
Meskipun kelompok pemberontak sekuat Eliana berhasil dikalahkannya waktu itu, tapi Alvero tidak mau menganggap remeh para lawannya.
Bagi Alvero, terlalu menganggap remeh lawan, justru akan membuatnya sombong dan tidak waspada, dan sebagai pemimpin yang bijaksana dan selalu awas, dia benar-benar menghindari hal seperti itu.
"Lalu apa rencanamu? Apa kamu berniat menemui duke Hugo?" Pertanyaan Deanda membuat Alvero sedikit mencebikkan bibirnya.
"Ya... tentu saja aku akan menemuinya. Hanya saja, aku berencana bertemu dengannya setelah pengumuman resmi dari istana tentang rencana pernikahan duke Evan dan Alaya. Jadi tidak mungkin besok aku menemuinya." Alvero menjawab pertanyaan Deanda, sambil mengambil gelas berisi minuman dari nampan yang dipegang oleh seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Kenapa harus begitu my Al?"
"Agar aku tidak perlu mendengar pertanyaan dari duke Hugo tentang Alaya. Karena aku yakin salah satu niat dari duke Hugo menemuiku adalah menanyakan tentang Alaya. Kalau sebelumnya dia sudah mendengar berita resmi tentang rencana pernikahan Alaya dan duke Evan, aku tidak perlu mendengar basa basinya lagi tentang hal itu." Perkataan Alvero membuat Deanda tersenyum.
Masih saja seperti yang mulia Alvero ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Laki-laki yang paling tidak suka basa basi yang aku kenal, apalagi jika harus berbasa-basi dengan orang yang tidak disukainya. Yang mulia paling tidak bisa melakukan itu.. Bahkan sikap tegasnya terkesan kejam dan tidak perduli dengan perasaan orang lain. Tapi apadaya, dialah pria paling mengagumkan bagiku dan paling aku cintai di dunia ini.
Deanda berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyumnya.
"Aku berencana maksimal besok siang berita tentang rencana pernikahan mereka berdua harus sudah diunggah ke internet." Alvero berkata sambil memberi tanda kepada Ernest agar mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Ya Yang Mulia...." Ernest langsung berkata dengan sikap hormat kepada Alvero begitu dia sudah berdiri tepat di depannya.
"Segera aturkan dengan pihak humas istana, agar mereka segera mempersiapkan artikel menarik malam ini, untuk mengumumankan rencana pernikahan duke Evan dan putri Alaya." Alvero segera memberikan perinta untuk Ernest.
(Humas merupakan singkatan dari Hubungan Masyarakat atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Public Relation (PR) yang bertanggungjawab dalam membangun dan mempertahanan reputasi, citra, dan komunikasi yang baik dan bermanfaat antara organisasi dan publik. Di sini humas bertugas untuk mengelola penyebaran informasi dan menyampaikan segala informasi penting mengenai organisasi kepada publik. Dengan penyampaian informasi ini diharapkan publik dapat memahami sudut pandang organisasi tentang suatu isu atau permasalahan tertentu.
Humas diharapkan mampu menjembatani hubungan antara lembaga atau perusahaan dengan masyarakat atau konsumen, atau dalam hal ini, humas di kerajaan Gracetian, merupakan pihak yang bisa menjadi penghubung antara para penguasa di istana dengan masyarakat di luar istana).
"Baik Yang Mulia." Dengan sikap sigap Ernest langsung menjawab peritnah itu.
"Pastikan mereka mengerjakannya dengan baik malam ini, karena aku dan duke Evan sendiri yang akan memeriksanya sebelum besok pagi artikel itu diunggah di internet. Aku mau artikel itu benar-benar diawasi dengan baik. Blokir semua komentar negatif yang masuk, yang memberikan komentar buruk tentang rencana pernikahan ini. Aku mau beberapa orang dari tim kita memberikan komentar positif, sehingga tidak ada orang yang meragukan hubungan antara duke Evan dan putri Alaya, lalu mencari kesempatan untuk menyerang mereka berdua." Alvero memberikan detail permintaannya kepada Ernest yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku minta sebelum jam 7 malam ini semua artikel sudah siap, sehingga bisa meluncur besok pagi. Jadi pastikan sebelum pukul 4 sore ini, mereka sudah menyodorkan rencana artikel mereka untuk aku bisa melakukan pengecekan, sehingga mereka punya waktu kalau aku minta mereka merevisinya. Kamu bisa menyampaikan perintahku kepada tim humas istana sekarang." Alvero mengakhir perintahnya kepada Ernest, sambil melirik ke arah Larena yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa Ma? Apa Mama membutuhkan sesuatu?" Dengan sikap hormat, Alvero langsung bertanya kepada Larena yang sudah berada di depannya.
Bagi Alvero, wanita yang sekarang sedang berdiri di hadapannya adalah wanita yang begitu dihormati dan disayangi oleh Alvero.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya ingin menanyakan kenapa kamu membuat keputusan ekstrim seperti itu? Adikmu Alaya, meskipun dia tidak mau menceritakan keberatannya kepada mama, tapi mama yakin dia sedang benar-benar marah dan kesal sekarang.” Perkataan Larena membuat Alvero terdiam.
Dari cerita Alexis yang selama bertahun-tahun menemani Alaya dan Larena hidup di luar negeri, Alvero mendapatkan info, bahwa sejak kecil, Alaya bukan gadis yang cengeng meskipun fisiknya lemah.
Dan karena kondisi kesehatan Larena dan juga mental Larena, membuat Alaya yang begitu menyayangi Larena, sejak kecil Alaya tidak pernah mau menceritakan kesulitannya pada Larena karena tidak mau Larena menjadi susah ataupun sedih karenanya.
“Alvero, kamu tahu Alaya sejak kecil kekurangan kasih sayang dan perhatian. Aku sebagai mamanya tidak bisa memberikan itu karena kondisiku yang tidak memungkinkan waktu itu. Aku setuju untuk dia kembali ke Gracetian, berharap agar dia mendapatkan kasih sayang yang utuh dari keluarga terdekatnya, termasuk papamu dan kamu sendiri.” Larena berkata dengan suara terdengar pelan dan ragu-ragu, karena tidak ingin Alvero tersinggung dengan kata-katanya.
Setelah sekian lama, berpisah dari Alvero, meskipun Larena tahu Alvero menyambut kehadirannya dengan hangat, tapi karena waktu yang lama sudah memisahkan mereka, Larena takut Alvero masih merasa canggung padanya.
Apalagi ingatan buruk tentang bagaimana dia meninggalkan Alvero kecil pada waktu itu, masih membuat rasa bersalah yang begitu besar di hati Larena tidak kunjung hilang hingga detik ini.
“Ma, Mama percaya kalau aku menyayangi Alaya, dan ingin yang terbaik untuknya kan?”
“Tentu saja aku percaya. Bagaimanapun Alaya adalah adik kandungmu, memang sudah seharusnya kamu bertindak begitu.” Larena langsung menjawab pertanyaan Alvero.
“Kalau begitu, Mama tenang saja. Semua yang aku putuskan, itu sudah melalui pertimbangan yang matang dan untuk kebaikan Alaya. Aku juga tidak akan tinggal diam jika sampai duke Evan berai menyakiti Alaya. Jika sampai itu terjadi, aku orang pertama yang akan menghajar duke Evan dengan tanganku sendiri.” Perkataan Alvero, membuat Larena tersenyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku percaya padamu. Mama hanya perlu memastikan semuanya memang harus dilakukan agar Alaya hidup lebih baik, dan juga bahagia….”
“Meskipun butuh waktu, Alaya pasti akan bisa mencintai duke Evan. Dan untuk duke Evan sendiri. Lihat bagaimana calon menantumu itu melihat ke arah Alaya… dan Mama coba pikirkan dengan baik, apakah laki-laki itu mencintai putri kesayanganmu.” Alvero berkata sambil tersenyum, dengan bola matanya yang bergerak memberikan kode kepada Larena agar dengan diam-diam mengamati Evan, memberi kesempatan pada Larena untuk memberi penilaiannya sendiri terhadap perasaan Evan kepada Alaya.