
Di bagian utara pulau 'Seribu Bisa' terdapat sebuah bukit karang kecil yang tingginya kira- kira hampir dua puluh tombak. dipuncak bukit karang itu terlihat enam orang berpakaian hijau dengan mengenakan caping bambu dan topeng tengkorak putih penutup wajah. sebilah tombak pendek bermata gergaji terselip di pinggang mereka.
Meskipun di sekitarnya terdapat puluhan binatang beracun seperti ular, kelabang, kalajengking, biawak dan lainnya namun mereka sama sekali tidak merasa terusik. bahkan sepertinya semua binatang berbisa itu sama menjaga jarak dan takut untuk mendekati.
Pagi hari itu baru saja tiba. sinar matahari yang menyorot dari ufuk timur membiaskan cahaya kuning emas yang berkilauan di atas permukaan laut. meskipun gulungan ombak besar menerpa karang pantai dan angin berhembus kencang. tapi suasana pagi itu cukup terasa nyaman.
Dari arah utara diseberang samudra luas yang memisahkan markas rahasia 'Kelompok 13 Pembunuh' itu dengan pulau Jawa Dwipa, di atas langit terlihat sebuah titik hitam yang terbang cepat menuju ke arah bukit karang. salah satu dari orang berseragam hijau yang melihatnya cepat memberitahukan pada semua rekannya.
Saat sudah mendekat, dari ketinggian hampir seratus tombak titik bayangan hitam yang rupanya adalah seekor elang besar berwarna hitam itu menukik tajam sambil keluarkan suara berkoak nyaring. kecepatan gerakan burung elang besar itu sungguh luar biasa.
Salah satu dari orang- orang berseragam hijau segera berdiri. dengan sebelah tangan yang dibalut kain tebal dia mengacungkan lengannya. tanpa rasa takut elang besar yang sudah terlatih itu hinggap dengan cakarnya mencengkeram lengan tangan orang itu. rekannya cepat memberikan seekor ular pada burung elang itu yang langsung mematuknya.
Sebelum elang itu kembali terbang, orang berseragam hijau sudah mengambil dua buah tabung bambu kecil yang terikat di kedua kaki elang ini. rupanya burung elang hitam besar itu adalah salah satu sarana pembawa pesan berita rahasia dari dunia luar ke pulau Seribu Bisa. maka tidak mengherankan jika hampir semua kejadian di luar pulau dapat di ketahui.
Hanya sekilas saja orang yang sepertinya menjadi pimpinan membaca kedua gulungan kain kecil berisi pesan rahasia. meski wajahnya tertutup topeng namun dari sorot mata dan suaranya jelas dia sedang dilanda kepanikan. rekan- rekannya yang turut membaca juga terperanjat. ''Kalian berdua ikut aku menghadap pimpinan untuk melaporkan masalah besar ini. tiga orang lainnya tetap berjaga disini.!'' serunya sambil mendahului berkelebat menuruni bukit di ikuti dua orang kawannya.
Bagi Respati suara gelak tawa para manusia berhati iblis itu terasa jauh lebih menyakitkan jika di bandingkan dengan semua siksaan yang sudah dia alami di ruangan penjara. saat ini pikirannya terasa buntu. segala ilmu kesaktian dan tenaga dalamnya seakan telah lenyap entah kemana.
__ADS_1
Sekujur tubuhnya terasa lemas seakan tidak bertenaga. jangankan untuk berpindah tempat, sekedar beringsut menggerakkan raganya dari lantai penjara yang dingin saja sangat sulit. belum lagi hawa panas yang seolah membakar darah di dalam tubuhnya, membuat dia sudah tidak mampu berpikir jernih.
Sementara itu disudut lainnya terlihat tubuh Satriyana yang menggigil kedinginan, bahkan dari hidung dan mulutnya sampai keluar asap tipis setiap kali dia menghembuskan nafas. tapi yang jadi perhatian gadis ini bukanlah dirinya namun malah Respati. dia menyadari kalau pemuda itu sedang berada di dalam pilihan antara hidup dan mati.
Meskipun Satriyana bukanlah gadis lemah yang takut menghadapi ancaman kematian dan selalu yakin mampu bertahan melewati semua rintangan, tapi untuk pertama kalinya dia saat ini merasa tidak berdaya. sangat menyakitkan melihat seorang sahabatnya meronta- ronta dalam pelukan maut tanpa dia dapat berbuat apapun untuk menolongnya.
''Kuu., kumo., kumohon hentikan. too., tolong selamatkan dia. aak., aku., aku akan berikan semua darahku padamu, jadikan diriku budak atau apapun asalkan kau mengampuninya..'' ucap Satriyana meratap sambil beringsut mendekati ketua 'Kelompok 13 Pembunuh' yang berdiri dengan angkuhnya.
Suara rantai besi yang mengikat tubuh serta leher gadis itu mengeluarkan suara gesekan dan gemerincing nyaring saat terseret di atas lantai batu ruangan penjara. sepasang tangannya yang kurus berusaha meraih kaki orang tinggi besar itu. Satriyana terus berlutut dengan menangis dia memohon agar orang ini mau menyelematkan nyawa Respati.
''Saa,, Satriyana., jaa., jangan lakukan itu. aak., aku pasti dapat bertahan hidup. kaa., kau tidak boleh mee., merendah., kan dirimu di deep., depan para baji., ngan itu.!'' teriak Respati sembil menggerung buas. kedua mata pemuda ini memerah dan melotot beringas menahan rasa sakit dan amarah yang serasa membakar jiwa raganya.
Baginya ini adalah suatu penghinaan terbesar dalam kehidupannya. karena selama ini dia tidak pernah sudi berlindung nyawa dibalik pertolongan orang lain, apalagi jika orang itu adalah seorang perempuan yang menderita. Respati memilih lebih baik mati terbakar saat itu juga. tapi sayangnya., nasib seolah masih ingin mempermainkan jalan hidup si pemuda.
''Pemandangan ini sungguh menyedihkan bukan. mungkin seharusnya diriku menangis melihat kejadian ini. tapi sayang aku tidak tahu bagaimana caranya..'' ujar ketua 13 Pembunuh dengan menghela nafas seolah merasa prihatin. tapi wajah setannya yang tersembunyi dibalik topeng itu justru sedang menyeringai kejam. '
''Sobatku 'Setan Arak., apakah kau dapat mengajariku bagaimana agar bisa bersedih dan menangis.?'' tanya Nyi Tumbal Geni. yang ditanya terkekeh sinis dan meneguk kendi araknya. ''Hee., he., mungkin jika kedua bocah ini sudah sama tidak dapat menahan diri lantas melakukan semuanya, aku bisa saja berpura- pura sedikit bersedih hati.
__ADS_1
''Aku juga tidak bagaimana caranya menangis tapi dapat kuajarkan pada kalian bagaimana cara untuk tertawa gembira. Haa., ha., ha.!'' gelak si 'Sukma Tertawa'. kali ini semua orang termasuk ketua 13 Pembunuh juga para anggota 'Pasukan Tombak Gergaji Iblis' yang berada disana turut mengumbar tawa iblis mereka.
Di saat keadaan kedua orang tahanan itu semakin memburuk dan berada diambang batas pertahanan dirinya, dari luar ruangan penjara mendadak terdengar langkah kaki beberapa orang berlarian menuju kemari sambil berteriak mencari para pimpinannya. dari suaranya dapat diperkirakan mereka hendak melaporkan suatu masalah penting.
Si 'Iblis Tangan Biru' yang sedari tadi diam menghardik gusar pada tiga orang anak buahnya yang baru datang. ''Dasar tolol., apa kalian sudah bosan hidup sampai berani datang menggangu kesenangan ketua kita.!'' ketiga orang berseragam hijau yang sama memakai topeng tengkorak putih itu jatuhkan diri berlutut. ''Ampun pimpinan. tapi kami terpaksa datang karena harus melaporkan suatu berita penting..''
''Huhm., sekarang cepat katakan ada berita apa. jika itu hanya masalah sepele saja, kepala kalian bertiga bakal jadi gantinya.!'' ancam Iblis Tangan Biru. ketiga orang itu sesaat saling pandang lantas orang yang berlutut paling depan mulai bicara. ''Harap maafmu tuan- tuan pimpinan semua dan tentu saja ketua kami yang mulia..''
''Ada berita yang baru saja masuk melalui burung elang pembawa pesan yang menjadi peliharaan kita. mata- mata di pantai selatan mengabarkan bahwa lawan- lawan kita sudah mulai bergerak menuju pulau 'Seribu Bisa' ini. di selat Sunda sudah terlihat tiga buah kapal besar yang kemungkinan berasal dari pihak Istana Angsa Emas sedang berlayar. di belakangnya juga ada beberapa kapal layar yang lebih kecil turut mengiringinya..''
''Selain itu., orang- orang dunia persilatan juga nampaknya tidak mau ketinggalan. dari kabar yang kami dapatkan, ada setidaknya lima buah kapal besar berisi para tokoh silat baik dari aliran hitam maupun golongan putih sudah mulai berlayar sejak tengah malam tadi. itu belum terhitung mereka yang memilih bergerak sendiri..'' sambung orang satunya yang berlutut di belakang.
''Dari perkiraan kawan- kawan kita yang bertugas di luar sana, para tokoh silat itu bisa mendapatkan kapal- kapal besar pengangkut dari perkumpulan bajak laut 'Ombak Hantu' pimpinan 'Nyi Danyang Segara'. kami semua menunggu perintah yang mulia ketua..'' timpal orang ketiga yang berlutut di sebelah kiri.
Lima orang pentolan 13 Pembunuh merasa sangat terkejut mendengar berita itu. sesaat semuanya hanya terdiam saling lirik. suasana berubah tegang. namun kemudian terdengar suara mengekeh seram dari si Setan Arak. ''Hee., he., akhirnya semua manusia tolol itu datang juga untuk menyerahkan nyawanya..''
''Lebih cepat terjadi kurasa juga lebih baik. mataku sudah tidak sabar untuk melihat genangan banjir darah dari para tokoh silat dungu itu di pulau Seribu Bisa ini. bukankah begitu wahai ketua.?'' timpal Iblis Tangan Biru. orang tinggi besar berjubah kuning itu cuma mendongak berkacak pinggang lalu semburkan tawa keras yang di ikuti semua anak buahnya.
__ADS_1
*****
Silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍, vote👌bila Anda suka. Terima kasih. 👏🙏.