
Kedua teman dari pemuda itu yang berencana membantu temannya, tidak luput juga dari tendangan dan pukulan tangan Alaya, membuat ketiga pemuda itu berusaha untuk melarikan diri dengan membawa barang jarahan berupa uang, handphone dan juga jam tangan mewah milik salah satu dari siswa perempuan yang menjadi teman sekolah Alaya.
Melihat itu dengan sigap Alaya langsung berlari, mengejar ketiga pemuda yang berlari ke arah mall yang ada di depannya, berharap di tengah-tengah keramaian, Alaya akan mengalami kesulitan untuk menemukan mereka.
Bahkan mereka sepakat berniat berpencar begitu melihat tidak ada kesempatan untuk melarikan diri jika mereka terus bersama, mereka berusaha untuk segera berpisah.
Sayangnya, Alaya yang sudah melihat adanya gelagat itu, segera mencegat mereka secara bergantian dan langsung menghajar mereka dengan kemampuan beladirinya, tepat sebelum mereka sempat berpencar.
Meskipun akhirnya salah satu dari mereka berhasil melarikan diri, meninggalkan kedua temannya yang sudah terkapar tidak berdaya di lantai mall karena dihajar oleh Alaya barusan.
Dan kebetulan, pemuda yang berhasil melarikan diri tersebut, adalah pemuda yang membawa semua barang rampasan dari para teman sekolah Alaya itu.
Setelah Alaya menyerahkan kedua pemuda yang sudah terkapar itu pada pihak keamanan mall yang mendatangi temapt keributan dengan tergopoh-gopoh, dengan cepat Alaya kembali memburu salah satu dari kelompok mereka yang tadi sempat melarikan diri.
Kemana perginya pemuda itu? Benar-benar cari mati! Beraninya menindas orang lain yang lebih lemah darinya dan mengambil keuntungan pribadi!
Alaya berkata dalam hati sambil menajamkan matanya, dan memandang ke sekelilingnya, mencari keberadaan pemuda itu.
Benar-benar tidak bisa dimaafkan! Generasi perusak bangsa!
__ADS_1
Alaya kembali berteriak dalam hati dan bibirnya langsung menyungingkan sebuah senyum dengan wajah terlihat puas begitu berhasil menemukan sosok pemuda yang sudah berhasil melarikan diri darinya sambil memegangi perutnya yang sakit akibat hajaran dari Alaya tadi.
“Eh….” Alaya sedikit terpekik kecil ketika dia berniat mengejar kembali pemuda itu tiba-tiba harus menghentikan gerakannya ketika tiba-tiba ada segerombolan pengunjung yang beranggotakan para manula hampir saja ditabraknya jika dia tidak dengan sigap menghentikan gerakan tubuhnya untuk berkali ke depan.
“Ah, maaf Nona….” Salah seorang wanita tua yang hampir bertabrakan dengan Alaya karena matanya yang memang sudah rabun meskipun sudah dibantu dengan sebuah kacamata tebal terdengar meminta maaf pada Alaya.
“Ah, tidak nek, aku juga minta maaf karena tidak melihat sekeliling dengan baik. Aku baik-baik saja. Apa nenek juga baik-baik saja?” Perhatian Alaya langsung teralihkan dan membalas perkataan wanita tua itu dengan sopan.
“Tidak apa-apa Nona. Tenang saja, meskipun aku sudah tua begini, aku masih kuat dan mampu berdiri tegak meskipun ada badai Irma atau badai Sandy menerjang.” Jawabang menggelikan itu membuat Alaya dan anggota kelompoknya yang lain tersenyum lega, karena hal itu menunjukkan kalau wanita tua itu benar-benar baik-baik saja.
(Badai merupakan sebuah bencana alam yang ditandai dengan cuaca yang ekstrem, mulai dari hujan es, badai salju, hingga badai pasir dan debu. Masing-masing badai diberikan nama oleh para ahli untuk mengetahui perbedaannya. Hal tersebut diputuskan selama Perang Dunia II.
Sedangkan badai Sandy merupakan yang menerjang wilayah Karibia, Amerika Serikat Mid-Atlantik dan Timur Laut pada akhir Oktober 2012. Badai ini memiliki diameter terbesar sepanjang sejarah dengan hembusan angin sejauh 1.100 mil (1,800 km). Sandy melakukan pendaratan terakhirnya 5 mil (8 km) di barat kekuatan Atlantic City, New Jersey sekitar pukul 20.00 EDT tanggal 29 Oktober).
Alaya selain tersenyum, sekaligus merasa lega karena semua baik-baik saja.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya nek. Semoga hari nenek menyenangkan hari ini. Maaf sudah membuat nenek kaget.” Alaya segera berpamitan karena tidak ingin lebih lama lagi membuang waktu, yang akan membuatnya semakin kehilangan jejak dari pemuda itu.
Setelah berpamitan dengan wanita tua itu dan kelompoknya, mata Alaya kembali berkeliling memandang ke sekitarnya, mencari tanda-tanda keberadaan pemuda yang melarikan diri itu.
__ADS_1
Alaya berusaha kembali menajamkan matanya, sambil berjalan ke arah terakhir dia melihat keberadaan pemuda itu.
Alaya hampir saja menyerah untuk mencari, sampai matanya melihat kalau pemuda itu sedang berlarian di dalam sebuah restoran yang cukup besar dan terkenal yang ada di dalam kawasan mall itu.
Melihat itu dengan gerakan cepat, Alaya langsung masuk ke dalam restoran itu dan kembali mengejar pemuda itu.
“Maaf….” Dengan nafas terengah-engah, pemuda yang sedari tadi si buk mencari tempat untuk bersembunyi dan lari dari kejaran Alaya, tiba-tiba mengambil inisiatif untuk duduk tepat di depan salah seorang laki-laki muda berambut pirang yang sedang duduk sendirian di salah satu sudut restoran itu.
Melihat keadaan pemuda itu, laki-laki tampan berambut emas itu terlihat sedikit mengeryitkan dahinya, sebelum pada akhirnya menyodorkan gelas berisi minuman miliknya, yang sebenarnya baru diserahkan oleh seorang waitress restoran, dan belum sempat dinikmatinya setegukpun.
“Apa yang terjadi denganmu….?” Laki-laki berambut emas yang adalah Evan yang sedang menjalani tugasnya dari kerajaan untuk melakukan pengecekan terhadap senjata-senjata yang dicurigai telah diselundupkan dari negara itu berniat menanyakan apa yang terjadi pada pemuda yang nafasnya terlihat terengah-engah itu.
“Brak!” Belum lagi pemuda itu sempat menjawab pertanyaan Evan dan menikmati gelas berisi minuman yang disodorkan oleh pemuda berambut emas yang ternyata adalah Evan, sebuah suara gebrakan meja yang timbul akibat pukulan telapak tangan Alaya ke atas meja, tepat di depan wajah pemuda itu langsung membuat pemuda itu terlihat kaget sekaligus khawatir.
Dan dengan sikap terlihat ketakutan, pemuda itu langsung berdiri dari duduknya, dan memiliih untuk langsung berdiri di belakang kursi yang sednag diduduki oleh Evan.
Evan sendiri tampak tetap tenang denga napa yang terjadi di depannya, tidak terlihat kaget ataupun khawatir, seolah-olah dia terbiasa menghadapi orang-orang yang bertindak aneh dan mengagetkan seperti itu.
Sebagai seorang bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi dalam kemiliteran, sejak awal memang Evan selalu dilatih untuk bisa mengendalikan diri, emosi dan reaksinya terhadap apapun yang terjadi di sekitarnya.
__ADS_1
Tetap tenang, tidak panik, dan selalu menjaga otaknya tetap jernih, adalah hal yang begitu melekat pada sosok Evan, yang membuatnya selalu bisa mengendalikan situasi dan orang-orang di sekitarnya dengan baik dibandingkan dengan orang lain.