Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TIDAK JUGA MUNCUL


__ADS_3

Dengan posisi Evan setengah berbaring, awalnya Evan ingin menegakkan tubuhnya kembali, tapi tanpa disangka-sangka oleh Evan, Alaya justru bergerak dengan cara merayap ke atas tubuh Evan, sehingga Evan langsung menghentikan niatnya, ingin melihat apa yang ingin dilakukan Alaya padanya dengan berpura-pura bersikap pasrah.


Bisa saja Evan menahan tubuhnya begitu tadi dia merasakan dorongan dari Alaya, tapi saat ini, Evan memilih pasrah dan membiarkan Alaya bersikap sedikit liar padanya pagi ini.


Akan tetapi begitu melihat Alaya sedikit menghentikan gerakan tubuhnya begitu dia duduk di atas tubuh Evan, tanpa memberikan kesempatan untuk Alaya berpikir jernih kembali, tangan Evan segera menelusup masuk ke bagian punggung Alaya, sedikit bermain disana sambil mengelus-elusnya, sebelum akhirnya tangannya bergerak ke bagian depan, mencari dua benda kenyal yang disukainya itu.


Bahkan dengan cepat tangan kiri Evan menarik tubuh Alaya sehingga duduk dan membungkuk ke arahnya, dan tangan Evan yang lain dengan tidak kalah cepatnya menyingkapkan bagian depan pakaian tidur Alaya hingga sebatas leher.


Dan seperti bayi yang kehausan, bibir Evan dengan cepat mengulll...llum salah satu dari ujungnya dengan tangannya yang bergerak memijat-mijat lembut area sekitarnya.


"Ah...." Mau tidak mau sebuah suara dessaaa...hhhan langsung meluncur keluar dari bibir Alaya tanpa bisa di tahan lagi, sekaligus membuat Alaya langsung menggerakkan kepalanya mendekat ke wajah Evan, memaksa Evan menjauhkan bibirnya sementara waktu dari benda kesukaannya, dan Alaya langsung mencium bibir Evan dengan penuh gairah, yang tentu saja langsung disambut Evan dengan senang hati.


Dan beberapa waktu berikutnya, mereka berdua kembali melakukan pergulatan panas di atas ranjang, dengan Alaya yang berada di atas untuk kali ini.


Seperti kata Evan, pagi ini Evan membiarkan Alaya yang memimpin dan bergerak sesuka hatinya.

__ADS_1


# # # # # #


"Nyonya Rose...."


"Ya Yang Mulia Alvero." Nyonya Rose segera menjawab panggilan Alvero yang sejak beberapa menit ini menghubungi nyonya Rose hampir lima menit sekali untuk menanyakan kabar Evan dan Alaya yang belum juga keluar dari kamarnya.


"Apa mereka sudah keluar dari kamar?" Dan pertanyaan yang sama kembali diajukan kepada nyonya Rose yang hanya bisa bersabar melihat sikap Alvero yang tidak sabaran itu.


"Belum Yang Mulia." Dengan suara tenang nyonya Rose berusaha menjawab pertanyaan Alvero, dimana jawaban itu, lagi-lagi masih sama dengan jawaban yang diberikan oleh nyonya Rose kepada Alvero beberapa waktu dan beberapa kali sebelumnya, ketika Alvero menanyakan hal yang sama kepada nyonya Rose.


"Haistt.... Kedua pengantin baru itu sepertinya sudah begitu lengket seperti amplop dan perangko." Alvero sedikit mengomel begitu mendengar jawaban dari nyonya Rose barusan.


Nyonya Rose berkata dalam hati tanpa berani mengucapkannya di depan Alvero.


“Yang Mulia, ini masih pagi. Bagi pasangan pengantin baru, bukankah hari-hari seperti ini sangatlah dinantikan oleh mereka? Yang Mulia juga pernah mengalaminya kan? Jadi jangan terlalu menyalahkan mereka.” Teguran halus dari nyonya Rose membuat Alvero berdecih pelan, tanpa berani menentangnya, karena kenyataannya memang seperti itu.

__ADS_1


Bahkan nyonya Rose tahu pasti, meski sudah beberapa bulan berlangsung perenikahan antara Alvero dan Deanda, tetap saja mereka berdua seperti pasangan pengantin baru.


Apalagi jika sudah waktunya akhir pekan, Alvero dan Deanda tidak bekerja di kantor, keduanya bisa dipastikan tidak akan keluar kamar sampai setengah hari berlalu.


Dan untuk acara makan pagi di istrana, seringkali akan berpindah tanggung jawab kepada Vincent dan Larena untuk memulai dan menutupnya.


Sehingga hal itu menjadi rahasia umum, dimana di akhir pekan, tidak akan ada yang berani menghubungi Alvero maupun Deanda sebelum pukul 12 siang, kecuali jika itu memang tentang sesuatu yang mendesak.


Nyonya Rose yang memang sejak lahirnya Alvero merupakan orang yang merawat Alvero, memang memiliki kedudukan istimewa di hati Alvero, seperti mamanya sendiri, apalagi sejak kecil, Larena terpaksa meninggalkan Alvero begitu saja.


Kedekatan mereka membuat nyonya Rose, adalah salah satu orang yang berani menyampaikan pendapat maupun menasehati Alvero dalam hal-hal tertentu, dan Alvero sebagai orang yang begitu menghargai keberadaan nyonya Rose yang selalu ada di sampingnya dalam segala situasi, seringkali menjadikan pendapat nyonya Rose sebagai bahan pertimbangan untuknya memutuskan sesuatu.


“Yang Mulia, mungkin saya bisa membantu Yang Mulia menyampaikan pesan untuk duke Evan atau duchess Alaya?” Penawaran dari nyonya Rose membuat Alvero sedikit menghela nafasnya, dan mulai berpikir bahwa itu bukanlah hal yang  buruk mengingat pagi ini dia Sudha hampir 10 kali menghubungi nyonya Rose untuk menanyakan apakah Evan dan Alaya sudah keluar dari kamarnya.


“Tadi pagi-pagi sekali, sebenarnya duke Evan sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, meminta kepada para pelayan menyiapkan nampan beserta teh, cangkir teko kaca dan kettle listrik, lalu membawanya kembali ke kamar. Mungkin duke Evan ingin membuat sendiri teh untuk duchess Alaya. Saya tidak tahu apa duchess Alaya sudah terbangun, tapi mengingat duchess Alaya biasanya tidak bangun sepagi duke Evan, mungkin duchess Alaya masih tertidur.” Nyonya Rose memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi.

__ADS_1


Ist… untuk apa Evan berpakaian rapi kalau pada akhirnya pagi ini mereka berdua pasti membuat pakaiannya berantakan kembali.


Alvero berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, bisa menebak dengan pasti apa yang sedang terjadi pagi ini diantara mereka berdua, sampai mereka tidak keluar dari kamar padahal hari sudah tidak lagi pagi.


__ADS_2