Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
PERTEMUAN DENGAN ALEA


__ADS_3

Kolam ikan kecil dengan taman yang sedikit minim itu, merupakan tempat yang cukup terpencil, dan membuat banyak dari para penghuni istana juga merasa malas ke sana, karena di bagian lain dari istana Gracetian itu, masih terlalu banyak tempat lain yang lebih menarik untuk dikunjungi dan dinikmati keindahannya.


“Eh, tenang dulu putri Alaya. Apa yang sudah terjadi? Apa ada sesuatu yang buruk yang sudah terjadi? Apa Putri Alaya baik-baik saja?” Melihat tindakan Alaya, Alea yang pada dasarnya gadis yang mudah sekali terpancing emosinya, jadi ikut panik.


Alea yang memang diminta untuk sedikit melupakan fromalitas saat bersama Alaya, berbicara dengan bahasa non formal pada Alaya.


“Tidak! Aku tidak baik-baik saja! Kondisiku benar-benar buruk!” Alaya berkata dengan nada frustasi, membuat Alea semakin panik.


“Kalau begitu tunggu disini dulu. Aku akan panggilkan Deanda…. Ah… tapi Deanda saat ini sedang berada di luar istana dengan yang mulia Alvero. Kalau begitu… bagaimana kalau aku memanggil pangeran Enzo? Atau yang mulia Vincent? Atau ibu suri Larena? Nyonya Rose mungkin? Tunggu… aku akan pergi dulu dan akan segera kembali….”


“Alea! Apa kamu sedang melakukan tugas untuk sensus penduduk? Kenapa menyebutkan semua nama-nama orang yang ada di istana ini?” Alaya langsung memotong perkataan Alea dengan bibir memberengut, tapi sedetik kemudian Alaya langsung tersenyum.


Melihat sikap Alea yang selalu tampil apa adanya dan seringkali bertindak langsung tanpa berpikir panjang seperti dirinya, ditambah kecerewetan Alea,  membuat Alaya justru merasa cukup terhibur di tengah pikirannya yang sedang kacau.


“Ayo duduk di sini dahulu.” Akhirnya Alaya menarik tangan Alea dan mengajaknya duduk di pinggiran kolam, untuk membicarakan apa yang dia mau.

__ADS_1


“Alea, justru pertemuan dan pembicaraan kita hari ini harus kamu rahasiakan dari semua orang. Kalau sampai ada yang tahu apa yang akan aku bicarakan denganmu, aku bisa benar-benar dihabisi oleh kak Alvero.” Alaya berkata sambil sedikit bergidik, mengingat sosok Alvero yang keras dan tegas, tidak salah jika Alaya berkata seperti itu.


Membayangkan kemarahan Alvero, yang bisa berakhir dengan mengurungnya atau bahkan menyerahkannya langsung kepada Evan, benar-benar membuat Alaya merasa ngeri.


“Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Putri? Kenapa Putri terlihat risau begitu? Sampai-sampai harus menemuiku dengan diam-diam seperti ini?” Alea yang sudah duduk berdempetan dengan Alaya di pinggiran kolam langsung bertanya kepada Alaya yang sedang menarik nafas dalam-dalam.


“Aku sedang dalam masalah besar, karena itu kamu harus membantuku.”


“Apa yang kira-kira bisa aku bantu Putri?”


“Carikan ide agar aku bisa membuat duke Evan membenciku dan membatalkan pernikahan, bahkan pertunangan kami.” Alea yang sudah menduga bahwa orang yang dimaksud Alaya pada pembicaraan mereka kemarin adalah Evan, tetap saja melongo begitu mendengar perkataan Alaya.


“Masalahnya kak Alvero sudah menyetujui permintaan duke Evan untuk menggunakan hukum istana Gracetian saat menerima perjodohan ini.”


“Wah….” Alea langsung berkata dengan bibir menganga mendengar perkataan dari Alaya, karena beberapa waktu lalu Deanda sempat bercerita padanya bagaimana dulu Alvero sudah menjebaknya dengan surat perjanjian yang menyatakan pernikahan mereka akan berdasarkan hukum istana Gracetian, sedangkan waktu itu Deanda tidak mengerti dengan isi hukum itu.

__ADS_1


Ketika itu Deanda menceritakan apa isi dari hukum istana Gracetian kepada Alea sambil tertawa-tawa karena pada akhirnya untuk kasus yang mereka alami, surat perjanjian itu hanya menjadi selembar kertas tidak berguna dan dihancurkan oleh mereka berdua ke dalam mesin penghancur kertas dengan tangan mereka sendiri sambil bergandengan tangan dengan tangan mereka yang lain.


“Hukum istana Gracetian? Benar-benar berbahaya. Habislah kalau itu digunakan untuk pihak wanita yang tidak menginginkan pernikahan itu. Hal yang menguntungkan untuk pihak laki-laki.” Komentar polos dan terus terang dari Alea itu membuat Alaya langsung mencubit lengan Alea.


“Jangan membuatku semakin tidak nyaman dengan perkataanmu itu.” Alaya berkata sambil memandang ke arah Alea yang sibuk mengelus-elus lengannya yang terasa sakit akibat cubitan dari Alaya.


“Terus… aku harus bagaimana dong?” Alea bertanya dengan wajah tidak bersalahnya.


“Bantu aku memikirkan cara agar duke Evan membenciku, dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri rencana pernikahan kami.” Alaya berkata sambil menyelonjorkan kedua kakinya, sambil menghela nafasnya.


“Apa kamu yakin rencanamu itu pasti berhasil? Melihat dari sejarah antara Deanda dan yang mulia Alvero, mungkin duke Evan benar-benar mencintai, atau paling tidak tertarik dan menyukaimu, sehingga dia menggunakan cara itu untuk mengikatmu.” Perkataan Alea membuat Alaya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


“Dia tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu padaku. Aku tidak percaya dengan laki-laki seperti duke Evan.” Kata-kata Alaya yang diucapkan dengan suara normal, tanpa disadari oleh Alaya, Alea bisa menangkap adanya sebuah nada kesedihan di sana, seolah Evan adalah orang yang pernah begitu menyakiti hati Alaya di masa lalu.


“Kenapa kamu percaya diri sekali kalau duke Evan tidak mungkin jatuh cinta padamu? Putri adalah gadis yang sangat cantik dan menarik, juga baik hati. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui antara kamu dan duke Evan yang sudah terjadi di masa lalu? Bukannya kalian baru bertemu ketika kamu kembali ke Gracetian setelah lebih dari 20 tahun tinggal di luar negeri?” Pertanyaan Alea membuat Alaya tersenyum masam, tanpa ada niat untuk menanggapi pertanyaan Alea.

__ADS_1


“Tidak perlu membicarakan apapun tentang itu. Sekarang lebih baik kamu segera memberiku ide bagaimana cara agar duke Evan membenciku.” Alaya langsung mengalihkan pembicaraan.


“Aku ada beberapa ide bagus, tapi bolehkan aku bertanya kenapa sih kamu tidak mau menikah dengan duke Evan. Semua orang tahu selain yang mulia Alvero, laki-laki paling menarik dan diinginkan oleh para gadis adalah duke Evan Carsten. Pamor, pengaruh, kekuasaan dia, berada di urutan kedua setelah yang mulia Alvero. Belum lagi sifat tenang dan berwibawanya, ditambah dengan ketampanannya yang boleh dibilang memiliki nilai 10 dengan penilaian angka 1 sampai 10, setara dengan yang mulia Alvero. Nilai sempurna, Apalagi yang kurang dari duke Evan coba?” Pertanyaan dari Alea mau tidak mau membuat Alaya membayangkan wajah tampan Evan dengan senyum manisnya, serta kejadian-kejadian yang dialaminya bersama Evan baru-baru ini.


__ADS_2