Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SEORANG RAJA YANG PENCEMBURU


__ADS_3

"Baru saja berpisah beberapa menit darimu, tapi rasanya sudah begitu lama. Aku merindukanmu sweety." Alvero berkata sambil menyunggingkan senyum manisnya pada Deanda.


Sebuah senyum yang bagi orang lain akan menjadi sesuatu yang langka, sebuah tindakan yang hampir tidak pernah dilakukan oleh Alvero di depan orang lain, apalagi jika dia menganggap orang itu bukan orang penting baginya.


Tapi terhadap Deanda, senyum Alvero selalu saja dia tampilkan untuk istri tercintanya itu, satu-satunya wanita yang bisa membuat Alvero berubah 180 derajat saat berada di dekat wanita itu.


Deanda hanya bisa tersenyum mendapatkan perlakuan hangat dan mesra dari Alvero, yang setelah menciumnya, langsung memeluk erat tubuhnya dari samping, sambil mengelus-elus bagian atas lengan Deanda, tidak memberi kesempatan bagi Deanda untuk menghindar apalagi pergi menjauh darinya.


Hah! lagi-lagi kak Alvero pamer kemesraan di depanku. Cinta mati kak Alvero pada kak Deanda benar-benar tidak bisa ditolong lagi, seperti penyakit yang sudah sangat akut, ada dalam kondisi stadium akhir.


Alaya berkata dalam hati dan memutuskan untuk segera menyingkir dari tempat itu, mau tidak mau saat ini dia harus menuju ruang makan istana.


Dan untuk saat ini bagi Alaya sepertinya itu adalah pilihan terbaik daripada harus melihat bagaimana sikap bucin Alvero pada Deanda.


Apalagi, begitu Alaya pergi menjauh, justru membuat Alvero langsung mengecup mesra bibir Deanda dengan waktu cukup lama.


"My... Al...." Bahkan Alvero tidak memberikan kesempatan pada Deanda untuk bisa menyebutkan namanya dengan benar, karena raja tampan itu sedang begitu menikmati manisnya rasa bibir Deanda, yang selalu saja membuat jantung Deanda berpacu dengan cepat.


"My Al...." Deanda langsung kembali memanggil nama kesayangannya untuk Alvero, begitu Alvero melepaskan ciumannya dengan sikap enggan.

__ADS_1


"Rasanya belum puas, tapi sayangnya acara makan malam di istana tidak bisa ditunda apalagi tidak aku hadiri, karena ada tamu undangan penting malam ini." Alvero berkata sambil mengusap lembut bibir Deanda dengan ujung ibu jari tangan kanannya.


Tanpa menanggapi perkataan Alvero, Deanda langsung meraih tissue yang ada di atas meja dan membersihkan bekas lipstiknya yang menempel di bibir Alvero.


"Sweety, sepertinya nanti malam kita harus melanjutkannya, atau aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak." Kata-kata Alvero membuat kedua mata indah Deanda terbeliak kaget, karena sejak dokter menyatakan usia kehamilan Deanda sudah memasuki usia aman untuk mereka bisa kembali melakukan kegiatan ranjang mereka, Alvero seperti orang kecanduan yang seringkali meminta jatahnya pada Deanda.


"Bukannya kemarin kita sudah mela...."


"Yang lalu biarlah berlalu, yang pasti, hari ini bukan kemarin." Alvero yang seperti biasanya tidak pernah mau mengalah, langsung berkata sambil hidung mancungnya mendekat ke arah leher Deanda, dan menghirup dalam-dalam bau harum yang membuatnya sakau itu.


Setelah itu, Alvero kembali menjauhkan hidungnya dari leher Deanda, dan memandang dalam-dalam ke wajah Deanda yang wajahnya sudah memerah karena tindakan Alvero barusan.


(Salah satu alasan kenapa orang jadi tidur lebih nyenyak setelah melakukan hubungan intim adalah karena kegiatan itu akan menyebabkan pelapasan oksitosin yang menyebabkan perasaan nyaman dan bahagia. Hormon ini juga membantu seseorang agar terhindar dari stress.


Hormon lainnya seperti dopamin, prolaktin, dan progesteron, yang akan muncul setelah melakukan percintaan yang memuaskan juga mempengaruhi pikiran dengan membuat perasaan lega, relaks, dan kantuk).


Dengan sikap waspada, Deanda langsung mengarahkan pandangan matanya, menatap sekelilingnya, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan, yagn seharusnya hanya boleh dibicarakan saat mereka sedang berdua saja di ruangan tertutup, bukan di tempat terbuka seperti sekarang sekarang ini.


"Kenapa denganmu sweety?" Alvero berkata sambil melepaskan tangan Deanda yang menutupi bibirnya.

__ADS_1


"My Al... malu kalau ada yang melihat raja mereka seperti ini." Kata-kata protes dari Deanda justru membaut Alvero tertawa kecil.


"Kenapa harus malu, harusnya kamu bangga karena seorang raja sudah berhasil kamu buat begitu tergila-gila padamu. Lagipula, di istana ini, siapa yang berani melihat apalagi menyebarkan berita tentang kemesraan kita?" Alvero berkata sambil meraih kembali tissue yang ada di tangan Deanda, dan membersihkan sisa-sisa lipstik Deanda dengan tangannya sendiri.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Alvero memang benar, karena di dalam aturan kerajaan dimana seorang raja dianggap sebagai pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan dan dihormati, jika saja ada orang yang melihat raja mereka sedang bersikap mesra pada permaisurinya, mereka harus segera membalikkan badannya untuk membelangi raja, kecuali jika kemesraan itu sengaja dilakukan di depan orang banyak di acara pesta yang bersifat resmi untuk menunjukkan harmonisnya hubungan antara raja dan permaisurinya.


"My Al, sebenarnya kenapa denganmu hari ini? Kenapa kamu terlihat sedikit gelisah?" Alvero langsung menghela nafasnya begitu mendengar pertanyaan dari Deanda yang begitu tepat sasaran.


"Berjanjilah padaku sweety, kamu akan selalu mendukungku, apapun yang terjadi ke depannya." Deanda langsung tersenyum mendengar perkataan Alvero, sosok yang selalu berwibawa, tegas, dan bahkan terkesan dingin, tapi jika berhadapan dengannya, laki-laki itu kadang tanpa segan dan ragu menunjukkan sisi lemahnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan my Al? Sejak kapan aku tidak mendukungmu?" Deanda berkata sambil melingkarkan salah satu tangannya ke bagian belakang pinggang Alvero, dengan gerakan sedikit mengelusnya, membuat Alvero harus menahan nafasnya karena jantungnya yang berdegup kencang karena tindakan Deanda pada tubuhnya yang begitu sensitif dan begitu mudah terpancing jika yang melakukan hal seperti itu adalah Deanda.


"Masalah perjodohan Evan dan Alaya... itu tidak akan mengganggumu kan?" Alvero berkata dengan suara ragu.


"Kenapa harus menggangguku?" Deanda langsung bertanya balik pada Alvero, meskipun dari sikap Alvero, Deanda sudah mulai bisa menebak apa yagn sedang dipikirkan oleh Alvero saat ini, ketakutannya tentang kedekatan Evan dengannya, karena rasa cemburu yang berlebihan yang dimiliki oleh seorang Alvero Adalvino.


"Karena jika Evan menyetujui rencana perjodohan ini, dia akan menjadi orang yang bisa dengan bebas keluar masuk istana seperti para putri dan pangeran Adalvino lainnya, dan dia akan bisa dengan bebas bertemu dengan...."


"Apa kamu takut kalau dia akan merampok istana? Bukannya selain keluarga Adalvino, pemegang kekayaan tertinggi di Gracetian adalah keluarga Carsten? Apalagi aku pernah dengar selain di Gracetian, dia banyak memiliki properti dan asset di luar negeri. Jangan-jangan, jika digabungkan ternyata keluarga Carsten jauh lebih kaya dari keluarga Adalvino?" Candaan Deanda membuat Alvero sedikit meringis, sadar kalau istrinya itu sebenarnya sudah tahu dengan sikap pencemburu akutnya yang tidak masuk akal bagi orang lain, yang kadang membuatnya terlihat kekanak-kanakan, meski statusnya adalah raja Gracetian, yang dengan menunjukkan jarinya bisa memerintah orang sesuka hatinya tanpa ada yang berani membantahnya.

__ADS_1


__ADS_2