Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RENCANA PENYAMBUTAN


__ADS_3

“Apa yang sedang kamu amati my princess?” Suara Evan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya membuat Alaya langsung menoleh ke arah suaminya yang selalu tampil rapi di depan orang lain.


Kemeja lengan panjang yang bagian lengannya yang digulung sampai sebatas siku, dipadukan celana panjang kain berwarna gelap, dan juga rambut emasnya yang selalu tersisir rapi, membuat Evan menjadi sosok pria yang memang tampil begitu rapi sekaligus mempesona.


Boleh dibilang, Evan memang sangat jarang terlihat mengenakan pakaian kasual, rata-rata pakaian yang dikenakannya selalu fromal atau minimal semi formal, membuat orang yang melihatnya selalu segan padanya, karena dari penampilan Evan, orang bisa langsung menilai bahwa laki-laki itu bukanlah orang sembarangan.


(Pakaian kasual adalah kode berpakaian Barat yang santai, sesekali, spontan, dan cocok untuk penggunaan sehari-hari. Pakaian santai menjadi populer di dunia Barat setelah budaya tandingan tahun 1960-an. Saat menekankan kenyamanan pakaian kasual, ini bisa disebut sebagai pakaian santai.


Gaya fashion yang satu ini hampir mirip dengan gaya chic. Yang paling utama dari gaya casual adalah kenyamanan penggunanya namun tidak terlalu banyak aksesoris yang membuat penampilan jadi 'ramai'. Gaya kasual yang sering dipakai misalnya perpaduan antara kaos, jeans, dan sepatu sneakers).


“Sepertinya meskipun hanya sebuah makan malam di penthouse, kak Alvero berniat membuat acara makan malam ini seperti sebuah pesta. Padahal acaranya masih nanti malam, sedangkan ini masih siang, tapi semua orang di penthouse ini sudah begitu sibuk seolah-olah tinggal satu jam lagi acara dimulai.” Alaya berkata sambil matanya melirik ke arah nyonya Rose yang sedang mengarahkan dua orang pelayan yang sedang membawa rangkaian bunga segar untuk diletakkan di atas meja makan.


Dan bukan hanya itu saja, beberapa detik sesudahnya tampak serombongan pria yang mengantar banyak rangkaian bunga dengan berbagai tipe, mulai dari yang kecil sampai dengan bunga yang menggunakan vas tinggi untuk diletakkan di sudut-sudut ruangan.


“Dari ceritamu, tuan Ornado juga melakukan banyak hal untuk kalian ketika kalian berkunjung ke Indonesia. Mungkin Alvero ingin membalas kebaikannya saat itu.” Evan berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


Sebagai orang yang pernah ikut menangani pasukan khusus waktu itu, Evan sedikit banyak menedngar cerita bagaimana kehebatan Ornado dari para anggota pasukan pribadi Ornado yang dikirimkan untuk membantu mereka saat itu.


Sosok kepemimpinannya yang membuat orang hormat sekaligus segan dan tunduk padanya, karena bukan hanya sebagai pengusaha sukses, bahkan di  dunia bawah dan kalangan para mafia, sosok Ornado adalah orang yang selalu dihormati dan diakui kepemimpinannya, meskipun dia sendiri bukan salah satu anggota dari mereka.


“Benar, dia menyambut kami seperti keluarga sendiri, termasuk kak Cladia istrinya yang cantiknya seperti boneka barbie itu. Kak Cladia orangnya pendiam, tidak banyak bicara, tapi orangnya selalu perduli dengan orang lain, dan begitu suka membantu orang, termasuk hubungan Elenora dan James yang waktu itu sedikit ada masalah sebelum mereka menikah.” Alaya berkata dengan senyum geli tersungging di bibirnya.


Meskipun dengan kisah berbeda, tapi hubungan James dan Elenora yang diseliputi dengan salah paham James kepada Elenora, bagi Alaya sedikit mirip dengan kisah cintanya bersama Evan.


“Ooo, James? Siapa James?” Evan langsung bertanya kepada Alaya karena dia memang belum pernah bertemu dengan James sebelumnya.


“Pasti senang bisa emngenal orang-orang hebat seperti mereka.” Evan berkata sambil tersenyum dengan mata memandang ke arah mata Alaya sekarang sednag memandang, ke arah para pria yang sedang sibuk membawa masuk rangkaian bunga segar ke dalam penthouse.


“My princess… sepertinya sebagian besar rangkaian bunga itu adalah bunga mawar. Apa kamu yang memintanya? Apa kamu sekarang menjadi penggemar bunga mawar?” Alaya langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan Evan, yang memang belum begitu mengenal Ornado dan para anggota rombongan yang akan dibawanya ke Gracetian, termasuk Cladia, istri kesayangan Ornado.


“Bukan, tentu saja bukan aku. Tapi yang pasti, itu adalah perintah kak Alvero untuk menyambut kedatangan kak Ornado dan rombongannya. Aku pernah dengar kalau kak Cladia, istri kak Ornado, adalah penggemar berat bunga mawar. Bahkan aku dengar di rumah mewah mereka di Indonesia, ada kebun bunga mawar yang sengaja di tengahnya dibentuk huruf C, sebagai inisial dari nama kak Cladia….” Alaya menghentikan kata-katanya sejenak.

__ADS_1


“Sayangnya waktu itu kami tidak sempat mengunjungi rumah mereka. Setelah berlibur kami langsung kembali ke Gracetian. Kak Ornado memang sweet dan sangat romantis pada kak Cladia…. Bahkan dari cerita kak Alvero, kak Ornado pernah memberikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi kak Cladia dari sebuah tembakan. Untung saja kak Ornado bisa selamat waktu itu.” Alaya berkata sambil tersenyum membayangkan bagaimana sikap Ornado yang selalu bersikap mesra pada Cladia, tidak perduli dimanapun tempat dan waktu, yang seringkali membuat Cladia terlihat canggung dan malu.


Tapi karena bagi Cladia, Ornado adalah satu-satunya pria yang begitu dia cintai dan membuatnya bisa merasa nyaman berada di dekatnya, di tengah traumanya terhadap pria yang tidak juga membaik, dengan berjalannya waktu, Cladia akhirnya terbiasa dengan sikap suaminya yang memang merupakan salah satu pria dengan kebucinannya yang mungkin berada di level paling atas diantara pria lain.


“Pasti akan menjadi suatu kehormatan bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang kamu ceritakan itu.” Evan berkata sambil melingkarkan tangannya ke bahu Alaya.


Mendengar cerita tentang sosok Ornado dari bibir Alaya, rasanya Evan sebagai sesama pria juga ingin dianggap seperti Ornado yang terdengar begitu mencintai dan melindungi istrinya itu.


Menyadari lengan Evan yang melingkar di bahunya, Alaya langsung tersenyum dan menggerakkan kepalanya untuk bersandar di lengan Evan yang ikut tersenyum melihat bagaimana Alaya yang selalu saja menyambut sikap mesranya.


# # # # # # # #


Dengan langkah-langkah lebar, Alvero yang mendengar bahwa jajaran limosin mewah yang dikirimkannya untuk menjemput Ornado dan rombongannya dari bandara sudah memasuki halaman istana, langsung bergegas menuju pintu keluar istana uintuk menyambut kedatangan sahabatnya itu.


Deanda yang berjalan mengikutinya, sebenarnya ingin ikut berjalan dengan langkah-langkah lebar, tapi peringatan dari Larena dan Vincent, membuat Deanda akhirnya hanya bisa meringis dan memperlambat langkah-langkah kakinya, dan membiarkan Enzo yang berjalan beriringan dengan Alvero sebagai ornag pertama yang menyambut kehadiran Ornado sebelum memasuki gerbang istana Gracetian.

__ADS_1


Wajah Alvero yang biasanya terlihat dingin dan tanpa ekspresi, langsung memperlihatkan wajah bahagianya begitu melihat Ornado yang turun dari limosin paling depan yang baru saja berhenti dari tempat Alvero berdiri menunggu kedatangan Ornado dan yang lain, termasuk Dave yang sepanjang liburan di Indonesia waktu itu menjadi dekat juga dengan Alvero.


__ADS_2