Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SEBUAH PELUKAN YANG MENDEBARKAN


__ADS_3

Begitu melihat Alaya menganggukkan kepalanya dan menuruti kata Evan untuk tetap diam di tempatnya, mata Evan langsung memandang ke sekelilingnya, mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk membantunya menangani dan mengusir ular itu.


Sebenarnya Evan bisa saja mengambil pistol yang selalu dia simpan di balik pakaiannya, menarik pelatuknya dan membunuh ular itu dengan mudah.


Akan tetapi Evan lebih memilih cara lain untuk dapat menyingkirkan ular itu tanpa membunuhnya, agar dia tidak merusak ekosistem di sungai Goldie Tavisha, apalagi ular itu bukan jenis ular yang berbisa dan membahayakan untuk manusia, selama manusia tidak mengganggunya dan membuatnya agresif karena merasa terancam.


(Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem terdiri dari 2 komponen, yaitu komponen biotik yang beranggotakan makhluk hidup dan komponen abiotik yang isinya makhluk tidak hidup).


Saat Evan melihat sebuah dahan pohon yang terlihat tergeletak tidak jauh darinya, senyum lega langsung terlihat di wajah Evan.


Dengan gerakan yang sangat pelan, dan juga tidak menimbulkan  suara, tangan Evan berusaha meraih dahan pohon itu.


Ketika dahan pohon itu sudah di tangannya, Evan berusaha mendekati Alaya dari posisi samping Alaya dan ular itu dengan gerakan pelan dan berhati-hati.


Setelah itu... tetap dengan gerakan pelan dan hati-hati, Evan berusaha meraih bagian bawah dan tengah tubuh ular dengan dahan pohon yang dipegangnya, dan begitu Evan merasa posisi dahan itu sudah pas, dengan gerakan secepat yang dia bisa Evan segera melemparkan ular itu ke arah bagian tengah sungai Goldie Tavisha.


Ular itu sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru dialaminya, dan langsung berenang dengan gerakan ssecepat mungkin yang dia bisa mengikuti arah arus air, menghilang dengan cepat karena merasa keselamatannya terancam, sehingga instingnya manyatakan agar dia segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


“Akh….!” Alaya sendiri begitu mendengar suara benda terlempar ke air, dan di kakinya sudah tidak terasa lagi gerakan kulit ular yang menggesek kulit kakinya, dengan reflek Alaya langsung berteriak dan tanpa sadar langsung menabrak dan memeluk tubuh tubuh Evan yang tidak kalah kagetnya melihat bagaimana reaksi spontan dari Alaya karena begitu takutnya dengan ular itu.


Meski Evan merasa kaget dengan Alaya yang tiba-tiba memeluknya, pada akhirnya sebuah senyum tipis tersungging di bibir Evan.


Namun hanya sebentar saja, setelah itu Evan langsung menggigit bagian bawah bibirnya sambil meringis, karena dia baru sadar, dengan Alaya yang memeluknya, bukan hanya dadanya yang ikut basah karena pakaian Alaya yang basah menempel di tubuhnya, tapi dua benda kenyal milik Alaya yang tadi sempat terbayang bentuknya dengan jelas karena pakaian Alaya yang basah, saat ini sedang menempel dengan sempurna di tubuh Evan, membuat dada Evan kembali bergejolak hebat.


Untuk pertama kalinya, Evan merasakan bagaimana aset pribadi milik seorang gadis menempel begitu erat di tubuhnya, dan gadis itu, adalah gadis yang beberapa waktu ini sudah membuatnya sulit untuk tidur karena selalu membayangkan kecantikan dan pesonanya, membuatnya tidak sabar menantikan waktu pernikahan mereka, agar dia bisa mengikat gadis itu di sisinya untuk selamanya.


Meski beberapa tahun yang lalu, Evan sudah pernah menyatakan cintanya pada Alaya dan mereka berdua sepakat untuk menjalin hubungan cinta sebagai sepasang kekasih, tapi saat itu, waktu sangat singkat untuk mereka bisa bersama, sehingga hal paling intim yang pernah mereka lakukan adalah ciuman pertama mereka saat mereka akan berpisah waktu itu.


Yang pasti saat ini rasa bahagia, berdebar, malu tapi ingin, bercampur jadi satu dalam otak dan hati Evan, dengan otot-otot tubuhnya yang terasa menegang, dan udara di sekitarnya tiba-tiba terasa panas bagi Evan, padahal sebenarnya angin sedang bertiup sepoi-sepoi dan suasana rindang di tepian sungai Goldie Tavisha memberikan suasana sejuk, yang bagi beberapa orang mungkin justru menimbulkan rasa kantuk, tapi tidak untuk Evan yang saat ini justru merasa gerah.


Eh! Apa yang sudah aku lakukan? Sial! Kenapa aku bisa bertindak sembrono seperti ini!


Beberapa detik kemudian, Alaya yang pikirannya tiba-tiba sudah tersadar kembali langsung berteriak dalam hati begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya pada tubuh Evan.


Dengan gerakan terburu-buru, Alaya langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Evan yang tangannya sudah berada di udara, berniat untuk membalas pelukan Alaya.

__ADS_1


“Maaf… aku tidak sengaja!” Dengan suara bergetar dan terdengar setengah berteriak karena malu sekaligus tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya pada Evan akibat ketakutannya terhadap ular, Alaya berkata kepada Evan.


Aku tidak keberatan kok dengan itu. Toh, sebentar lagi kita akan menikah. Tidak masalah jika kita mulai saling mengenal dan menjadi dekat, asal kita tidak kebablasan dan melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan sebelum kita sah sebagai suami istri.


Menyadari sikap Alaya sudah kembali menunjukkan ingin menjaga jarak dengannya, membuat Evan hanya menanggapi permintaan maaf Alaya dalam hati dengan dada yang masih berdebar keras, dan Evan sadar, sepertinya untuk beberapa waktu ke depan, bagaimana rasa dari pelukan Alaya yang begitu mendebarkan hati dan jiwanya tadi, sepertinya akan menjadi sesuatu yang akan selalu terbayang-bayang di benaknya dan akan membuatnya sulit untuk tidur beberapa malam ini.


“Ehem….” Akhirnya Evan berdehem pelan sambil mengambil jaket miliknya yang tadi sempat dia lepaskan dari tubuhnya untuk dia berikan pada Alaya, tapi dia biarkan tergeletak begitu saja di rerumputan karena fokusnya sempat teralihkan oleh keberadaan ular air yang tiba-tiba datang mendekati kaki Alaya tadi.


Entah itu sebuah keberuntungan atau kesialan, namun yang pasti bagiku ular itu sudah membuatku mendapatkan kesempatan langka, sebuah pelukan hangat dari my princess, yang dengan sifat keras kepalanya itu, sepertinya tidak akan mungkin dia lakukan dalam keadaan normal dan sadar.


Evan kembali berkata dalam hati dengan hati terasa geli mengingat bagaimana Alaya tadi langsung melompat ke arahnya dan memeluk tubuhnya dengan begitu erat karena ular air itu.


Benar-benar sial! Bagaimana bisa aku memeluk duke Evan seperti itu tadi. Sungguh benar-benar memalukan, dan rasanya aku tidak rela membiarkan duke Evan mendapatkan keuntungan serperti itu dariku. Bagaimana bisa aku membiarkan diriku berada di pelukan laki-laki itu. Sungguh aku tidak rela! Meskipun itu bukan salah duke Evan, tapi rasanya menyebalkan sekali.


Mendengar dehemen pelan dari Evan tanpa Evan menanggapi permintaan maafnya, Alaya hanya bisa mengomel dalam hati, menyesali perbuatannya tadi tanpa bisa megubah situasi apapun.


Melihat Alaya diam dengan wajahnya yang terlihat kesal, Evan kembali mendekat ke arahnya, dan tanpa menunggu ijin dari si empunya tubuh, Evan langsung memakaikan jaketnya ke tubuh Alaya yang pakaiannya masih terlihat basah, dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah itu.

__ADS_1


__ADS_2