
Sebuah pemikiran Alvero yang bagi orang lain mungkin terdengar begitu egois, tapi Alvero melakukan itu untuk melindungi kerajaannya, apalagi jika bangsawan yang dinikahi oleh para putri bangsawan itu berasal dari kerajaan yang orang-orang atau bangsawannya seringkali bermasalah, seperti putra mahkota Rodffeel, Christopher.
Info lain yang membuat Christopher merasa adanya kesempatan untuk mendekati Alaya adalah keberadaan Alaya beberapa hari ini, yang selalu jadi prioritas pengamatannya bersama dengan para mata-matanya yang tersebar, menunjukkan kabar bahwa Alaya telah memesan salah satu kamar di hotel Tavisha untuk bisa dia tempati selama beberapa hari ini, sendirian tanpa bersama Evan.
Padahal jika dipikir-pikir mereka adalah adalah sepasang pengantin baru yang umumnya masih dalam kondisi mesra-mesranya, dan ingin merayakan penikahan mereka dengan menghabiskan banyak waktu untuk berdua saja.
Hal itu membuat Chrsitopher yakin bahwa pernikahan antara Evan dan Alaya bukanlah pernikahan normal seperti yang lainnya, sehingga membuat Christopher untuk sementara tetap ada di Gracetian dan mengamati apa yang terjadi, mencari kesalahan yang terjadi pada pernikahan Evan dan Alaya sehingga memberikan kesempatan bagus baginya.
Apalagi keberadaan Hugo, membuat Christopher merasa dia memiliki dukungan dari salah satu orang kuat dengan kedudukan tinggi di Gracetian.
"Aku tidak akan menyerah semudah itu hanya karena perkataan orang yang tidak tahu apa-apa sepertimu." Dengan senyum menyeringai dan percaya diri Christopher berkata kepada Hector.
Hector sendiri langsung membalas senyum dari Chrsitopher dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya, sambil memicingkan matanya, menunjukkan wajah begitu meremehkan pada Chrsitopher.
Jika Christopher berpikir bahwa pernikahan Evan dan Alaya bermasalah, justru hal sebaliknya terjadi pada Hector.
Hector justru yakin kalau sebenarnya Evan dan Alaya memang sudah saling mengenal cukup lama seperti yang sudah diberitakan ketika pihak istana mengumumkan tentang pernikahan mereka, karena Hector ketika dia dan Christopher bersitegang di mall, pada akhirnya setelah dia terpisah dari Christopher, Hector sempat melihat bagaimana Alaya masuk ke dalam mobil dengan logo keluarga Carsten di bagian bawah di belakang mobil itu.
__ADS_1
Meski bukan Evan sendiri yang turun tangan waktu itu membawa Alaya pergi dari tengah-tengah 2 orang pria yagn sibuk membangun imagenya di depan Alaya yang bertanding untuk menunjukkan kehebatan mereka berdua, bagi Hector, dengan Evan mengirimkan seseorang untuk membawa Alaya pergi dari situ sudah menunjukkan bagaimana Evan yang sangat perduli dan ingin melindungi Alaya.
Apalagi meskipun melihatnya dari jauh, Hector bisa melihat sosok laki-laki yang mirip Evan, sedang berlarian ke arah sebuah mobil, yang juga memiliki logo keluarga Carsten di bagian belakang mobil itu, walaupun hanya tertera tanda yang lebih kecil dari sebelumnya, membuat Hector semakin yakin bahwa itu adalah Evan.
Dan meskipun rambutnya memakai rambut palsu, dengan kacamata hitam dan topi yang menutupi sebgaian wajahnya, Hector bisa tahu bahwa itu pastilah Evan.
Dan itu cukup bagi Hestor untuk tidak lagi berbuat nekat dan sia-sia mengejar Alaya lagi, seperti yang akan dilakukan oleh Christopher sekarang.
"Kalau begitu, lebih baik kamu tetap setia menunggu, agar tidak menggangguku yang akan mencari hal lain untuk dikejar dan diperjuangkan yang bisa membuatmu menyesal sudah berusaha menangkap angin. Semoga berhasil menangkap anginmu, dan bukan badai yang tertangkap." Hector berkata sambil berlalu dari hadapan Christopher, yang tampak terlihat santai dengan apa yang dilakukan oleh Hector dengan sindirannya tadi.
# # # # # # #
Dengan gaun sederhana berwarna merah muda yang sedang dikenakannya sekarang, membuat Alaya tampak cantik dan segar.
Hari ini, Alaya berencana untuk keluar dari hotel itu, dan kembali ke istana, sehingga dia berpakaian rapi dan sudah mengemas semua pakaian yang sempat dibawakan oleh Alea, dan sebagian dari hasilnya berbelanja.
"Mau tidak mau, aku harus bertemu duke Evan, dan berbicara padanya tentang hubungan kami. Aku bisa saja terus menundanya, tapi tidak bisa lari dari masalah ini. Jadi lebih baik aku menghadapinya langsung, karena aku tidak suka sikap pengecut yang lari dari tanggungjawabku." Alaya berkata pelan sambil merapikan jepit emas yang bertengger di bagian atas kepalanya, jepit membuatnya terlihat anggun.
__ADS_1
“Sebaiknya aku pergi sekarang, karena Alea juga sudah menungguku di lobby hotel.” Alaya berkata sambil melirik jam di tangannya, dimana dari jarum jam itu menunjukkan waktu sudah hampir sore, dan dia ingin sebelum malam hari dan acara afternoon tea dilakukan dia sudah bisa berada di istana bersama yang lain.
"Lagipula, sudah waktunya aku menggoda kak Enzo yang sebentar lagi akan menikah. Kak Enzo benar-benar tega padaku, sudah cukup lama aku tidak muncul di istana, tapi dia tidak berusaha mencari atau menghubungiku sama sekali. Ck ck ck... jangan-jangan dia sudah lupa dengan keberadaanku. Benar-benar...." Alaya berkata sambil tersenyum kecil, mengingat bagaimana sifat Enxo yang seringkali membuatnya tertawa geli dan lupa dengan masalah yang dihadapinya karena kekonyolan pangeran Adalvino yang satu itu.
"Oke...." Alaya berkata sambil sedikit membusungkan dadanya.
"Aku akan pergi sekarang. See you next time...." Alaya berkata sambil membalikkan tubuhnya, menjauhi kaca yang barusan dia gunakan untuk merias diri.
Lalu dengan sikap santai, Alaya berjalan ke arah pintu kamar hotelnya sambil menarik koper berisi pakaian dan barang-barangnya yang lain.
"Aduh...."Alaya yang baru saja berniat melewati pintu kamar itu langsung terpekik pelan karena terkejut, begitu menyadari dia sudah menabrak seseorang yang sedang berdiri di depan pintu, seseorang yang baru saja berencana untuk mengetuk pintu kamar itu.
Dan keterkejutan Alaya semakin menjadi begitu melihat siapa orang yang sudah tanpa sengaja ditabraknya barusan, sehingga dia harus mengusap-usap keningnya yang terasa sedikit sakit karena menabrak dada bidang orang yang ada di depannya sekarang.
"Duke Evan...." Dengan suara pelan, Alaya berbisik dengan sura tertahan begitu melihat sosok Evan yang berdiri tegak di depan pintu, dengan wajahnya yang juga kaget karena Alaya yang menabraknya barusan.
Karena rasa kagetnya setelah melihat sosok Evan yang berdiri di depannya secara tiba-tiba, tanpa sadar Alaya secara reflek melepaskan pegangan tangannya pada tas yang tadinya dipegang erat oleh Alaya.
__ADS_1
"Selamat sore, my perincess." Evan yang lebih dahulu bisa menguasai rasa kagetnya langsung menyapa Alaya dengan lembut dan tanpa aba-aba, apalagi ijin dari Alaya, Evan langsung melangkah maju, tepat di hadapan Alaya, sehingga dengan spontan Alaya melangkah mundur dengan wajah bingung, dengan mata menatap ke arah Evan.
Tanpa perduli entah Alaya mengijinkannya atau tidak, dengan langkah mantap Evan kembali melangkah maju hingga tubuh Alaya masuk kembali ke dalam kamar hotel, dan begitu Evan yang terus melangkah maju juga sepenuhnya masuk ke dalam ruangan kamar itu, Evan menggerakkan tangannya ke belakang, dan menutup pintu kamar hotel itu, membuat mata Alaya terbeliak kaget, dan dadanya berdebar dengan begitu kencang karena tindakan Evan barusan