
βEh.β Beberapa orang terlihat langsung saling berbisik begitu mendengar perkataan Alvero.
Bukan karena keputusan Alvero tentang waktu yang ditetapkan untuk pertemuan antara keluarga Adalvino dan keluarga Carsten, tapi karena Alvero menyebutkan tentang kerajaan Rodfeel.
Sebagian besar dari mereka yang hadir di situ, memang tidak tahu asal muasal kenapa secara tiba-tiba Alvero memberikan pengumuman tentang rencana perjodohan antara Alaya dan Evan yang setahu mereka selama ini memang tidak pernah memiliki hubungan apapun, sehingga mereka cukup kaget mendengar Alvero yang tiba-tiba juga menyebutkan tentang kerajaan Rodfeel.
Hal itu membuat mereka langsung bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi antara kerajaan Rodfeel dan kerajaan Gracetian yang belum mereka ketahui.
βPutra mahkota kerajaan Rodfeel telah mengirimkan utusan untuk melamar putri Alaya.β Suara bisikan yang sangat pelan dari Enzo kepada Tira, membuat mereka cukup kaget, dan langsung maklum kenapa tidak angin tidak ada ada badai, dengan tiba-tiba muncul pengumuman tentang hubungan Alaya dan Evan yang akan segera disahkan sebagai pasangan resmi.
Mereka yang ada di tempat itu langsung saling memandang, saling berbisik dan saling menebak-nebak begitu mendengar suara pelan dari Enzo.
Beberapa dari mereka yang duduknya cukup jauh dari Enzo dan tidak bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Enzo langsung sibuk menyenggol orang yang duduk di sampingnya dan memberi tanda untuk segera mencari keterangan tentang apa yang baru saja dikatakan Enzo dengan wajah penasaran mereka.
Begitu mereka sudah mengetahui tentang lamaran untuk Alaya dari putra mahkota kerajaan Rodfeel, mereka langsung saling berbisik dan membicarakan itu.
"Ah, pantas saja yang mulia Alvero dengan buru-buru mencarikan jodoh putri Alaya. Ternyata bukan karena salah satu dari mereka berdua yang mengajukan perjodohan ini karena mulai saling tertarik." Tira membalas bisikan pelan dari Enzo yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku bisa mengerti sekarang kenapa wajah Alaya terlihat shock dan tidak tenang. Dia juga pasti kaget." Tira lagi-lagi mengeluarkan pendapatnya.
"Doakan saja semuanya berjalan dengan lancar, dan mereka berdua bisa saling mencintai seperti yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda...."
"Seperti pangeran Enzo dan countess Melva." Tira langsung menambahkan kata-kata Enzo yang langsung tersenyum geli.
"Lalu kapan giliranmu mendapatkan jodoh terbaikmu Tira?" Tira hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan dari Enzo.
(Banyak yang menanyakan tentang kisah cinta dan jodoh Ernest, pengawal pribadi Alvero yang keren abis. Silahkan tunggu novel author selanjutnya tentang kisah cinta putri Tira dan Ernest. Setelah novel ini selesai, akan ada cerita tentang kisah cinta mereka. Biar tidak adalagi yang jomblo abadi tokoh di novel ini, semua akan kebagian jodoh masing-masing ππππ).
"Kenapa menanyakan hal itu? Tidak tahu aku. He he he he. Banyak pilihan, tapi belum ada yang benar-benar bisa membuatku benar-benar rela melepaskan masa lajangku untuk dia. Itu artinya, aku belum benar-benar mencintainya." Perkataan Tira membuat Enzo melebarkan senyumnya.
Tatapan mata Enzo yang penuh dengan kelembutan dan cinta saat mengatakan itu, membuat Tira tersenyum dengan wajah sedikit geli.
Bagaimanapun, sampai saat ini, rasanya Tira belum pernah merasakan apa yang baru saja dikatakan oleh Enzo kepada lelaki manapun, termasuk dengan beberapa laki-laki yang sempat dekat dengannya, bahkan sempat berpacaran, akan tapi selalu kandas di tengah jalan.
Entah dengan alasan bosan, tidak cocok ataupun tidak lagi nyaman lagi menjalin hubungan, Tira akan selalu menjadi orang yang pertama untuk meminta putus dari kekasihnya.
__ADS_1
Dan seberapapun besarnya keinginan laki-laki itu untuk bertahan dan memohon, Tira akan tetap menolak untuk menjalin hubungan kembali dengan laki-laki itu, bahkan hanya sekedar sebagai teman biasa saja, Tira tidak akan lagi bersedia.
Beberapa kali Alvero sudah mengingatkan Tira agar tidak bersikap sembarangan pada kaum pria yang beberapa diantaranya mungkin bisa menyimpan dendam karena perilaku Tira, bisa saja ada diantara mereka sakit hati dan membalas dendam pada Tira, meskipun sebenarnya Tira tidak pernah bersikap kasar pada mereka.
Hanya saja selama ini Tira memang terlalu mudah menerima pernyataan cinta dari orang lain, dan tidak lama setelah mereka menjadi sepasang kekasih, Tira akan segera meminta untuk putus.
Alvero selalu mengajarkan pada Tira agar lebih baik tidak menjalin hubungan apapun dengan seorang pria jika hatinya belum mantap, akan tetapi Tira selalu beralasan tidak masalah jika mencoba lebih dahulu, kalau cocok lanjut, kalau tidak ya putus.
"Wah, sekarang kamu begitu pandai menggambarkan bagaimana rasanya orang yang sedang jatuh cinta. Aku benar-benar tidak percaya kalau kata-kata manis dan romantis seperti itu bisa keluar dari bibir pangeran Enzo yang dikenal sebagai pemuja wanita." Tira kembali berbisik ke arah Enzo dengan nada menggodanya.
"Karena aku sudah mengalaminya, coba kamu tanya yang mulia Alvero. Penjelasannya tentang apa itu dan bagaimana jatuh cinta pasti akan lebih jelas karena seperti yang kamu lihat selama beberapa waktu ini, bagaimana yang mulia Alvero sudah gelap mata dan benar-benar bucin jika itu menyangkut tentang permaisuri Deanda." Enzo berbisik pelan sambil melirik ke arah Alvero yang duduk di bagian paling ujung meja makan istana.
Enzo dan Tira masih akan melanjutkan pembicaraan mereka, ketika dilihatnya Alvero sudah memberikan tanda bahwa makan malam sudah berakhir, dan mereka bisa meninggalkan ruang makan istana, kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Terimakasih untuk kesediaan Duke Evan dan Duchess Danella menghadiri undangan makan malam yang cukup mendadak ini." Alvero yagn sudah berjalan di samping Evan, untuk mengantar kepergiannya meninggalkan istana, berkata sambil memandang ke arah Evan dan Danella yang langsung tersenyum mendengar perkataan dari Alvero.
"Kami justru merasa sangat berterimakasih karena semua menyambut kami dengan baik di tempat ini." Duchess Danella langsung mewakili Evan untuk menanggapi perkataan Alvero.
__ADS_1
"Tentu saja Anda berdua akan disambut di istana ini, apalagi sebentar lagi duke Evan akan menjadi bagian dari istana ini saat menikah dengan putri Alaya." Perkataan Deanda membuat Danella tersenyum lebar.
Jika Evan sudah menikah dengan Alaya, itu artinya dia bukan hanya mendapatkan menantu cantik dan seorang putri dari keluarga Adalvino, tapi dia juga akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertemu Deanda, yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri, meskipun dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadikan Deanda menantunya.