
“Evan….” Sebuah panggilan dari Alvero, membuat tubuh Evan sedikit tersentak karena sedang melamun dan sibuk dengan rasa cemburu yang sedang membakar hatinya barusan.
“Ya…” Evan berusaha menanggapi panggilan dari Alvero sekaligus berusaha untuk menenangkan hatinya, menyadarkan dirinya sendiri bahwa untuk saat ini, dia sudah berhasil menjadikan Alaya sebagai istrinya, meskipun belum seutuhnya dia bisa memiliki Alaya baik jiwa dan raganya.
Tapi paling tidak, untuk saat ini, Evan tahu tidak akan ada pria lain yang bisa menikahi Alaya yang sudah menjadi istrinya yang sah.
Meskipun pernikahan itu dilakukan secara sepihak tanpa sepengetahuan Alaya, tapi untuk saat ini, tidak ada sedikitpun penyesalan bagi Evan, justru dia merasa lega sudah berhasil menikah dengan Alaya, setelah mendengar dari Deanda bahwa Alaya sempat berencana menikah dengan laki-laki lain daripada menikah dengannya.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi denganmu dan Alaya di masa lalu. Baik mama Larena maupun papa Alexis, tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang kamu dan Alaya. Mungkin saja yang tahu hanyalah asisten pribadimu yang meninggal pada kecelakaan maut itu….”
“Dan Alaya sendiri.” Deanda langsung menambahkan kata-kata Alvero pada Evan.
“Mungkin, meskipun sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan itu. Tapi mungkin kamu bisa menanyakan pada Alaya tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian dulu. Berharap adikku yang keras kepala itu mau menjawab pertanyaanmu meskipun aku tidak yakin dengan hal itu. Dia pasti akan memintamu mengingatnya sendiri kalau memang kamu menganggap dia orang yang penting bagimu.” Alvero berkata dengan wajah seriusnya, dan Evan hanya bisa menghela nafasnya, karena dia yang sudah tahu bagaimana keras kepalanya Alaya merasa apa yang diucapkan oleh Alvero ada benarnya.
“Tapi aku akan mencoba bertanya kepada Alaya tentang hal ini.” Evan berkata dengan sikap yang sudah kembali tenang seperti biasanya.
Bagi Evan, tindakan emosional, tidak akan menyelesaikan masalahnya dengan Alaya kali ini.
Menghadapi keturunan Adalvino yang tidak mudah, sepertinya harus benar-benar harus bijaksana, dan Deanda adalah salah satu orang yang sukses menghadapi Alvero dengan sebenarnya juga bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Sepertinya aku harus banyak belajar dari Deanda.
__ADS_1
Evan berkata dalam hati dan mulai memikirkan cara bagaimana untuk membuat Alaya mau menjawab dengan jujur semua pertanyaan tentang apa hubungan mereka di masa lalu, yang membuat Evan merasa begitu penasaran.
“Evan, sepertinya selain mencari info tentang apa hubunganmu dengan Alaya di masa lalu, kamu juga harus mencari apa yang sudah terjadi denganmu. Kenapa kamu bisa melupakan Alaya yang sudah pernah menjadi bagian dari masa lalumu. Dan siapa yang sudah melakukan hal itu padamu. Karena jujur saja, aku yakin ada seseorang yang dengan senagaja membuatmu melupakan Alaya.” Alvero menghentikan kata-katanya sebentar.
“Entah apa tujuan orang itu dan bagaimana dia melakukan itu, tapi aku percaya, ada seseorang yang dengan sengaja sudah membuatmu melupakan Alaya. Karena ini sesuatu yang sangat aneh, bagaimana kamu bisa mengingat semua hal yang pernah terjadi padamu, kecuali tentang Alaya.” Alvero melanjutkan kata-katanya.
“Aku tahu. Aku juga merasa aneh dengan hal ini. Apalagi setiap kali ada kejadian bersama Alaya yang seperti sebuah dejavu bagiku, saat aku berusaha mengingat apakah ebanr ada kejadian yang mirip di masa lalu, kepalaku selalu saja terasa begitu sakit, padahal tentang hal lain, tidak pernah ada masalah dengan kepalaku.” Evan membenarkan analisa Alvero yang langsung mengangukkan kepalanya, begitu kecurigaannya tentang sakit kepala Evan setiap berusaha mengingat masa lalu yang ada hubugannya dengan Alaya diiyakan oleh Evan.
“Karena itu mungkin membuatmu akhirnya berhenti untuk berusaha mengingat Alaya. Dan adikku itu… aku bisa maklum sekarang kenapa dia begitu tidak ingin dijodohkan denganmu. Dalam hal ini, aku mendukung sepenuhnya sikap Alaya terhadapmu dan….” Tanpa ragu, Alvero menyampaikan pendapatnya yang isinya cukup keras bagi Evan.
“My Al….” Deanda langsung memotong perkataan Alvero, berusaha mengingatkan kalau tidak selayaknya Alvero mendukung keras kepalanya Alaya.
Untung waktu itu aku meminta syarat kami menikah dengan hukum istana Gracetian.
Evan segera berkata dengan ucapan penuh syukur di hatinya, karena pernikahan mereka tidak akan bisa dibatalkan oleh Alvero sekalipun, sesuai dengan hukum Gracetian, yang menyatakan hanya dari pihak Evan yang bisa membatalkan rencana pernikahan dan meminta sebuah perceraian.
Dan yang pasti, Evan tidak akan pernah mau menceraikan Alaya dengan alasan apapun, apalagi dia melihat bukti dan bisa merasakan, bahwa di masa lalu dia memiliki hubungan khusus dengan Alaya, meskiun dia belum bisa mengingatnya.
“My Al….” Deanda kembali memanggil nama Alvero begitu kata-kata keras dari Alvero.
__ADS_1
“Sayangnya kalian sudah terlanjur menikah sekarang.” Tanpa memperdulikan protes dari Deanda, Alvero meneruskan kata-katanya.
“Dan karena aku tahu Evan melupakan Alaya tanpa kesengajaan, aku tetap akan mendukung pernikahan mereka. Hanya saja, segera temukan jawaban atas semua yang terjadi kalau kamu tidak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tidak bertanggungjawab Evan! Aku tidak mau kamu terus melukai hati Alaya seperti ini.” Alvero mengakhiri kata-katanya dengan sebuah perintah tegas kepada Evan.
Evan dan Deanda secara bersamaan langsung menarik nafas lega begitu mendengar akhir dari kata-kata Alvero, yang pada akhirnya, tetap menunjukkan dukungannya kepada Evan sebagai suami Alaya, dan tentu saja adik iparnya sekarang ini.
# # # # # # #
Dengan laptop yang dipinjamnya dari pihak hotel, Alaya mulai membuka-buka kembali internet, dan melihat-lihat tentang berita antara dirinya dan Evan yang masih saja menjadi berita besar.
“Wah. Media sosial sekarang benar-benar bisa membuat heboh dunia dan membuat orang yang berpikiran pendek jadi salah faham.” Alaya yang sedang melihat bagaimana sosmed milik beberapa orang yang begitu aktif membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan Evan dalam waktu dekat tampak bergumam pelan.
“Eh, siapa ini?” Tanpa sengaja, Alaya membuka salah satu sosmed yang pemiliknya adalah Kattie Brown.
“Duchess Kattie Brown?” Alaya yang sedang tidur tengkurap di atas tempat tidur sambil membuka-buka medsos para bangsawan Gracetian yang memang sedang heboh dan hampir semuanya membicarakan tentang rencana pertunangan sekaligus pernikahannya dengan Evan, bergumam pelan.
“Wah…..” Alaya langsung terbengong-bengong begitu melihat apa yang dituliskan oleh Kattie dalam strory medsosnya, dan juga foto-foto yang dipasang di medsosnya, dimana kebanyakan dari foto-foto itu justru adalah foto Evan yang merupakan jepretan foto-foto candid, yang pastinya diambil tanpa sepengetahuan dan ijin Evan.
(Foto candid adalah teknik pengambilan foto secara diam-diam, sehingga hasilnya terlihat lebih natural. Foto candid adalah foto yang diambil tanpa menciptakan penampilan yang berpose. Sifat jujur dari sebuah foto tidak terkait dengan pengetahuan subjek tentang atau persetujuan terhadap fakta bahwa foto sedang diambil, dan tidak terkait dengan izin subjek untuk penggunaan dan distribusi lebih lanjut).
__ADS_1
“Kenapa laki-laki itu selalu saja terlihat keren dalam pose dan pakaian apapun, bahkan dalam suasana apapun…. Rasanya sungguh tidak adil, pengkhianat seperti dia memiliki tampilan sempurna bak malaikat seperti itu.” Alaya yang melihat berbagai foto candid dari Evan yang selalu saja tampak menawan, mau tidak mau harus mengakui bagaimana tampan dan mempesonanya laki-laki yang sudah membuatnya patah hati karena ingkar janjinya itu.