
Sebentar… hanya sebentar… tiba-tiba ada sekelabat ingatan, dimana Evan merasa pernah menjanjikan sesuatu yang penting pada seseorang di masa lalu, dan bukan hanya janji itu yang penting, tapi orang yang menerima janji itu, adalah seorang yang sangat penting bagi Evan, meski Evan belum bisa mengingat siapa orang itu dengan jelas.
Aku harus segera meminta Sam untuk menyelidiki siapa pria yang pernah dekat dengan Alaya sebelum dia datang ke Gracetian. Sam juga harus menyelidiki apa di masa lalu Alaya pernah memiliki seorang kekasih, dan apakah mereka masih menjalin hubungan hingga saat ini.
Evan langsung memikirkan dalam hatinya, apa yang harus dilakukannya setelah ini, karena hatinya merasa begitu penasaran dengan apa yang baru saja dia dengar saat Alaya sedang mengigau barusan.
Ada rasa tidak rela begitu Evan membayangkan kalau saat ini Alaya sedang merindukan laki-laki lain walaupun mungkin laki-laki itu memang kekasih Alaya, dan sebagai calon suami Alaya, Evan merasa begitu ingin bertemu dengan laki-laki itu.
Meskipun Evan tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika dia benar-benar bertemu dengan kekasih Alaya, tapi dalam hatinya yang paling dalam, entah kenapa, Evan yakin kalau Alaya belum memiliki kekasih, dan menganggap bahwa igauan Alaya mungkin hanya sekedar kata-kata omong kosong bagi seseorang yang kesadarannya dalam kondisi tidak sepenuhnya, sehingga membuat kata-katanya menjadi kacau.
Dan Evan sedikit menarik nafas lega begitu melihat ke arah Alaya kembali, dan Evan bisa melihat bagaimana Alaya yang dalam gendongannya, tampak sudah lebih tenang dari sebelumnya, dan hanya sekali itu saja Alaya sempat mengigau, selanjutnya, putri cantik itu tampak tertidur dalam dekapan erat Evan, yang dari cara dia mengendong dan mendekap tubuh Alaya menunjukkan kalau Evan begitu mencintai gadis itu, dan melakukan itu untuk bisa selalu melindunginya.
Walaupun saat ini suhu tubuh Alaya masih terasa tinggi dengan kesadarannya yang masih menurun, tapi dengan melihat Alaya lebih tenang dari sebelumnya, Evan merasa ikut senang dan tenang.
__ADS_1
# # # # # # #
"Akh, semoga putri Alaya baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba aku jadi sangat khawatir ya? Apa mungkin karena duke Evan bersikeras menemui putri Alaya sendirian saja? Semoga putri Alaya tidak benar-benar meledak kemarahannya ketika melihat duke Evan datang ke tempatnya beristirahat." Alea berjalan mondar mandir di sekitar pohon yang di atasnya terdapat rumah pohon milik Deanda sambil bibirnya yang terlihat komat-kamit sedari tadi, merenungi nasibnya setelah Evan pergi ke rumah pohon.
“Kalau dipikir-pikir, duke Evan kan memang calon suami putri Alaya, wajar saja dia mengkhawatirkan putri Alaya, dan ingin langsung menjenguknya untuk memastikan keadaannya, seperti waktu itu di istana ketika duke Evan mendengar putri Alaya sedang sakit meskipun hanya sekedar pura-pura. Semoga Alaya tidak keberatan dengan hal itu.” Alea mengeluarkan sebuah gumaman pelan sambil tetap berjaln kesana kemari seperti setrikaan.
"Alea, kenapa masih di sini? Kenapa kalian belum kembali ke istana? Dimana Alaya? Bukannya dia harus bersiap mengikuti acara afternoon tea di istana?" Alexis yang sedang berjalan bersama Red setelah sebelumnya sempat mengobrol sebentar berdua sepeninggalnya Evan, langsung bertanya kepada Alea yang tampak seperti orang bingung.
Karena sejak lahir, Alexislah yang merawat Alaya seperti anaknya sendiri, sehingga dia tahu tentang kondisi dan kelemahan Alaya, dan resiko besar yang bisa terjadi pada putri cantik itu kalau dia melakukan hal yang seharusnya menjadi pantangannya karena kondisi fisiknya yang tidak akan kuat.
Alexis baru saja berencana untuk naik ke rumah pohon, tapi laki-laki itu langsung menghentikan gerakannya begitu dilihatnya sosok Evan yang baru saja keluar dari rumah pohon dengan membopong tubuh Alaya yang terlihat lemas.
Akhirnya, Alexis tetap diam berdiri di samping tangga rumah pohon, menunggu Evan yang sedang menuruni tangga.
__ADS_1
“Duke Evan, apa Alaya baik-baik saja?” Begitu Evan sudah menapakkan kaki di tanah, Alexis langsung bertanya kepada Evan sambil tangannya langsung menyentuh kening Alaya yang terasa panas.
Melihat keadaan Alaya seperti yang ditakutnya, Alexis langsung menahan nafasnya dengan matanya memandang ke wajah Alaya yang tampak memerah karena panas tubuhnya yang tinggi.
“Duke Evan, serahkan Alaya pada saya. Saya akan segera membawanya ke istana dan memanggil dokter untuk segera mengobatinya.” Alexis berkata sambil berniat mengulurkan tangannya.
Akan tetapi, belum lagi tangan Alexis benar-benar terulur, Evan dengan gerakan cepat justru menjauhkan Alaya dari Alexis.
“Biar aku yang mengurus Alaya. Sebagai calon suaminya, aku harus bertanggungjawab penuh atas apapun yang terjadi pada Alaya mulai sekarang.” Evan berkata dengan sikap protektif terhadap Alaya yang masih berada dalam gendongannya.
Mendengar perkataan Evan, sebenarnya Alexis ingin mengatakan kalau dia jauh lebih tahu dan bisa menangani kondisi keseharan Alaya saat ini, akan tetapi wajah serius Evan dan mata hijaunya yang terlihat mendominasi meskipun wajahnya terlihat tenang, membuat Alexis membatalkan niatnya untuk berdebat dengan Evan.
Apalagi saat mengatakan dia sebagai calon suami Alaya, Alexis bisa melihat bagaimana seriusnya Evan dan sengaja melakukan penekanan saat mengucapkan hal itu.
__ADS_1