
“Oke kalau begitu, saya juga tidak akan mengganggu waktu Putri untuk menikmati waktu Putri. Sebentar, saya akan cari Alea untuk bisa menemani Putri.” Red langsung menjawab perkataan Alaya, sambil ikut bangkit berdiri mengikuti gerakan Alaya.
“Jangan Uncle Red. Biarkan saja Alea menghabiskan waktunya dengan Rock. Toh, mereka sudah lama tidak bertemu, dan kebetulan hari ini Rock tidak sedang bertugas kemanapun.” Alaya langsung menolak ide dari Red.
“Apa Putri Alaya yakin?” Red langsung bertanya.
“Tentu saja, kenapa tidak? Toh semua penghuni Goldie Tavisha sudah mengenalku, seperti mengenal kak Deanda dan kak Alvero. Aku juga sudah mulai hafal jalan-jalan yang ada di Goldie Tavisaha.” Perkataan Alaya akhirnya membuat Red mengalah dan membiarkan Alaya pergi sendiri saja.
Meskipun pada akhirnya beberapa orang yang bertemu dengan Alaya di jalanan Goldie Tavisha, akhirnya menemani Alaya berjalan-jalan sambil mengobrol santai dengannya, sebuah kesempatan langka bagi orang-orang yang tinggal di Goldie Tavisha untuk bisa bertemu dan mengobrol dengan keluarga kerajaan Gracetian.
Karena meskipun beberapa kali Deanda maupun Alvero berkunjung ke Goldie Tavisha, tapi mereka sibuk dengan urusan mereka dengan Red, sehingga tidak ada kesempatan bagi yang lain berbincang-bincang dengan kedua orang yang sekarang memiliki kedudukan tertinggi di Gracetian itu.
Cukup lama Alaya menghabiskan waktunya dengan mereka para penduduk Goldie Tavisha, sampai akhirnya dia mohon pamit kepada mereka, untuk dia mengunjungi rumah pohon milik Deanda.
Untuk kali ini, karena rumah pohon itu sebelumnya juga merupakan daerah pribadi Deanda, Alaya tentu saja tidak berani membiarkan orang lain untuk ikut dengannya untuk masuk ke area rumah pohon itu.
__ADS_1
Sosok Deanda yang dikenal dengan sebutan dewi perang Goldie Tavisha saja sudah membuat semua warga di sana begitu menghormatinya, apalagi sekarang dia menjadi seorang permaisuri Gracetian, tentu saja semua orang di Goldie Tavisha, selain bangga padanya juga semakin menghormatinya dengan sepenuh hati.
“Ck ck ck ck ck.” Begitu memasuki rumah pohon Deanda, Alaya langsung menatap sekeliling tuangan itu, yang dipenuhi dengan semua hal yang berbau Alvero, bibir Alaya langsung berdecak kecil dengan kepala yang dia geleng-gelengkan, lalu mencibirkan bibirnya dengan sikap geli.
“Aku baru tahu ada orang yang menggilai kakakku Alvero sampai seperti ini. Kak Deanda pasti benar-benar fans paling fanatik yang dimiliki oleh kak Alvero.” Alaya berkata pelan, sambil berjalan ke arah jendela rumah pohon, dan membukanya dengan hati-hati, lalu duduk di sana sambil menyandarkan tubuhnya di bagian kusen jendela itu.
(Untuk meletakkan daun pintu atau daun jendela pada dinding, dipasang rangka yang disebut kusen, kusen untuk tempat tinggal terbuat dari kayu atau logam. Kusen kayu memberikan penampilan yang hangat dan indah dari tampilan tekstur serat-serat kayu yang dimilikinya, mempunyai nilai penyekat panas yang baik dan pada umumnya tahan terhadap pengaruh cuaca. Rangka jenis ini dapat berupa produk pabrik yang telah diselesaikan dengan pelapisan cat, pewarnaan atau masih berupa kayu asli tanpa pelapisan.
Kusen dari bahan logam berbeda dari kayu, kusen logam tidak terpengaruh bila basah, kusen logam ini tidak memiliki kehangatan dalam penampilan dan memberikan daya tahan yang kecil terhadap perpindahan panas. Kusen logam dapat terbuat dari alumunium, baja atau baja tak berkarat (stainless-steel), warna alami logam dapat ditutup dengan lapisan cat dan dirawat dengan baik untuk mencegah korosi).
“Dan mungkin, aku dan duke Evan, tidak akan kalah bahagianya jika duke Evan menjadi pria yang menepati janjinya padaku.” Alaya berkata sambil menahan nafasnya, sekaligus menahan debaran di hatinya, yang selalu bergejolak setiap dia mengingat tentang Evan, setiap detiknya.
Mengingat tentang Evan hari ini, membuat ingatan Alaya kembali pada beberapa tahun lalu, ketika dia bahkan masih berusia remaja, saat dimana suatu peristiwa yang terjadi, membuat untuk pertama kalinya dia dan Evan bertemu di luar negeri, negara dimana Alaya tinggal selama ini (anggapan pribadi Alaya tentang Evan, padahal sebelumnya mereka pernah bertemu ketika Alaya masih kecil).
Hari itu merupakan hari dimana Alaya bertemu dengan sekelompok pemuda yang sedang membullly para teman-teman gadisnya, dan bahkan meminta uang kepada mereka, di salah satu sisi parkiran sebuah mall yang tampak sepi dan posisinya terlihat sedikit tersembunyi karena adanya pepohonan dan satu bangunan kecil yang merupakan bangunan genset, dan di sampingnya terdapat ruangan kecil untuk gudang.
__ADS_1
(Genset adalah akronim dari “Generator set”, yaitu suatu mesin atau perangkat yang terdiri dari pembangkit listrik (generator) dengan mesin penggerak yang disusun menjadi satu kesatuan untuk menghasilkan suatu tenaga listrik dengan besaran tertentu. Generator set yang biasa digunakan sebagai solusi ketika padam listrik atau ketika mengalami black out.).
Alaya memang tidak terlalu dekat dengan teman-teman gadisnya itu, karena mereka berbeda kelas, tapi melihat dari seragam yang dikenakan oleh para gadis remaja itu, Alaya bisa memastikan kalau para gadis itu adalah teman-teman satu sekolahnya.
“Hei, kalian! Hentikan itu!” Tiga pemuda dengan penampilan preman itu langsung menoleh dengan kaget ketika mendengar teriakan dari Alaya.
Tapi begitu melihat yang baru saja berteriak pada mereka adalah seorang gadis remaja berwajah cantik dengan pakaian seragam sama dengan dua gadis yang sedang dipalak oleh mereka, ketiga pemuda itu langsung saling berpandangan dan langsung saling memberikan kode melalui gerakan kepala dan kerlingan mata mereka sambil tersenyum dengan wajah menyeringai.
“Kenapa harus berhenti? Kan kamu baru saja datang? Mari bergabung.... Ayo kita lanjutkan….” Salah satu dari pemuda itu berkata sambil mendekat ke arah Alaya dengan sikapnya yang percaya diri sekaligus mata yang menatap Alaya dengan sikap kurang ajar.
Melihat sikap pemuda itu, Alaya langsung menghembuskan nafasnya melalui sela-sela bibirnya, sambil menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak terasa gatal, karena dia merasa muak dan sebal dengan sikap kurangajar pemuda yang terlihat begitu meremehkannya itu.
Apa mungkin karena aku hanya seorang gadis dianggap sebagai makhluk yang lemah sehingga pantas disepelekan? Benar-benar tidak tahu diri.
Alaya berkata dalam hati sambil memandang tajam ke arah pemuda yang sedang memandangnya dengan tatapan yang membuatnya bertambah kesal itu.
__ADS_1
Dan begitu pemuda itu berada dalam jangkauan kakinya, dan tangannya terlihat berencana bergerak untuk menyentuh wajah Alaya yang cantik… dengan gerakan yanga sangat cepat dan tidak terduga, Alaya tiba-tiba melompat dan membuat gerakan kaki melingkar, yang akhirnya menendang tepat di perut pemuda itu, membuat tubuh pemuda itu langsung mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang kesakitan.