
"Bagaimana bisa orang sepertimu bisa mengatakan bahwa aku tidak sopan dan harus menjauh dari suamiku sendiri? Apa kamu merasa iri padaku?" Alaya berkata sambil mengubah posisi duduknya di atas pangkuan Evan menjadi semakin menempel pada tubuh Evan, bahkan dengan sikap berani Alaya melingkarkan kedua lengannya pada leher Evan, membuat mata Kattie semakin terbeliak.
"Aku akan menyingkir kalau Evan yang meminta.... Bagaimana Evan? Kamu ingin aku pergi, atau tetap disini?" Alaya berkata lembut sambil mengelus leher Evan dengan ujung-ujung jarinya yang lentik, bahkan memberikan sebuah ciuman di leher Evan dengan bibirnya yang terasa sedikit basah, membuat tubuh Evan hampir saja tersentak keras tidak terkendali.
Evan? Sepertinya putri Alaya benar-benar tidak punya sopan santun sampai berani menyebutkan nama duke Evan secara langsung.
Kattie berteriak dalam hati sambil menatap tajam ke arah Alaya dan menepiskan tangan dokte Jordan yang tadi sempat menahannya mendekat ke arah Alaya yang sedang duduk di atas pangkuan Evan dengan sikap mesranya.
"Kenapa hanya memandangku tanpa berkata-kata Evan? Apa kamu merindukan ini?" Alaya berbisik pelan dan kemudian mencium bibir Evan tanpa ragu, dengan sebuah ciuman yang dalam dan penuh gairah, menunjukkan bahwa dia begitu mencintai Evan dan Alaya sengaja ingin memamerkan itu di depan Kattie.
Shiii..iitt. My princess... meskipun alur drama yang kamu pikirkan memang bagus untuk memberi duchess Kattie pelajaran yang tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya, tapi tidak seharusnya kamu begitu mendalami peranmu dan menggodaku seperti ini.
Evan mengeluh dalam hati karena Alaya yang tidak sadar bahwa semua tindakannya benar-benar membuat gairahnya terpancing, apalagi sebelumnya sebagai pria, rasa ingin melindungi Alaya yang mendapatkan perlakuan kasar dari Kattie sedari tadi memenuhi hati dan pikiran Evan, sehingga menimbulkan keinginan untuk segera menarik Alaya dalam pelukannya dan melindunginya dari Kattie.
"Ba... bagaimana bisa... Putri Alaya... kamu sudah benar-benar tidak tahu malu dan menjadi orang ketiga...." Kattie bahkan sampai kehilangan kata-katanya melihat itu.
__ADS_1
Namun, Kattie yang melihat bagaimana Evan yang tanpa ragu bahkan mulai membalas ciuman Alaya, terlihat kaget dan tidak percaya.
"Kattie, menyerahlah tentang duke Evan, karena pada dasarnya, cinta tidak bisa dipaksakan. Apalagi dulunya putri Alaya memang kekasih duke Evan, kamulah yang menjadi orang ketiga di sini, bukan putri Alaya." Kata-kata dokter Jordan membuat Kattie menoleh ke arahnya dengan wajah marah.
"Apa maksudmu? Aku sudah memintamu untuk membuat duke Evan hanya mengingatku sebagai kekasihnya. Apa sekarang kamu mau bilang kalau hipnoterapimu tadi sudah gagal?" Kattie yang dalam kondisi panik, tidak lagi mengingat bahwa dia sudah mengucapkan sesuatu yang harusnya dia sembunyikan di depan Evan dan Alaya, mengakui kesalahannya sendiri secara tidak langsung.
"Aku tidak melakukan hipnoterapi kepada duke Evan tadi, semuanya hanya sandiwara, karena sebenarnya sudah lama duke Evan telah mengingat siapa putri Alaya baginya." Kata-kata dokter Jordan, membuat wajah Kattie memucat seketika itu juga, dan otot-otot di tubuhnya terasa lemas sehingga dia tubuhnya terjatuh ke lantai, duduk bersimpuh dengan mata menatap nanar ke arah Evan yang masih duduk dengan Alaya di pangkuannya, bergelayut mesra di sana.
"Aku... aku tidak percaya... harusnya, akulah yang menjadi kekasih duke Evan... Jordan… katakan kalau baru saja itu hanya analisamu yang kemungkinan besar salah…." Kattie bergumam pelan sambil sibuk meraba-raba saku pakaiannya, mencari-cari handphone miliknya.
Kattie berkata dalam hati sambil sibuk menuliskan pesan kepada Hugo, meskipun pada akhirnya, semua pesan-pesan itu tidak ada satupun yang terkirim.
Melihat apa yang dilakukan Kattie, Evan hanya menarik nafas panjang, lalu memandang ke arah Alaya yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan dengan manja.
"Apa kamu sudah puas? Kita pulang sekarang my princess." Ajakan Evan membuat Alaya berniat bangun dari duduknya untuk pergi meninggalkan ruangan itu, akan tetapi, tangan kokoh Evan tiba-tiba menahan pinggang Alaya agar tidak pergi darinya.
__ADS_1
"Eh... kenapa...." Belum selesai Alaya mengucapkan kata-katanya, Alaya merasakan tubuhnya terangkat ke atas, karena Evan yang tiba-tiba bangkit berdiri sambil mengendong tubuh Alaya yang terlihat kaget, tidak menyangka Evan memperlakukannya dengan begitu romantis di depan oran lain.
"Terimakasih untuk semua bantuanmu dokter Jordan, aku akan memegang janjiku untuk membuat hukumanmu mendapatkan keringanan karena sudah membantuku dan istriku." Dengan sikap ragu, dokter Jordan menanggapi perkataan Evan dengan sebuah anggukan kepala.
"Sam!" Dengan suara cukup keras, Evan segera memanggil Sam dan langsung memberi kode untuk dapat membawa Kattie pergi.
"Dokter Jordan! Semua adalah salahmu! Kamu sudah mengkhianatiku!" Tiba-tiba saja Kattie berteriak dan berjalan ke arah dokter Jordan dan berniat mencekiknya, namun Sam yang dengan cepat masuk setelah mendengar panggilan Evan, langsung menahan gerakan Kattie, lalu membiarkan dua orang yang bersamanya menahan kedua tangan Kattie di belakang tubuhnya dan memegang bahunya.
"Sam! Aku akan pulang bersama duchess Alaya, urus dengan baik masalah di sini bersama yang lain!" Evan langsung memberikan perintahnya kepada Sam.
"Baik Duke Evan...."
"Alaya! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Tunggu saja waktunya! Aku akan membuatmu menghilang dari kehidupan duke Evan! Camkan itu baik-baik!" Tiba-tiba Kattie berteriak histeris sambil menggerak-gerakkan tubuhnya sekuat tenaga, berusaha untuk melepaskan diri dari dua orang pengawal yang sedang menahan tubuhnya.
Satu-satunya hal yang ingin dilakukan Kattie saat ini adalah menjambak rambut atau bahkan kalau bisa Kattie begitu ingin mencakar wajah Alaya, meskipun jika dia mau berpikir rasional, itu tidak mungkin dapat dia lakukan.
__ADS_1