Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
RENCANA SELANJUTNYA


__ADS_3

"Berarti setelah lewat hari ini, setiap saat aku menginginkannya, kamu akan memberikannya padaku? Kapanpun? Dimanapun?"


"Eh.... bukan begitu….!" Alaya langsung terpekik pelan mendengar pertanyaan Evan.


"Ayolah, kita bicarakan nanti saja. Sekarang kita bersihkan tubuh kita dahulu." Evan berkata sambil membungkukkan tubuhnya, dan langsung mengangkat tubuh Alaya dengan kedua lengan kekarnya.


"Setelah yang pertama, jika kamu sudah merasakan yang kedua kamu akan ketagihan, dan aku jadi khawatir, mungkin aku tidak akan sanggup melayanimu jika kamu memintanya terus menerus." Evan berkata sambil mengerlingkan matanya, setelah itu mengecup sekilas bibir Alaya yang melongo karena kata-kata Evan yang dilakukannya sambil menggendong tubuh Alaya, membawanya ke kamar mandi.


Perkataan Evan disertai dengan nada menggodanya itu langsung membuat wajah Alaya semakin memerah.


“Menggemaskan… seperti yang sudah aku ingat dengan jelas. Sejak dulu, kamu selalu terlihat menggemaskan bagiku.” Evan berbisik lirih sambil mengecup pipi Alaya yang tampak memerah.


Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Evan mendudukkan tubuh Alaya di atas closet, setelah itu dia mengisi bathtub dengan air hangat, menunggunya hingga terisi cukup penuh sehingga nantinya Alaya bisa berendam di sana dengan nyaman.


Melihat bagaimana lembut dan perhatiannya sikap Evan padanya membuat Alaya tersenyum bahagia, merasa beruntung saat ini bisa mendapatkan suami sebaik Evan, apalagi Evan sudah sepenuhnya ingat padanya, Evan yang begitu dicintainya bahkan sejak dia masih berusia remaja.


# # # # # # #


“Evan….” Suara manja Alaya langsung terdengar begitu tangan Evan yang sedang menggosok tubuhnya dengan sabun sesekali menyentuh area pribadinya entah bagian dua bukit kembarnya ataupun bagian intinya dan sengaja berhenti cukup lama di sana sambil mengelus dan memijatnya.


Mendengar suara manja Alaya yang menunjukkan protesnya, Evan justru tersenyum, membuat Alaya akhirnya mengambil air dalam bathtub dengan kedua telapak tangannya dan memercikkannya ke arah Evan yang langsung tertawa.


“Sudah waktunya kamu menyelesaikan berendammu agar tidak kedinginan.” Evan berkata sambil membuka penutup bathtub untuk menguras air yang ada di dalam sana.

__ADS_1


Meskipun belum merasa puas berendam dalam air hangat di dalam bathtub yang membuat rasa nyeri di bagian intinya perlahan-lahan menghilang, Alaya harus pasrah begitu Evan memaksanya untuk mengakhiri aktifitasnya di dalam air, karena Evan tidak ingin Alaya sakit.


Apalagi Evan masih ingat dengan jelas tentang bagaimana resiko besar jika Alaya kambuh alergi dinginnya.


Meskipun air yang sudah disiapkan oleh Evan untuk Alaya berendam adalah air hangat, tapi Evan tahu air hangat itu tidak akan bisa selamanya bisa mempertahankan suhunya, sehingga sebelum air dalam bathtub belum benar-benar berubah dingin, Evan langsung mengambil tubuh Alaya dari dalam bathtub, dan langsung membalutnya dengan handuk, melepaskan kembali handuk itu setelah yakin tubuh Alaya sudah kering.


Setelah itu dengan gerakan lembut Evan kembali menggendong tubuh istrinya, dan membaringkannya ke atas tempat tidur yang sebenarnya terlihat berantakan, tapi mereka berdua sengaja bersikap masa bodoh dengan itu.


“Pakaian apa yang ingin kamu kenakan sekarang?” Evan bertanya sambil berniat melangkahkan kakinya, mengambil koper milik Alaya yang tadi tergeletak begitu saja di dekat pintu.


“Evan….” Panggilan Alaya padanya sambil meraih tangannya, membuat Evan menghentikan langkahnya dan mendekat kembali ke arah Alaya.


“Haruskah berpakaian? Bukankah itu akan merepotkan kita berdua? Tunggu sebentar lagi, mungkin kita bisa memulainya lagi seperti katamu tadi.” Mata Evan sedikit terbeliak mendengar perkataan dari Alaya yang sungguh tidak disangka-sangka oleh Evan.


Sebelum ikut berbaring di samping tubuh Alaya, dengan gerakan pelan, Evan meraih selimut tebal yang ada di tempat tidur itu, menarik dan membukanya untuk kemudian digunakannya untuk menutupi tubuhnya dan Alaya, agar Alaya tidak merasa kedinginan.


Dalam kondisi sama-sama tanpa sehelai benangpun, lengan Evan langsung melingkar di perut Alaya, memeluk tubuh Alaya dari arah belakang di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Meski sempat sedikit tersentak kaget karena mendapatkan pelukan dari Evan, Alaya langsung tersenyum sambil menarik nafas lega.


“Kamu pasti lelah, apalagi kamu baru pulih dari alergimu. Tidurlah….” Evan berbisik lirih sambil tangannya mengelus lembut perut Alaya.


Walaupun dengan tindakannya itu Evan membuat dirinya sendiri dalam kesulitan karena itu membuat bagian tubuhnya di bawah sana kembali menegang dan mengeras, tapi Evan berusaha untuk menahan dirinya sendiri, membiarkan Alaya yang tidak perlu waktu lama, benar-benar tertidur dalam kehangatan pelukan Evan.

__ADS_1


“I love You my princess, my beloved wife.” Tanpa bosan-bosannya Evan menyatakan kata-kata cintanya pada Alaya yang sudah tertidur dengan wajah terlihat tenang, dan bibir terlihat menyunggingkan sebuah senyum bahagia.


Begitu Alaya benar-benar tertidur, Evan segera meraih celana panjang miliknya yang tadi dia geletakkan begitu saja di kasur bagian kaki untuk mengambil handphone miliknya yagna da di saku celananya.


Sambil duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, setelah melirik ke arah Alaya yang sedang tertidur, Evan tersenyum dengan wajah begitu bahagia.


Sekilas Evan melihat bagaimana banyaknya tanda cinta yang dia bubuhkan pada bagian leher dan dada Alaya yang mau tidak mau membuatnya bangga, sekaligus kembali membuat hasratnya terpancing, sehingga Evan dengan cepat berusaha mengalihkan pandangan matanya dari tubuh indah istrinya yang begitu menggoda baginya itu.


Akhirnya Evan memilih membetulkan letak selimut Alaya agar menutupi tubuh telanjang istriya itu dengan sempurna, baru Evan membuka layar handphone dan mulai menuliskan pesan untuk Sam.


Segera jalankan rencana kita untuk menemukan kucing liar untuk menggunting kuku-kukunya, agar dia tidak bisa mencakar orang lain lagi. Temukan bukti-bukti lain yang berkaitan dengan kejadian kecelakaan waktu itu. Aku tidak ingin orang yang sebenarnya bertanggungjawab atas peristiwa itu bisa tertawa bebas di atas darah yang mengalir dari orang yang tidak bersalah.


Evan menuliskan pesan kepada Sam dengan salah satu tangannya, sedang tangannya yang lain sibuk mengelus kepala Alaya, agar istrinya yang terlihat lelah itu benar-benar bisa menikmati tidur nyenyaknya.


Evan sengaja hanya menuliskan pesan pada Sam tanpa menghubunginya langsung dengan panggikan telepon tentang rencana penangkapan Kattie untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap dia dan Alaya, karena Evan tidak ingin Alaya terbangun, terganggu tidurnya oleh suara pembicaraannya dengan Sam.


Rencana akan segera dilaksanakan, kucing liar itu akan segera ditangkap dan menerima hukumannya.


Sam langsung membalas pesan dari Evan.


Untuk sekarang ini apakah sudah waktunya saya menyusul Anda? Dimana posisi duke Evan sekarang?


Pesan berikutnya dari Sam membuat Evan langsung mengernyitkan dahinya sambil melirik ke arah Alaya yang masih tidur dalam posisi miring, dengan bahunya yang naik turun, menunjukkan nafasnya yang teratur, bukti bahwa dia sedang benar-benar tertidur lelap saat ini.

__ADS_1


__ADS_2