Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TIDAK SABAR MENUNGGU


__ADS_3

“Pasti Evan… pasti…” Danella berkata sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari ke balik pintu kamarnya.


Evan yang kamar pribadinya sedang digunakan untuk merawat Alaya, akhirnya memilih untuk melangkah ke salah satu dari belasan kamar tamu yang dimiliki oleh kediaman Carsten, dan segera masuk ke dalamnya, karena dia sendiri ingin beristirahat, untuk memulihkan tenaga dan pikirannya yang cukup terkuras hari ini.


# # # # # # #


Kenapa hari ini rasanya waktu berjalan begitu lambat?


Evan yang sudah lebih dari 30 menit yang lalu membaringkan tubuhnya, hanya bisa berkata dalam hati dengan mata menatap lurus ke arah langit-langit kamar tamu yang sedang ditempatinya sekarang, karena sedari tadi matanya tidak bisa diajak kompromi untuk bisa segera tidur malam ini.


Sekilas Evan melirik jam dinding di kamar tamu setelah sayup-sayup dia mendengar suara bel darinham di ruangan lain yang baru saja berdentang sebanyak 11 kali.


“Masih pukul 11 malam ternyata. Kira-kira, jika aku memberikan jawabanku kepada yang mulia Alvero malam ini, apa itu akan mengganggunya ya?” Evan bergumam pelan sambil menatap ke arah layar handponenya yang dipegangnnya dengan kedua tangannya dengan tangan yang lurus di atas tubuhnya yang terbaring.


Sejak berpisah dari Danella tadi, rasanya Evan ingin segera tidur, bahkan memilih untuk melewatkan makan malamnya, karena ingin segera beritirahat, dan besok dia bisa tambil dengan kondisi prima dan tubuh segar.


Selain itu, besok pagi dia ingin segera memberikan info kepada Alvero tentang keputusan bulat yang sudah diputuskannya, dan akan segera dia laksanakan esok pagi juga.


Akhirnya meskipun ragu, tapi karena hati yang rasanya tidak sabar, dengan hati berdebar memikirkan bahwa besok dia akan menikah dengan Alaya, Evan menuliskan pesan untuk Deanda.

__ADS_1


Selamat malam Deanda, apa kamu sudah tidur? Maaf jika mengganggumu, karena jujur saja aku merasa lebih nyaman mengatakan hal ini kepadamu. Besok, aku bersedia menikah dengan Alaya. Tolong sampaikan kepada yang mulia Alvero tentang hal ini.


Aku sengaja mengatakan tentang jawabanku malam ini, karena aku ingin meskipun besok pernikahan kami diadakan dalam posisi Alaya belum sadarkan diri, tapi aku tetap berharap, pernikahan kami besok tetap dihadiri oleh orang-orang yang penting bagi Alaya, dan orang-orang yang disayanginya.


Jika saja diperbolehkan, aku berharap ibu suri Larena dan yang mulia Vincent bisa ikut hadir dalam pernikahan kami besok dan memberikan restu mereka pada kami berdua.


Pesan panjang dari Evan membuat Deanda mengernyitkan dahinya sambil menghela nafas panjang, lalu tersenyum, karena dia cukup kaget juga dengan keputusan Evan, yang dia tahu adalah orang yang sangat berhat-hati dalam memutuskan segala sesuatu, orang yang selalu bersikap tenang dan tidak terburu-buru.


Tapi malam ini, dari pesan yang dituliskan oleh Evan, Deanda bisa melihat kalau untuk wanita yang dicintainya, bahkan seorang Evan bisa berubah drastis menjadi orang yang tidak sabaran.


“Aku akan segera sampaikan pesanmu kepada yang mulia Alvero.” Perkataan yang diucapkan Alvero, yang merupakan pesan balasan Deanda kepada Evan, membuat Deanda tersentak kaget.


“Cih… kenapa duke Evan lebih memilih mengirimkan pesan padamu daripada kepadaku langsung? Apa dia sedang berusaha menguji kesabaranku?” Alvero berkata dengan bibir memberengut, dan langsung mengambil posisi duduk di atas tempat tidurnya, tepat di samping Deanda yang sedang setengah berbaring, memyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


“Jangan marah seperti itu, duke Evan mungkin merasa sungkan mengganggumu malam-malam begini. Apalagi itu adalah sebuah keputusan sangat penting dalam hidupnya, yang baru saja dia putuskan.” Deanda berkata dengan lembut kepada Alvero, dengan salah satu tangannya mengelus pelan paha suaminya, sedang tangannya yang lain sibuk membenarkan letak selimut yang saat ini menutupi tubuh polosnya setelah kegiatan panasnya bersama Alvero barusan.


Deanda sengaja melakukan itu untuk bisa meredakan aura cemburu yang diperlihatkan oleh Alvero saat ini.


Alvero yang masih mengenakan celana boxernya dan belum mengenakan kembali nightrobenya, langsung tersenyum mendengar perkataan Deanda yang diiringi dengan sentuhan lembut di pahanya itu.

__ADS_1


Seorang Alvero, adalah pria paling berkuasa di Gracetian, yang tidak akan berdaya, jika itu sudah menyangkut istri tercintanya. Apapun keinginan Deanda, akan menjadi prioritas utama bagi seorang Alvero yang bucinnya sudah level paling tinggi terhadap Deanda.


“Untung saja pesan yang dikirimkan duke Evan, sesuai dengan jawaban yang aku harapkan. Untuk kali ini saja, aku akan memaafkan duke Evan karena sudah beraninya mengirimkan pesan melalui istriku, mengganggu waktu istirahat istriku. Tapi lain kali, aku benar-benar akan menegurnya dengan keras.” Deanda langsung tersenyum begitu mendengar ancaman Alvero kepada Evan.


“Dan untuk merayakan pernikahan mereka besok, berikan sekali lagi jatah untukku malam ini.” Perkataan Alvero yang diucapkannya dengan gerakan tubuhnya yang langsung mendekat ke arah tubuh Deanda yang masih polos di balik selimutnya, membuat mata Deanda melotot.


“My Al… mereka yang akan menikah, kenapa kita yang merayakannya?” Suara protes dari Deanda tidak diperdulikan oleh Alvero yang bibirnya langsung menyerbu leher jenjang Deanda dan mulai memberikan kecupan-kecupan mesra dan penuh gairah, diiringi dengan tangan Alvero yang mulai aktif bergerak setelah menelusup masuk di balik selimut yang dikenakan Deanda.


“I love you sweety….” Alvero berkata lembut dengan nafasnya yang sudah mulai terdengar memburu di ceruk leher Deanda.


Jika sudah seperti itu Deanda hanya bisa pasrah, dan membalas semua perlakukan mesra Alvero padanya.


“I love you too my Al…. my beloved king.” Deanda membalas bisikan Alvero dengan suara lembutnya, yang selalu membuat Alvero serasa melambung ke awan-awan.


# # # # # # #


Evan yang berdiri tepat di samping tubuh Alaya yang terbaring, terlihat menatap Alaya dengan tatapan penuh lembut dan penuh cintanya.


Meskipun gadis cantik itu masih dalam posisi seperti orang tertidur, dengan pakaian yang dikenakannya, dan make up tipis yang dipoleskan ke wajahnya untuk sedikit menutupi wajah pucatnya, bagi Evan, gadis yang dalam hitungan menit ke depan akan sah menjadi istrinya itu tampak begitu cantik dan membuat dada Evan berdetak begitu kencang hanya dengan membayangkan kalau mereka berdua akan segera sah sebagai suami istri siang ini.

__ADS_1


__ADS_2