Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
HARAPAN


__ADS_3

“Sebaiknya kita keluar sebentar Ma, agar dokter bisa memeriksa keadaan Alaya tanpa terganggu oleh keberadaan kita.” Evan berkata sambil mengajak Danella untuk keluar dari kamarnya.


Begitu mereka berdua keluar dari kamar Evan, Danella langsung memandang ke arah Evan dengan tatapan menunggu jawaban dari Evan atas semua pertanyaannya tadi.


Evan sendiri sedikit menarik nafas panjang sebelum berbicara, melihat kondisi Alaya saat ini, membuat hati Evan benar-benar galau. Jika saja bisa, Evan akan melakukan apapun untuk membuat Alaya bsia segera pulih dan sadar, meskipun dia tahu resiko Alaya akan marah besar padanya karena sudah membawa gadis itu ke rumahnya, bukan kembali ke istana.


“Dia memiliki riwayat alergi dingin, dan tidak bisa berendam dalam air dingin terlalu lama. Tadi dia sempat bermain-main di sungai bersama Alea di Goldie Tavisha, sehingga alerginya kambuh. Saat ini panas tubuhnya sepertinya sudah mencapai 40 derajat Celsius dengan tubuh terus mengeluarkan keringat dingin. Dan panas tubuhnya itu membuat kesadarannya sedikit menurun. Selama perjalanan, kondisinya belum membaik sama sekali. Semoga dokter segera bisa memberikan pengobatan terbaik untuknya.” Jawaban Evan, meskipun belum menjawab semua pertanyaannya, membuat Danella memandang ke arah Evan dengan pandangan tidak percaya sekaligus kasihan begitu Danella membayangkan apa yang sedang terjadi pada Alaya saat ini.


“Kasihan sekali, dia pasti sangat menderita karena alerginya itu.” Danella berkata sambil melirik ke arah pintu kamar Evan yang terbuka, dimana dia tidak bisa lagi melihat sosok tubuh Alaya karena tertutup oleh sosok tim medis yang sedang memeriksanya.


"Aku tadi kebetulan ada pertemuan dengan tuan Alexis dan tuan Red di Goldie Tavisha sehingga tanpa sengaja aku bertemu dengan Alaya yang ternyata juga sedang berkunjung kesana juga ditemani Alea." Evan melanjutkan penjelasannya atas pertanyaan Danella tadi.

__ADS_1


"Ooo, untung saja kalau begitu. Untung kamu bertemu dengan dia dan membawanya kemari. Tapi Evan... apa tidak masalah kalau kamu membawanya ke rumah kita, bukan membawanya pulang ke istana? Atau mungkin membawanya ke rumah sakit? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padanya karena kurang lengkapnya peralatan medis di tempat ini?" Pertanyaan Danella membuat Evan menghela nafasnya.


"Di istana saat ini pasti sedang berlangsung acara afternoon tea seperti biasanya. Banyak orang berkumpul di sana, yang akan membuat heboh kalau sampai aku membawanya ke istana dalam keadaan seperti itu. Orang akan berpikir macam-macam tentang kami berdua." Evan berusaha memberikan penjelasan tentang keputusannya kepada Danella.


"Dan aku juga sengaja tidak membawanya ke rumah sakit, karena pasti akan menjadi berita besar kalau media tahu tentang kondisi Alaya, padahal baru saja pagi tadi rencana pernikahan kami diumumkan dan mungkin sedang dibicarakn oleh banyak orang saat ini. Bisa-bisa orang berpikir hubunganku dengan Alaya sebegitu buruknya. Bahkan mungkin ada yang membuat berita aneh seperti Alaya yang ingin bunuh diri. Orang akan berpikir kalau Alaya dipaksa dan diancam untuk menikah denganku." Perkataan Evan membuat mata Danella sedikit terbeliak, tapi bagaimanapun apa yang dikatakan Evan barusan memang benar.


Meskipun tidak sepenuhnya itu salah, karena aku dan yang mulia Alvero, boleh dikata kami memang memaksakan pernikahan ini. Memaksa Alaya untuk menerima perjodohan ini, meskipun dia menolak dan selalu berusaha mencari cara untuk membatalkan rencana pernikahan kami.


Evan meneruskan perkataannya dalam hati, karena jika Danella mendengarnya, pasti Danella yang hatinya lembut itu akan meminta Evan untuk melepaskan Alaya.


Memikirkan itu membuat Evan harus sedikit menahan nafasnya, karena rasa khawatir terhadap keselamatan Alaya kembali menelusup dalam hatinya.

__ADS_1


My princess... aku tahu kamu adalah gadis yang kuat. Kamu harus bertahan dan kembali sehat seperti sebelumnya. Lebih baik aku melihat matamu menatapku dengan pandangan kesal atau marah, dan kamu terus melakukan tindakan konyolmu untuk mecoba membatalkan pernikahan kita, daripada aku harus melihatmu terbaring dengan tidak berdaya seperti sekarang ini.


Evan berkata dalam hati sambil menatap ke arah tim dokter yang tampak masih sibuk dengan tatapan penuh harapnya.


"Ah... mama tidak berpikir sampai sejauh itu Evan. Apa yang kamu katakan semuanya masuk akal. Dan mama berharap itu adalah keputusan yang paling bijaksana untuk saat ini." Danella berkata sambil menghela nafas panjang.


"Jangan khawatir untuk peralatan medis Ma. Mereka sudah membawa mobil khusus untuk mengangkut semua peralatan medis yang mundkin diperlukan mereka. Mobil ambulance juga sudah siap di depan. Jika sampai kondisi benar-benar kritis dan tidak memungkinkan untuk merawat Alaya di tempat ini. Mereka akan bisa langsung membawa Alaya ke rumah sakit." Evan berkata dengan nada suara penuh harap, agar apa yang dikatakannya barusan tidak perlu terjadi.


“Semoga dia baik-baik saja. Sebulan lagi pernikahan kalian akan dilangsungkan, dan mama sungguh berharap tidak akan halangan sedikitpun dengan rencana pernikahan kalian. Mama berharap kalian berdua terus sehat dan bisa bahagia bersama untuk waktu yang sangat lama.” Danella berkata sambil mengatupkan kedua tangannya seperti orang berdoa, tidak ingin Evan mengalami hal menyedihkan sepertinya, ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh suaminya ketika Evan bahkan belum dewasa waktu itu.


“Aku juga berharap begitu, doakan kami berdua ya Ma.” Evan menanggapi perkataan Danella sambil memeluk bahu wanita yang begitu disayanginya itu, melingkarkan lengan kokohnya di bahu Danella.

__ADS_1


“Pasti mama akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Pernikahanmu adalah hal yang paling mama tunggu-tunggu di usia mama yang tidak lagi muda ini.” Danella berkata sambil menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangan Evan yang sedang melingkar di bahunya.


“Mama masih muda dan sangat cantik lho. Jangan merasa sudah tua. Aku tidak rela Mama berpikir seperti itu.” Evan langsung memprotes pernyataan Danella sambil mencium lembut pipi wanita dalam pelukannya itu dengan penuh kasih sayang, seperti yang biasa dilakukannya kepada Danella.


__ADS_2