
Alaya sesegera mungkin berusaha membuat Robert tidak mencurigai rencananya, karena sebenarnya Alaya sungguh takut kalau sampai ada orang yang mengira dia suka dengan Evan, atau memiliki hubungan khusus dengannya, sehingga kalau sampai ada gosip seperti itu tersebar, akan semakin sulit baginya untuk menghindari rencana perjodohannya dengan Evan.
"Ooo, iya. Kemarin malam aku sempat bertemu dengan Evan di kediamannya, karena duchess Danella, yang merupakan tanteku, mama dari duke Evan mengundangku dan istri serta anak-anakku makan malam bersama mereka. Dan Evan mengatakan kalau 4 hari lagi dia akan berangkat ke Renhil karena yang mulia Alvero meminta dia... eh maksudku duke Evan melakukan pengecekan terhadap pelatihan pasukan khusus di sana..."
"O... pelatihan yang dipimpin langsung oleh uncle Alexis ya." Alaya langsung mengomentari perkataan Robert dengan wajah terlihat bangga saat menyebutkan nama Alexis, yang baginya sudah seperti papa kandung baginya.
Karena sejak lahir, Alexis merupakan orang yang selalu menjada dan melindungi Alaya dan Larena yang sengaja melarikan diri keluar negeri, untuk menghindari kejaran dari Eliana yang beberapa kali berusah membunuhnya.
Bahkan Larena yang dalam kondisi kritis karena luka bakar yang dialaminya dan sedang mengandung Alaya pada waktu itu, sempat dianggap sudah meninggal oleh Eliana, karena korban kebakaran waktu itu beberapa diantaranya sudah tidak bisa dikenali lagi siapa saja para korban itu.
Waktu itu, jenazah Tiana, ibu kandung dari Deanda sempat dianggap sebagai jenazah Larena, dan dikuburkan di pemakaman milik istana, dengan batu nisan bertuliskan nama Larena Hilmar, sedang makam dengan nisan bertuliskan nama Tiana, sebenarnya kosong dan tidak ada isinya, hanya sebuah peti kosong yang dikuburkan di sana.
"Benar Putri. Sejak kasus pemberontakan permaisuri eh, maksud saya baroness Eliana, sepertinya Tuan Alexis sering mengadakan pertemuan dengan duke Evan, untuk membahas setiap rencana pelatihan di Renhill." Dengan hati-hati Robert memperbaiki sebutan Eliana di depan Alaya, yang pastinya tahu tentang sejarah kelam yang pernah terjadi, dan baru beberapa bulan yang lalu terjadi peristiwa besar yang begitu heboh diberitakan sampai keluar negeri.
__ADS_1
"O, berarti hubungan antara duke Evan dan uncle Alexis pasti cukup baik." Alaya bertanya dengan nada tersenyum, seolah dia menemukan satu cara lagi jika sampai cara pertama yang akan dilakukannya untuk menolak perjodohan itu gagal.
"Sepertinya begitu Putri. Bahkan duke Evan sempat bercerita, dia sering mengobrol santai di luar jam kerja dengan Tuan Alexis, karena dia bilang, banyak hal dan pengalaman hebat yang dia dapat dari Tuan Alexis. Tidak heran sih, Tuan Alexis kan dulunya memang sempat menjadi kepala tim pasukan khusus milik raja Vincent yang dikenal hebat, dan beberapa kali sempat menggagalkan pemberontakan di kerajaan ini. Putri Alaya pasti juga tahu bagaimana kehebatan putri tunggal tuan Alexis yang sekarang menjadi permaisuri Gracetian." Alaya langsung tertawa kecil mendengar bagaimana Robert yang ikut memuji-muji Alexis dan Deanda, kakak iparnya dengan sedemikian rupa.
Alaya sangat maklum dengan hal itu, karena sebelum dia menempati posisinya yang sekarang, dulunya yang bekerja di bagian itu, di bawah kepemimpinan Robert adalah Deanda, sehingga sedikit banyak Robert pasti mengenal sosok Deanda dengan cukup baik.
"Tentu saja aku tahu. Mereka bapak dan anak yang memang layak mendapatkan banyak pujian dan rasa hormat karena jasanya pada kerajaan Gracetian." Kata-kata Alaya langsung membuat Robert tersadar, bagaimana hubungan antara Alexis dan Alaya.
"Ah maaf Putri Alaya, aku sampai lupa. Tentu saja putri Alaya lebih tahu dan lebih mengenal tuan Alexis dibandingkan dengan aku, yang hanya mendengar cerita dari orang lain, sedang Putri sudah hidup dkeat dengannya selama bertahun-tahun." Tawa Alaya semakin lebar begitu mendengar perkataan Robert.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Tuan Robert. Terimakasih untuk infonya." Alaya akhirnya mengakhiri obrolan mereka.
"Eh, iya putri Alaya." Robert yang awalnya sedikit melamun langsung menjawab perkataan Alaya yang tersenyum dan segera pergi meninggalkan ruangan Robert.
__ADS_1
Oke, nomer telepon duke Evan sudah di tanganku, sakarang tinggal aku menghubunginya, meminta untuk dapat bertemu dengannya, dan mencoba meminta padanya agar menolak rencana kak Alvero untuk menjodohkan kami. Kalau itu gagal, aku sudah punya rencana lain. Dan itu akan membutuhkan bantuan uncle Alexis.
Alaya berkata dalam hati sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan hari masih belum cukup siang, sehingga dia sedang berpikir untuk menemui Evan saat jam makan siang nanti.
Lebih baik sekarang aku segera meminta bantuan Ernest untuk mencari info tentang keberadaan duke Evan, sehingga aku bisa tahu dengan pasti jadwalnya sepanjang hari ini, dan menjalankan rencanaku untuk menemuinya.
Alaya kembali berkata dalam hati sambil membuka layar handphonenya, agar dapat segera menghubungi Ernest dan meminta bantuannya.
# # # # # # # #
“Maaf Putri Alaya, tapi duke Evan sedang ada pertemuan penting dengan salah satu earl yang memang sudah ada janji temu dengan duke Evan.” Petugas keamanan yang berjaga di gedung pusat keamanan berkata kepada Alaya dengan sikap hormat.
Ah, salahku juga begitu mendengar dari kak Deanda tentang rencana kak Alvero mengundang makan malam duke Evan ke istana, membuatku dengan terburu-buru ingin menemui duke Evan, tanpa memikirkan janji temu dengannya. Aku benar-benar ceroboh hari ini.
__ADS_1
Alaya berkata dalam hati dengan sikap menyesali sikapnya yang terlalu terburu-buru, langsung meluncur ke gedung pusat keamanan tempat Evan biasa bekerja tanpa berpikir panjang, karena tidak ingin kalah start dengan Alvero.