
“Ooo baik.” Dengan mata sesekali melirik ke arah spion, sopir taxi yang sedang membawa Alaya pergi itu menjawab panggilan telepon dari nomer seseorang yang awalnya tadi tidak dikenalnya, tapi begitu orang itu memperkenalkan dirinya, membuat sikap sopir taxi itu terlihat canggung sendiri dan berhati-hati dalam berbicara dengan lawan bicaranya di telepon.
Alaya yang masih sibuk dengan lamunannya sendiri, tampak tidak terlalu memperdulikan sikap tegang yang ditunjukkan oleh sopir taxinya setelah dia menerima sebuah panggilan telepon.
“Ya Pak, saya akan ingat itu dengan baik.”
“Tentu, saya tidak akan berani bertindak gegabah seperti itu.”
“Ya, saya akan ikut menjaga dan menuruti permintaannya sesuai perintah Bapak.”
“Ya… ya… tentu saja….”
“Baik, selamat pagi Pak.”
Begitu pembicaraan mereka sudah diputuskan oleh seseorang di seberang sana, sopir taxi itu langsung menarik nafas dalam-dalam dengan mata mengamati sosok Alaya dari spion.
Aduh… kok bisa putri Alaya keluar dengan lupa membawa dompet dan handphonenya. Keluarga istana, apalagi duke Evan sebagai calon suaminya pasti khawatir dengannya. Kalau orang tidak tahu bisa-bisa dipikir orang lain putri Alaya seperti seorang gadis yang kabur dari rumah karena dipaksa menikah. Ck ck ck…
Sopir taxi itu berkata dalam hati dengan sikap bangga, karena seorang earl seperti Sam baru saja menghubunginya, dan memintanya untuk menjaga Alaya dengan baik.
Sam mangatakan kondisi Alaya yang terburu-buru pergi karena ada urusan penting sehingga lupa membawa dompet dan handphonenya.
__ADS_1
Sam meminta agar sopir taxi itu mengikuti kemana saja permintaan Alaya untuk diantar, dan untuk biayanya, sebelum Alaya turun, Sam akan mentransfer uang tagihan ke rekening sopir taxi itu.
Untung saja orang baik seperti aku yang bertemu dengan putri Alaya, sehingga keluarga istana maupun duke Evan tidak perlu khawatir dengan keselamatan putri Alaya. Selama aku yang bersamanya, putri Alaya pasti akan tetap aman. Kalau bertemu dengan sopir lain, bisa-bisa sopir itu mencari keuntungan pribadi dari kondisi putri Alaya sekarang.
Dengan percaya diri, sopir itu kembali berkata dalam hati dengan senyum bangga tidak lepas sedikitpun dari wajahnya.
Perintah dari Sam yang seorang earl, dan juga orang yang sedang dijaganya adalah seorang putri yang mungkin dalam kurun waktu seumur hidupnya baru kali ini dan mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan baginya untuk dapat menyopiri taxi yang ditumpangi oleh seorang putri, membuat sopir taxi itu merasa begitu bangga dan bahagia.
Dan dengan kepolosannya, apalagi begitu pintarnya baik Alaya dan Sam mengolah kata-katanya, sopir taxi itu tidak akan pernah menyangka kalau ternyata Alaya sednag dalam kondisi melarikan diri dari suaminya, duke Evan Carsten.
Bahkan Alaya sendiri tidak sadar karena dia belum mengetahui tentang statusnya yang sudah berubah menjadi seorang duchess Carsten sekarang.
# # # # # # #
Begitu Sam menghentikan mobil yang dikemudikannya di bagian tepi jalan, mobil yang ditumpangi Evan langsung menyusul berhenti tepat di belakang mobil itu.
Dan begitu mobil berhenti, dengna cepat Evan langsung keluar dari mobil dan berlarian ke arah mobil yang dikendari Sam, setelah sebelumnya memberikan perintah kepada sopirnya untuk kembali ke rumah keluarga Carsten.
“Duke Evan….” Dengan sikap hormat Sam yang berada di posisi pengemudi langsung menyapa Evan yang sudah berpindah tempat, duduk di bagian penumpang mobil yang dikendarai oleh Sam.
“Kira-kira kemana tujuan perginya putri Alaya?” Evan langsung bertanya kepada Sam yang sedari tadi memang sudah mengikuti taxi yang ditumpangi Alaya, bahkan sudah beberapa kali melakukan komunikasi dengan sopir taxi itu, baik melalui panggilan telepon atau melalui pesan singkat.
__ADS_1
“Menurut sopir yang mengendarai taxi itu, putri Alaya minta diantarkan ke hotel Tavisha, bukan ke istana.” Jawaban Sam membuat Evan tersenyum, karena kerja Sam yang baginya sangat memuaskan.
Dalam waktu singkat bahkan Sam sudah mengetahui info tentang kemana arah tujuan perginya Alaya dari sopir taxi, yang pastinya karena Sam sudah mendapatkan info tentang nomer handphone yang dimiliki oleh sopir taxi itu.
“Kerja bagus Sam. Kita akan ikuti sampai istriku masuk ke dalam hotel Tavisha. Untung saja dia memilih hotel Tavisha yang memang milik dari Grup Adalvino.” Tanpa ragu Evan menyebutkan Alaya sebagai istrinya di depan Sam, yang merupakan salah satu orang kepercayaan Evan yang memang mengetahui status pernikahan Evan dan Alaya itu.
“Apa kita akan ikut masuk, menyusul putri Alaya ke dalam hotel Duke Evan?”
“Tidak perlu. Kita akan kembali ke markas militer setelah memastikan istriku baik-baik saja setelah sampai di hotel Tavisha.” Evan langsung menjawab pertanyaan Sam yang langsung menganggukkan kepalanya sambil matanya menatap lurus, fokus pada jalanan dan juga kemana arah taxi yang ditumpangi Alaya melaju.
Kenapa Alaya memilih untuk pergi ke hotel Tavisha? Bukannya pulang ke istana? Apa mungkin… dia masih berusaha menyelidik kenapa dia bisa berada di rumahku, tapi Alvero, Deanda maupun kedua orangtuanya tidak mencarinya dan membawanya kembali ke istana? Dia pasti ingin tahu apa Alvero juga terlibat atau tidak dengan kejadian ini. Dan jika dia tahu Alvero mengijinkan aku merawat dan membawanya pulang ke rumah keluarga Carsten, Alaya pasti akan marah pada Alvero juga. Apalagi jika dia kelak tahu tentang pernikahan kami, dan orang yang memintaku untuk segera menikahinya meski dia tidak sadar adalah kakaknya sendiri.
Evan mulai menebak-nebak dalam hati, apa yang sedang direncanakan Alaya di balik keputusannya untuk tidak pulang ke istana, tapi justru pergi ke hotel Tavisha.
# # # # # # #
“Aduh….” Wajah Alaya berubah panik begitu sopir taxi sudah menghentikan mobilnya di lobi hotel Tavisha, dan Alaya baru saja menyadari kalau dia tidak mebawa dompet atau apapun selain pakaian yang melekat di tubuhnya, dan sepasang sandal rumah entah milik siapa yang tadi dengan buru-buru langsung diambilnya tanpa berpikir panjang.
“Kenapa Putri? Apa ada yang salah dengan taxi saya? Atau Putri ingin diantarkan ke tempat lain?” Sopir taxi itu ;langsung bertanya kepada Alaya dengan sikap hormat.
“Aduh… maaf Pak, tapi sepertinya…. Aku lupa membawa dompetku karena terburu-buru harus melaksanakan tugas dari yang mulia Alvero. Bisakah Bapak memberikan nomer telepon dan nomer rekening Bapak? Aku jani akan segera mengirimkan biaya taxi ini ke nomer rekening Bapak setelah aku membereskan urusanku. Aku janji tidak akan lama.” Alaya segera berkata dengan menyebutkan nama Alvero sebagai tameng, berharap nama orang yang paling berkuasa di negara Gracetian itu membuat sopir taxi itu mau bebelas kasihan padanya kali ini, dan membiarkan dia pergi dan membayar tagihan taxi setelah dia mendapatkan kembali dompet, atau paling tidak handphonenya agar dia bisa meminta tolong orang lain untuk membayar biaya taxinya.
__ADS_1