
Bagi Enzo, Alvero yang begitu pencemburu, sampai saat ini selalu saja menghindari hal yang bisa membuat Deanda dekat dengan laki[laki lain, apalagi Evan yang jelas-jelas dulunya pernah meminta ijin untuk memiliki hubungan serius dengan Deanda kepada Alvero saat raja tampan itu masih menjabat sebagai seorang putra mahkota Gracetian.
Sayangnya, rasa penasaran Enzo tidak terjawab karena selama acara makan malam, Alvero dan Evan, hanya membicarakan tentang politik, entah itu politik dalam negeri atau luar negeri.
Hah, ternyata duke Evan benar-benar mengusai strategi dalam hal politik dan keamanan, pantas saja dia menjadi satu dari antara dua orang yang pernah menjadi jenderal besar di Gracetian.
Alaya bergumam dalam hati, dan langsung mengalihkan lirikan matanya dari Evan, taku kalau laki[laki yang memiliki insting kuat itu tahu sedang diamati dan menoleh ke arahnya dengan tiba-tiba.
Acara makan malam itu berlangsung dengan hangat, apalagi Larena dan Danella yang sibuk, saling menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka masing-masing, setelah terpisah tempat selama lebih dari 20 tahun.
Baik Danella maupun Larena, sesekali tampak tersenyum dan tertawa kecil saat mereka sadar bahwa apa yang sedang mereka ceritakan adalah sesuatu yang menggelikan.
Semua berjalan dengan normal, sampai Alvero memberikan tanda kepada mereka untuk mereka berhenti berbicara.
“Sebentar lagi, aku akan meminta duke Evan untuk mengikutiku ke ruang kerjaku, karena ada hal penting yang harus kami bahas. Untuk acara makan malam, seilhakan kalian tetap lanjut tanpa aku, karena masih ada permaisuri Deanda, yang mulia Vincent, ibu suri Larena, dan juga duchess Danella. Hidangan pencuci mulut juga belum dikeluarkan, jadi silahkan untuk yang ingin tetap tinggal di ruang makan ini sambil menunggu hidangan penutup.” Penjelasan dari Alvero langsung membuat semua yang hadir saling memandang dengan wajah terlihat begitu penasaran, tapi tetap saja tidak ada yang berani mengatakannya rasa penasaran mereka pada Alvero.
“Baiklah, mari ikut denganku duke Evan.” Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya, dan tindakan Alvero langsung ditirukan oleh Evan.
__ADS_1
Sekilas Evan menundukkan kepalanya, memandang ke arah wajah Danella yang tampak mendongakkan kepalanya, agar bisa memandang sosok Evan dengan sikap bertanya-tanya, tapi pandangan mata lembut Evan padanya, yang seolah-olah mengatakan semua akan baik-baik saja, membuat Danella tersenyum dan membiarkan Evan melangkah pergi bersama Alvero, meninggalkan ruang makan istana malam ini.
Melihat sikap tenang Evan yang mengikuti langkah-langkah Alvero keluar dari ruang makan, tanpa sadar membuat Alaya menggigit bibir bawahnya dengan sikap khawatir, karena Evan tidak menoleh ke arahnya sedikitpun, sehingga Alaya tidak bisa berkomunikasi dengan Evan sedikitpun, apalagi mendapatkan kesempatan untuk mengingatkan Evan tentang permintaannya kemarin siang.
Alaya tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk melakukan hal itu.
# # # # # # #
“Duke Evan, aku sengaja mengajakmu bicara secara pribadi berdua, karena ada hal yang sangat penting yang perlu aku bahas denganmu.” Alvero langsung mengucapkan kata-kata pembukanya begitu Evan dan dia sudah berada di dalam ruang kerja pribadi Alvero, dan mereka saat ini sedang duduk saling berhadapan satu sama lain.
“Silahkan Yang Mulia. Silahkan menyampaikan apa yang ada di pikiran Yang Mulia Alvero.” Dengan sikap tenang Evan berkata.
“Bagaimana kondisi keamanan Gracetian pasca berakhirnya pemberontakan Eliana berhasil kita kalahkan?” Pertanyaan Alvero yang mencoba secara perlahan baru menuju sasaran sebenarnya membuat Evan tersenyum tipis.
“Semuanya masih dalam kendali kita Yang Mulia. Hanya saja, kita harus tetap waspada. Yang Mulia tahu kalau baroness Eliana terlalu lama menguasa orang-orang di bawahnya,.. Sehingga meskipun dia sudah kita amankan, tapi kaki tangannya masih banyak diluar sana, dan kita harus mengawasi pergerakan mereka agar tidak menjadi bumerang bagi kita kelak.” Perkataan Evan membuat Alvero langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum puas, karena sampai detik ini, Evan masih menunjukkan loyalitas dan kinerjanya yang bagus.
(Bumerang adalah senjata lempar khas suku Aborigin dari Australia yang digunakan untuk berburu pada masa lampau. Gerakan bumerang adalah kombinasi translasi dan rotasi mirip baling-baling helikopter. Sejak kecil, anak-anak dari suku Aborigin sudah dilatih menggunakan bumerang. Mulai dilatih dari bumerang yang terbuat dari kayu kemudian bumerang dengan logam yang ujungnya tumpul dan dilatih menggunakan logam yang ujungnya tajam.
__ADS_1
Desain bumerang yang sejak dulu diciptakan mampu membelokkan aliran udara ke atas dan menciptakan efek gaya angkat ke atas (Hukum Bernaulli). Sebabnya adalah, udara di atas bumerang ternyata lebih cepat dari aliran udara yang ada di bawah. Teori ini lah yang rupanya mampu membuat bumerang mengudara lebih lama.
Cara melempar bumerang juga membantunya bergerak dalam lingkaran besar. Bumerang harus dipegang secara vertikal sisi lengkungnya menghadap ke pelempar. Bumerang juga mampu berputar sekitar 10 kali perdetik dan bergerak maju dengan kecepatan sekitar 95 km/jam.
Belokan otomatis ke kiri ini berasal dari bagaimana angin melewati lengan-lengan yang berputar. Bumerang pun terbang ke depan, tetapi tertarik ke belakang sedikit, setiap kali salah satu lengan memutar ke bawah dan kembali.
Kombinasi ini menimbulkan tekanan di bagian atas bumerang dan berangsur-angsur membelok ke kiri. Ketika membentuk lingkaran besar, bumerang juga akan 'berbaring' seperti baling-baling helikopter yang berputar-putar, lalu melayang turun dari udara dan mendarat dengan tepat ke tangan pelemparnya kembali).
“Duke Evan, menurutmu bagaimana dengan negara tetangga yang ada di sekitar kita? Bagaimana penilaian Duke Evan terhadap mereka?” Kata-kata Alvero yang mulai memancing Evan, kembali membuat Evan tersenyum.
“Maksud Yang Mulia? Kerajaan Rodfeel dan kerajaan Crownhil? Mereka dua negara yang selalu bersaing, karena hasil bumi dan bisnis mereka sangatlah mirip, sehingga mereka berusaha untuk selalu saling mengalahkan. Mungkin… saat ini mereka sedang memikirkan cara untuk bekerja sama dengan Gracetian, karena siapapun dari mereka yang bisa menjalin kerjasama militer maupun politik dengan negara kita, mereka yang pasti akan tampil sebagai pemenang….” Evan menjawab pertanyaan Alvero dengan bijaksana.
“Dan itu yang sedang dilakukan oleh kerajaan Rodfeel sekarang. Mereka ingin menjalin hubungan dengan kita. Dan hubungan paling mudah dan memiliki kekuatan yang cukup, salah satunya adalah dengan pernikahan. Pangeran Christopher Hill mengirimkan utusan untuk melamar putri Alaya.” Mata hijau Evan langsung menatap ke arah Alvero dengan pandangan serius.
Entah kenapa, meskipun sebenarnya Evan sudah tahu tentang apa yang dikatakan Alvero dari Alaya kemarin, tapi mendengar nama Christopher disebutkan Alvero sudah mengiirim utusan untuk melamar Alaya membuat hati Evan terasa tidak nyaman.
“Duke Evan tahu kalau sebagai raja Gracetian, aku tidak mungkin mengijinkan hal itu terjadi. Karena itu… Aku butuh bantuan Duke Evan untuk menolak lamaran dari kerajaan Rodfeel dengan cara halus, yaitu menjodohkan Alaya dengan pangeran atau duke yang posisinya di atas Alaya.” Akhirnya Alvero mengatakan keinginannya pada Evan yang masih menatap ke arah Alvero tanpa berkedip.
__ADS_1
“Saya bersedia dijodohkan dengan putri Alaya. Tapi untuk itu, ada syarat yang saya minta dari Yang Mulia Alvero.” Dengan berusaha untuk tetap bersikap tenang, Evan berkata kepada Alvero tanpa basa basi, membuat Alvero sedikit kaget.