
Gerakan Evan yang bangkit dari duduknya dengan cepat, membuat Alaya memandang ke arah Evan dengan tatapan tidak relanya.
“Salam untuk duchess Danella. Lain waktu, aku akan mengikuti afternoon tea di kediaman Carsten.” Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda, menunggu apa yang akan dikatakan oleh permaisurinya yang memiliki hubungan dekat dengan Danella itu.
“Ah ya Evan, sampaikan salamku juga pada duchess Danella. Sampaikan permintaan maafku juga karena akhir pekan ini aku belum bisa menemaninya berbelanja, karena seperti yang kamu tahu, akan ada tamu penting yang akan datang berkunjung.” Dan seperti apa yang sudah bisa ditebak oleh Alvero, Deanda benar-benar mengatakan sesuatu pada Evan untuk Danella.
Yang membuat Alvero langsung mengernyitkan dahinya adalah karena dia batu tahu sekarang kalau Deanda yang ternyata sebelumnya sudah berjanji pada Danella untuk mengantarkan belanja.
Memang Alvero mengatakan akhir pekan ini dia akan pergi berkuda, dan tidak akan mengajak Deanda yang sedang hamil, tapi Alvero belum mendapatkan pemberitahuan dari Deanda tentang rencananya bersama Danella.
Rencana berkuda yang akhirnya harus dibatalkan oleh Alvero juga karena dia harus menyambut kedatangan Ornado dan yang lain, yang baginya jauh lebih penting dari acara berkudanya.
“Maaf, seharusnya aku akan memberitahumu tentang hal itu nanti malam setelah urusan Evan dan Alaya selesai, tapi sudah terlanjur batal karena kedatangan Cladia.” Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Alvero dari caranya melirik ke arahnya, Deanda langsung berbisik pelan ke telinga suami pencemburunya akutnya itu.
Jika saja itu terjadinya dulu sebelum Alvero tahu sejarah percintaan antara Evan dan Alaya, bisa dipastikan 100% dada Alvero akan bergejolak karena cemburunya yang tidak mengenal tempat dan waktu, juga siapa orang yang dicemburuinya.
Tapi untuk saat ini, penjelasan singkat dan permintaan maaf dari Deanda, sudah cukup baginya untuk merasa menjadi orang yang paling penting bagi Deanda, karena hal sekecil apapun akan Deanda beritahukan padanya.
__ADS_1
“Oke… memang lebih baik kamu memberitahu sekarang daripada nanti malam. Karena malam ini aku tidak ingin mendengar apapun dari bibirmu kecuali suara desahanmu yang mendayu-dayu dan terdengar begitu indah di telingaku.” Bisikan Alvero yang diucapkannya dengan begitu pelan, sambil sedikit memiringkan tubuhnya agar bibirnya bisa menempel pada telinga Deanda, membuat mau tidak mau Deanda tersentak kaget, dengan tengkuknya yang serasa merinding.
Aduh… mendengar kata-kata yang mulia, sepertinya malam ini dia akan meminta lebih dari dua ronde. Aku harus menyiapkan diri dengan baik malam ini.
Deanda berkata dalam hati dengan wajah memerah, membuat Alaya dan Evan lagnsung saling berpandangan sambil mengernyitkan dahinya melihat perubahan raut wajah Deanda yang begitu tiba-tiba setelah Alvero terlihat membisikkan sesuatu padanya.
Wajah Deanda saat ini terlihat memerah dengan sikap malu-malunya, membuat Evan maupun Alaya mulai menebak-nebak apa yang sebenarnya baru dibisikkan Alvero pada Deanda.
Sedang Alvero sendiri, setelah mengucapkan kata-katanya, tanpa merasa bersalah langsung menegakkan tubuhnya kembali seolah-olah tidak ada pembicaraan yang terjadi antara dia dan Deanda.
Alaya berkata dalam hati setelah mengalihkan pandangannya dari Evan, yang ternyata justru melakukan hal yang sama dengan Alvero, sedikit memiringkan tubuhnya, agar bibirnya bisa mencapai telinga Alaya.
“Jangan menatap dengan iri seperti itu apalagi sampai meneteskan air liur. Malam ini kita juga harus melakukan hal seperti tadi sore. Berikan aku lebih dari satu kali malam ini….” Bisikan Evan membuat Alaya tersentak kaget dan langsung menoleh, yang justru berakhir pada bertemunya kedua bibir mereka, membuat Deanda dan Enzo langsung terbeliak kaget, begitu juga dengan Alaya yang tidak menyangka bahwa tindakannya barusan membuat kedua bibir mereka beradu di depan orang lain, apalagi di depan kakak kandung dan kakak iparnya, juga sepupunya Enzo yang langsung melongo melihat apa yang sedang terjadi di depannya.
“Ehem….” Alvero yang bisa lebih menguasai rasa kagetnya langsung berdehem, membuat Evan dan Alaya cepat-cepat saling menjauhkan wajah mereka berdua dengan sikap malu-mali, meskipun jujur saja, Evan justru hampir saja melummm…mmmat bibir Alaya begitu bibir mereka bertemu, dan tanda-tanda bangunnya senjata pusakanya di bawah sana bisa dia rasakan dengan begitu jelas, begitu bibir mereka bertemu barusan.
Aist… sial sekali… sepertinya sekarang aku jadi begitu sulit mengendalikan juniorku agar tidak mudah terbangun dari tidurnya saat berdekatan dengan my princess.
__ADS_1
Evan berkata dalam hati, sedikit memaki dirinya sendiri yang rasanya sulit sekali mengendalikan hasratnya sejak kejadian tadi sore, padahal selama ini, dalam hal pengendalian diri, Evan tahu orang lain belum tentu ada yang sebaik dirinya dalam hal itu.
Akan tetapi kehadiran Alaya kembali dalam hidupnya beberapa waktu ini, sudah membuat dia jadi sulit untuk mengendalikan dirinya dari pikiran liarnya.
Apalagi sekarang mereka sudah menikah dan bebas melakukan apapun berdua, sehingga semakin besar keinginan Evan untuk bercinta dengan wanita miliknya itu sesering yang dia bisa dan mampu.
“Ah, maaf sudah memberikan tontonan gratis pada kalian.” Dengan suara dan sikap tenang, senyum tersungging di wajahnya, Evan berkata kepada Deanda dan yang lain, yang langsung tersenyum, sedang Enzo langsung mencebikkan bibirnya dengan mata memandang lurus ke arah Evan.
“Hah… semua orang yang aku kenal, kenapa selalu memamerkan kemesraan mereka di depanku tanpa perasaan sedikitpun? Tidak Alvero, dan sekarang Evan, belum lagi kalau si rajanya bucin Ornado datang…. Benar-benar jago sekali kalian menyiksa jiwa lajangku ini.” Enzo berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap berpura-pura pasrah dan menyedihkan, yang justru membuat Evan dan yang lain tersenyum lebar.
“Kalau begitu, percepat saja pernikahanmu dengan Melva.” Dengan entengnya Alvero menanggapi perkataan Enzo sebelumnya.
“Ist segampang itu kamu mengatakan hal seperti itu Alvero. Mana bisa aku mempercepat pernikahan yang sudah diatur dengan begitu rapi oleh keluarga Melva.” Enzo segera menyampaikan protesnya kepada Alvero, yang dia tahu ketika berusaha menikahi Deanda, dia melakukan segala macam cara agar Deanda mau menikah dengannya, bahkan menjebak Deanda agar pernikahan mereka bisa dipercepat.
Dan ketika Enzo melirik Evan, dia juga jadi menghela nafas panjang, karena tahu bahwa Evan juga mempercepat pernikahannya ketika kondisi orang di luar sana mulai banyak yang mempertanyakan tentang hubungan mereka berdua, bahkan Evan menikahi Alaya dalam kondisi Alaya tidak sadarkan diri, dan tidak bisa menolak pernikahan itu.
“Ah, sudahlah, daripada terus menerus melihat kalian pamer kemesraan lebih baik aku kembali ke kamarku, dan menelpon Melva. Aku akan menciptakan kemesraanku sendiri bersama Melva, meskipun belum bisa melakukan ssegala sesuatunya sebebas kalian. Tapi tinggal menunggu waktu saja. Saat kami sudah menikah, aku juga akan memamerkan kemesraan kami.” Enzo berkata sambil mengikuti Evan bangkit dari duduknya.
__ADS_1