
Padahal di sisi lain, Alaya selalu memberitahukan kepada Alea apa saja rencana yang sedang dia pikirkan untuk membuat Evan membatalkan rencana pernikahan mereka berdua.
Kondisi itu tentu saja membuat Alea seperti makan buah simalakama, mau memihak siapapun, tetap saja dia bersalah.
Untuk Rock? Seperti kata Alaya, Alea sudah lama tidak bertemu dengan laki-laki jenius yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu, dan tentu saja dia merindukan laki-laki itu.
Akan tetapi untuk saat ini, Alea tahu ini bukan saat yang tepat baginya untuk memikirkan itu, karena dia masih memiliki tugas dan tanggung jawab di istana untuk sementara waktu.
“Nona Alea….” Suara panggilan dari Ernest membuat lamunan Alea buyar seketika.
“Apa putri Alaya mengajak Nona Alea pergi?”
“Haist, semua gara-gara Tuan Ernest, kenapa Tuan Ernest mengatakan kalau permaisuri Deanda tidak membutuhkanku hari ini? Hari ini Tuan Ernest membuatku dalam kesulitan.” Ernest yang mendapatkan omelan dari Alea langsung mengernyitkan dahinya dnegan wajah bingung.
“Eh, memang kenapa? Kan memang benar seperti itu? Lalu, kenapa kalau permaisuri tidak akan memanggilmu menyebabkan kamu dalam kesulitan?” Ernest langsung bertanya.
“Ah, sudahlah, tidak perlu dilanjutkan lagi, aku mau bersiap pergi mengantar putri Alaya sekarang. Lagipula setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahnya aku ke Goldie Tavisha, aku bisa sekalian menenangkan pikiran sambil menemui kekasihku yagn memang sudah lama tidak bisa aku temui. Ini adalah kesempatan langka bagiku, karena kebetulan Rock juga sedang berada di Goldie Tavisha, padahal biasanya dia sedang melakukan tugas penaymarannya di luar kota.” Tanpa menjawab pertanyaan Ernest, Alea segera pergi berlalu dari hadapan Ernest.
# # # # # # #
Ernest yang sudah berpisah dari Alea dan berniat untuk kembali ke dalam istana, menemui Alvero yang baru saja memanggilnya, tampak menghentikan langkahnya sebentar, ketika mendengar pembicaraan dari beberapa pelayan yang tanpa sengaja didengar oleh Ernest menyebutkan namanya.
“Aku tidak percaya kalau tuan Ernest melecehkan pelayan itu.”
__ADS_1
“Kalau aku sih setengah-setengah, karena bagaimanapun tuan Ernest kan laki-laki normal, bisa saja dia khilaf.”
“Dari rekaman cctv katanya terbukti kalau pelayan itu yang bersalah.”
“Masa iya? Bukannya karena tuan Ernest itu pengawal pribadi yang mulia Alvero, sehingga bisa saja dia memutar balikkan fakta, dia kan punya kemampuan untuk itu.”
“Kenapa kamu terlihat tidak suka dengan tuan Ernest?”
“Bukan tidak suka, justru aku suka sekali, dan kalau bisa sih, aku ada di posisi pelayan itu, yang mungkin saja sudah mendapatkan sentuhan lembut dari tuan Ernest yang tampan itu.”
Mendengar semua pembicaraan itu, Ernest hanya bisa menarik nafas panjang dengan pikiran heran, kenapa para pelayan itu bisa begitu sok tahu tentang dirinya.
“Apa maksud kalian membicarakan tuan Ernest dengan tidak hormat seperti itu di belakangnya? Sungguh tindakan yang tidak terpuji, sangat tidak sopan.” Ernest baru saja berencana sengaja lewat di depan para pelayan itu dengan berpura-pura tidak tahu kalau dia sudah mendengar sebagian dari obrolan mereka, akan tetapi telinganya tiba-tiba mendengar suara yang menegur para pelayan itu.
“Ma… maaf Putri Tira….”
“Kalian benar-benar pengangguran ya? Sempat-sempatnya di jam sibuk berkumpul dan bergosip seperti ini? Apalagi membicarakan orang lain dengan sikap tidak hormat seperti itu?” Tira kembali menegur para pelayan itu.
“Sepertinya aku harus memberitahukan kepada nyonya Rose kalau jadwal kerja kalian di istana masih terlalu longgar, sehingga terlalu banyak waktu luang yang terbuang sia-sia, sampai-sampai bisa membuat skenario drama yang bisa dibuat sebuah drama bersambung.” Teguran Tira memmbuat para pelayan yang sedang menundukkan kepalanya sejak kehadiran Tira itu saling melirik dengan wajah khawatir sekaligus takut.
Tira sebagai salah satu putri yang tinggal di istana, dikenal manja dan juga ramah pada semua orang, tapi sikapnya yang tegas pada orang yang bersalah, membuat banyak orang tidak berani bersikap macam-macam terhadap Tira.
Apalagi Tira dikenal tidak banyak bicara jika dia tidak menyukai seseorang, sosok putri yang selalu tampil apa adanya tanpa berusaha menutup-nutupi sifat aslinya.
__ADS_1
Marah dia akan marah, tidak suka dia akan menunjukkan rasa tidak sukanya dengan terus terang, meskipun tetap dengan cara yang elegan, karena sejak kecil dia dibesarkan di lingkungan istana, yang mendidiknya menjadi seorang putri Gracetian dengan budi pekerti seorang putri.
Mama Tira adalah adik kandung dari Vincent yang menikah dengan salah seorang pangeran dari negara lain, yang memilih untuk tinggal dan hidup di Gracetian, mengikuti semua aturan dari kerajaan Gracetian.
“Kalian tahu apa alasan tuan Ernest bisa menjadi pengawal pribadi yang mulia Alvero dan bukan yang lain? Karena dia orang yang bisa dipercaya, berani dan bertanggungjawab, tidak seperti kalian orang-orang yang bisanya berbicara di belakang yang bersangkutan.” Tira berkata sambil menatap tajam ke arah para pelayan itu.
“Melihat track record tuan Ernest, hanya ornag bodoh yang percaya kalau pelayan itu adalah korban, yang ada justru pelayan itu adalah penipu dan wanita mesum dengan pikiran kotornya, yang dengan tidak tahu malunya menggoda pria yang bukan suaminya. Tidak ada yang perlu dibela dari perempuan seperti dia.” Tira melanjutkan kata-kata yang membuat para pelayan itu menjadi semakin merasa bersalah dan takut.
“Ini terakhir kalinya aku mendengar kalian bergosip tentang orang lain. Jika suatu ketika aku menemukan kalian melakukan hal yang sama seperti ini, aku pastikan aku akan melaporkan kalian kepada tim disipiner istana untuk memberikan hukumannya.” Tira mengakhiri kata-katanya dengan mata masih menatap tajam ke arah para pelayan itu.
“Baik Putri Tira, maafkan kami.” Dengan suara yang terdengar hampir bersamaan mereka berkata kepada Tira.
“Aku pegang kata-kata kalian. Sekarang pergilah ke tempat kerja kalian masing-masing.” Tira berkata sambil melangkah pergi dari mereka yang juga langsung pergi menyebar ke tempat tugas mereka masing-masing.
Ernest yang sebenarnya jarang sekali bertemu dengan putri Tira, melihat bagaimana Tira yang berusaha membelanya, meskipun mereka tidak memiliki hubungan cukup dekat membuat Ernest tersenyum dan merasa tersanjung.
Dan itu membuat Ernest berniat mengucapkan terimakasihnya kepada Tira yang sudah membela nama baiknya.
“Benar-benar tukang gosip, menambah dosa saja!” Tira mengomel sambil berjalan dengan menolehkan kepalanya, mengamati bagaimana dengan tergesa-gesanya para pelayan itu pergi meninggalkannya, sehingga tanpa sadar Tira hampir saja bertabrakan dengan Ernest.
“Eh….” Karena kaget, Tira sedikit terpekik, sedang Ernest dengan sigap langsung mundur dua langkah dari posisinya semula.
“Maaf Putri Tira, saya tidak sengaja.” Begitu Tira melihat siapa yang hampir ditabraknya adalah Ernest, Tira langsung tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan Ernest, begitu melihat senyum manis dari salah satu putri Gracetian yang dikenal cantik dan baik hati itu, membuat Ernest sedikit terpaku di tempatnya sambil menatap kagum ke arah Tira.