
"Hari ini untuk pertama kalinya aku berbagi tempat tidur dengan seorang gadis, dan gadis itu adalah istriku. Aku harap kamu tahu betapa aku sangat bahagia bisa menikah denganmu. Aku sengaja menyelesaikan segala sesuatunya dengan cepat hari ini, agar aku bisa segera menemanimu di sini." Evan kembali mengucapkan kata-katanya, seolah Alaya sedang mendengar dan menatap ke arahnya.
"Aku akan berganti pakaian sebentar, dan segera menemanimu. Tunggu aku ya..." Evan mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman mesra, untuk kemudian dia segera berjalan ke arah walk in closet miliknya untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berganti pakaian, Evan mengambil posisi duduk dengan kaki berselonjor tepat di samping Alaya.
“Hari ini aku sangat sibuk. Setelah pernikahan kita, aku banyak berbincang dengan kakakmu Alvero. Jika ada waktu,, ke depannya kita harus sering-sering mengunjungi mama Larena. Apa kamu tahu, mama Larena sangat menunggu kamu bangun dari tidurmu. Ah… kamu pasti bosan mendengar semua orang memintamu bangun. Aku akan menceritakan hal lain agar kamu tidak bosan.” Evan berkata sambil mengulurkan tangannya, membenarkan letak tangan Alaya yang tadinya berada di samping tubuhnya, menjadi di atas perutnya.
Evan sengaja melakukan itu karena takut kalau-kalaiu nanti saat dia tidur di samping Alaya nanri, secara tidak sadar dia menindih tangan Alaya dengan tubuhnya.
Setelah memindahkan tangan Alaya di atas perutnya, Evan mengelus-elus pelan tangan itu sebelum dia akhirnya menarik nafas dalam-dalam, meraih handphone di tangannya, membuka layarnya, dan mengarahkannya pada posisi diantara dia dan Alaya, seolah Alaya sedang ikut melihat layar handphonenya, menunjukkan foto-foto Hector yang sedang berlibur di Gracetian.
“Lihat berita heboh hari ini my princess. Besok kakakmu Alvero akan bertemu dengan putra mahkota Hector, dan juga duke Hugo. Aku senang sekali kita sudah menikah, sehingga mereka berdua tidak memiliki kesempatan untuk merebutmu dariku lagi. Eh… aku lupa mengatakan padamu, tentang mata-mata yang membuat putra mahkota Christopher tahu kalau aku adalah calon suamimu waktu itu sehingga dia sengaja menciptakan halangan-halangan di jalan agar aku tidak bisa datang ke istana waktu itu….” Evan menghentikan bicaranya sebentar dengan tangannya bergerak merapikan rambut yang ada di kening Alaya, agar tidak menutupi kening dan matanya.
Beberapa saat kemudian, Evan sibuk menceritakan tentang apa yang sudah dibicarakannya bersama dengan Alvero tadi.
Evan menceritakan semuanya, seolah Alaya benar-benar hanya sedang tidur-tiduran di sampingnya, mendengarkan ceritanya.
“Good night my princess, have a sweet dream….” Setelah lelah berceita, Evan mencium lembut kening Alaya, membenarkan letak selimut yang dikenakan Alaya, kemudian berbaring di samping Alaya dengan posisi miring, menghadap ke arah Alaya.
__ADS_1
Beberapa kali Evan mengelus rambut Alaya, sebelum akhirnya gerakan tangan Evan melemah, dan laki-laki tampan itu tertidur dengan memeluk tubuh istrinya.
# # # # # # #
“Bangun atau aku akan memukulmu!”
“Lihat! Anak haram ada di sini!”
“Sudah anak haram, mamanya juga kurang waras!”
“Kamu memang tidak tahu malu!”
“Kamu membuat sekolah elite ini rusak gara-gara ada anak tidak jelas asal usulnya masuk ke sini!”
“Akh!” Dengan kaget Alaya langsung memnuka matanya lebar-lebar, menatap lurus ke arah langit-langit ruangan tempatnya berbaring.
“Untung hanya mimpi….” Alaya berbisik pelan, berusaha mengumpulkan kekuatannya kembali, karena setelah cukup lama tidak sadarlkan diri, tubuh Alaya terasa lemas.
“Eh… dimana ini?” Alaya yang mulai tersadar dengan kondisinya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai mengamati sekelilingnya.
__ADS_1
Dan Alaya harus mengakui, ruangan yang dia tempati sekarang, merupakan sebuah kamar tidur mewah, yang bahkan tidak kalah indah dengan kamarnya di istana, meskipu desainnya berbeda dengan kamar yang dia miliki di istana.
“Apa ini rumah sakit? Tapi mana ada kamar rumah sakit seindah dan semewah ini?” Dengan suara bertanya-tanya, Alaya berusaha menggerakkan tubuhnya agar bisa duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidur.
Alaya masih berusaha mengenali ruangan yang sekarang dia tempati ketika dirasakan lapar yang luar biasa menguasai dirinya saat ini, apalagi tepat di samping tempat tidurnya, ada meja makanan dorong yang memang berisi penuh dengan makanan.
Sejak Alaya dirawat di rumahnya, Evan memang meminta kepada para pelayan untuk selalu menyiapkan makanan di samping tempat tidur Alaya, baik pagi siang dan malam, untuk berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Alaya terbangun dari tidurnya dan merasa lapar, karena Evan tahu kalau istrinya itu adalah penyuka makanan dan tidak tahan lapar, dan dia sudah pernah membuktikan sendiri tentang hal itu, ketika Alaya pura-pura sakit untuk memnbuat pertemuan keluarga besar Carsten dan Adalvino dibatalkan.
Waktu itu, karena tidak bisa menahan dirinya untuk bisa menikmati makanan enak yang dibawa oleh Evan, pada akhirnya Alaya menyerah untuk bersandiwara, lebih memilih untuk menikmati semua makanan kesukaannya waktu itu.
Meskipun makanan itu tidak tersentuh sama sekali karena Alaya memang masih belum sadarkan diri, Evan selalu meminta agar pelayan mengganti semua makanan itu sehari 3 kali dengan makanna baru dan segar.
Dengan gerakan perlahan, karena kondisi tubuhnya yang masih merasa lemas, Alaya menggerakkan kedua kakinya, untuk bisa duduk di pinggiran tempat tidur, sambil menapakkan kakinya di lantai.
Dan begitu Alaya melihat adanya sandal tergeletak di lantai dia langsung memakainya, karena udara cukup dingin hari ini.
“Apa aku alergiku cukup parah? Sampai aku diinfus segala?” Alaya berkata sambil mencabut jarum selang infus yang menancap di tangannya.
“Lebih baik aku makan dulu. Sepertinya otakku jadi tumpul karena lapar. Setelah ini, aku baru akan mencari tahu apa yang terjadi, dan dimana ini.” Alaya bergumam pelan sebelum akhirnya menikmati semua suguhan makanan enak itu, tanpa perduli dengan sekelilingnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
“Ah… kenyang sekali….. benar-benar enak dan membuatku bertenaga kembali. Aku harus berterimakasih kepada yang menyediakan semua makan enak ini. Dia sepertinya benar-benar mengerti tentang selera makananku.” Alaya berkata sambil membersihkan mulutnya dari sisa makanan yang baru saja dinikmatinya.
Setelah menyingkirkan meja makanan dorong itu ke samping agar tidak menghalangi jalannya, Alaya langsung bangkit dari duduknya, dan mulai mengamati sekelilingnya dengan seksama.