaran termasuk 'Datuk Cebol Naga Guling'. biarpun terperanjat namun sebagai seorang pesilat kawakan dia tidak menjadi panik. dengan gulingkan tubuh sekaligus kibaskan kedua cakarnya yang bersinar hitam redup dia sanggup menggebut mental beberapa pisau juga jarum terbang yang mengancamnya.

__ADS_1


Celakanya salah satu dari bermacam senjata rahasia yang bermentalan itu tanpa sengaja ada yang menyasar dada Ki Kala Mayit yang memang sudah terluka cukup parah akibat bertarung dengan 'Lengan Tunggal Pengejar Roh'. biarpun masih sanggup menghindari kematian tapi tetap paku terbang beracun Roro Wulandari itu menyambar bahu kirinya.


Kejadian diluar dugaan itu sudah cukup bagi si tua buntung untuk berkelebat menjauh dari tempat pertarungan. sementara Datuk Cebol Naga Guling yang dibantu para pesilat aliran hitam juga masih sibuk menghadapi jurus serangan lawan yang datang bertubi- tubi seolah wanita cantik ini tidak perduli jika harus berhadapan dengan beberapa orang lawan sekaligus.


Meskipun terlihat nekat tetapi Roro bukanlah pesilat yang tidak memakai otak dalam bertarung. kelima orang lawannya walaupun satu sudah terluka cukup namun empat lainnya adalah tokoh silat berilmu tinggi. selesai mengumbar puluhan senjata rahasia beracunnya, tahu- tahu ditangan kirinya sudah terbentang sebuah kipas perak. empat buah jurus berturut- turut Roro lepaskan.


Kipas perak menggebut udara tiga kali lantas menghantam. gelombang angin punting beliung melabrak, jurus 'Kipas Penggulung Awan.!' sambil tersenyum genit tubuh langsingnya sedikit doyong membungkuk ke depan. kipas membabat serata pinggang. cahaya perak berbentuk kipas menyambar bagaikan golok. jurus 'Kipas Bayangan Mengejar Sukma.!'


Salah satu wanita yang dianggap tercantik dalam dunia persilatan itu terus berkelebatan menyerang secepat siluman gentayangan. setelah lepaskan pukulan 'Cakar Tengkorak Darah' untuk menghadang gebukan tongkat besi bermata cakra ditangan salah satu pesilat aliran hitam, Roro melompat setinggi lebih tiga tombak ke udara. ilmu meringankan tubuhnya bukan saja hebat tapi gerakannya juga sangat indah memukau pandangan.


Setelah sempat bersalto sekali di ketinggian sana, tubuh Dewi Malam Beracun langsung meluruk turun. begitu kedua kakinya telah menjejak bumi, kipas perak dilemparkan menyusur permukaan tanah. gerakan kipas yang melesat cepat seakan tidak beraturan membuatnya sulit di tebak arah sasarannya. jika di ibaratkan kipas perak itu seakan serigala pemburu yang tidak akan berhenti sebelum berhasil mengejar mangsanya.


Dengan jurus 'Kipas Mengejar Rembulan' itu Roro berniat menyerang bagian bawah tubuh lawan- lawannya yang sudah kerepotan untuk menghindari jurus- jurus serangan maut yang telah dia kerahkan nyaris tanpa jeda. biarpun membuat para pengeroyoknya kerepotan dan mencaci maki, bahkan sampai terluka luar dalam tapi mengumbar jurus dengan cara ini jelas membuat Roro tanpa senjata kipas peraknya untuk sementara waktu.


Segala kejadian dalam pertarungan antara Dewi Malam Beracun yang hanya seorang diri berani melawan beberapa tokoh silat jahat berilmu tinggi itu jika diceritakan dalam bentuk tulisan atau ucapan akan terasa agak lama. padahal semua yang terjadi sebenarnya berlangsung sangat cepat dan menegangkan.

__ADS_1


Dua orang pesilat golongan hitam yang pertama kali menyadarinya. setelah dengan susah payah mampu menghindar bahkan betis kanan salah satu dari mereka sempat tersambar dan kaki nyaris putus, mereka membentak keras penuh kemarahan. satu orang bersenjata tongkat kepala cakra membabat ke arah leher hendak memenggal kepala lawan. cahaya merah tajam turut mengiringi serangan dari orang bernama Ki Tongkat Cakrapati itu.


Seorang lagi yang memakai baju biru hitam lengan pendek dan masih muda gunakan sepasang kepalan tangannya yang hitam dan sekeras besi untuk menghantam perut juga dada Roro Wulandari. meskipun dari diancam kematian, anehnya wanita cantik dan punya segudang tipu muslihat di otaknya ini malah tertawa mengejek.


Karuan saja kemarahan keduanya menjadi makin meluap. selama ini hampir tidak ada orang yang berani bersikap tidak tahu diri seperti itu di hadapan mereka. ''Perempuan setan, kau harus mampus. putus lehermu.!'' umpat Ki Tongkat Cakrapati. ''Huhm., sayang sekali wanita secantik bidadari ini harus mati di tanganku. tapi jika mayatnya masih utuh, rasanya aku masih mau menggaulinya Haa., ha.!'' sahut lelaki muda berbaju biru hitam tergelak sambil terus lontarkan pukulan saktinya.


Di ancam maut sekaligus dilecehkan seperti itu tidak membuat Roro Wulandari naik darah. jarak serangan lawan yang tinggal tiga atau empat jangkauan tangan saja dari tempatnya berdiri malah tidak dia pergunakan untuk menjauh. satu senyuman licik sekaligus menggoda tersungging dibibir merahnya. si cantik yang sombong ini seakan sengaja menunggu lawan.


''Oouhh., sungguh malang nian nasib wanita lemah yang tanpa daya sepertiku ini, sampai- sampai ada yang tega menyetubuhi mayatku jika diriku mati..'' suara ratapan sendu terdengar dari mulut Roro. senyuman juga tatapan matanya yang binal menggoda seketika lenyap berganti raut muka sedih dan air mata yang memerah. hawa dingin dan gumpalan kabut kemerahan menyeruak entah dari mana. suasana sekitarnya turut meredup.


Dalam keadaan yang aneh semacam itu, Roro Wulandari malah membuat gerakan tubuh seperti sedang menari. kabut merah yang semakin pekat dan berbau anyir darah terus meluas. gulungan awan tebal mendadak muncul diatas langit. suasana kelam yang mencekam ini membuat hati orang merasa gelisah.


Walaupun menyadari keganjilan ini tapi kedua lawannya tidak sudi mengurungkan niatnya untuk membunuh wanita di depannya. jarak serangan semakin dekat hawa kematian juga bertambah menindas. sekelebat bayangan lebar bersinar merah darah yang berseling cahaya kuning keemasan dan putih perak entah sejak kapan sudah berada ditangan Roro Wulandari., 'Kipas Darah Bulan Mentari.!'


........

__ADS_1


Maaf🙏, cuma dapat kiriman cerita sedikit dari authornya. Silahkan Anda tuliskan komentarnya👌. Terima kasih, Wasalam.


__ADS_2