
"Duke Evan sedang melihat-lihat kamar utama. Saya sengaja meninggalkan beliau di sana, karena perintah dari yang mulia Alvero, mengatakan kalau saya harus mengantarkan duke Evan ke sana sebelum pergi." Erich berkata sambil matanya melirik ke arah kamar utama penthouse yang berada di salah satu sisi bangunan itu.
Meskipun sebenarnya Alaya juga sudah tahu letak posisi kamar utama milik Alvero, tapi dia tidak pernah tahu bagian dalamnya dengan detail, karena dia seringkali lebih memilih menikmati kunjungannya di penthouse ini dengan bersantai di rooftoop garden yang bagi Alaya terasa sangat nyaman.
(Rooftop garden adalah sebuah taman yang berada pada bagian atap bangunan yang umumnya dibuat untuk menciptakan kesan hijau dan memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal. Sebetulnya konsep roof garden ini sudah lama ada, jika kita mengingat buku sejarah salah satu dari keajaiban dunia adalah taman gantung babylonia yaitu taman gantung dimana taman tumbuh di teras dan balkon istana. Konsep roof garden sudah lama bergaung di Indonesia seiring dengan konsep green design untuk menangkal pemanasan global.
Roofftop garden atau taman atap, selain manfaat dekoratif, penanaman atap dapat menyediakan makanan, kontrol suhu, manfaat hidrologi, peningkatan arsitektur, habitat atau koridor satwa liar, peluang rekreasi, dan dalam skala besar bahkan mungkin memiliki manfaat ekologis.
Menurut Holladay (2006) manfaat Roof Garden adalah Menurunkan suhu, mengurangi polusi udara, vegetasi pada taman atap dapat mengubah polutan (toksin) di udara menjadi senyawa berbahaya melalui reoksigenation, menstabilkan jumlah gas rumah kaca (karbon dioksida) di lingkungan sehingga menekan efek rumah kaca, mengurangi efek radiasi panas dari matahari dan dari dinding tanah (panas efek pulau), konservasi air, taman atap dapat menyimpan sebagian besar air berasal dari air hujan sehingga menyediakan mekanisme evaporasi-transpirasi yang lebih efisien, mengurangi polusi suara / kebisingan.
Roof Garden memberikan aspek pembangunan keindahan yang terlihat lebih hidup, indah, dan nyaman, meningkatkan keanekaragaman hayati keragaman kota).
Rooftoop garden yang ada di penthouse ini merupakan tempat favorit bagi Alaya untuk mengambil waktu santai sambil menikmati keindahan dan kesejukan taman yang ada di temapt itu, yang kadang membuat orang tidak sadar bahwa taman seindah dan seasri itu ada di bagian paling atas atap gedung yang tinggi.
"Duchess Alaya, kami berdua akan segera kembali ke istana, karena masih ada beberapa hal yang harus kami kerjakan." Ernest langsung berpamitan kepada Alaya yang dari wajahnya, sudah menunjukkan aura bagaimana dia terlihat begitu tidak sabar untuk bertemu Evan.
"Oke. Kalau begitu aku akan menyusul duke Evan...." Alaya berkata tanpa menoleh sedikitpun ke arah Erich maupun Ernest, dan langsung melangkah pergi ke arah kamar utama bangunan penthouse itu.
__ADS_1
Tentu saja Anda harus menyusul duke Evan yang mungkin juga sedang tidak sabar menunggu kehadiran duchess Alaya di sampingnya. Selamat menikmati masa bulan madu Anda berdua. Selamat berbahagia atas penikahan anda berdua duchess Alaya.
Ernest berkata dalam hati, ikut merasa lega pada akhirnya pernikahan kedua orang penting itu bisa berjalan dengan semestinya seperti pernikahan normal, setelah harus melewati kejadian yang sudah seperti drama televisi.
Setelah itu tanpa mengeluarkan kata-kata, Ernest menarik lengan Erich, mengajaknya untuk segera kembali ke istana, membiarkan Alaya yang melangkah ke dalam kamar utama sambil tersenyum-senyum sendiri.
# # # # # #
Wah... selera Alvero dalam mendesain interior kamar ini sungguh menunjukkan kalau dia adalah orang yang benar-benar berkelas, seorang raja sebuah kerajaan besar yang kaya raya. Siapapun orang yang melihat desain kamar ini, akan bisa langsung menilai bahwa pemilik penthouse ini adalah orang yang sangat kaya raya dan berkuasa.
Sebuah suara pintu yang dibuka, membuat Evan dengan sikap siaga langsung mendekat kesana sambil mengamati siapa yang datang, suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi Evan dengan insting kuatnya sebagai orang yang terbiasa terjun langsung saat menghadapi bahaya.
Alaya sendiri tampak dengan sikap ragu-ragu membuka pintu kamar utama itu dan mulai melangkah masuk.
Dan begitu Alaya yang juga termasuk orang yang waspada, melihat seseorang dengan rambut berwarna gelap, mengenakan pakaian rapi seperti seorang pengawal, langsung bersikap awas, karena selain penampilannya yang berubah total, Evan juga mengenakan topeng wajah elastis yang terbuat dari silikon tipis dan membuat wajahnya berbeda dari wajah aslinya.
"Siapa kamu?" Dengan sikap menantang, dengan cepat, tanpa berpikir panjang, Alaya langsung mendekat dengan sikap bersiap menyerang Evan yang dianggapnya orang asing, tapi dengan gerakan cepat, Evan segera menghentikan gerakan kaki Alaya yang sudah terangkat ke atas, bersiap menendangnya, menahan kaki Alaya dengan salah satu tangannya.
__ADS_1
Astaga... ternyata my princess tidak mengenaliku.
Evan berkata dalam hati sambil bergerak cepat ke belakang tubuh Alaya, dan menghentikan gerakan Alaya dengan memegang dan menahan kedua tangan Alaya dan memeluknya dengan erat.
“My princess….” Panggilan Evan dengan menggunakan panggilan kesayangannya pada Alaya membuat Alaya menoleh, dan sedikit membeliakkan matanya begitu melihat Evan melepaskan topeng wajahnya.
“Kenapa? Tidak mengenaliku?” Evan berkata sambil tersenyum, apalagi melihat penampilan Alaya yang mengenakan pakaian pelayan dengan rambutnya yang dicat, membuat Evan ingin tertawa.
Namun melihat rambut Alaya yang dikonde sederhana dan membuat leher jenjangnya terlihat begitu menggoda, membuat keinginan Evan untuk menertawakan Alaya menguap begitu saja, digantikan dengan gairah dan hasratnya yang tiba-tiba saja mengendalikan pikirannya, sehingga tanpa berpikir panjang, Evan langsung menggerakkan bibirnya ke arah leher Alaya, dan langsung mengecap leher itu, sehingga meninggalkan warna merah, padahal dengan susah payah tadi Deanda berusaha menutupi sekian banyak tanda merah di leher Alaya yang dibubuhkan Evan tadi sore.
“Kenapa kamu dengan mudah mengenaliku?” Alaya balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Evan yang sedang sibuk menciumi leher Alaya sambil memeluk tubuh Alaya dari belakang.
“Bagaimana bisa aku melupakan sosok istri yang begitu aku rindukan?” Evan berkata sambil bergerak ke arah depan tubuh Alaya, memeluknya sambil berjalan maju, sehingga Alaya mau tidak mau jadi berjalan mundur hingga tubuhnya terjatuh dam sedikit terhempas di atas tempat tidur dengan posisi terlentang dan kedua tangan berada di atas tubuhnya, dengan satu tangan Evan memegang kedua pergelangan tangan Alaya dan menahannya di atas tempat tidur.
Posisi Alaya yang juga membuat dadanya sedikit membusung karena kedua tangannya berada di atas dan memperlihatkan belahan bukit kembarnya yang naik ke atas, mengakibatkan posisinya terlihat begitu menggoda bagi Evan, membuat Evan memandangnya tanpa berkedip sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Bagi Evan saat ini, dengan pakaian pelayan yang dikenakan oleh Alaya, dan tampilan wajah dengan make up cukup tebal, justru membuat Evan merasa gemas dan terpesona, apalagi posisi berbaring Alaya sekarang membuat sebagian pakaian atasnya tersingkap, dan menunjukkan mulusnya kulit perut Alaya saat ini.
__ADS_1