
Tanpa bertanya lagi kepada Sam, Evan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah pohon milik Deanda, ingin segera tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Alaya.
Mengingat bagaimana keras kepalanya Alaya, Evan yakin kalau tidak ada sesuatu yang terjadi, Alaya pasti sudah benar-benar pulang ke istana.
Begitu berada di dekat rumah pohon, kebetulan Alea sedang berjalan ke arah sana juga.
"Alea, kenapa kamu dan putri Alaya tidak jadi kembali ke istana? Apa terjadi sesuatu?" Evan yang bertemu dengan Alea di jalan menuju rumah pohon langsung menyambut Alea dengan pertanyaan.
"Ah, ya Duke Evan. Tadi setelah putri Alaya berganti pakaian milik permaisuri Deanda, dia mengeluh kedinginan dan minta dibuatkan makanan hangat. Setelah saya membuatkan sup, putri Alaya langsung menghabiskannya, dan putri mengatakan kalau dia ingin beristirahat sebentar baru kembali ke istana." Alaya berkata sambil melirik ke arah rumah pohon yang terlihat masih sunyi.
"Putri tadi minta agar saya meninggalkannya karena dia ingin tidur sebentar, dan berkata akan turun mencari saya kalau dia sudah bangun, sehingga kami bisa kembali ke istana. Tapi karena sudah lebih dari satu jam sejak saya pergi meninggalkannya putri belum juga bangun, saya jadi khawatir. Ini saya berencana untuk melihat kondisi putri Alaya, apa putri baik-baik saja." Alea berkata sambil mengalihkan pandangannya kembali ke arah Evan yang ternyata juga sedang memandang ke arah rumah pohon milik Deanda itu.
Selama berkunjung ke Goldie Tavisha, Evan hanya pernah mengamati rumah pohon milik Deanda itu dari kejauhan, karena Deanda juga tidak pernah bertemu dengan Evan di Goldie Tavisaha sebelum menikah dengan Alvero, sehingga tidak ada kesempatan bagi Deanda untuk memamerkan rumah pohonnya kepada Evan.
Deanda sendiri boleh dibilang begitu menjaga dirinya dekat dengan pria lain karena sifat pencemburu akut dari Alvero, sehingga ketika mereka mengadakan pertemuan di Goldie Tavisha yang dihadiri oleh Red, Alvero, Evan, Marcello dan Deanda sendiri waktu itu, Deanda juga tidak mengajak Evan untuk mengunjungi rumah pohonnya, yang dipenuhi dengan semua benda dan atribut yang merujuk pada sosok Alvero yang begitu diidolakan oleh Deanda sejak dia masih kanak-kanak.
"Apa yang kamu bawa itu?" Evan kembali bertanya kepada Alea yang tampak memegang sesuatu di atas nampan kecil di tangannya.
"Teh hangat. Saya berencana menawarkan teh hangat kepada putri Alaya, mungkin putri masih merasa kedinginan." Alea segera menjawab pertanyaan Evan yang langsung tersenyum mendengar jawaban dari Alea yang terlihat begitu perduli pada Alaya, padahal jika dipikir-pikir mereka baru saja saling mengenal.
Kalau Alea sangat dekat dengan Deanda, Evan tidak heran, karena Alea adalah sahabat Deanda sejak kecil dan terbiasa main bersama. Apalagi beberapa waktu ini Alea tinggal di istana untuk membantu Deanda bahkan sebelum Ernest terluka.
__ADS_1
Tapi melihat bagaimana Alea begitu memperhatikan Alaya sebagai calon istrinya juga, membuat Evan mau tidak mau jadi merasa berterimakasih pada Alea untuk itu.
"Biarkan aku yang membawanya untuk putri Alaya. Mungkin kamu bisa menyiapkan diri untuk kembali ke istana bersama putri Alaya. Aku akan melihat bagaimana keadaannya terlebih dahulu." Evan berkata sambil meminta nampan yang dipegang oleh Alea, agar Alea menyerahkannya padanya.
"Eh, apa tidak apa-apa Duke Evan? Saya bisa membantu Duke Evan membawanya ke rumah pohon sambil Duke Evan melihat keadaan putri Alaya. Kalau saya dan Duke Evan bersamaan datang ke rumah pohon, takutnya justru mengganggu istirahat putri Alaya, kalau memang putri masih beristirahat di sana." Dengan sikap ragu, Alea langsung berkata kepada Evan yang langsung tersenyum.
Bisa-bisa aku mendapatkan amukan dari putri Alaya kalau aku membiarkan duke Evan menyusul putri Alaya ke rumah pohon sendirian, sedangkan putri Alaya paling menghindari pertemuan dengan duke Evan, terutama jika itu hanya berdua saja. Pasti mood putri Alaya langsung memburuk jika sampai itu terjadi, dan aku pasti menjadi ssaran pertama kemarahannya itu.
Alaya berkata dalam hati dengan wajah mulai terlihat tidak tenang.
Melihat bagaimana sikap Alaya selama ini pada Evan, Alea tahu akan jadi masalah besar jika dia tidak berusaha mencegah Evan menemui Alaya secara pribadi.
Benar-benar celaka! Apa yang harus aku katakan selanjutnya? Cepat berpikir Alea! Atau kamu benar-benar akan dimarahi habis-habisan oleh putri Alaya.
"Tapi Duke Evan, saya merasa bertanggungjawab terhadap keadaan putri Alaya, karena saya yang diajak putri Alaya untuk datang ke tempat ini. Biarkan saya yang memastikan kondisi putri Alaya baik-baik saja. Saya akan segera memberikan info pada Duke Evan." Alea berusaha memberikan alasan kepada Evan.
"Kamu tunggu saja sambil menyiapkan mobil untuk membawa putri Alaya pulang ke istana. Hari sudah sore, sebaiknya putri Alaya segera kembali ke istana sebelum gelap, agar dia bisa menghadiri acara afternoon tea di istana. Kehadirannya pasti ditunggu oleh yang lain. Aku yakin yang mulia Alvero maupun permaisuri Deanda tidak tahu tentang keberadaan putri Alaya yang tiba-tiba datang ke Goldie Tavisha." Perkataan Evan membuat Alea tidak bisa menjawab lagi, apalagi dari sikap Evan, itu adalah sebuah perintah untuknya, bukan penawaran untuk Alea bisa memilih.
Duke Evan ini, meskipun dia selalu terlihat tenang dan ramah, tetap saja aura wibawa dan kepemimpinannya tampak begitu jelas dan membuat orang lain tidak berkutik di depannya. Apa mau dikata, mungkin aku harus menyiapkan diri menerima omelan panjang dari putri Alaya beberapa hari ke depan karena kejadian ini. Aduh, kenapa juga aku tadi menerima ajakan putri Alaya untuk eprgi ke Goldie Tavisaha. Tapi mau bagaimana lagi… aku juga merindukan Rock.
Alea hanya bisa berkata dalam hati sambil bersiap menerima nasib.
__ADS_1
“Kamu bisa menyiapkan mobil untuk membawa putri Alaya kembali ke istana sekarang.” Lamunan Alea langsung buyar begitu mendengar perintah Evan yang memintanya menyiapkan mobil Alaya, dan karena melamun, bahkan Alea tidak sadar kalau nampan yang dipegangnya sudah beralih ke tangan Evan.
Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Alea, Evan sudah melangkah pergi ke arah rumah pohon milik Deanda.
Hah… sudahlah, mungkin itu bayar harga yang harus aku lalui untuk bisa bertemu dengan Rock.
Meskipun Alea sadar mungkin Alaya akan memarahinya habis-habisan, tapi bisa bertemu dengan Rock, bagi Alea merupakan sebuah keberuntungan dan hal yang membuatnya begitu bahagia, dan melangkah ke arah tempat mobil Alaya diparkir dengan senyum-senyum di wajahnya karena merasa tidak rugi dia datang ke Goldie Tavisha dan bertemu dengan Rock cukup lama hari ini, setelah memendam rindu cukup lama.
# # # # # # # #
Evan sedikit menahan nafasnya sambil mendongakkan kepalanya, memandangi rumah pohon yang ada di atasnya.
Apa yang terjadi denganmu my princess? Apa kamu baik-baik saja disana? Kamu benar-benar membuatku khawatir.
Evan berkata dalam hati sambil melangkah dengan perlahan, mulai menginjakkan kakinya ke anak tangga rumah pohon yang terbuat dari kayu itu, bersiap untuk melihat keadaan gadisnya.
Meskipun untuk saat ini, status mereka belum benar-benar terikat, Evan merasa begitu khawatir dengan Alaya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia begitu mengkhawatirkan seorang gadis dan membuat pikirannya sulit untuk fokus.
Padahal selama ini, apapun yang terjadi, Evan selalu saja bisa menguasai keadaan dan pikirannya dengan baik.
Akan tetapi jika itu tentang Alaya, semua menjadi terlalu berlebihan bagi Evan. Terlalu bahagia, terlalu khawatir, terlalu takut kehilangan, terlalu banyak berpikir, terlalu perduli, dan… terlalu cinta.
__ADS_1