Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
KONDISI ALAYA YANG MENGKHAWATIRKAN


__ADS_3

Bagaimanapun sikap Evan terhadap Alaya sejak Evan menerima rencana perjodohan itu membuat Alvero merasa tenang sudah memilih Evan sebagai calon dari Alaya.


“Duke Evan, sebenarnya ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Duke Evan. Bisakah kita berbicara secera peribadi di ruang tertutup?” Pertanyaan Alvero membuat Evan langsung menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Alvero dengannya.


“Silahkan Yang Mulia pergi bersama saya ke ruang kerja pribadi saya. Kita bica bicara dengan leluasan di sana.” Evan berkata sambil bangkit berdiri, dimana Alvero langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Evan.


# # # # # # #


“Selamat sore.” Tim dokter dan juga perawat yang sedang menangani Alaya langsung menoleh begitu mendengar sapaan Deanda, dan dengan reflek mereka langsung memberikan salam poenghormatan kepada permaisuri yang cantik itu.


“Selamat sore Yang Mulia Deanda….” Dengan serempak mereka langsung menjawab sapaan dari Deanda yang langsung menggerakkan tangannya sebagai tanda menerima salam penghormatan dari mereka semua.


“Bagaimana hasil pemeriksaan dari putri Alaya Dok? Apa dia baik-baik saja?” Pertanyaan dari Deanda membuat salah satu dari dokter yang merupakan dokter senior dan memimpin tim dokter yang menangani Alaya itu berjalan mendekat ke arah Deanda.


“Sampai sejauh ini kami sudah berusaha agar panas tubuh Putri Alaya bisa turun perlahan agar putri tidak mengalami hipotermia, karena sementara ini kami masih terus melakukan analisa terhadap kondisi tubuh putri Alaya.” Dokter itu berkata dengan sikap hormat kepada Deanda, yang matanya terus memandang ke arah Alaya yang masih terbaring di tempat tidur milik Evan.

__ADS_1


(Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35oC. Akibatnya, jantung dan organ vital lainnya gagal berfungsi. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernapasan, bahkan kematian.


Jika Anda melihat orang yang memiliki gejala hipotermia, maka tindakan awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa denyut nadi dan pernapasan. Jika denyut nadi dan pernapasannya sudah berhenti, maka lakukanlah tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan cari bantuan medis.


Hipotermia yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi, antara lain: Frostbite, yaitu cedera pada kulit dan jaringan di bawahnya karena membeku, Chilblains, yaitu peradangan pembuluh darah kecil dan saraf pada kulit, Trench foot, yaitu rusaknya pembuluh darah dan saraf pada kaki akibat terlalu lama terendam air, Gangrene, yaitu kematian jaringan tubuh dan bahkan kematian).


“Apa kondisi putri Alaya masih dalam tahap membahayakan Dokter?” Dengan mata masih menatap ke arah Alaya, Deanda bertanya tanpa memandang ke arah dokter yang sedang diajaknya bicara itu.


“Untuk sementara putri Alaya sudah melewati masa kritis yang pertama. Masalahnya jika dalam waktu kurang dari 24 jam panas tubuhnya kembali tinggi, dan kesadarannya belum pulih, sepertinya putri Alaya akan kembali masuk dalam masa kritis.” Penjelasan dari dokter itu membuat dada Deanda terasa sakit dan menyesakkan, dan dengan tidak percaya Deanda memandang ke arah dokter yang baru saja berbicara dengannya itu.


Kenapa denganmu Alaya? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kita belum lama bertemu, tapi kehadiranmu membuat suasana istana lebih ceria dan membuatku lebih betah. Bukan hanya keberadaan yang mulia Alvero, kamu juga menjadi alasan untuk membuatku betah menjalani kehidupan di istana. Karena keberadaanmu membuatku merasa memiliki teman senasib denganku. Kita berdua, sama-sama perempuan yang awalnya tidak mengerti tentang seluk beluk dan semua aturan ketat yang ada di istana.


Deanda berkata dalam hati sambil memandangi wajah Alaya yang mulai tidak lagi menunjukkan wajah memerah karena panas tubuhnya yang tadi sempat begitu tinggi.


Akan tetapi wajah Alaya yang terlihat pucat sekarang, membuat hati Deanda merasa trenyuh dengan kondisi Alaya.

__ADS_1


Padahal tadi pagi… kita masih bertemu dan keadaanmu baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba kondisimu jadi seperti ini?


Deanda kembali berkata dalam hati dengan tatapan mata yang terlihat tidak percaya saat mengamati sosok Alaya yang terlihat begitu lemah, padahal pada dasarnya Alaya adalah gadis yang ceria, lincah dan juga kuat.


“Maaf Yang Mulia, saya tidak berani menjanjikan apa-apa, tapi kami semua akan berusaha yang terbaik untuk dapat menyembuhkan putri Alaya seperti sedia kala. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa Yang Mulia, selebihnya itu kekuasaan dari Tuhan untuk menentukan hidup mati seseorang.” Perkataan dokter itu membuat Deanda termangu, dan hampir saja tidak bisa menahan airmatanya yang hampir menjebol pertahanannya.


Danella yang ikut mendengarkan penjelasan dari dokter, justru tidak bisa lagi menahan airmatanya.


Wanita dengan sifat yang lemah lembut itu, akhirnya sibuk menghapus airmata yang meleuncur deras ke pipinya.


Meskipun Alaya belum benar-benar menjadi menantunya, dan menjadi anggota keluarga Carsten, tapi Danella sudah benar-benar menganggap Alaya sebagai bagian dari kelaurga Carsten, seolah-olah pernikahan antara Evan dan Alaya sudah benar-benar dilaksanakan.


Rasanya bagi Danella tidak rela jika rasa bahagia yang memenuhi hatinya karena mendengar kabar rencana pernikahan Evan dan Alaya tiba-tiba harus pupus sebelum berkembang, karena kondisi Alaya yang tiba-tiba jatuh sakit seperti itu.


“Permaisuri Deanda… kita harus segera memberitahukan hal ini kepada duke Evan dan yang mulia Alvero. Aku sungguh berharap, mereka bisa mencari alternatif pengobatan, atau mencari dokter terbaik di dunia untuk menyembuhkan putri Alaua. Bagaimanapun caranya, kita semua harus berusaha untuk menyelamatkan putri Alaya.” Dengan suara parau karena tangisnya, Danella akhirnya berkata kepada Deanda dengan nada dan wajah penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2