
Bukannya tanpa alasan Alexis tadi terlihat sedikit marah begitu bertemu dengan Alaya yang dalam kondisi basah kuyub, karena dulu Alexis yang merawat Alaya ketika alerginya kambuh, jadi dia mengerti tentang bagaimana bahayanya jika alergi Alaya saat parah dibiarkan begitu saja tanpa segera ditangani oleh dokter.
Dan pernah sekali Alaya hampir saja tidak terselamatkan karena Alexis yang sedang sibuk mengantar Larena untuk menjalani terapinya, terlambat mengetahui alergi Alaya yang kambuh, sampai membuat gadis itu pingsan tanpa diketahui orang lain, karena pelayan waktu itu berpikir kalau Alaya sedang tidur di kamarnya setelah pulang dari sekolah dalam kondisi basah kuyub akibat tercebur ke kolam renang.
Teman-temannya yang tidak tahu tentang alergi Alaya waktu itu sengaja mengajak Alaya bercanda dan menceburkan Alaya ke kolam renang yang ada di sekolahnya, karena berpikir Alaya hanya bercanda saat dia mengatakan kepada teman-temannya kalau dia tidak bisa berada di air terlalu lama ndan selalu menghindari jam olahraga jika yang ada di jadwal olahraga hari itu adalah olahraga renang.
Saat Alexis yang baru pulang dari rumah sakit mendapatkan laporan dari para pelayan yang mengatakan kalau lebih dari 3 jam Alaya tidak keluar kamar setelah pulang dari sekolahnya, Alexis berusaha untuk mengetuk pintu kamarnya.
Akan tetapi karena tidak ada jawaban dari dalam, tidak seperti biasanya Alaya tetap diam, pada akhirnya Alexis mendobrak pintu kamar dan matanya langsung melotot begitu melihat sosok Alaya yang tergeletak di lantai karena pingsan dengan posisi meringkuk, menunjukkan bahwa sebelumnya Alaya merasakan kesakitan di tubuhnya sebelum pingsan.
Dan Alexis langsung panik begitu melihat bibir Alaya yang mulai membiru dan terlihat kering, juga suhu tubuh Alaya yang sangat tinggi waktu itu.
Dengan terburu-buru waktu itu Alexis langsung menggendong tubuh Alaya dan mengantarnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Meskipun harus menunggu cukup lama hasil pemeriksaan para dokter terbaik di kota tempat tinggal mereka waktu itu dengan hati yang terus was-was, akhirnya Alexis bisa bernafas lega begitu dokter memberikan info bahwa mereka sudah berhasil menyelamatkan Alaya dan membantunya melewati masa kritisnya.
Saat itu dokter mengatakan kalau telambat sedikit lagi, mereka mungkin sudah tidak akan sanggup untuk menyelamatkan nyawa putri cantik itu, dan kalaupun bisa, jika terlambat dalam penanganannya, maka Alaya akan mengalami kerusakan otak karena panas tubuhnya yang terlalu tinggi waktu itu.
"Jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Alaya... apa yang sedang terjadi padamu? Apa kamu sedang dalam kondisi sangat tertekan, sehingga nekat untuk tidak perduli dengan kesehatanmu seperti itu. Dengan beraninya kamu melanggar pantanganmu seperti itu." Alexis kembali berkata pelan, sedikit melamun sampai Red datang mendekat ke arahnya dan mengajaknya untuk kembali mengobrol tentang masalah pasukan khusus yang mereka bentuk waktu itu.
# # # # # # #
Danella memang tampak kaget karena tiba-tiba saja Evan masuk ke rumah dengan gerakan bergegas, bersama dengan seorang gadis dalam gendongannya, dan di belakang Evan, tampak dua dokter yang biasa menangani keluarga Carsten bersama dengan beberapa perawat, berjalan dengan wajah serius mengikuti langkah-langkah Evan.
Danella bermaksud bertanya kepada Evan kembali, tapi begitu matanya melihat gadis yang sedang dibopong oleh Evan dengan kondisi entah tertidur entah pingsan itu adalah calon menantunya, dengan gerakan hati-hati tapi cepat, Danella akhirnya mengikuti langkah-langkah Evan yang membawa masuk Alaya ke dalam rumah.
“Eh… Evan….” Lagi-lagi Danella harus menggantung kata-katanya di udara karena Evan tidak memperdulikan panggilannya.
__ADS_1
Kali ini Evan kembali membuat kaget Danella karena tanpa disangka oleh Danella, Evan langsung membawa tubuh Alaya ke kamar pribadinya, padahal sebelumnya Danella ingin menawarkan kamarnya sendiri untuk ditempati Alaya, agar gadis itu tidak merasa canggung jika nanti sudah pulih.
Sebenarnya Danella merasa seharusnya Alaya diletakkan di kamarnya sebagai sesame perempuan, karena Alaya baru pertama kalinya datang di rumahnya, dan pastinya tidak akan merasa kaget saat nanti terbangun daripada di kamar Evan yang pastinya bisa membuat Alaya kaget.
Meskipun dalam waktu sebulan ke depan mereka akan menjadi suami istri, tapi pada kenyataannya, Danella berpikir kalau untuk saat ini, mereka berdua pasti masih akan sama-sama canggung karena mereka belum saling mengenal, bahkan bahkan belum lama saling bertemu satu sama lain.
Tapi melihat Evan dengan langkah-langkah lebarnya sudah memasuki kamarnya, dan membaringkan tubuh Alaya, Danella hanya bisa diam sambil mengikuti Evan masuk ke kamarnya, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba Evan membawa Alaya ke rumah dengan kondisi menyedihkan seperti itu.
Begitu tubuh Alaya sudah terbaring di tempat tidur milik Evan dan para tim medis sednag sibuk memeriksa kondisi Alaya, tangan Danella langsung menarik tangan Evan, dan mengajak Evan sedikit menjauhi tempat tidur.
“Evan, apa yang sedang terjadi pada putri Alaya? Kenapa dia seperti itu? Apa dia sakit parah? Dimana kalian bertemu? Kenapa kamu tidak langsung membawanya ke rumah sakit?” Dengan suara berbisik, Danella langsung melontarkan pertanyaan kepada Evan.
Pertanyaan Danella yang begitu bertubi-tubi padanya, akhirnya membuat Evan yang awalnya tidak mau mengalihkan pandangan matanya dari Alaya, akhirnya menoleh ke arah Danella.
__ADS_1