Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
ALASAN LAIN ALVERO


__ADS_3

Dengan sikap tetap elegan meskipun gerakannya terlihat cepat, Alvero segera memakan potongan kecil cheese cake itu sambil dengan lembut memegang pergelangan tangan Deanda yang menyodorkan garpu dengan potongan kecil cheese cake di ujungnya itu.


"Aku sebenarnya ingin mengajakmu ikut mengobrol dengan mereka, karena sebagian dari mereka, terutama dari keluarga Carsten, pasti kamu belum mengenalnya. Tapi sepertinya, Alaya lebih membutuhkanmu tadi setelah pengumuman itu. Apalagi... aku tidak mau kamu terlalu lelah berdiri dan berjalan kesana kemari bersamaku, dan aku juga tidak mau mereka yang para pria bisa memandangimu dengan puas dari dekat." Alvero mengucapkan kata-katanya dengan sedikit meringis, apalagi dia melihat mata Deanda yang sedikit melotot karena kata-kata Alvero yang begitu pencemburu.


"Dilarang protes sweety. Karena kalau itu tentnag kamu, aku tidak mau mengalah sedikitpun, kamu tahu itu." Alvero dengan cepat mengucapkan kata-kata yang membuat Deanda membatalkan niatnya untuk manyatakan kata-kata protesnya kepada Alvero, toh sedari awal mengenal Alvero, Deanda sudah begitu mengerti tentang semua sifat Alvero.


Dan baik buruk sifat Alvero itu, sejak awal juga, Deanda memang tidak pernah mempermasalahkannya, dan selalu siap menerima dan mencintai Alvero apa adanya.


"Bagaimana kondisi Alaya? Aku sedikit khawatir dengannya." Alvero langsung mengalihkan pembicaraan mereka kepada hal lain.


"Kalau kamu tahu itu akan membuat Alaya kesal dan marah, kenapa kamu dan duke Evan melakukan hal seperti itu pada Alaya? Aku bisa membayangkan bagaiman kesalnya hati Alaya. Dalam hal ini aku kurang setuju denganmu my Al. Kesannya terlalu kejam untuk Alaya yang memang tidak mau menikah dengan duke Evan. Dia butuh waktu untuk menerima duke Evan sebagai suaminya." Deanda berkata sambil meletakkan piring kecil yang sudah kosong ke atas meja.


"Hah...." Alvero mendess... sah pelan mendengar pertanyaan Deanda barusan.


Jujur saja Alvero sebenarnya cukup sakit kepalanya memikirkan tentang Alaya dan Evan, karena memanga sebenarnya pernikahan mereka memang mengadung unsur politik, yang akan menguntungkan banyak pihak, kecuali Alaya yang pada dasarnya tidak ingin menikah dengan Evan.

__ADS_1


Akan tetapi melihat tindakan sembrono Alaya terhadap Evan, Alvero justru tidak bisa membatalkan pernikahan ini. Selain Alvero terikat janji dengan Evan, tapi tindakan Alaya kepada Evan yang baginya cukup keterlaluan, syukur-syukur Evan tidak mempermasalahkannya sampai saat ini


Tapi kalau sampai Alvero membatalkan pernikahan dan membuat Evan tersinggung... sebagai seorang duke yang posisinya ada di atas Alaya, Evan bisa saja menuntut atau memberikan hukuman kepada Alaya atas tindakan sembrononya itu.


"Kenapa my Al? Apa Alaya sudah melakukan hal yang buruk terhadap Evan?" Entah mendapatkan pemikiran darimana, Deanda langsung bertanya kepada Alvero.


Karena Deanda ingat kejadian kemarin ketika Alaya berpura-pura sakit, Deanda cukup khawatir jika itu membuat Evan tersinggung dan marah kepada Alaya.


"Sebenarnya sweety, mempercepat pernikahan mereka, itu semua murni karena keinginan dari duke Evan. Kalau dipikir-pikir, Alaya ini sikapnya sudah keterlaluan kepada Evan, tapi melihat bagaimana sabarnya Evan menghadapinya, dan melihat sikap Evan padanya, aku yakin kalau Evan benar-benar mencintai Alaya, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk mencegah Evan meminta pernikahannya dipercepat. Mempertimbangkan semua hal yang sedang terjadi diluar sana juga. Tentang putra mahkota Christopher, dan juga putra mahkota Hector." Alvero langsung memberikan penjelasan kepada Deanda.


"Dan sebenarnya, aku baru saja menerima pesan dari duke Hugo, yang ingin melakukan pertemuan pribadi denganku." Alvero menghentikan bicaranya sambil mengingat pesan dari Hugo yang mengirimkan pesan padanya, meminta waktu pada Alvero untuk bertemu, tepat setelah pembicaraannya dengan Evan tentang waktu pernikahan yang diajukan selesai.


"Benar, duke Hugo Brown. Salah satu duke yang masih lajang juga, tapi tidak masuk dalam kriteriaku sebagai calon suami Alaya, karena dibandingkan dengan duke Evan, tentu saja dia tidak sebanding. Apalagi pernah ada kecurigaan kalau beberapa anggota dari keluarga Brown, sempat ada yang menjadi pendukung Eliana." Alvero berkata sambil melirik ke arah Evan yang dari kejauhan, matanya tetap mengamati sosok Alaya yang tampak sedang menikmati makan siangnya sambil berbincang dengan Larena.


Melihat bagaimana cara Evan memandang Alaya, dengan mata hijaunya yang tidak mau lepas sedikitpun dari sosok adiknya itu, Alvero semakin yakin bahwa keputusannya untuk mempercayakan Alaya pada Evan adalah sebuah keputusan yang tepat, sehingga Alvero menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung menghela nafas panjang. Nama Eliana, menjadi nama yang selalu mengingatkannya pada banyak cerita sedih yang pernah terjadi di hidupnya maupun hidup Alvero di masa lalu.


Karena pengalaman buruk yang pernah terjadi di masa lalu karena Eliana, bagi Deanda tidak heran jika Alvero begitu menghindari berhubungan dengan orang-orang yang pernah terlibat dengan wanita yang selalu disebut dengan wanita ular oleh Alvero itu, meskipun kadang keterlibatan orang-orang itu belum terbukti.


Dibandingkan dengan Hugo, tentu saja Alvero akan memilih Evan sebagai calon suami bagi Alaya, karena dilihat dari sisi manapun, Evan menang dalam segala hal dari Hugo.


Entah daalam hal kekayaan, kekuasaan, kehebatan, loyalitas, bahkan semua hal, bagi Alvero, Hugo tidaklah sebanding dengan Evan, sehingga Alvero tidak pernah memasukkan nama Hugo dalam daftar kriteria laki-laki yang cocok untuk menjadi suami Alaya.


Bahkan untuk bisa menarik batas yang jelas antara Evan dan Hugo yang sama-sama merupakan seorang duke, Alvero berencana untuk mengangkat Evan menjadi grand duke atau bahkan menjadikan Evan sebagai seorang Archduke.


(Grand Duke adalah yang membawahi semua duke, setingkat patih, gelar atau pangkat Grand Duke diwariskan ke keluarga secara turun temurn, jadi akan dipegang terus oleh satu keluarga saja dan keturunannya selama tidak dikudeta, kerajaan Inggris tidak memakai gelar Grand duke, yang memakai Kerajaan Jerman, Itali, Rusia (Grand Prince), dan lain-lain, biasanya masih keturunan keluarga Raja yang memegang gelar ini. Grand duke menunjukkan penguasa monarki yang memiliki peran penting dalam bidang politik, militer, ataupun ekonomi.


Archduke, merupakan pangkat atau gelar di bawah raja tapi di atas Grand duke dan duke-duke lain, di Indonesia sering disebut setingkat maha patih. Namun gelar ini jarang digunakan sejauh ini hanya Kerajaan Austria yang memakai karena masih keturunan langsung dari Kekaisaran Roma, namun gelar Archduke ini gelar tradisional jarang disebut secara resmi).


Hanya saja Alvero masih mempertimbangkan posisi keluarga Brown yang usianya lebih tua dari keluarga Carsten.

__ADS_1


Bagaimanapun, Alvero tidak ingin terjadi ketegangan diantara kedua keluarga duke tersebut dengan pengangkatan Evan sebagai Archduke.


Sehingga Alvero sedang mempertimbangkan bagaimana agar dia bisa menaikkan status Evan sebagai Archduke tanpa menimbulkan keributan. Untuk itu, Alvero tahu dia harus melakukan penyelidikan secara detail tentang kekuatan keluarga Brown dan siapa saja orang-orang yang behubungan dekat dengan keluarga mereka, sehingga kalau sampai mereka melakukan aksi pemberontakan karena tidak setuju dengan pengangkatan Evan, Alvero tahu seberapa kuat lawan yang harus dihadapinya.


__ADS_2