
“Daripada kamu mengomel dan membuat telingaku sakit. Lebih baik kamu seperti rencanamu tadi, segera kembali ke kamarmu.” Dengan nada suara dan sikap tidak perduli, Alvero berkata sambil menggandeng tangan Deanda, bersiap untuk kembali ke kamar mereka juga.
Enzo hanya bisa meringis melihat bagaimana acuh tak acuhnya Alvero padanya, dan justru sibuk mencurahkan perhatiannya pada Deanda.
“Kalau begitu, selamat malam semuanya. Aku harus pergi sekarang.” Evan berkata sambil melirik ke arah Alaya yang tampak melamun.
“Aku pulang dulu.” Evan berkata pelan ke arah Alaya yang tampak kaget begitu sadar Evan sedang mengajaknya bicara.
Haruskah kamu pergi sekarang? Padahal kita baru saja bersama dalam hitungan jam saja.
Dalam hati Alaya bertanya dengan sikap tidak rela melepas kepergian Evan, sedangkan mereka baru saja sama-sama merasakan indahnya kebersamaan mereka kembali setelah sekian lama Evan melupakannya.
Apalagi, keindahan, kenikmatan, rasa bahagia yang sulit diungkapkan oleh Alaya dengan sekedar kata-kata, karena percintaan mereka tadi sore, sama seperti yang dialami Evan, masih terus terbayang di benak Alaya, dan dengan jujur, Alaya masih begitu ingin menikmati hal itu.
“Eh…. Iya….” Tapi yang keluar dari bibir Alaya justru ijin kepada Evan untuk pergi meninggalkannya sementara waktu ini, karena rencana Evan yang memang ingin menjebak Hugo dan Kattie dengan berpura-pura hubungan pernikahannya dengan Alaya masih bermasalah.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan….” Sebuah kalimat pendek kembali terucap dari bibir Alaya pada Evan yang langsung menyungingkan senyumnya sambil memandang ke arah Alaya tanpa bosan-bosannya, menunjukkan bahwa Evan juga merasa begitu berat melepaskan Alaya malam ini, berpisah dari sosok istri yang begitu dicintainya itu.
Meskipun Deanda bisa menangkap aura rasa tidak rela melepaskan Evan dari wajah dan gerak tubuh Alaya yang tidak juga melepaskan tangan Evan yang sedang menggenggam tangannya saat ini, tapi Deanda memilih untuk diam, karena semuanya sudah diputuskan dalam pembicaraan mereka tadi, bahwa untuk malam ini, Evan akan tinggal di kediaman Carsten, sedang Alaya tetap tinggal di istana, karena mereka yakin, setiap pergerakan Evan dan Alaya, sedang diawasi oleh Hugo dan mungkin juga Christopher yang dengan berbagai alasannya, masih tinggal di Gracetian.
Meskipun sebenarnya Alvero sudah begitu ingin mengusir putra mahkota dari Rodfeel yang baginya sangat menyebalkan dan merepotkan itu dari Gracetian, tapi sayangnya untuk saat ini, Alvero belum bisa melakukan itu karena orang di luar sana, belum tahu tentang bagaimana perilaku buruk Christopher.
Kasihan mereka berdua. Baru saja rujuk dari salah paham yang sudah terjadi, dan merasakan kebahagiaan mereka, tapui mereka berdua harus berpisah malam ini. Apa aku perlu meminta yang mulia untuk membantu mereka agar rencana Evan mengelabui musuh bisa tetap berjalan tanpa harus membuat mereka berpisah?
Deanda berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alvero yang berjalan di sampingnya, tanpa sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada Deanda.
# # # # # #
Sebuah pesan masuk di handphone Alaya dari Evan yang baru saja berjalan keluar dari pintu gerbang istana, bahkan belum sampai masuk ke dalam mobilnya, membuat senyum lebar langsung tersungging di bibir Alaya yang kepalanya tertunduk, dengan mata fokus pada layar handphonenya.
“Baru saja berpisah, belum ada 3 menit, kamu dan Evan sudah saling bertukar pesan. Apa sudah begitu saling merindukan sampai seperti itu?” Pertanyaan dari Alvero yang sejak tadi memang mengamati apa yang terjadi antara Alaya dan Evan, membuat Alaya tersentak kaget, dan langsung mendongakkan kepalanya kembali, memandang ke arah Alvero yang sedang berjalan beriringan dengan Alaya.
__ADS_1
“Eh… bukan begitu….” Alaya berkata sambil melirik ke arah lain, dimana Enzo sudah berada jauh di depan mereka, berjalan dengan sedikit terburu-buru, karena dia baru saja menerima pesan dari Melva, meminta agar Enzo menghubunginya jika sudah ada waktu, karena ada beberapa hal yang ingin didiskusikan Melva dengan Enzo tentang persiapan pernikahan mereka yang akan diadakan tidak lama lagi.
Untung saja kak Enzo sudah tidak ada di sini. Kalau tidak aku pasti akan menjadi bulan-bulanan olok-olok kak Enzo.
Alaya berkata dalam hati dengan sedikit menarik nafas lega, karena bagaimanapun, Alvero mungkin akan menggodanya, tapi bukan dengan cara yang sama dengan Enzo yang biasanya sampai membuat orang lain kehabisan kata-kata dengan wajah menahan malu.
“Kalau bukan dengan Evan, dengan siapa lagi kamu saling berkirim pesan sampai kehilangan fokus dalam berjalan? Belum lagi, senyum bahagiamu itu, tidak bisa menipu bahwa kamu baru saja mendapatkan pesan dari orang yang kamu cintai.” Dengan nada serius, tapi begitu mengena, Alvero berkata kepada Alaya yang memang pada akhirnya tidak bisa lagi menyanggah perkataan Alvero.
“My Al… jangan mempersulit Alaya. Kondisi Alaya sekarang sudah cukup sulit. Baru saja menikah dan menemukan kembali kebahagiaannya setelah Evan mengingatnya, tapi sudah harus berpisah dari Evan.” Deanda dengan sikap bijaksana mencoba menghentikan sikap Alvero yang kata-katanya terdengar memojokkan Alaya.
“Apalagi, alasan kenapa Evan dan Alaya harus berpisah malam ini, bukanlah kesalahan Alaya maupun Evan, tapi kondisi yang memang tidak berpihak kepada mereka saat ini.” Perkataan yang ditambahkan oleh Deanda, membuat Alvero terdiam, tidak jadi melanjutkan kata-kata yang ingin dia ucapkan pada Alaya, meskpun itu untuk sekedar menggoda Alaya.
“Kalau kamu dalam posisi Evan atau Alaya, belum tentu kamu mau berpisah seperti itu. Bukankan begitu my Al?” Deanda berkata sambil tersenyum, karena dia begitu tahu bahwa seorang Alvero yang begitu mencintainya dengan sikap posesif dan over protektifnya, bahkan akan kesulitan untuk tidur jika tidak memeluk tubuh Deanda, dan tangannya yang seringkali selalu bermain-main di kedua bukit kembar Deanda, entah memijit, mengelus atau memainkan ujungnya, sampai Alvero tertidur pulas.
Sebuah kebiasaan yang mungkin bagi beberapa orang terdengar aneh, tapi itulah yang seringkali terjadi diantara Alvero dan Deanda, rutinitas Alvero sebelum tidur, hingga dia bisa tidur dengan begitu nyenyak, karena dirinya tahu dengan pasti, wanita yang begitu dicintainya berada dalam pelukannya sepanjang malam itu.
__ADS_1
“Kalau aku dalam posisi Evan, aku akan mencari cara agar rencanaku terhadap musuh tetap berjalan sesuai dengan rencana, tapi tidak mengganggu kebahagiaanku. Yang pasti, aku tidak akan berdiam diri dan menunggu nasib atau keberuntungan menghampiriku.” Dengan sikap percaya diri, Alvero berkata, menjawab pertanyaan Deanda yang hanya bisa meringis tanpa berani membantah apa yang dikatakan oleh Alvero tentang hal itu.
NOTE: Untuk pembaca tercinta, author mohon maaf karena up episode baru hari ini betul-betul terlambat. Selamat menikmati cerita dari novel Another Cinderella, semoga para pembaca tetap menjadi pendukung setia novel ini dan author. Terimakasih untuk dukungannya, happy reading all.