Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
KAPAL PECAH


__ADS_3

“Aku akan menghubungi nyonya Rose agar dia mengaturkan makan siang kita di kamar.” Dengan sikap bersemangat sambil meraih handphonenya, Alaya berkata kepada Evan yang lebih memilih diam sambil tersenyum, membiarkan Alaya melakukan apa yang diinginkannya tanpa berusaha untuk mencegahnya.


Nyonya Rose sendiri begitu mendengar perkataan Alaya yang meminta makan siangnya dan Evan dikirim ke kamar hanya bsia tersenyum, apalagi Alaya berkali-kali menegaskan agar nyonya Rose sendiri yang mengantarnya, tidak boleh ada pelayan lain yang masuk ke kamar yang mereka tempati.


Pasti mereka berdua tidak ingin pelayan lain melihat bagaimana sisa-sisa perbuatan mereka semalam. Aku sudah melihat bagaimana yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda ketika baru menikah, bahkan sampai sekarang permaisuri tidak mau para pelayan membantunya mandi untuk sementara waktu ini. Itu pasti pemaisuri tidak ingin orang lain mengetahui bukti perbuatan yang mulia Alvero pada tubuhnya. Sepertinya akan bertambah satu lagi pasangan yang seperti yang mulia dan permaisuri di sekitarku. Belum lagi, sebentar lagi pangeran Enzo akan menikah kekasihnya.


Nyonya Rose hanya bisa berkata dalam hati dengan perasaan geli, tanpa mengetahui bahwa mereka bahkan kembali mengulanginya pagi tadi, tanpa merasa lelah.


Dengan langkah-langkah bergegas, nyonya Rose berjalan sambil mendorong meja makanan dorong berisi penuh dengan makanan yang kebetulan sudah selesai dan siap dihidangkan meskipun masih ada waktu lebih dari 30 menit sebelum jam makan siang.


# # # # # # #


“Evan… itu pasti nyonya Rose. Biar aku yang bukakakan pintu….” Alaya langsung berkata begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dari arah luar.


“Kenapa? Biar aku saja….” Evan berkata sambil mencekal pergelangan tangan Alaya yang sudah melompat turun dari tempat tidur dan berdiri di samping tempat tidur.


“Tidak boleh, karena aku tidak mau priaku dilihat orang lain dengan tanda ini.” Alaya berkata kepada Evan sambil menunjuk ke leher Evan dengan sikap protektif, membuat Evan langsung tersenyum melihat bagaimana istrinya ternyata orang yang begitu over protektif terhadap prianya, tidak heran karena itu, begitu mendengar Evan pernah menyukai Deanda membuat Alaya sangat marah dan kecewa.


“Oke… sesuai keinginanmu my princess….” Evan berkata sambil ikut turun dari tempat tidur, membuat Alaya mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Apa aku juga tidak boleh ke kamar mandi?” Evan bertanya dengan senyum gelinya, membuat Alaya yang berpikir Evan ingin tetap ikut menemui nyonya Rose jadi tersenyum malu.


Akhirnya tanpa menunggu jawaban dari Alaya, Evan langsung berjalan kea rah kamar mandi, arah yang berlawanan dengan Alaya yang berjalan ke arah pintu kamar, meskipun sebenarnya Evan sengaja melakukan itu agar Alaya merasa lega dia tidak ada alasan untuk menemui nyonya Rose.


“Selamat siang Nyonya Rose….” Dengan wajah cerianya, Alaya langsung menyapa nyonya Rose yang ada di balik pintu, dengan meja makanan dorong di depannya.


“Mmmm… bau yang lezat.” Alaya langsung menghirup nafas dalam-dalam sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya, membiarkan nyonya Rose membawa masuk makan siang untuknya.


“Menu apa yang dibuat untukku siang ini nyonya Rose?” Alaya berkata sambil membuka tudung saji secara bergantian.


Nyonya Rose sendiri terlihat menelan ludahnya dengan susah payah begitu melihat bagaimana berantakannya tempat tidur di kamar itu.


Sebenarnya Evan yang terbiasa rapi dan hidup teratur ingin merapikan tempat tidur yang begitu berantakan setelah mereka puas bercinta tadi pagi, akan tetapi dengan manjanya Alaya langsung mencegahnya, karena baginya, Alaya yang biasanya juga menyukai kerapian, pagi ini terasa begitu malas beranjak dari tempat tidur.


Yang ingin dilakukan oleh Alaya sepanjang hari ini hanya bermalas-malasan dan menikmati waktu berduanya dengan Evan sambil sesekali menerima perlakukan mesra dan cumbuan dari Evan, tanpa mengerjakan hal yang lainnya.


“Semua masakan ini sungguh menggugah selera.” Alaya berkata tanpa memperdulikan nyonya Rose yang akhirnya tidak tahan juga melihat penampilan acak-acakan dari tempat tidur yang sebenarnya milik Alvero itu, sehingga langsung bergerak ke arah sana dan mulai merapikan tempat tidur itu.


Yang dilakukan oleh nyonya Rose pertama kalinya adalah membungkukkan tubuhnya untuk mengambil sebuah bantal yang terlempar jatuh ke lantai, lalu mengambil satu bantal lagi yang terlempar jatuh dengan posisi yang cukup berbeda jauh dengan yang pertama.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh duke Evan dan duchess Alaya? Seberapa aktifnya mereka melakukannya sampai bantal-bantalpun jadi korban? Berserakan dimana-mana. Meskipun intensitas kegiatan ranjang yang dilakukan oleh yang mulia Alvero dan permaisuri mungkin tidak kalah seringnya dengan mereka berdua, tapi baru kali ini aku melihat parahnya kondisi tempat tidur seperti ini.


Nyonya Rose berkata dalam hati tanpa memperdulikan Alaya yang sedang melihat apa yang dilakukannya dengan wajah sedikit memerah.


“Nyonya Rose, biarkan saja. Nanti aku sendiri yang akan membereskannya.” Alaya berkata sambil berjalan mendekat ke arah nyonya Rose yang tangannya masih sibuk bergerak kesana kemari merapikan sprei tempat tidur setelah mengebaskannya.


“Aduh Duchess Alaya, tidak perlu sungkan. Biarkan aku merapikannya, daripada nanti dirapikan orang lain. Lagipula bukankah lebih nyaman menggunakan tempat tidur yang sudah dirapikan kembali?” Pertanyaan dari nyonya Rose sukses membuat wajah Alaya semakin memerah, meskipun sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan oleh nyonya Rose.


Maksud nyonya Rose, tentu saja orang lebih nyaman tidur di tempat tidur yang bersih dan rapi. Sayangnya pikiran Alaya yang memang sedang dipenuhi dengan hal-hal intim dengan Evan langsung memikirkan hal lain atas perkataan nyonya Rose barusan.


“Duchess Alaya, sebenarnya sedari pagi yang mulia Alvero mencari Anda dan duke Evan. Beliau terpaksa menghubungi saya sampai berkali-kali karena tidak bisa menghubungi nomer telepon Anda dan duke Evan.” Alaya yang berniat menjawab perkataan nyonya Rose sebelumnya langsung terdiam dan mengernyitkan dahinya.


“Ah… ya ampun Nyonya Rose, sepertinya aku lupa mengisi ulang daya baterai handphoneku. Dan handphone milik duke Evan, sepertinya dalam kondisi mode silent….” Alaya berkata dengan nada malu-malu, membuat nyonya Rose jadi tersenyum geli.


“Saya maklum sekali, karena ini adalah masa bulan madu Anda berdua. Sudah seharusnya yang mulia Alveropun tidak mengganggu waktu bulan madu Anda sekalian. Sayangnya ada berira penting yang ingin disampaikan oleh yang mulia Alvero untuk Anda dan duke Evan….”


“Memang ada apa nyonya Rose? Kenapa kak Alvero sampai ngotot ingin berbicara dengan kami berdua?” Alaya berkata sambil berdiri tepat di samping nyonya Rose yang tampak menepuk-nepuk bantal yang sedang dia rapikan di atas tempat tidur.


“Yang mulia Alvero berencana mengajak tuan Ornado dan rombongannya yang berkunjung ke Gracetian mampir ke penthouse ini untuk menemui duchess Alaya dan duke Evan.” Mata Alaya langsung membulat sempurna mendengar perkataan dari nyonya Rose.

__ADS_1


Dengan kondisi kulitnya yang sudah seperti macan tutul, Alaya merasa benar-benar cari mati jika sampai James yang sifatnya sangat mirip dengan Enzo bertemu dengannya.


__ADS_2