
Tangan kiri Alvero melingkar di bahu Deanda yang terlihat menggenggam tangan kiri Alvero dan sesekali menciuminya, membuat dada Alvero dipenuhi dengan rasa bahagia.
“Aku tidak tahu, dia hanya mengatakan kalau dia ingin membicarakan tentang kejadian amnesianya terhadap Alaya yang ternyata memang dibuat dengan sengaja oleh seseorang.” Alvero berkata sambil melepaskan tangan kirinya dari bahu Deanda, dan menggerakkan tubuhnya dalam posisi membungkuk, lalu mencium perut Deanda dengan mesra, hal yang seringkali sengaja dilakukan oleh Alvero untuk menyapa bayi dalam perut Deanda.
“Apa kabar jagoan papa. Sehat terus disana ya nak, sampai waktunya kamu melihat dunia. Papa tidak sabar menunggumu lahir dan tumbuh dengan baik.” Alvero berkata sambil menciumi perut Deanda beberapa kali membuat tubuh Deanda sedikit menggeliat karena geli dengan apa yang dilakukan oleh Alvero.
“Wah…. Sepertinya mamamu protes ini… dia juga minta jatahnya…. Sebentar ya jagoan papa.” Alvero yang melihat gerakan Deanda yang menjauhkan perutnya dari bibir Alvero berkata sambil menggerakkan kepalanya ke atas, melirik ke arah Deanda yang langsung tersenyum mendengar kata-kata Alvero.
“Bukan begit…. Mmmphhh….” Belum selesai Deanda mengatakan pembelaannya pada Alvero, dengan tiba-tiba bibir Alvero sudah membungkam bibir Deanda dan langsung melummm… mmatnya tanpa memberikan kesempatan pada Deanda untuk menolak, karena tangan Alvero sudah berada di tengkuk Deanda dan menahan kepala Deanda, agar tidak bisa menjauh darinya.
Bahkan hanya selang beberapa detik, ciuman Alvero sudah berubah menjadi sebuah ciuman penuh gairah, dengan tangannya yang hampir saja menelusup masuk kedalam pakaian yang dikenakan oleh Deanda, sampai Alvero melihat bahwa Deanda mulai kehabisan nafas dan mau tidak mau dia harus melepaskan ciumannya dengan sangat terpaksa.
“Hah….” Suara hembusan nafas lega langsung terdengar dari bibir Deanda, begitu Alvero melepaskan ciumannya.
“Sweety…..” Suara Alvero yang terdengar manja sekaligus serak karena menahan gejolak dada dalam dadanya akibat hasratnya yang harus diredam membuat Deanda tersenyum.
“Baru saja sebelum afternoon tea kita sudah melakukannya, kemarin malam juga sudah… masih belum puas juga?” Deanda berkata dengan senyum geli tersungging di wajahnya begitu melihat wajah memelas Alvero, karena jujur saja, dia begitu sulit untuk tidak menyentuh Deanda saat berada di dekat wanita cantik itu.
Dan wajah memelas Alvero, adalaha suatu tampilan wajah yang tidak pernah ditunjukkan Alvero kepada siapapun kecuali pada Deanda, wanita tercintanya.
__ADS_1
“Mau berapa kalipun kamu memberiku, dengan senang hati aku akan melayanimu dengan baik sweety, memuaskanmu sampai ke puncak….”
“Hustt…. Pelankan suaramu my Al, ada orang yang datang.” Deanda langsung memotong perkataan Alvero yang jika tidak dihentikannya, pasti akan terus membicarakan tentang masalah percintaan mereka yang membuatnya begitu candu dan seolah menjadi obat penambah energi yang akan membuatnya lemah dan lemas jika dia tidak meminumnya sesering mungkin.
Dan Deanda, tentu saja tidak ingin orang lain mendengar urusan ranjangnya dengan Alvero karena baginya, itu adalah hal yang sangat pribadi baginya.
Suara langkah kaki seseorang membuat Deanda yang baru saja memotong perkataan Alvero langsung menoleh ke arah sumber suara, diikuti oleh Alvero.
“Kamu datang sendiri Alaya? Tadi Evan yang mengatakan ingin bertemu dengan kami, tapi kenapa kamu sendirian yang datang?” Begitu Deanda melihat ke arah suara langkah orang yang ternyata adalah Alaya langsung bertanya.
“Tidak, aku datang bersama Evan. Dia sedang bersama kak Enzo di belakang sana.” Alaya berkata sambil tangannya yang tergenggam, jempolnya menunjuk ke arah belakangnya.
Kata-kata Alaya langsung membuat baik Alvero maupun Deanda mengernyitkan dahinya, dan tanpa sadar, secara reflek, mereka berdua tiba-tiba saling berpandangan dengan mata dan kepala yang bergerak, mengarah kepada Alaya.
Akan tetapi, Alvero dan Deanda cukup heran dengan bagaimana cara Alaya barusan menyebutkan nama Evan yang biasanya selalu dia ucapkan sebutan duke di depannya, tapi malam ini, Alaya menyebutkan nama Evan dengan begitu santai seolah mereka benar- benar sudah begitu dekat.
Sikap Alaya kepada Evan yang terlihat sangat jauh berbeda dengan beberapa hari sebelumya, membuat Deanda langsung tersenyum lebar, yakin denga napa yang tadi sempat ditebak oleh Alvero.
Untuk Alvero sendiri, semakin yakin dengan analisanya setelah melihat sosok Alaya yang tiba-tiba saja hadir di depannya dengan memakai syal di lehernya.
__ADS_1
Aku yakin… di balik syal itu pasti ada banyak bukti bekas kegananasan Evan di ranjang.
Alvero berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya, karena semakin yakin bahwa Evan dan Alaya sudah benar-benar menyatu pastilah bukan sekedar tebakan saja, tapi sebuah kenyataan.
“Evan sedang bersama Enzo? Aku pikir tadi Enzo sedang menemui yang lain.” Alvero bertanya kepada Alaya, karena tadinya Enzo memang memberitahu pada Alvero bahwa dia mau menemui Tira terkait dengan rencana Tira keluar negeri dan meminta Enzo untuk menemaninya.
Enzo tadi sempat mengatakan bahwa dia meminta pada Alvero untuk memberinya info jika Evan sudah datang ke istana, karena Alvero memang ingin Enzo ikut hadir dalam pertemuan mereka kali ini.
Meskipun Enzo adalah seorang pangeran Adalvino yang begitu menghindar jika seseorang menanyakan tentang status dan tanggung jawabnyanya sebagai seorang pangeran yang tidak pernah mau terlibat dengan urusan kerajaan, tapi Alvero tahu, bahwa sebenarnya, Enzo sangat perduli dengan keamanan dan kemajuan kerajaan Gracetian.
Enzo sebagai keturunan Adalvino, tetap saja menjadi seorang pangeran yang ingin melindungi kerajaan Gracetian, meskipun dengan caranya sendiri, yang tidak diketahui oleh orang lain.
Sehingga begitu Alvero tahu pembicaraan Evan kali ini mungkin melibatkan keamanan kerajaan, Alvero dengan sengaja memutuskan untuk mengajak Enzo turut serta dalam pembicaraan malam yang pastinya serius ini.
Sejak awal Evan menceritakan tentang bagaimana dia tidak ingat sama sekali dengan Alaya, sedang semua ingatan Evan tentang hal lain tidak ada masalah, Alvero sudah merasa curiga bahwa ada seseorang yang berperan besar dalam kasus hilangnya ingatan Evan terhadap Alaya.
Bagi Alvero, dia merasa bahwa itu bukanlah suatu hal yang tidak disengaja, justru dengan sengaja orang itu menghilangkan ingatan Evan tentang Alaya, entah apapun motivasinya.
Dan Alvero yakin, orang yang terlibat dengan masalah Evan, bukanlah orang dari kalangan rakyat biasa-biasa saja, dan insting Alvero mengatakan, bahkan ada kemungkinan orang tersebut akan membawa dan mengarahkan mereka kepada orang-orang yang terlibat dengan kejahatan yang lebih besar.
__ADS_1
“Aku dan Evan tadi tidak sengaja bertemu dengan kak Enzo ketika baru saja datang dan menuju kemari.” Alaya langsung memberikan penjelasan kepada Alvero.
“Evan ya? Evan… rasanya terdengar aneh melihatmu menyebutkan nama Evan dengan begitu santai tanpa embel-embel duke di depan namanya, seperti yang biasa kamu sebutkan untuk nama panggilan Evan. Apa hubungan kalian berdua sudah sedekat itu?” Dengan santainya Alvero berkata tanpa perduli kalau perkataannya itu langsung membuat Alaya terlihat salah tingkah dan begitu gugup.